
HAPPY READING...
***
"Apapun yang kamu pikirkan tentangku, aku tak peduli... Aku hanya merindukanmu..." Akira.
Akira berangkat kuliah sama seperti sebelum-sebelumnya. Di antar supir dan di tunggu sampai pulang.
Sepanjang perjalanan, Akira terlihat sibuk berkirim pesan dengan seseorang. Siapa lagi kalau bukan Arjun. Suaminya yang telah 5 hari berada di luar kota untuk urusan bisnis.
Akira selalu berharap bahwa Arjun cepat pulang. Tapi nyatanya sudah 5 hari Arjun pergi dan sampai sekarang pria itu tidak bilang kalau akan pulang sebelum sepekan.
Entah apa yang di kerjakan Arjun disana, Akira selalu penasaran.
Rasanya ia ingin pergi menemui pria itu, tapi tak mampu. Akira tidak bisa meninggalkan kuliahnya begitu saja.
Akira : [Aku sudah sampai di Kampus...]
Arjun : [Oh, baiklah... belajar yang rajin istriku...]
Akira tersenyum sendiri membaca pesan dari Arjun yang terlihat romantis. Entah sejak kapan pria itu berubah manis bagi Akira, atau Akira yang memang tidak pernah menyadari sifat asli Arjun.
Karena pertama kali hidup dengan pria itu, hanya perdebatan yang selalu di tunjukkan nya.
Akira : [Cepat Pulang... Aku kesepian...]
Arjun : [Aku pulang kalau kamu memberi hak ku sebagai suami... hehehe..]
Entah Arjun serius atau tidak saat mengucapkan begitu, tapi mampu membuat Akira malu. Rasanya benar-benar aneh saat membahas hal tersebut.
Terkadang Akira juga penasaran bagaimana rasanya, tapi di sisi lain dari hatinya ada sebuah perasaan takut.
Akira takut kalau apa yang dilakukannya hanya meninggalkan sebuah penyesalan di kemudian hari.
Walaupun Akira mulai nyaman dengan Arjun, tapi tak dapat di pungkiri kalau saat ini ada sebuah keraguan yang terselip di dalam hati kecilnya. Apakah ia mampu bertahan di pernikahan ini? Apa Akira bisa menjadi pelabuhan terakhir bagi pria itu? hanya itu yang Akira takutkan.
Akira : [Jangan membahas itu lagi...]
Arjun : [ Ck... menyebalkan! ]
Akira tersenyum dengan jawaban dari Arjun. Memang sepertinya Arjun kesal, tapi Akira tak menanggapinya.
***
Terik matahari mulai berangsur-angsur menuju ke barat.
Akira dengan Tiara keluar dari Kampus tempatnya menimba ilmu dengan tangan merek ayang penuh dengan tumpukan buku pelajaran yang begitu tebal.
"Aku sangat takut tadi..." keluh Akira.
Di semester ini, Akira mulai mendapat pelajaran tentang cara menyuntik pasien.
Sungguh inilah yang paling sulit dari semua materi yang pernah di berikan.
Bagaimana tidak? semua perawat di haruskan untuk bisa berkutat di dengan jarum suntik.
"Baru materi kan?" tanya Tiara.
"Iya, tapi tetap saja... aku takut. Kamu tau kan kalau aku sangat takut dengan jarum suntik?" jawab Akira.
Bahkan jika sakit pun Akira memilih hanya meminum obat daripada di suntik.
__ADS_1
"Seharusnya hal itu sudah kamu pikirkan bukan?" ucap Tiara. Bagaimanapun sebelum kuliah di bidang kesehatan, tentu saja Akira memikirkan hal itu lebih dulu.
Konsekuensi masuk ke jurusan keperawatan memang harus berteman dengan jarum suntik.
"Iya juga sih..." jawab Akira frustasi. Seharusnya memang ia memikirkan hal itu lebih dulu.
Tapi mana sempat Akira memikirkan tentang jarum suntik, alasannya masuk ke sini juga karena melihat keadaan ibunya yang sakit. Akira ingin menjadi anak yang berbakti dengan merawat Ibu Arum.
"Minta bantuan Arjun, dia suami yang hebat bukan?" saran Tiara.
Bahkan tanpa Tiara sadari, ucapannya itu benar-benar terdengar seperti jawaban atas ketakutan Akira.
"Benar juga... Aaa... makasih sahabatku... kamu memang yang terbaik," ucap Akira antusias bahkan sampai memeluk Tiara tanpa malu sedikitpun.
"Apaan sih Ra, lepas!" protes Tiara. Gadis itu sangat malu dengan kelakuan sahabatnya, apalagi di sekitar mereka ada banyak pasang mata yang mengawasinya.
Aduh... citraku hancur jika di peluk seperti ini... batin Tiara.
Bagaimanapun ia adalah gadis normal yang menyukai lawan jenis.
Tiara dan Akira mulai berjalan keluar. Tapi saat di pintu gerbang, mereka sadar kalau mobil yang biasanya menjemput Akira tidak berada di sana.
"Kamu tidak di jemput?" tanya Tiara penasaran.
"Entah... biasanya juga di tunggu bukan? tapi kenapa tidak ada..." Akira juga kebingungan harus menjawab apa. Yang ia pikirkan saat ini adalah bagaimana caranya pulang jika tidak ada supir yang menjemputnya.
Sedangkan Tiara juga sudah di jemput kekasihnya, jadi tidak mungkin kan Tiara membonceng seperti yang selalu ia lakukan saat SMA dulu.
"Coba telepon orang rumah," saran Tiara.
Akira mengangguk. Yang harus ia lakukan adalah menghubungi orang rumah untuk menantikan.
Tapi baru hendak menghubungi Mami Livia, sebuah suara terdengar tak jauh dari mereka hingga membuat Akira dan Tiara sama-sama memutar tubuhnya untuk mencari sumber suara.
Akira adanya Tiara terdiam dengan mulut yang menganga. Bahkan bola mata mereka seketika membulat melihat siapa yang tengah berdiri dengan gagahnya di belakangnya.
Derap langkah kaki orang itu menjadi satu-satunya suara yang tercipta. Berjalan terus untuk mendekati Akira, " Hei, kenapa bengong?" ucap pria yang melambaikan tangannya tepat di depan wajah Akira. Tentu saja dengan senyum manis yang selalu nampak di bibir pria tersebut.
Masih dengan bodohnya Akira hanya menatap tanpa bersuara. Ia tak tau bagaimana menjelaskan perasaan yang saat ini menyengat tubuhnya. Sebuah perasaan yang baru pertama kali Akira rasakan seumur hidup yang mana ia juga tak tau apa namanya. Tapi yang jelas, nafasnya terasa begitu lega tidak seperti hari-hari belakangan.
"Kamu tidak jadi merindukanku? agghh... aku sedikit kecewa..." ucap pria tersebut dengan nafa yang di buat-buat.
Tanpa basa-basi, Akira langsung menghambur memeluk pria di depannya. "Arjun..." hanya itu satu-satunya kata yang keluar dari mulutnya.
Memeluk tubuh Arjun dengan sangat erat.
"Aku merindukan mu... sangat..." tambahnya.
Bahkan saking bahagianya, Akira sampai tak menyadari kalau sudut matanya mulai berair.
Aku tidak peduli dengan semuanya... aku hanya merindukanmu... merindukanmu...
"Aku juga merindukanmu..." jawab Arjun membalas pelukan dari istrinya. Bahkan sampai menciumi pucuk kepala istrinya tanpa henti.
Betapa Arjun menantikan saat-saat seperti sekarang, kembali bersama dengan Akira yang sudah 5 hari ia tinggalkan demi pekerjaan.
Aku juga rindu memelukmu seperti sekarang... rindu aroma persik yang menempel pada kulitmu... rindu ocehan mu... rindu semuanya...
Waktu terlihat seperti berhenti berputar. Bahkan tidak ada sedikitpun angin yang bertiup sama seperti tadi.
Kerinduan antar dua insan melebur bersamaan dengan panas matahari di siang hari.
Hanya ada satu suara yang terdengar. Ya... detak jantung mereka yang seperti berpacu seolah dalam keadaan lomba.
__ADS_1
"Sayang, kamu ingin memeluk seperti ini sampai kapan?" goda Arjun bahkan sampai melihat ke arah Tiara yang sepertinya malu melihat kelakuan mereka.
"Jangan bicara!" tolak Akira. Ia tak mau melepaskan pelukannya dari tubuh Arjun. Bau pria itu benar-benar bagi candu untuk Akira dan saat ini Akira ingin puas-puas memeluk suaminya.
"Baiklah..." jawab Arjun dengan suka rela. Kapan lagi ia mendapat kesempatan seperti ini.
Dan Arjun benar-benar ingin menikmati momen seperti sekarang.
Karena malu, Tiara berniat untuk pergi lebih dulu, "Akira, gue cabut dulu ya..." pamitnya.
Selain malu Tiara juga iri dengan kemesraan suami istri tersebut.
Mendengar ucapan sahabatnya, Akira tiba-tiba sadar bahwa sekarang bukan waktunya ia dan Arjun dalam posisi seperti ini. Seketika Akira mundur dan melepaskan diri dari pelukan suaminya.
"Sorry..." entah kepada siapa permintaan maaf dari Akira tersebut.
Mungkin untuk Tiara ataupun juga untuk Arjun.
"Gue pulang dulu ya..." ucap Tiara lagi.
"Oh, iya..." jawab Akira dengan canggung.
Sedangkan Arjun langsung melingkarkan tangannya di pinggang Akira dan berucap, "Hati-hati...".
"Oke...".
Akira dan Arjun sama-sama menatap kepergian Tiara yang membonceng motor kekasihnya dan pergi.
"Kapan kamu tiba?" tanya Akira penasaran.
Padahal sejak pagi dirinya juga berkirim pesawat pada Arjun, tapi Arjun sama sekali tidak bicara kalau hari ini ia pulang.
"Beberapa jam yang lalu,"
"Jadi tadi pagi-?" ucap Akira menggantung.
Sedangkan Arjun langsung mengangguk setuju.
"Yaaa... kenapa tidak memberitahu ku?" rengek Akira sambil memukul lengan Arjun tapi tidak begitu kencang.
Arjun hanya tertawa melihat istrinya yang malah terlihat semakin menggemaskan.
"Kejutan..." jawab pria itu dengan enteng.
"Ihh..." rajuk Akira sambil menatap binar mata Arjun yang begitu indah.
Di dalam sana, Akira mampu melihat bayangan dirinya.
Kenapa aku merasa aneh setelah perpisahan sementara ini? kenapa aku merasa aku ingin menjadi serakah?
Ya... aku ingin berubah serakah untuk mengikat mu berada di sisiku... batin Akira.
Aku tidak percaya dengan cinta... Aku selalu mempermainkan wanita yang berusaha mendekatiku... tapi berbeda denganmu, kamu satu-satunya gadis yang mampu membuatku merasakan sebuah rasa rindu yang amat menyiksa diriku... darimu juga aku sadar, bahwa sebuah ikatan tidak dapat di permainkan... Batin Arjun.
Tanpa Arjun dan Akira sadari, tak jauh dari sana ada sepasang mata yang memandang dengan pandangan yang sulit untuk di artikan.
Pandangan mata itu begitu dingin namun terlihat seolah ada kobaran api yang mampu memusnahkan apapun yang ada di depannya.
***
Wow... ada apa ini? ada apa ini?
Perasaan Author kok jadi tidak enak... hahaha...
__ADS_1