
HAPPY READING...
***
Hari Ke 10, London.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sudah 10 hari terakhir Akira menikmati dunia yang belum pernah ia pijak sama sekali seumur hidupnya.
Belanda, Perancis, dan yang terakhir Adalah Inggris.
Bersama dengan Arjun, mimpi-mimpi Akira yang terasa mustahil benar-benar terwujud.
Dengan pria itu, Akira merasa amat bahagia. Ia seperti gadis paling beruntung yang hidup di dunia ini.
Sudah banyak sekali barang-barang yang Akira beli karena kalap mata. Apalagi di Paris, kota yang terkenal dengan Fashion dengan brand-brand terkenalnya.
Di sana, koper Akira benar-benar terisi penuh.
Tentu saja bukan untuk dirinya sendiri. Ada oleh-oleh yang memang sengaja di beli untuk Mami, kedua orangtuanya dan juga sahabatnya.
Seperti itulah sifat Akira, gadis yang selalu memperhatikan orang lain sebelum dirinya sendiri.
Walaupun sudah puas berkeliling di Eropa, dalam hati kecil Akira ia ingin lebih lama berada di negara ini.
Menikmati suasana yang tidak dapat di temukan di negara asalnya. Tapi bukan berarti Akira melupakan negaranya, karena masakan di negaranya masih sangat lezat di bandingkan dengan Eropa.
Lebih tepatnya Akira merindukan masakan khas rempah di tanah airnya yang tidak dapat di temukan di Eropa.
Masih tersisa 4 hari dari jadwal perjalanan mereka. Dan di sinilah Arjun dan Akira berakhir.
London, Ibukota Inggris.
Kota Metropolitan yang amat sibuk.
Akira langsung berlari masuk ke dalam kamar hotel setelah pintunya terbuka. Menuju ke Balkon kamar dengan senyum yang amat sumringah.
"Waw..." sama seperti negara sebelumnya, Itu adalah kata pertama yang mendeskripsikan negara yang baru saja ia datangi.
Membuat Arjun tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
10 hari tidak membuat Akira merasa lelah ataupun penat, nyatanya gadis itu selalu terlihat semangat setiap harinya.
Kedua mata Akira tertuju pada pemandangan London malam hari yang amat indah. Ribuan lampu-lampu gedung pencakar langit dan jalanan terlihat bak bintang di langit bersinar dan bertaburan. Di tambah dengan menara tinggi yang terdapat sebuah jam amat besar sebagai identitas kota ini.
"Indah sekali..." puji Akira. Karena selama ia hidup, Akira hanya melihatnya dalam potret saja.
Tapi sekarang, pemandangan itu benar-benar nyata di depan matanya.
Bersyukur sekali Akira mampu menikmati hak itu. Dan semua tentu saja karena Arjun, suaminya.
Andai pria itu tak membawa Akira kemari, mungkin Akira tidak akan pernah tau bagaimana suasana London di malam hari.
"Kamu suka?" tanya Arjun yang tiba-tiba datang dan memeluk perut istrinya dari belakang.
Tanpa memperdulikan pelayan dan penjaga yang memasukkan koper pasangan tersebut.
"Sangat suka..." jawab Akira yakin.
Tak sabar sekali rasanya menunggu pagi untuk berjalan-jalan mengelilingi kota ini.
Ada apa di luar sana, bagaimana suasana pagi hari, apa sesibuk Ibukota di negara asalnya? Akira sangat penasaran akan hal itu.
"Kita disini 4 hari... jadi puas-puaskan..." ucap Arjun. Memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat dan sesekali mencium pucuk kepala Akira lembut.
"Tentu saja, kapan lagi aku bisa sampai kesini..." jawab Akira.
Bahkan besok ia sudah berencana untuk pergi keluar dan kembali ke hotel saat malam. Puas bukan? hehehe...
"Sayang," panggil Arjun dengan tatapan masih ke arah jauh di depan sana.
"Hm,"
"Apa disini sudah terbentuk Arjun junior?" tanya Arjun dengan tangannya menerobos pakaian istrinya untuk menggapai perut gadis itu.
__ADS_1
Itulah yang Arjun harapkan. Di perut istrinya tercipta sebuah kehidupan baru yang akan mengubah semuanya. Mempererat hubungan Arjun dan Akira sampai kapanpun.
"Entah," jawab Akira ragu. Walaupun ia tak lagi meminum pil penunda kehamilan, tapi dalam relung hatinya Akira masih bertanya-tanya. Apakah ia siap untuk mengandung seorang bayi dalam rahimnya? bagaimana pendidikannya nanti? pertanyaan itu selalu menghantui dirinya sampai saat ini.
Semua anggota keluarga memang mengharapkan kehadiran seorang bayi dari rahim Akira. Tapi hanya dirinya yang merasa takut dan khawatir. Apalagi menjadi seorang ibu bukanlah hal yang mudah.
Akira di tuntut untuk dewasa di usianya yang baru menginjak 19 tahun, itupun belum genap.
Karena masih tersisa 6 bulan lagi untuk menuju ke angka 19 tahun.
Tapi sebagai seorang wanita yang telah bersuami, tentu saja hal yang wajar jika ada seorang bayi dalam pernikahannya.
"Jangan khawatirkan sesuatu, aku janji... kamu masih bisa melanjutkan kuliahmu nanti..." ucap Arjun sadar akan kekhawatiran yang ada di dalam hati Akira.
"Benarkah?"
"Tentu saja, biar Mami yang merawat bayi kita... karena dia yang ingin cucu bukan? hehehe..." gurau Arjun.
Sedangkan Akira juga ikut tertawa dengan kelakuan suaminya.
"Jangan berpikir aneh-aneh, aku akan selalu bersamamu..." ucap Arjun meyakinkan istrinya.
Dan kedua orang itu kembali menjaga jarak saat mendengar pintu kamar di ketuk dari luar,
"Siapa sih!" gumam Arjun kesal karena saat ini bukan waktu yang tepat untuk bertemu seseorang.
Arjun meninggalkan Akira dan berjalan menuju ke pintu. Memutar kunci dan membukanya untuk melihat siapa orang yang tengah mengganggu aktifitasnya barusan.
"Ada apa?" tanya Arjun kesal. Lebih kesal karena yang mengetuk pintu itu adalah Galih.
"Ck, kenapa Lo marah?" tanya Galih sambil berusaha mengintip ke dalam kamar Arjun. Penasaran dengan apa yang tengah terjadi hingga membuat Arjun terlihat kesal kepadanya.
Padahal jelas, sumber kekesalan Arjun adalah Galih.
Mengganggu acara romantis ku saja! umpat Arjun dalam hati.
"Nih ponsel Lo berbunyi..." Galih menyodorkan ponsel ke arah Arjun. Jika bukan karena ponsel pria itu berbunyi, mana mau Galih menemui Arjun malam-malam begini. Lebih enak tidur bukan? karena besok pagi Galih yakin akan bekerja lebih berat dari 10 hari yang lalu.
Memang pekerjaannya tidak membutuhkan banyak otak seperti di Pradipta Group sih, tapi ikut liburan Arjun dan Akira benar-benar menguras tenaganya.
Mungkin betisnya sedikit membesar akhir-akhir ini.
"Siapa?" tanya Arjun karena panggilan tersebut telah terputus sebelum ia menerimanya.
Tapi Galih tidak menjawab Arjun lebih dulu mengeceknya.
"Dion?" gumam Arjun sedikit terkejut.
Sudah 10 hari mereka tidak saling berkomunikasi. Dan Dion juga tau kalau Arjun tengah liburan.
Ngapain dia meneleponku? batin Arjun.
"Thanks ya..." jawab Arjun dan langsung memutar tubuhnya kembali masuk ke dalam kamar.
Membuat Galih yang masih berada di depan pintu merasa sebal karena adi tinggalkan begitu saja.
"Ada apa sayang?" tanya Akira penasaran.
"Oh ini... tadi Dion sempat menelpon," jawab Arjun dan kembali mendekati istrinya. Berdiri di Balkon sama seperti tadi.
"Coba telepon balik, kali aja penting..." saran Akira.
"Hm," jawab Arjun dan langsung menghubungi nomor sahabatnya.
"Halo," sapa Arjun.
"Halo... susah sekali sih lo di telepon!" umpat Dion di seberang sana.
Karena memang sejak tadi Dion mencoba untuk menghubungi Arjun beberapa kali tapi tidak ada jawaban.
Bagaimana bisa menjawab telepon dari pria itu coba, ponselnya di bawa Galih sedangkan saat itu Galih baru mandi.
Jadi tidak bisa menjawab panggilan Dion bukan?
__ADS_1
"Ck, sibuk buat bayi Lo!" sindir Dion.
Membuat Arjun tersenyum dan menatap istrinya.
Tentu saja Akira kebingungan di tatap Arjun seperti itu.
"Kepo banget... ngapain Lo nelepon?" tanya Arjun mengalihkan topik pembicaraan.
"Ya hanya ingin tau saja... 10 hari Lo tidak ada kabar, jadi sebagai sahabat yang baik gue harus cari tau bukan? bagaimana kalau seandainya sahabat gue meninggal dalam liburannya? hehehe..." gurau Dion.
"Dasar t*i!" umpat Arjun kesal.
"Hahaha..."
"lo benar-benar temen gak guna..." cerca Arjun lagi. Sedangkan Dion terdengar semakin tertawa.
Walaupun saling serang, tapi mereka sama sekali tidak tersinggung. Karena sudah hafal dengan sifat masing-masing.
"Dimana Lo sekarang?" tanya Dion.
"London," jawab Arjun.
"Gue ada di balkon kamar..."
"Gue gak nanya ya..." ucap Arjun sewot. Ngapain juga ia harus repot-repot menanyakan keberadaan Dion saat ini.
"Hahaha... Bangs*t!" umpat Dion dan membuat Arjun yang gantian tertawa.
"Biasanya kalau ngomel-ngomel begini, tandanya Lo kurang pelep*san..." sindir Arjun.
"Hahaha...b*ngke! yang sudah menikah belagunya setengah mati..."
"Makanya buruan nikah, ingat umur..." sindir Arjun.
Karena sebentar lagi umur Dion sudah menginjak ke angka 29 tahun. Waktu yang tepat untuk berkeluarga.
"Ck..."
Mereka sejenak Arjun terdiam, mengamati pemandangan London dari balkon kamarnya.
"Indah bukan?" tanya Dion.
"Ha... apanya?" tentu saja Arjun tidak paham apa maksud Dion barusan. Karena mereka dalam negara yang berbeda.
"Pemandangannya lah..."
Arjun menaikkan sebelah alisnya, pemandangannya? apa di negaraku sama-sama berlangit cerah seperti London?
"Lihatlah jam besar itu, mampu menghipnotis siapa saja untuk melihatnya...".
Arjun semakin bingung dengan ucapan Dion yang terdengar ngelantur.
"Lo dimana sekarang?" tanyanya.
"Balkon..."
"Maksud gue di mana? Indonesia?" tanya Arjun kesal.
"Gua ada di balkon... bahkan bisa melihat Lo dari sini..." Jawab Dion.
Membuat Arjun melongo mendengar jawabannya.
"Lihat ke kanan Lo!"
Seketika Arjun menengok ke arah kanan di ikuti Akira, dan matanya langsung membulat melihat sosok lain di balkon yang tengah melambaikan tangan dengan senyum jenaka,
"Hai...",
"Dasar..." ucap Arjun dengan gigi bergeturu.
***
Hahaha... Memang jahil bener Dion...
__ADS_1
Ngapain coba pakai acara menelpon Arjun, sedangkan dia ada di Kamar lain dari kamar Arjun dan Akira...
Semoga syuka.... luv kalian banyak-banyak...