Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
23. Tom And Jerry.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Masih di dalam kamar sebuah rumah mewah berlantai 3,


Arjun maupun Akira masih menampakkan wajah tak bersahabat. Saling menatap dengan Akira yang berkacak pinggang di depan Arjun.


"Sudahlah, gue males debat sama Lo!" setelah mengatakan hal itu, Akira berjalan menuju ke arah ruangan untuk mengganti bajunya.


"Heh, Lo mau melarikan diri ya? setelah menggunakan uangku, sama sekali tidak berterima kasih..." ucap Arjun nyolot. Bahkan mengikuti kemana Akira pergi.


Apa-apaan dia itu? Dia bilang kartu kredit itu sebagai nafkah untukku...? kenapa di protes?


batin Akira masuk ke ruangan ganti baju dengan membanting pintu itu hingga membuat Arjun terkejut karena pintu itu hendak menghantam tubuhnya sedikit lagi.


Untung saja tidak kena... batin Arjun sambil menyentuh dadanya.


"Akira! buka pintunya..." pinta Arjun terus menggedor pintu di depannya bahkan tidak memperdulikan suaranya yang mungkin saja sampai terdengar dari luar.


Di dalam hati Akira, gadis itu mengutuk apa yang dilakukan oleh suami bohongan nya.


Br*ngsek! bisa sabar tidak sih dia itu...


"Akirraa.." panggil Arjun lagi hingga membuat Akira mengepalkan tangan karena geram. Ingin sekali dia memukul wajah pria tak tau diri di depan sana.


Masih menggunakan jubah mandi, Akira segera memutar kunci pintu ruangan dan membukanya.


Braakk... suara pintu menggema hingga memenuhi sudut kamar mereka.


"APA!" tanya Akira dengan wajah tak bersahabat bahkan melotot ke arah Arjun.


Wiiihhh... galak amat di bocah... batin Arjun bergidik ngeri.


Ini pertama kalinya ia menemukan gadis yang sangat berani dan tidak takut kepadanya.


"Di tanya malah diam, tadi teriak-teriak tidak jelas. Mau Lo apa sih?" tantang Akira.


Mungkin saja jika diibaratkan dengan gunung berapi, kemarahan Akira telah memuncak dan sebentar lagi akan mengeluarkan lava napas.


Tapi bedanya Akira akan mengeluarkan umpatannya daripada Lava milik gunung berapi.


Tentu saja Arjun ternganga mendengar ucapan gadis di depannya.


"Itu..." ucapnya terbata-bata.


"Apa?" Akira masih berkacak pinggang seperti seorang preman.


"Itu..."


"Ita Itu... Lo bisa ngomong jelas tidak sih!" bentak Akira tak sabar.


"Ikatan jubah mandi Lo mengendor..." ucap Arjun kali ini bukan menatap ke arah wajah Akira, tapi sedikit lebih turun dari sana.


Ha? Akira langsung melingkarkan kedua tangannya menutupi area yang Arjun maksudkan tadi. "Mesum..." teriaknya dan langsung menutup pintu ruangan itu lagi.

__ADS_1


Kini tinggal Arjun yang berdiri dengan wajah aneh. Gila... gue benar- benar gila! Bukankah tadi sangat terlihat?


Bahkan matanya sampai berkedip berulang kali mengingat kejadian yang seharusnya tidak terjadi diantara mereka.


Sedangkan Akira yang berada di dalam rumah ganti memukul kepalanya berulang kali. Akira... kenapa Lo teledor sekali sih? itu dosa tau... batinnya kecewa.


Walaupun pada kenyataannya, Akira seringkali menggunakan pakaian atas yang cukup mengekspos tubuh bagian atasnya seperti memakai Crop Top yang bahkan panjangnya hanya sebatas pinggang ke atas.


Tapi ini beda! jelas beda! dia itu buaya... buaya akan tetap buaya, tidak akan mungkin berubah menjadi cicak... hati Akira membenarkan.


"Si*l!" umpatnya lagi.


 


Akira keluar dari dalam ruang ganti sambil celingukan melihat keadaan di luar sana.


Dia sedang mandi... batinnya membenarkan karena mendengar suara dari dalam sana.


Segera Akira melarikan diri keluar dari kamar. Ia sangat malu berhadapan dengan Arjun setelah kejadian memalukan barusan.


Setidaknya saat keluar kamar, Akira bisa bernafas lega walaupun ia tak tau harus berbuat apa di luar kamar di jam seperti ini.


"Gue akan cari udara segar... lagian gue tidak pernah keliling rumah ini..."


Ya, Akira mempunyai ide untuk berkeliling di rumah ini.


Dengan santai, Akira berjalan menuju ke pintu kaca yang berada di samping ruang keluarga.


Menggesernya dengan penuh kehati-hatian karena takut menimbulkan suara yang dapat mengganggu penghuni rumah ini.


"Oh ternyata kolam renang..." gumamnya pelan melihat pemandangan di depan sana.


Udara malam hari seketika menerpa kulit tubuhnya apalagi Akira hanya mengenakan gaun santai berbahan tipis.


Inilah pertama kalinya Akira melihat pemandangan lain dari rumah mertuanya.


Selama menjadi menantu keluarga Pradipta, Akira hanya mengetahui ruangan di lantai 1 dan lantai 2 saja. Itupun tidak semuanya ia tau.


Sedangkan lantai 3, Akira asama sekali tidak pernah naik kesana.


Penasaran sih memang, tapi Akira masih tau diri. Ia tidak bisa berkeliaran sesuka hatinya untuk melihat-lihat apa yang ada di rumah ini.


Di dalam kamar, Arjun keluar dari dalam kamar mandi dengan sebuah handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya saja. Sisa-sisa air masih menetes dari rambutnya menambah kesan cool setiap orang yang memandang.


Mengedarkan pandangannya, Arjun tak menemukan sosok gadis yang sempat membuatnya lama di kamar mandi. Jangan tanya ngapain... tentu saja ada sesuatu hal yang harus Arjun lakukan di dalam sana untuk sedikit membuatnya merasa tenang. haha...


"Kemana dia?" gumam Arjun sambil pandangannya terus mencari.


Arjun segera masuk ke dalam ruang ganti baju dan memakai pakaian setelahnya turun untuk makan malam.


Di ujung anak tangga, seorang pelayan datang menghampiri Arjun dan berkata, "Tuan muda, makan malam sudah siap..."


"Dimana Akira?" tanya Arjun penasaran.


"Sepertinya Nona muda berada di kolam renang... saya akan panggilkan," ucap pelayan itu berinisiatif.

__ADS_1


"Tidak usah, biar saya aja yang kesana..." tolak Arjun dan segera melangkah pergi mencari sosok istrinya.


Baru di ambang pintu kaca ruang keluarga, Arjun telah melihat sosok yang dicarinya sedang duduk sambil menatap pantulan bulan dari genangan air kolam.


Rambut gadis itu sesekali berterbangan karena angin yang bertiup sedikit kencang.


Arjun seperti tersihir dengan pemandangan di depannya hingga membuatnya melangkah semakin mendekat ke arah Akira duduk.


"Apa yang Lo lakuin disini?" tanya Arjun tanpa bisa di cegah sama sekali. Padahal tadi ia tidak berniat untuk bertanya kepada gadis itu lebih dulu.


Pertanyaan Arjun seketika membuat Akira mengalihkan pandangannya menatap pria itu, "He?"


Terkejut? tentu saja... karena dalam kesendiriannya tadi, Akira baru saja merancang pembicaraan untuk memberi tau Mami Livia dan juga Papi Johan tentang keinginannya untuk kuliah.


Tanpa di duga sama sekali, Arjun ikut duduk di samping istrinya. "Ehem..." sedikit berdehem pelan untuk mengusir kecanggungan.


Seketika suasana berubah hening kerena diantara mereka tidak ada yang bersuara.


Apa gue bilang Arjun lebih dulu ya... batin Akira.


Kenapa dia diam saja...? batin Arjun bertanya- tanya karena gadis di sampingnya hanya diam dan melempar pandangannya ke arah riak air di tengah-tengah kolam renang.


Ya... gue harus bicara dengan Arjun lebih dulu... setelah itu baru bicara dengan Mami dan Papi... batin Akira meyakinkan diri.


"Gue"


"Gue"


ucap mereka bersamaan hingga membuat keduanya ternganga.


Eh,


"Lo dulu..." pinta Arjun menyarankan.


"Lo dulu saja..." tolak Akira.


"Gue bilang, Lo duluan yang bicara..." ucap Arjun dengan sedikit meninggikan nada bicaranya.


"Tidak, Lo dulu yang bicara..." bantah Akira lagi.


Arjun dan Akira sama-sama menampakkan wajah kesal mereka.


Entah kenapa hanya begitu saja membuat mereka kembali berdebat.


Jika di samakan dengan sebuah kartun anak-anak, kelakuan Arjun dan Akira mirip sekali dengan kartun Tim And Jerry yang tidak pernah akur sama sekali.


Tanpa mereka sadari, di ruang keluarga ada 2 pasang mata yang melibatkan perdebatan lucu dari Akira dan Arjun.


"Lihatlah, mereka terlihat semakin akrab..." ucap Mami Livia melihat pemandangan lucu di depan sana.


"Mereka selalu berdebat karena hal-hal kecil..." tambah Papi Johan.


"Tapi serasi kan Pi?" tanya Mami Livia.


"Hm... Papi harap mereka selalu bersama..." harap Papi Johan melihat hasil perjodohannya dengan anak teman masa kecil beliau.

__ADS_1


"Mami juga berharap demikian..." tambah sang istri.


***


__ADS_2