
HAPPY READING...
***
Aku pernah sekali mencintai seseorang... Dan paham bagaimana rasanya.
Tapi dengannya... hanya dengan Arjun, Jantungku seperti jungkir balik dari tempatnya... Apakah ini juga perasaan Cinta? ...
Akira.
---
Arjun menggandeng tangan Akira untuk masuk ke dalam mobil yang terparkir tak begitu jauh dari tempat mereka bertemu tadi. Arjun berjalan mendekati pintu dan membukakan pintu mobil untuk istrinya.
Rona kebahagiaan jelas terpancar dalam wajah Akira. Dia merasa senang dengan sikap Arjun kepadanya.
Eh, koper?
Akira sedikit terkejut karena di bangku tengah kendaraan yang di naiki masih ada sebuah koper yang familiar baginya.
Ya... Akira ingat kalau benda itu adalah milik suaminya.
Akira langsung menanyakan saat Arjun baru saja duduk di kursi kemudi, "Sayang... kenapa ada koper?" tanya Akira kebingungan.
Apa Arjun benar-benar baru pulang? dan langsung menjemput ku? Akira terkejut dengan pemikirannya sendiri.
"Kenapa? kamu tidak suka aku jemput?" bukannya menjawab, Arjun malah ganti bertanya kepada istrinya.
"Ti-dak... tidak begitu," tentu saja Akira senang di jemput Arjun seperti sekarang. Sungguh beberapa hari yang lalu, Akira merasa kesepian. Bahkan tidurnya benar-benar tak nyenyak karena sisi ranjang kamarnya terasa dingin karena tidak ada yang menempati.
"Dimana asisten mu?" tanya Akira.
Tentu saja ia sangat penasaran karena saat Arjun berangkat memang bersama dengan Galih. Tapi tiba-tiba Arjun menjemputnya seorang diri. Apa dia meninggalkan Galih di kota itu? batin Akira menerka-nerka kejadian yang sebenarnya.
"Sudah pulang," jawab Arjun tanpa mengalihkan pandangannya ke jalanan di depan sana.
"Sendiri?" desak Akira lagi.
Nih orang kalau di ajak bicara serius kenapa jawabnya singkat mulu sih... panjang dikit napa?
"Aku mengantarkannya lebih dulu sebelum menjemputmu sayangg..." ucap Arjun panjang sepanjang tarikan nafasnya.
Walaupun dari cara bicara Akira tadi yang terdengar seperti sedang mencari penjelasan, tapi tak membuat Arjun merasa marah ataupun sebal. Justru merasa senang karena Akira menanyakan dirinya.
"Oh..." itulah jawaban final dari Akira.
Mereka sama-sama memandang jalanan di depannya dengan pikiran masing-masing.
"Kamu sudah makan siang?" tanya Arjun memecah keheningan yang sempat tercipta di antara mereka.
"Belum,"
"Ayo cari makan dulu..." ajak Arjun. Ia juga merasa lapar karena belum mengisi perutnya sejak tadi.
"Oke, makan dimana?" tentu saja Akira setuju.
Perut kosong memang hal paling menyusahkan.
"Kamu maunya dimana?".
Arjun lebih pasrah kepada Akira untuk menentukan tempat makan siang kali ini.
Anggap saja sebagai bentuk tanggung jawab Arjun kepada istrinya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau K*C?," saran Akira dengan penuh semangat. Sudah sangat lama ia tidak pergi ke tempat makan dengan menu ayam tepungnya yang sangat lezat.
"Baik tuan putri..." jawab Arjun dengan senyum mengejek.
Siang ini Arjun benar-benar menuruti keinginan istrinya.
Tak butuh waktu lama, mobil yang di kendarai Arjun mulai terparkir rapi. Mereka turun bersamaan dengan tangan Arjun yang langsung memeluk pinggang sang istri.
Di dalam tempat makan itu tidak terlalu banyak pengunjung karena jam makan siang telah lewat. Arjun segera memesan apa yang di inginkan istrinya, sedangkan Akira langsung duduk di kursi yang berada di dekat kaca dimana mampu melihat pemandangan di luar.
"Makanan telah datang..." ucap Arjun menirukan pramusaji di sebuah restoran.
Tentu saja hal itu membuat Akira tertawa geli.
Inilah sisi lain yang Akira lihat dari Arjun untuk pertama kalinya. Pria itu terlihat sangat sangat hangat kepadanya. Dari cara Arjun tersenyum, berbicara dengan Akira sangat jauh dari yang dulu.
Kenapa dia tambah manis sih... batin Akira bicara.
Arjun dan Akira benar-benar menikmati makan siang mereka sambil sesekali bercerita apa yang mereka lakukan selama 5 hari terakhir.
Dan dari situ juga Akira tau bagaimana pekerjaan Arjun yang terdengar sangat melelahkan.
Akira dan Arjun sudah selesai makan. Saat ini mereka kembali melanjutkan perjalanannya.
Tapi ada satu hal yang membuat Akira penasaran. Apalagi kalau bukan tentang hadiah yang di minta Akira saat di tinggal Arjun.
"Mana hadiah ku?" tanya Akira membuka pembicaraan.
Pertanyaan Akira langsung membuat Arjun membulatkan mata. Ia teringat dengan keinginan istrinya itu ketika Arjun pulang dari urusan bisnis.
"Kamu lupa kan?" tanya Akira lagi kali ini dengan menampakkan wajah sedihnya.
Bukan masalah mahal atau murahnya benda yang di inginkan Akira. Gadis itu juga tidak mematok harga sebuah oleh-oleh harus yang mahal, Akira hanya ingin tau bagaimana keseriusan Arjun.
"Aku yakin kamu lupa..." Akira melengos masam. Kali ini menatap jalanan samping dari balik jendela kaca di sampingnya.
Ck... hanya begitu saja dia lupa,
"Sayang..." bujuk Arjun.
"Jangan sayang-sayang..." omel Akira. Pasti hal itu sengaja Arjun lakukan untuk membuatnya tidak jadi marah.
Seperti itulah kelakuan semua pria, termasuk pria brengs*k yang duduk di sebelah Akira saat ini.
"Kalau marah gini, aku jadi gemes tau..." goda Arjun tapi tak juga membuat Akira berbicara.
"Marah beneran nih? ayo bicara...",
Ck... apa-apaan dia itu? batin Akira kesal.
"Akira..." panggil Arjun lagi, tapi kali ini dengan nada penuh penekanan. Menandakan kalau ada kemarahan yang tertahankan.
"Apa sih, kenapa kamu yang marah?" jawab Akira sewot. Tidak seharusnya Arjun yang marah di situasi saat ini.
"Bisa tolong bantu aku?" tanya Arjun dengan lembut.
"Apa?" Akira masih dengan mode juteknya.
"Ambilkan obat pereda nyeri di dalam tas kecil di dalam koper..." pinta Arjun.
Sebenarnya Akira tidak mau melakukannya karena masih kesal. Tapi ia juga tidak tega untuk menolak Arjun. Apalagi yang di minta suaminya adalah obat yang mungkin saja di butuhkan Arjun.
__ADS_1
Akira membuka seatbelt yang melingkar di tubuhnya. Perlahan merangkak menuju ke bangku tengah mendekati koper.
Tangannya terulur untuk membuka koper mencari tas kecil yang Arjun maksud tadi.
"Tas cokelat ini?" tanya Akira ragu. Karena di dalam sana hanya tas cokelat yang ia lihat.
"Hm," jawab Arjun. Sesekali melihat istrinya dari kaca spion yang tergantung di depannya. Tapi ada sebuah senyum aneh yang tentu saja hanya Arjun yang mampu melihatnya.
Tadi di bangku tengah mobil itu terlihat sibuk, tapi beberapa saat kemudian benar-benar sunyi tanpa suara apapun.
"Sayang..." panggil Arjun.
Hal itu membuat Akira tersadar dengan apa yang baru saja ia lihat dari dalam tas kecil itu.
Antara percaya atau tidak, Akira kembali mengucek matanya. Mungkin saja ia salah lihat dengan benda mencolok di dalam kotak kecil berwarna merah dengan bentuk hati.
"Ada apa?" tanya Arjun pura-pura tidak tau apa yang membuat istrinya membeku seperti sekarang.
"Ini..." ucap Akira menggantung.
"Kenapa? katanya minta oleh-oleh..." jawab Arjun tanpa beban sama sekali.
Akira tidak bisa berkata-kata lagi. Ia merasakan dadanya terasa di remas sangat kuat. Ada perasaan terharu, senang dan juga bahagia.
Hanya itu yang Akira rasakan saat ini, dan rasa itu muncul dari perlakuan Arjun padanya. Bukan orang lain.
Melihat Akira menundukkan kepalanya, Arjun menjadi khawatir. Segera pria itu menghentikan laju kendaraannya. Apalagi memang jalanan yang ia tempuh saat ini bukanlah jalan utama Ibukota.
Ini adalah jalan alternatif dimana tidak banyak kendaraan yang lalu lalang di jalanan yang kanan kirinya tumbuh pohon yang cukup lebat dan rindang.
Arjun membuka seatbelt dan mundur ke bangku tengah mendekati istrinya. Dugaannya benar ketika mendongakkan wajah istrinya yang terdapat genangan air mata di pelupuk mata gadis itu.
"Ada apa? kamu tidak suka?" tanya Arjun dengan lembut.
Seketika Akira menggelengkan kepalanya. Karena bukan itu yang membuatnya merasa seperti ini.
"Terima kasih..." ucap Akira dengan tulus dan langsung memeluk tubuh suaminya. Memeluk nya dengan sangat erat seolah tak mau lepas.
Memang sedikit memalukan, tapi Akira tak peduli. Karena ia hanya mengikuti kata hatinya saja.
"Terima kasih..." ucapnya lagi.
Hal itu membuat Arjun tersenyum. Di belainya rambut sang istri yang sudah memanjang dari pertama kali mereka bertemu.
Dan Arjun lebih suka Akira dengan gaya rambut panjang seperti sekarang. Gadis itu benar-benar terlihat anggun dan semakin cantik.
"Aku boleh mencium mu?" tanya Arjun. Entah kenapa pria itu mengatakan hal demikian. Tanpa meminta sekalipun, Arjun seringkali mencuri kesempatan untuk mencium istrinya. Entah itu membuat Akira suka atau malah sebal dengan perlakuannya yang seenaknya sendiri.
Arjun benar-benar melakukan apa yang diinginkannya. Apalagi ini adalah pertemuan mereka setelah 5 hari berpisah. Hanya menyisakan bunyi decap yang melebur kerinduan mereka.
"Aku tidak bisa menahan diri lagi," ucap Arjun dengan nafas tersengal.
"Kita lanjutkan di rumah..." jawab Akira tanpa ragu bahkan dengan senyum malu yang menghias bibirnya.
***
Duh Duh Duh...
Otak Author nya mulai traveling kemana-mana....
**Oh iya mau ngingetin, besok gak ada Update ya... mon maap ... kita ketemu lusa... oke??
Love kalian banyak-banyak**...
__ADS_1