
HAPPY READING...
***
Semuanya tidak ada yang gratis... Jika tak ada uang, gunakan tubuhmu! ARJUN PRADIPTA.
Di dalam mobil, tak henti-hentinya Akira menyunggingkan senyum sambil menatap kalung yang melingkar di lehernya.
Selama ia hidup di dunia dan berumur 18 tahun, Akira sama sekali tidak belum pernah mendapatkan hadiah semewah ini dari seseorang.
Bahkan di hari ulang tahunnya sekalipun, Akira hanya mendapatkan kue ulang tahun dan hadiah kecil dari ibunya. Sedangkan Ayah Adam, setiap tahunnya pria itu selalu memberi Akira dengan ucapan selamat ulang tahun saja. Walaupun tersirat begitu banyak doa dan harapan di dalam ucapan Ayah, tapi tetap saja Akira ingin mendapatkan sebuah barang dari Ayahnya.
"Itu hadiah ulangtahun mu..." ucap Arjun.
Eh, Arjun tau hari ulangtahun ku? Batin Akira bertanya-tanya. Selama menjadi istri Arjun, Akira sama sekali tidak memberitahu kapan hari ulang tahunnya kepada pria itu.
"Kamu tau hari ulang tahun ku?" itulah pertanyaan yang ingin Akira tanyakan.
"Tentu saja..." jawab Arjun sambil fokus menyetir.
"Dari siapa? Ayah? Mami? atau jangan-jangan Papi Johan?" hanya itu kemungkinan terbesar orang yang memberitahu Arjun tentang tanggal ulang tahun Akira.
"Memang sebodoh itu sampai aku harus mencari tahu kepada mereka?" kesal sendiri Arjun karena Akira belum paham kalau suaminya adalah makhluk jenius yang pernah Tuhan ciptakan di dunia ini.
Sombong memang, karena menyombongkan diri itu perlu,begitu pikir Arjun.
"Lalu?"
"Memang siapa yang mendaftarkan pernikahan kalau bukan diriku? jadi hanya dengan sekali lihat, gue bisa hafal dan mengingatnya seumur hidup..." jawab Arjun membusungkan dada seolah-olah hanya dirinya lah yang keren di dunia ini.
"Ck..."
Dia itu punya penyakit narsis yang terlalu tinggi...
Mendengar Akira berdecak, tentu saja Arjun tak terima.
"Kenapa? kamu tak percaya?" tanya Arjun dengan nada nyolot.
"Iya-iya Aku percaya..." tentu saja Akira tak mau terjadi perdebatan di antara mereka.
Apalagi saat ini perutnya benar-benar kenyang karena sebelum pulang tadi, Arjun dan Akira telah makan malam lebih dulu.
Sudah bukan misteri lagi kalau kita akan merasa mengantuk setelah makan terlalu kenyang dan hal itu terjadi pada Akira. Saat ini matanya benar-benar berat dan beberapa kali menguap di tambah dengan jalanan yang begitu macet.
"Kamu mengantuk?" tanya Arjun peka terhadap apa yang terjadi pada istrinya.
"Hm,"
"Tidur saja, nanti aku bangunin setelah sampai..." ucap Arjun dengan sangat yakin.
Tanpa bicara, Akira langsung memiringkan kepalanya. Bersandar dan memejamkan mata. Setidaknya tidur untuk beberapa menit saja mampu membuat rasa kantuknya terobati.
Ck... dia terlihat lelah... batin Arjun yang sempat mengamati keadaan istrinya tadi.
__ADS_1
Arjun kembali fokus pada jalanan di depannya.
---
Setelah terjebak kemacetan, Mobil Arjun akhirnya sampai di Carport Kediaman Pradipta. Sejenak ia mengamati istrinya yang bahkan tidak terbangun sama sekali melainkan bertambah lelap. Arjun tidak tega untuk membangunkan gadis itu sehingga ia memutuskan untuk menggendong Akira masuk ke dalam rumah.
Arjun melakukannya dengan sangat pelan dan juga yakin. Dengan berat badan Akira ayang segitu, benar-benar tidak mempengaruhi dirinya. Arjun membawa Akira menuju ke dalam rumah.
Tepat di depan pintu, Arjun bersuara "Tasku masih di dalam mobil..." ucapnya pada penjaga pintu.
"Akan saya ambilkan Tuan muda," jawab penjaga tersebut dan langsung berlari menuju ke mobil Arjun. Mengambil tas Tuan mudanya dan juga tas Akira serta beberapa buku.
Setelahnya Arjun masuk ke dalam rumah. Melewati setiap ruangan dan meniti anak tangga satu demi satu untuk sampai di kamar mereka.
"Apa nona Akira sakit Tuan?" tanya penjaga yang berjalan di belakang Arjun sambil membawa tas.
"Dia lelah..." jawab Arjun.
Setelah sampai di depan kamar, Arjun menunggu sejenak agar pintu itu di bukakan oleh penjaga. Tak lupa Arjun mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar.
Dengan sangat hati-hati Arjun meletakkan tubuh istrinya di ranjang. Kalau di lihat-lihat, dia lumayan cantik... puji Arjun sambil tersenyum manis mengamati istrinya yang terlelap.
Arjun meninggalkan Akira untuk mandi dan membersihkan diri di kamar mandi.
Sedangkan Akira, terbangun saat suara gemericik air tercipta di dalam kamar mandi. Tentu saja ia kebingungan karena tadi ia tidur di dalam mobil dan saat bangun sudah ada di atas ranjang kamarnya, "Astaga... kenapa aku tidak tau kalau sekarang ada di kamar?" gumamnya pada diri sendiri.
Lalu bagaimana aku bisa sampai disini? berjalan sambil tidur? aahhhh... tidak mungkin...
"Jangan-jangan?" Akira terkejut sendiri dengan pikirannya. Apa? Arjun menggendongku dari mobil sampai kesini? Aaa... bagaimana reaksi para pelayan tadi...
Pintu kamar mandi terbuka, Arjun keluar dengan rambut yang basah serta butiran air yang masih menempel pada dadanya.
Gleekk... Akira menelan salivanya. Bukan sekali dua kali Akira melihat pemandangan dari tubuh Arjun ketika selesai mandi, tapi Akira masih saja terkagum-kagum dengan itu.
Indah... itulah yang ada di dalam kepalanya.
"Kenapa menatap ku seperti itu?" tanya Arjun yang bahkan sengaja berada di ambang pintu kamar mandi dengan satu tangan memegang daun pintu.
"Kamu ingin menyentuhnya?" goda Arjun dengan seringai aneh di sudut bibirnya.
"Tidak!" tolak Akira. Gadis itu langsung memalingkan wajah menghindari Arjun. Memalukan sekali bukan?
"Ayolah, kamu tidak penasaran?" tanya Arjun dan kini sudah berjalan mendekati istrinya.
Tentu saja hal itu semakin membuat Akira gugup dan salah tingkah. Gila! yang benar saja... memang aku segila itu penasaran untuk menyentuh tubuhnya...
Walaupun sebenarnya iya sih, tapi kan aku tidak mau mengakuinya... sangat memalukan bukan?
Karena selama ini tubuh orang dewasa yang Akira lihat hanyalah tubuh Ayah Adam dengan perut membuncit. Sedangkan Arjun adalah pria pertama yang benar-benar telanjang di depan mata Akira.
"Ayolah, jangan malu-malu..." Arjun berusaha memegang tangan Akira untuk menyentuh dada dan perutnya. Tapi belum sampai, Akira spontan menghempaskan tangan Arjun hingga mengenai sesuatu di bawah sana dan membuat Arjun mengaduh, "Aaauuu..." keluh pria itu sambil menyentuh sesuatu tepat di bawah perutnya.
Akira menyesal dan juga ketakutan, "Sorry Jun... sorry... gue benar-benar tidak sengaja tadi," ucap Akira menyesal. Ternyata kekuatannya mampu membuat Arjun mengaduh seperti itu.
"Ooohhh... sakit, kenapa kamu memukulnya sih Ra..." ucapan Arjun sungguh membuat Akira menyesal.
__ADS_1
"Maaf, gue kan nggak sengaja...".
"Lo harus tanggung jawab..." perintah Arjun.
"Ha?" tentu saja Akira bingung. Apa perlu membawa pria itu ke dokter? atau ke Rumah Sakit? begitu hatinya bicara.
"Ayo kita ke Dokter..." saran Akira. Setidaknya Dokter mampu untuk mengobati segala penyakit.
"Dokter tidak akan bisa menyembuhkannya..." ucap Arjun masih dengan nada sok tersiksa. Padahal ini masih bagian dari rencananya untuk menggoda istrinya.
"Lalu?"
"Hanya kamu yang bisa mengobatinya..." ucap Arjun lagi.
"Aku? bagaimana? Aku bahkan belum lulus kuliah..." jawab Akira dengan polosnya. Lagian ia kuliah juga di bidang perawat.
"Gunakan tanganmu, nanti juga akan membaik...".
Mendengarkan ucapan Arjun, Akira langsung menyipitkan mata. Sungguh ia mencium bau-bau sebuah rencana busuk dari pria itu, Dia hanya ingin mengerjai ku saja kan?
"YA! kenapa lo sengaja meminta seperti itu? kamu ingin mengerjai ku kan?" semprot Akira.
Untung saja ia sadar akan rencana yang dibuat Arjun saat ini.
"Hahaha... kenapa? kita sudah menikah Ra... jadi tubuhku adalah milikmu juga,".
Ucapan Arjun langsung membuat Akira bergidik ngeri.
Apa dia bilang?
"Jangan aneh-aneh..." ancam Akira.
Arjun duduk di tepi ranjang, "Bukannya Terima kasih malah ngomel... tau gitu aku tinggal saja dia di dalam mobil dan biar terbangun sendiri..."
walaupun hanya bergumam pelan, Akira masih mendengar apa yang Arjun katakan.
"Iya iya... Terima kasih ya telah menggendong ku tadi..." Akira masih tau diri bukan? kalau bukan Arjun memang siapa yang mau menggendongnya sampai ke kamar tadi.
"Terima kasih masih tidak cukup..." Arjun kembali berpura-pura merajuk.
"Ha?"
"Aku sudah memberikanmu kalung kan? dan itu sangat mahal..." ucap Arjun mulai mencari rencana lain untuk menggoda Akira.
"Katanya sebagai hadiah ulang tahunku minggu depan?" protes Akira. Karena itulah yang Arjun katakan saat di mobil tadi. Kalung yang di belikan Arjun tadi sebagai bentuk hadiah ulang tahun Akira yang ke 18 tahun minggu depan.
"Iya itu sebagai hadiah, tapi di dunia ini tidak ada yang gratis Ra..." ucap Arjun.
"Kamu kan tau Jun, kalau aku tidak punya uang seharga kalung itu..." ucap Akira sedih.
"Kalau tidak ada uang, gunakan tubuhmu sebagai bayarannya..." ucap Arjun yakin bahkan dengan seringai menakutkan yang selalu nampak dari bibir pria itu.
"Maksudnya?" tanya Akira dengan nada meninggi.
***
__ADS_1
Hahaha... licik sekali Arjun ini...