
HAPPY READING...
***
Andai waktu bisa di putar kembali, Aku tidak ingin mengenal banyak orang di Dunia ini... GALIH.
Nafasnya seperti tercekat di tenggorokan. Pandangannya kian kabur bahkan suara-suara yang tadinya terdengar keras memekakkan telinga, Tiba-tiba sirna begitu saja.
Meninggalkan hembusan angin malam yang meniup sampai di leher bagian belakang siap orang yang ada di dalam salah satu unit Sebuah Apartemen Elit di kawasan Ibukota.
Jantung yang dulu selalu berdetak tak karuan saat menatap seseorang, senyum yang selalu melengkung sempurna di bibir tipis itu tak lagi terlihat.
Yang ada hanya sebuah tatapan penuh kekecewaan dan entahlah, sulit sekali diartikan.
Tidak ada yang bisa memahami tatapan mata dari seorang pria di depan sana. Yang berdiri tanpa bersuara sedikitpun.
Bahkan detak jantungnya saja tak terdengar seperti biasanya.
Jika kamu tau, sampai detik ini aku tak pernah menyesal pernah mengenalmu... menjadi penghuni tempat spesial di dalam hatiku... batin Galih.
Sedangkan wanita yang di tatapnya hanya bisa tertunduk dengan rambut yang menutupi sebagian dari wajahnya.
Tubuhnya bergetar seiring dengan suara isak tangis yang mulai terdengar. Memilukan...
"Kenapa Lo berpura-pura tidak mengenalinya?" kali ini Dion yang bersuara.
Setelah mengetahui wanita di depan sana adalah wanita di masa lalu Galih, sepertinya Dion sangat penasaran dengan alasan yang mendasari hal tersebut.
Di tanya seperti itu, Lea sama sekali tidak bersuara. Karena tujuan dia kembali ke negara ini karena di pulangkan secara paksa. Sedangkan dulu hidupnya di tanggung oleh pria yang sudah beristri.
Jadi sekarang saat Lea tak lagi ada yang menanggung hidupnya, wanita itu harus terpaksa mencari laki pria kaya lainnya.
Tapi siapa sangka kalau pria yang jadi incarannya adalah sahabat dari mantan kekasihnya dulu. Karena selama menjalin hubungan dengan Galih, Lea sama sekali tak pernah bertemu secara langsung dengan Arjun maupun Dion.
Bukan berarti Lea tak tau keberadaan sahabatnya Galih, karena Galih seringkali bercerita tentang sahabatnya tersebut kepada Lea.
"Lo bisa merubah wajah Lo seratus kali, tapi Lo tidak akan bisa merubah sifat Lo..." ucap Galih.
Karena sejak pertama kali melihat Lea, Galih sangat yakin kalau wanita itu adalah mantan kekasihnya.
"Jadi Lo rela operasi plastik untuk merubah diri Lo?" tanya Arjun.
Ya walaupun Arjun sering melihat hal itu dari kalangan artis maupun orang-orang kaya, tapi inilah pertama kalinya Arjun melihat secara nyata. Benar-benar di depan matanya sendiri kalau ada orang yang melakukan operasi plastik untuk mengubah wajahnya.
Gila...
"Apa peduli kalian? kenapa kalau memang benar gue telah menjalani operasi plastik?ha?" teriak Lea murka. Apapun yang dia lakukan, tidak perlu menjadi bahan pembicaraan orang-orang termasuk ketiga pria di depannya.
"Lagian gue operasi juga bukan menggunakan uang kalian kan? jadi kalian tidak berhak ikut campur," tambahnya.
Dion memangku kedua tangannya di depan perut, "Benar, bukan uang gue juga... tapi gara-gara bermuka dua, gue jadi ikut kena imbasnya..." sindir pria itu menatap Arjun dan Galih bergantian.
Karena semua yang Dion lakukan juga untuk melindungi kedua sahabatnya.
Tentu saja ia perlu menggunakan otaknya lebih berat dari biasanya.
Ck... gue sedikit tidak terima dengan ucapannya si monyet itu! batin Arjun kesal.
Padahal Arjun juga ikut andil dalam rencana ini bukan? bahkan sampai meninggalkan istrinya.
Aggghh... sekarang Akira sedang apa ya? gue tadi kangen...
"Jadi rencana apa yang sedang Lo rencanakan?" tanya Dion lagi.
Hal itu tentu saja membuat Lea mendongakkan kepalanya. Terkejut juga bingung dengan ucapan pria tersebut.
__ADS_1
Apa mereka tau? hanya itu pertanyaan ada di dalam kepala Lea saat ini.
"Rencana apa? memang apa yang gue rencanakan?" tanya Lea berusaha untuk tidak tau.
"Apalagi, rencana yang lo buat bersama dengan Dean..." sela Arjun.
Dalam otaknya hanya ada satu kemungkinan. Rencana untuk menghancurkan pernikahan Arjun dan Akira.
Seketika Lea membeku. Jantungnya berhenti berdetak dengan ucapan Arjun.
Mereka tau? darimana?
Tentu saja keguguran Lea mampu di lihat oleh mereka.
"Jangan ganggu pernikahanku..." pinta Arjun bahkan dengan nada yang sopan.
"Apa yang gue lakukan? jangan asal nuduh!" teriak Lea bahkan sampai menunjuk ke arah Arjun tanpa segan.
Walaupun pada kenyataannya memang benar, Lea masih meninggikan harga dirinya untuk mengakui semuanya.
Hal itu membuat Galih kesal. Perubahan Alya benar-benar terlihat nyata. Gadis polos yang dulu bersamanya saat ini tak nampak lagi. Yang terlihat hanya sebuah ketamakan saja di matanya.
Alya berubah menjadi wanita yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan semuanya.
Galih meninggalkan kamar tersebut tanpa berkata apapun.
Semakin berada di dalam sana lebih lama, hatinya seperti di remas kuat. Galih tak tahan akan hal itu.
Untuk itulah Galih memutuskan untuk pergi saja, membiarkan Dion dan Arjun yang menyelesaikan masalah yang seharusnya menjadi masalahnya sendiri.
***
1 jam kemudian.
Galih sedang duduk di taman yang berada di depan Apartemen. Menikmati rokok yang entah sudah keberapa kalinya.
Saat itu juga sebuah langkah kaki mendekati kesendirian Galih.
"Lo senang kan?",
Bukan sapaan hangat dari seseorang, tapi malah pertanyaan yang tentu saja tidak perlu membutuhkan jawaban darinya.
"Ini kan yang Lo mau? mempermalukan ku di depan sahabat-sahabat mu?",
Pertanyaan yang terlontar tak juga membuta Galih bersuara.
"Galih, jawab aku!" teriak Alya marah. Mungkin malam ini memang malam paling buruk baginya.
Semua orang hanya ingin mempermalukan nya saja tanpa merasa kasihan sedikitpun.
Semua orang seperti ingin menertawakan Alya dan menganggap bahwa hanya dirinya saja yang melakukan dosa.
"Kenapa gue tidak berhak bahagia? kenapa?" Wanita itu terduduk sambil menangis.
Hatinya sakit dengan semuanya.
Sesakit inikah menjadi dewasa?
Dunia ini begitu kejam untuk Alya. Tidak ada sudut tempat pun yang ikhlas menerima keberadaannya.
Semua sudut dunia ini seperti menolak keberadaannya. Lalu apa gunanya gadis itu hidup? Bahkan orangtuanya saja telah meninggalkan Lea saat Alya masih membutuhkan kasih sayang mereka.
Alya ibarat seekor anak burung yang belum bisa mencari makan sendiri tapi di paksa untuk terbang. Bagaimana bisa ia terbang sedangkan sayap di punggungnya belum sepenuhnya tumbuh?
Seperti itulah Dunia memperlakukan Alya.
"Bahagia? apa arti kebahagiaan menurut Lo?" tanya Galih menjatuhkan puntung rokoknya di bawah dan menginjaknya tanpa ragu.
__ADS_1
"Harta? pria kaya raya? hidup sebagai pemuas n*fsu pria bergelimang harta?",
Alya semakin menangis. Ucapan dari Galih seperti sebuah pedang yang menikam dirinya. sakit sekali...
Hal itu mengingatkan Alya tentang masa lalunya yang tak dapat di pungkiri sangat ia rindukan kembali.
"Galih..." panggil Alya dengan lirih.
Nama yang sudah lama tak di ucapannya tiba-tiba lolos begitu saja.
Sebuah nama yang pernah mengisi hari-hari Alya kembali terlintas dalam kepalanya.
"Lo tau ... setiap saat, setiap waktu gue selalu memohon kepadaNya, memohon agar Lo segera pergi dari dunia ini..." ucap Galih yang mungkin terdengar sangat kejam.
Tapi itu adalah nyata. Saat dimana bayangan Alya kembali berputar di kepalanya, Galih selalu memohon kepada sang Pencipta agar gadis itu segera tiada.
Karena membayangkan bertemu dengannya saja, sudah menjadi ketakutan bagi Galih.
"Hiks...", Alya semakin terisak mendengar pengakuan dari Galih.
"Lo adalah kebahagiaan dan juga hukuman bagi Gue..." ucap Galih dan tersenyum getir.
Karena Alya adalah cinta pertama baginya, dan karena Alya juga Galih merasakan sesuatu yang amat menyakitkan. Gadis itu benar-benar meninggalkan luka yang amat dalam di hatinya.
Luka yang sampai sekarang belum sepenuhnya sembuh.
"Andai waktu bisa ku putar lagi,..." Galih menatap Lea yakin.
"Aku tak ingin bertemu dengan banyak orang yang datang hanya untuk meninggalkan luka...".
Galih bangkit dari duduknya.
Berjalan hendak meninggalkan Alya di taman Apartemen.
"Pergilah... pergilah sejauh mungkin... pergilah sampai gue tidak bisa menemukan mu sama seperti dulu," ucap Galih. "Dan... jika suatu hari kita tak sengaja bertemu... bersikaplah seolah kita tidak pernah saling mengenal Alya...", dan langsung pergi tanpa menengok sedikitpun untuk melihat apakah Alya baik-baik saja karena ucapannya.
Di dalam Lift, Galih bersandar tanpa kekuatan sama sekali. Matanya memerah menahan kesedihan sedangkan satu tangannya meremas kuat bagian dada yang entah kenapa terasa amat sakit.
Maafkan aku Alya... maafkan Aku...
***
Alya berjalan gontai menyusuri trotoar sepanjang jalan yang begitu sepi. Pandangannya benar-benar kosong dengan kaki yang menapak jalanan dengan Heels yang amat menyiksa.
Apa ini karma bagiku? Apakah ini karma yang harus gue terima setelah begitu banyak membuat Galih menderita?
Seperti ini rasanya terbuang? Bahkan sakitnya melebihi saat dimana Gue dengan paksa di pulangkan dari Luar negeri,
Tuhan, apa masih ada kesempatan bagiku untuk menyesali semuanya? apa ada kesempatan bagiku untuk berubah?
Aku sempat lupa bahwa ada bagian dari dirimu yang masih bersama ku...
Aku sengaja tidak menghapus Tato ini... entah
karena apa... tapi yang jelas aku ingin Tato ini selalu bersamaku...
Dan malam itu Alya berjalan menyusuri jalanan seorang diri. Menyesalinya apa yang telah ia perbuat selama ini.
Merenungkan apa saja yang pernah ia lakukan pada orang-orang yang selalu baik terhadapnya.
***
Kita udahan sama Masa lalunya Galih....
Besok ketemu lagi dengan Pasangan Arjun dan Akira... Walaupun tidak Sweet karena mereka harus berantem, tapi cukup menghibur lah... hehehe
Lov kalian banyak-banyak... See You Tomorrow...
__ADS_1