Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
172. Berbohong.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Arjun bersiap untuk berangkat bekerja hari ini. Tapi bedanya, pagi ini pria itu melakukan tugas yang seharusnya menjadi tugas Akira.


Memakai dasi. Ya... Arjun melakukan itu sendiri tanpa mau mengganggu istrinya yang tengah duduk di ranjang.


"Sini aku bantuin..." pinta Akira. Sejak tadi ia melihat Arjun yang kesulitan untuk mengikat dasi di lehernya.


"Tidak... aku bisa..." tolak Arjun. Ia masih ingat dengan perkataan Dokter malam itu. Dan karena itulah Arjun meminta Akira istirahat di ranjang saja tanpa melakukan apapun.


"Sayang..." rengek Akira pada akhirnya. Ingin sekali Akira bilang kalau dirinya hamil bukannya sakit. Memakaikan dasi tidaklah pekerjaan berat yang menguras tenaga juga membahayakan bayi mereka.


"Diam.." ucap Arjun sambil menaikkan jari telunjuknya menutupi mulut.


Ya seperti itulah sikap Arjun. Apa yang ia katakan, itu pula yang harus Akira patuhi.


"Nanti jangan malam-malam ya pulangnya..." pinta Akira.


Setidaknya ia akan merasa bosan kalau Arjun pulang hingga malam.


Tidak ada teman bicara dan memijit kakinya.


"Sepertinya aku pulang tepat waktu...". Semua pekerjaan sudah di bantu Papi. Semua ini karena kondisi Akira yang memang membutuhkan Arjun setiap saat.


"Jaga dirimu baik-baik... aku kerja ya..." Ucap Arjun. Mendekati Akira dan menghujani wajah itu dengan banyak kecupan di sana-sini.


"Sarapan tepat waktu dan jangan banyak berdiri... kalau butuh apapun, panggil pelayan saja... jangan turun ke bawah..." pinta Arjun.


Membuat Akira tersenyum dengan perhatian kecil dari pria itu. "Iya iya...".


"Aku pergi ya..." pamit Arjun pada akhirnya.


Di depan rumah, Galih sudah siap. Berdiri di samping mobil menunggu Arjun datang.


Dan hal pertama yang pria itu lakukan adalah membuka pintu depan untuk Arjun masuk ke dalam kendaraan yang akan membawa mereka ke Perusahaan.


Galih ikut duduk di bangku kemudi. Memakai Seatbelt dan menjalankan mobil berwarna hitam meninggalkan rumah Pradipta.


"Pergi kemana lo hari itu?" tanya Arjun.


Dalam hatinya ia kesal karena telah berdiri menunggu Galih di depan Apartemen cukup lama.


Dan hal itu membuat kaki Akira bengkak.


"Ha? kapan?" tanya Galih.


"Ck..." bukannya menjelaskan tentang pertanyaannya, Arjun malah berdecak kesal.


"Gara-gara Lo, kaki Akira bengkak..." ucap Arjun sewot.


Betapa hal itu membuat dirinya khawatir sekaligus takut.


"Lah? napa gue?" tanya Galih bingung. Apa urusannya dengan gue? begitu hatinya bicara.


Galih tidak melakukan apapun yang bisa membuat Akira seperti itu.


Akira kan istri Lo! kenapa gue yang salah...


"Iya lah... gara-gara berdiri cukup lama di depan Apartemen Lo, Kaki istriku jadi bengkak... lagian Lo kemana sih? hari libur bukannya di rumah malah pergi..." ucap Arjun.


"Gue pergi ke rumah orang tua gue... lagian lo tidak bilang dulu kan? jadi jangan menyalahkan gue..." jawab Galih sewot.


Arjun juga tidak menghubunginya dulu.


Kalaupun Lo datang mendadak, apa yang bisa gue lakukan? batin Galih. Karena ada orang lain yang berada di Apartemennya.

__ADS_1


Kalau Arjun datang tanpa pemberitahuan, tentu saja pria itu memergoki Tiara.


Galih tak mau hal itu diketahui siapapun.


"Tumben..." cerca Arjun. Bagaimanapun hubungan Galih dan Ayahnya tidak baik. Galih juga sangat jarang mengunjungi orangtuanya. Bisa dikatakan jarang, mungkin sekali dalam beberapa bulan. Tapi tiba-tiba Galih pergi ke rumah orang tuanya. Hal yang begitu mustahil bukan?


"Ya...- ya...-"


Gue harus beralasan apa? Arjun kan mulutnya ember... bisa aja tanya pada Bella... tapi apa mungkin Bella akan membuka rahasia gue?


"Bohong lo gak bisa di tutupi nyet!" umpat Arjun.


Melihat ekspresi wajah Galih yang seperti ini, Arjun yakin kalau Galih memang menyembunyikan sesuatu di belakangnya.


"Apa dia?" tanya Arjun. Apa Alya?


Membuat Galih membulatkan mata. Arjun mampu mengendusnya?


Pertanyaan Arjun benar-benar membuat Galih seperti tercekat.


Ia tak bisa berkata ataupun membantahnya. Padahal yang Arjun maksud adalah Alya. Mantan kekasih Galih di masa lalu. Sedangkan Galih mengira Arjun tau bahwa Tiara tinggal bersamanya saat ini.


Belum sempat meneruskan perbincangannya, telepon Arjun berdering. Otomatis membuat pria itu teralihkan, "Halo...".


"Sayang... apa kamu sudah sampai di kantor?".


Ternyata yang menghubungi Arjun adalah Akira.


"Belum, apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Arjun langsung berubah mode menjadi khawatir.


"Tidak... hehehe, aku hanya ingin meminta bantuan mu...".


"Apa?" tanya Arjun sambil mengernyitkan kening.


"Ada buku baru di bawa Tiara... nanti setelah pulang kerja, mampir di kampus ya... dia ada kelas sore, jadi tidak bisa memberikannya kepada ku...".


"Nanti?" tanya Arjun memastikan lagi.


"Baiklah...".


"Makasih sayang... selamat bekerja..." ucap Akira penuh semangat. Tentu saja hal itu membuat Arjun tersenyum senang.


Saat ia mematikan panggilan telepon dari istrinya, bersamaan itu pula mobil yang mereka kendarai tiba di parkiran Perusahaan.


Eh, cepat juga sampainya... batin Arjun.


Padahal ia masih ingin melanjutkan pembicaraan dengan Galih.


"Masuk lah dulu... gue ada sedikit urusan..." ucap Galih setelah membuka pintu untuk Arjun.


Urusan apa? kembali lagi mode keingintahuan Arjun. Jiwa kekepoannya kembali menggebu-gebu mendengar ucapan Galih.


Pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan...


"Apa?" tanya Galih nyolot karena Arjun tak juga pergi dari sisinya.


"Ck...". Akhirnya Arjun pergi meninggalkan Galih dengan sewot.


Sambil bersandar pada bodi mobil, Galih terlihat menghubungi Tiara.


"Hei..." ucap Galih tidak ada manis-manisnya sama sekali.


Hal itu tentu saja membuat orang yang di telepon langsung kehilangan mood baiknya.


Mungkin saja langsung mengumpati Galih karena kesal.


"Arjun sepertinya curiga dengan keberadaan Lo di rumah gue,".

__ADS_1


"Benarkah? lalu?".


"Jangan cerita kepada Akira tentang apapun. Lo dimana sekarang?" tanya Galih.


"Kuliah...".


"Oke... kalau ada orang yang bertamu, jangan sekali-sekali lo yang membuka pintu. Kalau gue tidak ada di rumah, biarkan saja... mengerti?".


"Oke...".


Setelah mematikan sambungan teleponnya, Galih mengantongi ponsel dan berjalan cepat masuk ke dalam Gedung Pradipta Group menyusul Arjun.


 


Pekerjaan yang tidak ada habisnya benar-benar menyita tubuh Arjun. Bahkan ia sampai tak menyadari kalau telah tiba jam makan siang kalau Galih tidak masuk sambil membawa nampan berisi makan siang sekali gua minuman untuk pria itu.


"Makan dulu..." ucap Galih dan duduk di sofa yang berada di sudut ruangan itu.


Arjun bangkit dan mulai mendekat ke arah Galih. Dengan polosnya Arjun menanyakan sesuatu, "Lo tidak bawa bekal unyu lagi?".


Hingga membuat yang di tanya hanya bisa menaikkan satu alisnya keheranan.


Bekal unyu? Galih tak paham.


"Bekal makan siang..." ralat Arjun pada akhirnya.


Ia menamainya unyu karena bekal makan siang yang di bawa Galih memang terlihat lucu, walaupun rasanya tergolong enak.


"Tidak," jawab Galih singkat.


"Kenapa?" hal itu otomatis membuat Arjun protes. Padahal ia suka makanan yang di bawa Galih setiap hari. Enak tapi tidak seenak masakan Akira.


Karena masakan istrinya itu adalah masakan nomor satu bagi Arjun.


"Kenapa apanya?" tanya Galih nyolot.


Kenapa malah Lo yang suka? padahal itu kan bekal makan siang gue...


Galih sedikit tidak rela karena setiap kali membawa bekal, justru Arjun yang antusias memakannya. Sedangkan Galih, hanya mengambil beberapa suap saja karena Arjun tak berniat membaginya.


Karena itulah Galih kesal dan tidak lagi membawa bekal.


"Kalau lo suka, suruh Akira membuatnya..." celetuk Galih membuat Arjun tak bisa berkata-kata.


"Ck...".


Akhirnya, Arjun mengambil makan siangnya. Memakannya tanpa melihat ke Galih walau sedetik.


Dan yang di lakukan Galih juga ikut mengambil makan siang dan memakannya di samping Arjun.


"Eh nyet, lo kenal Tiara kan? hari itu gue pergi bersama Akira untuk menemuinya. Tapi rumahnya kosong... apa dia pindah sejak ibunya meninggal?" tanya Arjun di sela-sela makan siangnya. Sedangkan Galih tidak menjawab pertanyaan itu sama sekali.


"Apa jangan-jangan Lo menyembunyikannya?".


"Uhuukk..." Seketika Galih tersedak. Terbatuk-batuk dan mengambil air untuk melancarkan kerongkongannya. Bagaimana tidak? ucapan Arjun benar-benar membuatnya terkejut.


"Benar ya?" tuduh Arjun semakin penasaran.


"Apaan sih Lo! jangan aneh-aneh deh..." jawab Galih sewot. "Kenapa harus gue? mungkin dia tinggal dengan keluarga dari ibunya...".


Padahal ia memang sengaja menyembunyikan fakta yang ada.


"Lalu gadis yang dibicarakan Dion waktu itu? siapa?" pancing Arjun.


"A... itu... itu... Bella, Dion hanya menggoda Lo..." kembali lagi Galih beralasan.


Masak sih? mana mungkin Bella tidak keluar dan menyapaku waktu itu? batin Arjun.

__ADS_1


Karena Arjun tau bagaimana sifat Bella jika bertemu dengannya ataupun Dion. Gadis periang itu tentu saja akan ikut dalam obrolan mereka.


***


__ADS_2