Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
119. Ulang Tahun Arjun.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Pagi hari di sebuah rumah mewah berlantai 3 di pusat kota, semua orang telah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


Terlihat dua orang pria yang terlihat berjalan bersama menuju ke kamar mereka masing-masing. Semalam mereka sudah bertugas menjaga pintu utama rumah tersebut, dan pagi ini waktunya untuk beristirahat dan tidur.


Para pelayan hilir mudik membawa peralatan kebersihan rumah. Membersihkan seluruh sudut rumah sebelum penghuni rumah itu bangun.


Beda lagi dengan kamar yang ada di lantai 2. Pintu kamar itu masih terkunci dari dalam.


Inilah kamar Arjun dan Akira. Sedangkan keduanya masih asyik dalam dunia mimpi masing-masing.


Hingga Akira lah yang pertama kali menggeliat. Merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku karena tidur sepanjang malam.


Hal pertama yang dilihatnya saat membuka mata adalah pemandangan indah dari ciptaan Tuhan yang terukir jelas di wajah seseorang.


Akira tersenyum melihat bagaimana tampan wajah suaminya walaupun sedang tertidur seperti itu.


Wajahnya benar-benar damai.


Anggap saja Vitamin mata... hehehhe... batin Akira tersenyum.


Kapan lagi ia bisa mengamati wajah suaminya kalau bukan sekarang. Membuat dadanya selalu berdesir aneh setiap kali melihatnya.


Akira tau kalau inilah yang di sebut dengan cinta.


"Mau sampai kapan menatapku seperti itu?" tanya Arjun dengan suara serak khas orang bangun tidur.


Membuat Akira sedikit terhenyak karena ia kira Arjun masih tidur karena matanya tertutup rapat. Nyatanya pria itu telah bangun dan memergoki Akira yang menatap dirinya dengan waktu yang lama.


"Kamu sudah bangun?" itulah pertanyaan Akira kepada Arjun.


"Hm, karena mendengar suara hatimu...",


"Ha? suara hati? memang apa yang aku katakan dalam hati?" tanya Akira. Ia tau kalau ucapan Arjun hanya bualan saja. Mana ada orang bisa membaca isi dalam hati seseorang.


"Kamu mengagumi suamimu yang tampan ini..." jawab Arjun percaya diri.


Akira tertawa, walaupun pada kenyataannya memang benar. Sejak tadi ia memang mengagumi ketampanan suaminya.


Tapi tentu saja Akira tak mau mengakui hal itu di depan Arjun bisa-bisa pria itu akan besar kepala nanti.


"Kenapa? ucapan ku benar kan?" selidik Arjun.


"Salah! aku tidak sedang mengagumi mu..." elak Akira.


"Ck,"


Kedua orang itu saling diam sambil menatap bola mata satu sama lain. Mencari sesuatu entah apa yang ada di dalam binar mata itu.


Mungkin juga menyelami sedalam apa perasaan yang mereka berikan satu sama lain.


"Selamat ulang tahun sayang..." ucap Akira spontan.


Mungkin inilah kata pertama yang Akira berikan untuk orang yang di cintainya.


Inilah ucapan pertama bagi Akira sepanjang hidupnya.


Mengucapkan selamat ulang tahun untuk seseorang.


"Ha? apa kamu bilang?" tanya Arjun sengaja ingin agar Akira mengulang ucapannya tadi.


"Selamat ulang tahun sayang... semoga panjang umur, sehat selalu, semakin mencintaiku, dan... jangan membuatku cemburu lagi..." pinta Akira tulus.


Karena akan sakit rasanya jika Akira merasa cemburu. Hatinya seperti tercabik-cabik saat ada kabar tak enak yang menyeret nama Arjun.


Akira ingin menjadi satu-satunya wanita yang ada dan memiliki tempat spesial di jati Arjun.


"Cemburu? aku tak pernah membuat mu cemburu... kamu yang selalu tidak mempercayai suamimu sendiri..." jawab Arjun sambil mencubit pelan hidung Akira.

__ADS_1


Sebagai pasangan hidup, kejujuran dan saling percaya adalah hal yang utama. Bisa di ibaratkan sebagai pondasi untuk pernikahan mereka.


Jika sebuah pernikahan tidak di landasi dengan kepercayaan, akan ada banyak perbedaan antara mereka. Dan lebih parahnya pernikahan itu tidak akan berjalan lama.


Itulah pentingnya sebuah kepercayaan. Jika kita saling percaya pada pasangan sekeras apapun orang menghasut kita, kita tidak akan pernah percaya.


Dan itulah yang di harapkan Arjun pada pernikahannya dengan Akira.


Karena Arjun ingin Akira menjadi satu-satunya istri yang menemani Arjun sampai tua.


"Makanya jangan Deket-deket wanita lain..." protes Akira.


Terkadang ia sebal melihat Arjun yang selalu bertemu dengan Galih dan Dion di Club malam.


Bukankah disana banyak wanita-wanita? tidak mungkin Arjun tidak melihatnya? mustahil!


"Kapan aku dekat dengan mereka?" tanya Arjun.


"Itu di Club malam...",


"Sayang... aku ngumpul dengan Dion dan Galih juga di ruang VIP, tidak ada siapapun selain kami..." ucap Arjun memastikan.


Karena ruangan VIP berada di lantai dua, beda lagi jika di lantai dadar Club malam. Semua orang tumpah ruah disana. Yang berjoged, yang minum ataupun yang sekedar menikmati musik yang memekakkan telinga.


Akira hanya mengangguk karena seumur hidupnya, Akira tak pernah sekalipun masuk ke tempat seperti itu.


"Jam berapa sekarang?" tanya Arjun. Karena posisi tubuhnya tepat membelakangi nakas dimana ada jam digital kecil disana.


"Setengah 7,"


"Astaga, aku terlambat..." ucap Arjun terkejut. Langsung bergegas bangun dan bersiap untuk bekerja.


"Mau kemana?" tanya Akira penasaran.


Siapa yang akan pergi di hari spesial ini?


"Kamu tidak akan berangkat bekerja kan sayang?" tanyanya menduga-duga.


Nyatanya dugaannya memang benar, Arjun berniat pergi bekerja hari ini.


"Bekerja di hari ulangtahun mu?" tanya Akira memastikan. Mungkin saja Arjun lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya.


"Iya... hari ini aku sangat sibuk sayang... ada sesuatu yang harus aku selesaikan..." jawab Arjun. Aku harus menyelesaikannya agar kita bisa pergi liburan... bulan madu lebih tepatnya... hehehe...


Akira hanya bisa menatap punggung suaminya yang pergi ke kamar mandi sambil mengerucutkan bibir. Ia kira Arjun akan di rumah saja hari ini, tapi nyatanya pria itu pergi bekerja.


Akira sedang menyiapkan segala sesuatu yang suaminya pakai pagi ini. Mulai dari kemeja, jas, celana, dasi dan juga sepatu.


Menaruh tas kerjanya di atas ranjang sambil menunggu Arjun keluar dari kamar mandi.


"Kenapa cemberut seperti itu? dan kamu tidak berangkat kuliah?" tanya Arjun. Biasanya Akira lah yang pertama menggunakan kamar mandi.


Karena wanita itu lebih ribet di bandingkan pria.


"Tidak, karena ini hari ulang tahun mu...",


"Isst... manis sekali sih," ucap Arjun sambil menoel hidung istrinya.


Tapi bisa apa aku? Dia malah pergi bekerja...


Akira hanya mengamati pergerakan suaminya, dan mulai memakaikan dasi di leher pria itu.


"Nanti kita rayakan setelah pulang bekerja, bagaimana?" bujuk Arjun kepada Akira.


Sepertinya makan malam romantis adalah ide bagus. Apalagi Akira dan Arjun sama sekali belum pernah makan malam romantis di restoran.


"Janji?" wajah yang tadinya sudah di tekuk berubah sumringah. Jelas sekali kalau Akira memang mengharapkan hal itu dengan Arjun.


Arjun pun mengangguk mengiyakan.


"Baiklah, aku akan menunggu mu... jangan malam-malam ya..." ucap Akira penuh kebahagiaan.

__ADS_1


 


Di ruang makan, sudah ada Papi dan Mami yang menunggu.


"Pagi Pi, Mi..." sapa Arjun dan Akira seperti biasanya.


"Pagi sayang..,"


Semua orang duduk dan menikmati sarapan paginya.


"Kenapa kamu tidak mengambil cuti Jun?" tanya Mami penasaran. Sekarang Arjun sudah berkeluarga, jadi hari spesial seperti ini tentu saja sudah sepatutnya di rayakan.


"Ada sesuatu yang perlu Arjun selesaikan Mi..." jawab Arjun sambil menatap Papi Johan dan tersenyum bersamaan.


"Oh,"


Mami menyerahkan kotak kecil yang di bungkus dengan kertas kado berwarna hitam.


"Ini hadiah kecil dari Mami..." ucap Mami Livia senang.


Karena ini adalah hari ulang tahun Arjun, tentu saja Mami memberikan kado spesial untuk putra semata wayangnya.


"Apa ini Mi, kecil sekali..." gurau Arjun dan membuat Akira menyenggolnya.


Tidak tau diri sekali suaminya itu!


"Kamu ya!"


"Hahaha... Arjun hanya bercanda Mi..." jawab pria itu dengan senyum jenaka yang mengukir bibir.


"Baiklah, Arjun duluan..." pamit Arjun yang tidak menghabiskan sarapan paginya.


Mengecup singkat kening Akira dan berucap, "Habiskan saja sarapan mu... Aku berangkat sayang,"


Tentu saja hal itu membuat Akira merona. Apalagi Arjun menciumnya di depan Papi dan Mami. Aa... aku malu...


"Hati-hati..." jawab Akira tanpa mengantar kepergian Arjun.


Pagi ini Arjun tidak mengendarai mobil sendirian. Galih sudah menunggu pria itu di depan rumah Pradipta tentu saja dengan penampilan yang selalu menawan.


Membukakan pintu mobil dan Arjun langsung duduk di bangku depan mobil berwarna hitam tersebut.


"Selamat hari menetas nyet..." ucap Galih setelah ikut duduk dan menjalankan kendaraan.


Apa dia bilang? menetas? memang gue anakan buaya? batin Arjun tak suka dengan ucapan Galih.


"Kenapa? Lo tidak mau dapat ucapan selamat dari gue...?" tanya Galih dengan beraninya. Kapan lagi ia bisa mengejek Arjun kalau bukan sekarang.


"Menetas ,menetas... memang gue anakan buaya?"


"Lalu apa?"


"Kita kan primata, hahaha...".


Tentu saja Galih ikut tertawa dengan gurauan yang dibuat oleh Arjun.


"Hahaha... Lo yang primata, gue jelas tidak!" ejek Galih.


Senyum yang mengukir bibir Arjun langsung lenyap seketika, "Dasar nih monyet! Lo yang monyet!".


Dan itulah percakapan tidak penting yang menemani mereka sampai di depan Gedung tinggi pencakar langit bernama PRADIPTA GROUP.


***


HAHAHA... lucu sekali Arjun dan Galih ini...


Jadi, ada yang mau ngucapin selamat untuk Arjun di hari menetas nya?


TINGGALKAN LIKE, KOMENTAR DAN HADIAH NYA... LOVE KALIAN BANYAK-BANYAK...


SEE YOU AGAIN... BYE"

__ADS_1


__ADS_2