Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
113. Hanya Penasaran.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Kini tinggallah Akira dan Arjun di kamar yang berada di lantai 2. Saling menatap tanpa menunjukkan ekspresi apapun.


Apabila terjadi perang diantara mereka, tentu saja tidak ada yang mendengar. Karena tidak ada satupun orang lain di sana.


Yang terdengar hanya deru nafas keduanya yang bersautan.


"Aku ingin tanya sesuatu," ucap Akira memulai pembicaraan dengan suaminya.


Sejak malam Akira sudah menggunakan otaknya dengan maksimal, dan apapun yang menjadi dugaannya tidak mendasar.


Hanya Arjun lah yang mampu menjawab semuanya karena masalah ini bersumber dari pria itu.


Akira menuju ke laci yang berada di bawah meja rias. Menariknya untuk mengeluarkan benda yang penting.


Sedangkan Arjun duduk di tepi ranjang menunggu dengan tenang.


"Kamu ingat dasi ini?" tanya Akira memperlihatkan dasi berwarna Biru tua itu.


Sejenak Arjun melihatnya sambil mengingat-ingat.


Mana aku ingat? bahkan di lemari ada puluhan dari yang tergantung dengan banyak warna yang berbeda.


Tapi Arjun tidak berani mengatakannya langsung, bisa marah ibu negera di depannya.


Apalagi kalau berpura-pura ingat, bisa lebih parah nanti.


"Dari mana itu?" tanya Arjun sedikit berbelit.


"Jadi kamu mengingatnya?"


Tidak!


"Coba sini aku lihat," pinta Arjun mengangkat tangannya.


Tapi bukan Akira namanya kalau langsung setuju, "Mau apa? mengingat kenangan kalian?" tanyanya dengan nada tak suka.


Bisa saja kan Arjun meminta dasi itu untuk sekedar mencium benda yang ada parfum menempel disana.


Mengingat kenangan malam itu mungkin.


"Sayang, dasi di kamar kita ada banyak sekali bukan... dan mana mungkin aku bisa menghafalnya satu persatu,"


Ck, katanya pintar... batin Akira.


"Jangan membawa-bawa kejeniusan ku! itu sama sekali tidak mendasar!" tolak Arjun walaupun Akira tidak mengungkit kepintaran Arjun sama sekali.


Tapi Arjun cukup peka karena senyum yang sekilas terlihat dari sudut bibir istrinya sudah menyimpulkan kalau Akira benar mengejeknya.


"Kapan aku berkata begitu?" tantang Akira.


Padahal memang iya... tapi aku kan perempuan, dan perempuan tidak mungkin salah!


"Coba aku lihat dasinya..." pinta Arjun lagi.


"Ada inisial nama disini, sama seperti milikmu yang lain..." jawab Akira.


"Oh, benarkah?"


Nih orang pasti sengaja pura-pura hilang ingatan kan? mana mau dia mengakui semuanya... batin Akira kesal.


"Semalam aku telah memikirkannya. Aku ingat betul dengan dasi ini. Kamu boleh ngaku atau tidak terserah! yang jelas ini adalah milikmu!" ucap Akira telak. Tak bisa do ganggu gugat sama sekali.


"Apa sangat mengasyikkan bercumbu dengan wanita lain sampai lupa memakai dasi?" tanya Akira.

__ADS_1


Arjun yang di tanya langsung membulatkan matanya, Apa? siapa?


Ck, menyebabkan sekali! lihatlah tampang tak tau malunya itu! bagaimana bisa di sindir seperti itu masih tidak paham, aku ragu kalau dia benar-benar genius...


"Jawab tidak!" teriak Akira kesal. Kesabarannya benar-benar habis karena Arjun.


"Jawab apa sayang?" tanya Arjun fan langsung berdiri mendekati Akira. Meriah tangan gadis itu walaupun tau akan dihempaskan begitu saja ke udara.


Tapi Arjun sama sekali tidak marah.


Karena tuduhan yang Akira lontarkan itu sama sekali tidak mendasar.


Bercumbu dengan wanita lain? Ck... menggelikan.


Karena Arjun tidak pernah melakukan hal itu di belakang Akira.


"Dasi ini sudah lama hilang, ini adalah salah satu dasi yang selalu menjadi pilihanmu untuk bekerja di awal pernikahan... karena aku ingat, kamu selalu memakai dasi ini..." ucap Akira panjang lebar.


"Apalagi, ini adalah dasi yang sama saat hari itu bukan? hari dimana kamu pura-pura sakit dan akhirnya ikut menginap di rumah ini...".


Eh, memang ada kejadian seperti itu? kenapa aku tidak ingat? batin Arjun.


"Dan beberapa minggu setelah itu, aku tak lagi melihatnya sampai sekarang... benar?" tanya Akira seperti seorang Jaksa yang membawa surat dakwaan kepada Arjun.


Arjun hanya melongo tanpa keluar satu kata pun dari mulutnya. Dan di detik selanjutnya pria itu hanya nyengir memperlihatkan giginya.


Ck, kesal sekaki Akira.


"Sayang... -"


"Tunggu! aku belum selesai bicara!" cegah Akira sambil mengangkat jari telunjuknya menempel di bibir Arjun hingga membuat pria itu kembali menelan kata yang akan terucap.


Ya Tuhan...


"Jika di tarik benang lurusnya...," Akira berjalan mengelilingi Arjun, seperti menandai pria itu dengan langkah kakinya. "Bukankah saat itu hubungan kita belum seperti ini?",


"Iya," jawab Arjun spontan. Toh ia juga kupa kapan dimulainya hubungan mereka. Kapan mereka saling tertarik dan jatuh cinta, Arjun lupa dan tidak berkeinginan untuk mengingatnya sama sekali.


Betul? betul sekali.


Apa wanita kalau sedang marah, memang seperti ini? mulutnya rame... kayak petasan... hehehe. ejek Arjun hanya dalam hatinya. Mana berani ia mengatai Akira seperti petasan, Bisa-bisa Arjun lah yang akan menerima ledakan dari petasan tersebut.


"Jadi selama kita menikah, kamu pernah menyentuh wanita lain kan? iya kan? Ck... aku tak menyangka... padahal kamu pernah bilang kalau tidak pernah lagi menyentuh wanita lain selain diriku. Jadi semua itu hanya omong kosong kan? karena kamu hanya ingin mendapatkan keper*wan*nku kan?"


Arjun seperti tercekik lehernya. Bahkan nafasnya seperti berhenti di tenggorokan.


Apa? apa dia bilang?


"Kamu tau, dasi ini adalah kiriman dari wanita yang telah kamu tiduri! dia yang mengirim ini untuk memberitahu diriku kalau kamu tidak berubah... iya kan?" tanya Akira.


"Kamu tau, aku bahkan tidak pernah lagi bertemu dengan wanita lain... sejak menikah aku mencoba untuk menahannya... ck, apa-apaan itu?" Akira mencoba meniru ucapan Arjun kala itu. Bahkan karena ucapan Arjun lah, Akira mulai yakin pada suaminya kalau pria itu akan berubah.


"Sayang...-"


"Jawab aku!" sela Akira lagi.


Sedangkan Arjun yang tadinya telah membuka mulutnya langsung menutup mulutnya rapat-rapat dan mengangguk.


"Apa servis ku kurang m*muask*n?"


Glek... Arjun menelan saliva nya dengan susah payah.


Konsepnya bukan begini kan? Lidah Arjun langsung keluarga mendengar pertanyaan Akira.


"Kenapa kamu tega!" Akira memukul bahu Arjun karen pria itu tak mau menjawab.


"Jahat!" teriaknya lagi bahkan sampai memukul-mukul bahkan lebih keras.

__ADS_1


"Sayang... sayang..." pinta Arjun mencoba untuk mengehentikan pukulan dari istrinya.


"Padahal aku sudah menyerahkan semuanya... tapi kenapa kamu membohongi ku? kurang apa diriku?" tanya Akira.


"Sayang... dengarkan aku, dengarkan aku dulu..." pinta Arjun dan akhirnya membuat Akira berhenti memukul.


"Dengarkan aku. Sayang... aku tidak pernah sekalipun tidur dengan wanita lain selain dirimu... bahkan sejak hari pernikahan..." ucap Arjun menjelaskan.


"Aku sudah berjanji bukan? mana mungkin aku mengingkarinya... Aku sudah pernah bilang kalau sejak menikah denganmu, aku seperti terikat oleh sesuatu. Bahkan menatap wanita lain saja aku tidak berniat sama sekali..." tambah Arjun.


"Lalu ini?" tunjuk Akira pada dasi lagi.


Sepertinya aku tau jawabannya... batin Arjun. Lambat laun ia kembali ingat kenapa dasi miliknya menghilang dan tiba-tiba terlihat lagi.


"Kamu ingat saat itu? saat dimana kamu selingkuh dengan Dean?" tanya Arjun.


"Kenapa mengungkitnya lagi? kamu ingin membalikkan fakta kalau saat ini akulah yang salah?" tanya Akira sewot. Kesal sekali dia melihat Arjun yang kembali membicarakan Dean saat ini.


"Dengarkan aku dulu..." pinta Arjun.


Walaupun Akira tak sudi, tapi terpaksa ia harus mendengarkan pria itu.


"Aku akui, saat itu aku ingin membalas mu dengan mengencani wanita lain... kami sempat sampai di hotel untuk menginap, tapi sungguh sayang... aku mengingat wajahmu saat itu..." ucap Arjun benar-benar tulus tanpa di kurangi sedikitpun.


Walaupun sebenarnya di kurangi sedikit sih, saat dimana Lea telah telah*nj*ng dan memperlihatkan lekuk tubuhnya di depan Arjun. Tapi itu tidak boleh di tambahkan dalam penjelasan ini bukan? bisa-bisa Akira langsung mencekik leher suaminya tanpa ampun. hehehe...


"Aku tidak jadi melakukan apapun, aku langsung pulang untuk menemui sayang... sungguh..." Bagaimanapun Arjun menjelaskannya dengan memilih kata yang tepat. Agar Akira tak salah paham.


"Bohong!" walaupun sebenarnya Akira sudah percaya pada suaminya tapi ia hanya ingin tau semuanya tanpa terkecuali.


"Sungguh sayang... aku benar-benar langsung pulang saat itu. Aku tidak menyentuhnya sedikitpun,"


"Kamu membayarnya?" tanya Akira. Entah kenapa ia tidak bisa membedakan antara teman kencan ataupun wanita malam.


"Iya,"


"Berapa?" tanya Akira.


"100juta," jawab Arjun dan langsung menutup mulutnya karena sadar dengan apa yang baru saja keluar dari mulutnya.


"APA? Se-ra-tus juta?" Akira seperti hendak mati mendengar jawaban suaminya.


"Dan kamu tidak melakukan apapun?",


Akira menggelengkan kepalanya antar syok dan tak percaya.


"Apa aku boleh menyentuhnya?" tanya Arjun hanya bercanda.


"Apa? apa kamu bilang? menyentuhnya? dasar pria tidak tau diri..." Akira langsung mendorong suaminya. Memukul bahu pria itu dan menjambak rambut Arjun tanpa rasa kasihan sama sekali.


"Sayang aku bisa mati!" teriak Arjun.


"Kamu benar-benar br*ngs*k! bedebah!" ucap Akira hilang kesabaran.


"Kamu sangat pelit pada istrimu, tapi tidak dengan wanita lain... memakai tubuhku berulang kali tapi tidak dibayar, sedangkan dengan mudahnya memberi uang kepada wanita lain cuma-cuma... si*lan!" masih dengan mode gilanya.


"Aaakkk... sayang aku bisa mati, maafkan aku! maafkan aku sayang... aku menyesal..." teriak Arjun saat Akira benar-benar menganiaya dirinya.


Dan seperti itulah suasana pagi hari di rumah Ayah. Hanya teriakan dan kemarahan yang terdengar memenuhi setiap sudut ruangan.


***


Hahaha... Bar-bar sekali nih cewek...


Ya seperti itulah pertengkaran pasangan itu...


Semoga syuka...

__ADS_1


Disini ada yang galakan si emak" daripada suaminya? komen banyak-banyak...


Love kalian...


__ADS_2