
HAPPY READING...
***
Arjun memejamkan matanya bersandar pada kursi yang di digunakan sebagai tempat duduknya.
Sudah 4 hari sejak kejadian Bianglala lucknut dulu, tapi rasa mual Arjun masih tak kunjung hilang.
Sekarang Arjun benar-benar merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya.
Mual, lemas dan juga tidak berselera untuk melakukan apapun.
Bahkan seharian saat di kantor, Arjun beberapa kali memilih memejamkan mata dibandingkan menghadapi berkas perusahaan.
Apa ajal ku sudah dekat? batinnya penuh tanya. Karena sepanjang hidupnya, Arjun tak pernah merasakan seaneh ini.
"Lebih baik bicarakan dengan Om Johan," ucap Galih menyarankan.
Melihat Arjun seperti itu, Galih juga khawatir.
Bagaimanapun Arjun adalah bagian terpenting dalam hidupnya.
Bukan hanya sahabat ataupun atasan, Arjun memiliki tempat spesial di hati Galih. Seperti seorang keluarga walaupun tidak ada ikatan darah diantara mereka.
"Mau bicara gimana lagi nyet, Lo sendiri dengar kan kata Dokter dulu?" omel Arjun.
Hasil pemeriksaan Dokter waktu itu menunjukkan bahwa tubuh Arjun baik-baik saja.
Tidak ada masalah yang serius dan perlu di khawatirkan.
"Ya mungkin saja diagnosa Dokter meleset, Lo juga belum di cek secara keseluruhan bukan?" tanya Galih.
Lebih baik jika Arjun segera kembali ke Rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan secara keseluruhan. Kalau perlu sampai di luar negeri dimana Rumah sakit di sana sangat mumpuni.
"Gue akan bantu bicara," tambah Galih. Setidaknya saat ia membantu Arjun untuk bicara dengan Papinya, Papi Johan akan mempercayai mereka.
Mobil yang di kendarai Galih mulai menepi di depan Gerbang sebuah Universitas. Di sinilah Akira menimba ilmu.
"Biar gue yang turun..." saran Galih.
Setidaknya Arjun biarlah tetap di dalam mobil untuk menunggu saja.
"Thanks ya...". Hanya itu yang bisa Arjun ucapkan untuk tindakan Galih yang mengerti keadaannya.
Tanpa banyak berpikir, Galih berjalan masuk ke tempat itu. Melewati banyak sekali mahasiswa dengan berbagai macam. Matanya yang tajam terus melihat, mencari keberadaan Akira.
Hingga di depan Fakultas Keperawatan, wanita yang di carinya muncul. Berjalan dengan riang bersama dengan gadis lain.
Agghh, dia lagi! batin Galih.
Karena akan sangat canggung bertemu lagi dengan gadis yang pernah ditolongnya waktu itu.
"Loh, dimana Arjun?" tanya Akira ketika sampai di depan Galih.
"Di mobil," jawab Galih sambil sesekali melirik gadis yang bersama Tiara.
"Oh..." Akira paham. "Tiara, Lo barengan sama kita kan?" tanya Akira memastikan.
Setelah pulang dari Bulan madunya, Akira baru tau kalau Tiara telah putus dengan kekasihnya. Hal itu membuat Akira juga ikut sedih sekali gua marah.
Ia tak menyangka kalau Tiara akan bernasib buruk dengan di selingkuhi.
"Gue naik taxi saja deh..." ragu memang. Karena ini pertama kalinya Tiara bertemu lagi dengan Galih setelah hari itu.
Apalagi Galih lah yang menolongnya, walaupun Tiara tidak memberitahu siapapun tentang kejadian itu.
Apalagi bagaimana reaksi Akira nanti jika tau kalau dirinya menginap di Apartemen Galih, wah... Bisa-bisa Akira berpikir hal aneh nanti.
__ADS_1
Biarlah hal itu menjadi rahasia antara Tiara Galih dan juga Bella saja.
"Ayolah bareng gue..." pinta Akira bahkan merengek seperti anak kecil.
Gimana ya? sejenak Tiara berpikir sambil menatap ke arah Galih, walaupun yang di tatap seperti tak peduli sama sekali tentang keputusan yanga kan Tiara ambil nantinya.
Jelas lah, si kulkas itu mana peduli? batin Tiara.
Hingga Akira langsung menarik paksa tangan Tiara sebelum sahabatnya mengatakan apapun.
"Sudah jangan banyak mikir... ayo!" paksa Akira.
Membuat ketiganya berjalan keluar menuju ke mobil.
Sampai di mobil, Akira langsung masuk ke duduk bangku tengah berjejeran dengan Arjun. Sedangkan Tiara juga menempatkan dirinya di depan samping kemudi.
Tanpa banyak bicara dan tidak melihat pria di sampingnya sama sekali.
"Sayang... perutku kembali mual..." rengek Arjun pada istrinya.
Mendaratkan bibirnya di ceruk leher Akira hingga membuat wanita itu sesekali berontak.
Walaupun Galih maupun Tiara sudah sering melihat mereka seperti itu, tapi tetap saja Akira malu.
Ck... pencemaran otak... batin Tiara.
"Sudah meminum obatmu tadi siang?" tanya Akira masih dengan berusaha melepaskan diri dari bibir pria itu.
"Aku lebih mual setelah meminumnya," jawab Arjun.
"Ada yang tidak beres..." gumam Akira. Melihat penyakit Arjun, benar-benar membuatnya heran.
"Nyet, anterin gue pulang dulu..." perintah Arjun kepada Galih.
Arjun ingin segera sampai rumah dan tidur untuk mengusir rasa bergejolak dalam perutnya.
"Gue akan bicara sendiri..." pinta Arjun.
Bagaimanapun ia tau pekerjaan Galih juga sangat banyak.
Tentu saja pria itu sama lelahnya dengan dirinya.
Bahkan seharian juga Galih memeriksa berkas perusahaan dimana seharusnya menjadi tanggung jawab Arjun.
"Serius?" tanya Galih masih tak percaya.
Karena Arjun bisa saja berubah pikiran dalam jeda waktu semenit.
"Hm,"
Setelah Arjun mengatakan hal itu, Galih hanya bisa mengangguk.
***
"Gue pulang ya..." pinta Galih setelah membukakan pintu untuk Arjun keluar dari mobil tersebut.
"Akira... gue pulang ya..." teriak Tiara masih berada dalam mobil.
"Hati-hati..." jawab Akira.
"Bawa dia pulang ke rumahnya..." goda Arjun pada Galih. Membuat Galih berdecak kesal. Memang apa yang akan dia lakukan pada gadis di dalam mobil itu? membawanya pulang ke Apartemen? Galih sudah pernah melakukan hal itu.
"Udahlah, gue pulang..." jawab Galih dan langsung masuk ke dalam mobil tanpa memperdulikan tatapan Akira yang mengintimidasi.
"Bye-bye..." Akira melambaikan tangan melepas kepergian mobil berwarna hitam yang meninggalkan pelataran rumah Pradipta.
Dan tinggal Galih dan Tiara saja di dalam mobil itu. Tak ada yang berbicara ataupun berbasa-basi menanyakan kabar masing-masing.
__ADS_1
Untuk apa Tiara harus membuang-buang waktu untuk menanyakan hal itu, sedangkan pria di sebelah nya terlihat bukan seperti pria pada umumnya. Dingin dan juga menyebalkan.
Lihatlah... dia seperti kulkas bukan? batin Tiara.
"Jadi apa maksud lo?" tanya Galih.
Membuat Tiara bereaksi dengan mengerutkan keningnya.
Dia bicara dengan gue? atau bicara sendiri? batinnya.
"Gue bicara sama Lo!" tambah Galih. Dan membuat Tiara sadar kalau memang dia lah yang diajak bicara pria Kulkas tersebut.
"Gimana? gue tidak paham..." jawab Tiara.
Memang siapa yang bisa menjawab pertanyaan Galih barusan yang hanya mengatakan maksudnya saja.
"Dengan datang ke rumah bersama Bella... ha?" tanya Galih.
Padahal tidak ada satupun wanita yang pernah datang ke rumah orangtuanya Galih. Alya sekalipun.
Tapi siapa sangka kalau Tiara pernah datang ke rumahnya bersama dengan Bella. Sangat mengejutkan bagi Galih.
"Oh itu... hehehe... Bella yang mengajak gue..." jawab Tiara.
Ck... kenapa marah? lagian Lo tidak tinggal dengan mereka bukan? batin Tiara.
Ia juga mengetahui hal itu dari Bella.
"Kenapa?" tanya Galih lagi.
Membuat Tiara tambah kebingungan.
Kenapa? kenapa apanya? bisa tidak sih bicara yang jelas! umpat Tiara kesal.
"Kenapa harus datang ke rumah gue?" tanya Galih. Ada tempat lain yang bisa di kunjungi selain rumah orang tua nya.
Galih hanya tidak mau Ayah dan Ibunya salah paham.
Apalagi kata Bella, ayah dan Ibunya sangat senang dengan Tiara.
Bisa saja kan Ibunya meminta Galih untuk menjalin hubungan dengan Tiara?
Galih hanya berjaga-jaga untuk itu.
"Gue datang atas permintaan Bella kok, lagian bukan untuk bertemu dengan Lo!" jawab Tiara hingga membuat Galih membulatkan mata.
Seperti tertohok dengan ucapan gadis itu.
Mereka sama-sama terdiam kembali.
Karena sedikit canggung, Galih memutuskan untuk menepikan mobilnya di minimarket untuk membeli sesuatu. "Tunggu sebentar...", turun meninggalkan Tiara di dalam mobil.
Tiara menyenderkan tubuhnya sambil melihat sekitar Parkiran minimarket. Mengamati anak kecil yang berlarian sambil membawa es krim.
Dimana ibunya? batin Tiara.
Karena penasaran, Tiara langsung turun dari mobil untuk melihat sekitar.
"Oh itu ibunya...". Setelah melihat ke arah pintu dimana seorang ibu muda keluar dengan senyum yang tertuju pada anak kecil di depannya.
Tanpa Tiara sadari, seorang pria mendekatinya.
"Tiara...", panggilnya. Membuat Tiara yang tadinya bengong langsung menatap pria yang mendekatinya dengan mata membulat sempurna.
"Lo..."
***
__ADS_1