
HAPPY READING...
***
"Itu lebih ke atas... ya itu... itu..." teriak Akira penuh semangat.
Saat ini dirinya tengah berada di samping rumah bersama dengan pelayanan rumah dan juga Mami Livia.
Cuaca Ibukota siang ini cukup panas hingga semua orang pasti butuh kesegaran.
Dan... disinilah mereka berada. Di bawah naungan pohon mangga dengan banyak sekali buah yang matang.
"Yang ini Nona?" tanya pelayan di sana sambil membawa sebuah kayu panjang yang hendak di gunakan untuk mengambil mangga di atas.
"Bukan yang itu... sampingnya lebih matang lagi," ucap Akira.
Pilihannya adalah segerombol mangga yang benar-benar sudah berwarna Oranye.
"Tidak sampai Nona..." keluh pelayan itu. Kepalanya bahkan terasa sangat pegal karena terus mendongak ke atas.
"Sudahlah Ra... ini saja," ucap Mami Livia sambil tersenyum dengan tingkah menantunya yang sangat menarik. Akira adalah gadis yang periang menurut Mami.
"Tapi di atas lebih matang Mi... sayang kalau tidak di ambil," tentu saja Akira tidak mau diam saja. Mangga di atas seperti sedang menggoda untuk segera di makan Akira.
"Nyonya, apa perlu saya panggilkan satpam untuk memanjatnya?" ucap pelayan menyarankan. Setidaknya pohon itu akan mudah di panjat oleh seorang pria.
"Baiklah, panggil dia kesini... jangan lupa membawa tangga lipat untuk memanjat nanti," perintah Mami Livia.
"Baik,"
Pelayan segera pergi dari sana dan menemui Satpam.
Ternyata semua itu dilihat oleh Arjun dari lantai 2 rumah Pradipta. Pria itu berdiri di balkon sejak tadi sambil memperhatikan Akira yang berteriak-teriak heboh sejak tadi.
Tanpa berlama-lama, Arjun segera berlari. Ia ingin menemui istri dan Ibunya.
Sampai di samping rumah, Arjun langsung duduk di samping ibunya. "Ngapain kalian?" tanyanya seolah tidak tau apa yang sedang terjadi.
"Makan buah," jawab Mami Livia yang tengah sibuk mengupas mangga yang dapat di ambil tadi.
"Itu belum terlalu matang Mi," ucap Arjun yang memperhatikan mangga di tangan ibunya. Warna mangga itu masih kekuningan dan tentu saja akan terasa asam.
"Justru ini yang sangat enak... segar..." balas Mami Livia.
Mangga seperti itulah yang selalu enak jika di buat rujak buah.
"Arjun, kamu bisa memanjat?" tanya Akira masih sibuk menatap mangga di atasnya.
Arjun tidak langsung menjawab, Kalau gue bilang bisa, apa dia akan menyuruhku memanjat? tidak... tidak... gue bisa di gigit semut nanti...
"Tentu saja, waktu kecil Arjun senang sekali memanjat pohon..." kawan Mami Livia semangat untuk memamerkan anak laki-laki nya.
__ADS_1
Seketika senyum bahagia terpancar dari wajah Akira. "Sayang, tolong ambilkan mangga itu..." ucap Akira memohon.
Bahkan tanpa sadar, Akira tak sengaja menggenggam tangan Arjun hingga membuat pria itu menatap ke arah tangan Akira.
Ada perasaan aneh dalam hati Arjun. Perasaan yang menggelitik di dalam perutnya.
"Eh, sorry..." ucap Akira sadar dengan apa yang telah ia lakukan.
Seketika canggung langsung mengambil alih suasana. Sedangkan Mami Livia tersenyum melihat hal itu.
Mereka malu... hahaha...
Tanpa di duga sama sekali, Arjun langsung mendekati pohon mangga yang tinggi di depannya. Menggulung celana panjangnya sampai ke lutut dan bersiap untuk memanjat.
"Hati-hati Jun," ucap Akira tapi seketika tersadar karena ucapannya, "Eh, Hati-hati sayang..." ralat nya.
Tentu saja hal itu membutakan Arjun bersemangat untuk memanjat pohon demi mengambilkan mangga yang di inginkan istrinya.
"Yang mana?" tanya Arjun ketika sudah berada di salah satu cabang pohon.
"Ke kiri..." teriak Akira memberi petunjuk pada Arjun.
Dengan sangat hati-hati juga langkah yang pasti, Arjun mulai merambat ke sisi kiri tubuhnya. Kakinya berpijak pada sebuah cabang yang cukup besar dan kuat untuk sekedar menopang berat tubuhnya,
"Ini?"
"Iya ... yang itu, yang itu," Akira bersemangat karena Arjun mampu menggapai mangga yang diinginkannya.
Arjun tersenyum melihat hasil yang didapatkannya. Dengan satu tangan, pria itu berusaha untuk turun.
"Hati-hati Tuan muda,"
Ternyata pelayan dan seorang Satpam baru tiba dengan membawa sebuah tangga.
"Pegang tangga nya.." perintah Arjun pada satpam pria di bawah sana.
"Baik,"
segera Satpam itu memegang tangga agar ketika Arjun turun, tangga itu tak bergerak.
Arjun sudah turun dengan selamat. Ia menyerahkan beberapa buah mangga kepada istrinya,
"Makasih..." ucap Akira dengan senyuman.
Siang hari ini diisi oleh Akira, Arjun dan Mami Livia dengan menikmati buah segar dan juga sambal rujak.
Sesekali mereka tertawa karena lelucon Mami Livia.
Inilah cara untuk mendekatkan keluarga baru tersebut.
***
__ADS_1
Sore hari.
Akira berada di dalam kamar sambil membaca sebuah buku. Walaupun hari libur, Akira tetap belajar dengan sangat giat.
Sedangkan Arjun, pria itu terlihat sedang merokok di balkon. Terlihat dari kepulan asap yang mengepul naik ke udara beberapa kali.
Entah kenapa dia selalu merokok... apa tidak memikirkan kesehatannya? batin Akira melihat Arjun. Rokok memang sangat berbahaya bagi kesehatan.
Tapi bukannya menegur pria itu, Akira membiarkannya saja dan kembali sibuk dengan bukunya.
Hingga Akira tak menyadari kalau Arjun telah selesai merokok dan tiba-tiba duduk di sampingnya.
"Cie belajar..." goda pria itu entah apa maksudnya. Tapi yang jelas hal itu di tunjukkan kepada Akira.
"Apa sih yang lo baca?" tanya Arjun sambil berusaha memaksa untuk melihat buku yang sedang di pegang Akira.
"Oh, ini..." ucapnya lagi.
Ck... memang dia tau? batin Akira sedikit mengejek. Buku yang ia baca adalah buku pelajaran tentang materi kesehatan. Jadi tidak semua orang mendapatkan buku seperti ini.
"Memang lo tau?" tanya Akira dengan ekspresi mengejek.
"Tentu saja... gue kan pintar..." jawab Arjun dengan sombongnya.
Akira berdecak karena ucapan Arjun barusan adalah sebuah bualan saja baginya.
Arjun memang lulusan Universitas di Luar negeri. Tapi Akira tau kalau jurusan Arjun berbeda dengan jurusan yang ia ambil.
"Serius... gue pernah belajar tentang hal itu," jawab Arjun meyakinkan Akira.
"Dimana?" tanya Akira tanpa mengalihkan perhatiannya dengan deretan huruf di dalam buku itu.
"Ya sekolah lah..." ucap Arjun sambil menonyor kepala Akira dengan jari telunjuk nya.
"Gue dulu juga bercita-cita sebagai seorang dokter..." ucap Arjun dan seketika mampu membuat Akira menutup bukunya.
Akira ingin mendengar lebih jauh apa yang Arjun katakan barusan.
"Dokter?" tanya Akira.
Arjun mengangguk setuju. Ya... impiannya dulu adalah menjadi seorang dokter yang hebat. Dokter yang mampu mengobati banyak orang di luaran sana.
Tapi lebih dari itu, Arjun ingin menyelamatkan seseorang. Menyelamatkan seseorang yang selalu menangis kesakitan saat penyakitnya kambuh.
Itulah sebabnya Arjun bercita-cita menjadi Dokter untuk membantu gadis kecil itu.
"Kenapa Lo malah jadi seperti ini?" tanya Akira.
Maksudnya adalah kenapa Arjun tidak menjadi Dokter dan malah bekerja di Perusahaan Pradipta Group.
"Menurut Lo?" tanya Arjun kepada Akira.
__ADS_1
***