
HAPPY READING...
***
Sudah hampir 2 jam lamanya Tiara menunggu. Berdiri di depan gerbang Universitas tempatnya menimba ilmu.
Langit Ibukota mulai gelap, tapi seseorang yang tadi pagi berjanji untuk menjemputnya tak juga menampakkan batang hidungnya.
Entah kemana pria itu berada atau mungkin melupakan kata yang terucap dari mulutnya tadi pagi.
Karena lidah memang mudah sekali untuk membalikkan fakta apalagi berdusta.
Tiara menendang kerikil kecil di bawah sana untuk mengusir jenuh. Sesekali tatapan matanya tertuju pada jalanan di depan sana, berharap sebuah mobil hitam datang dan menepi ke arahnya.
Namun harapan Tiara hanya berbuah kekecewaan saja. Karena nyatanya 2 jam sudah ia berdiri tapi tak membuahkan hasil.
Hingga senja mulai menampakkan keindahannya. Tiara memutuskan untuk tidak bersikap bodoh dengan mempercayai ucapan orang yang sama sekali tidak bisa di percaya.
Baiklah... gue jalan kaki saja... batin Tiara.
Dengan meyakinkan diri, gadis itu mulai berjalan meninggalkan Universitas. Melewati trotoar untuk kembali pulang.
---
Di tempat lain, Galih tiba dengan mobil hitamnya.
Memarkirkan kendaraan itu di parkiran Apartemen dan segera masuk menuju ke unitnya.
Wajah pria itu terlihat sama seperti sebelum-sebelumnya. Tak ada senyum yang terlihat, apalagi sempat ada yang membuat dirinya merasa kesal barusan.
Alya... ya wanita itu yang selalu bisa membuat dirinya aneh. Marah, kesal, semua bercampur menjadi satu dalam dada.
Ucapan Alya yang mengingatkan Galih tentang betapa spesialnya hubungan yang mereka jalin, otomatis juga membuka rasa kecewa Galih terhadapnya.
Masuk dalam Apartemen nya, pertama yang Galih lihat adalah suasana tempat itu. Terlihat gelap dan seperti tidak berpenghuni.
"Ra..." panggil Galih. Karena ia sudah terbiasa pulang di sambut oleh seorang gadis yang selalu menampakkan wajah ceria.
Tapi malam ini, tidak ada wajah itu.
Entah kemana perginya Tiara.
Galih menghidupkan semua lampu untuk menerangi setiap ruangan yang ada di dalam sana. Langkah kaki membawa dirinya menuju ke kamar Tiara. Melihat apa yang sedang di lakukan gadis itu hingga tak mendengar kedatangannya.
"Ra..." panggil Galih lagi sambil mendorong pintu kamar itu dengan pelan, tapi anehnya pintu itu juga tidak di kunci.
Di tambah dengan suasana kamar yang terlihat sunyi dan gelap. "Ra...".
Kemana sih dia? batin Galih. Nyatanya gadis itu tidak ada di kamarnya. Membuat Galih risau dan merogoh ponsel yang berada di saku jasnya.
Baru hendak menelepon Tiara, Galih teringat sesuatu. Ia kembali membaca pesan yang dikirimkannya tadi pagi kepada gadis itu.
****! umpat Galih.
Pria itu ingat kalau tadi pagi, Galih mengirim pesan kepada Tiara. Bunyi pesannya adalah Galih akan menjemput Tiara pulang kuliah.
Tapi entah kenapa Galih melupakan hal itu.
"Bagaimana gue bisa sampai lupa?" gumamnya sambil mengacak rambutnya kesal.
Tanpa pikir panjang, Galih segera menyambar kunci motornya dan pergi mencari Tiara.
Dengan motor milik Dion yang di titipkan kepadanya, Galih pergi membelah jalanan Ibukota yang cukup padat.
__ADS_1
Untung saja pakai motor... batinnya. Karena Galih bisa menyalip kendaraan di depannya.
Sepanjang jalan, pria itu terus menajamkan mata. Melihat tepi jalan mungkin saja ada Tiara disana.
Hingga tiba di depan Universitas, terlihat sepi. Tidak ada siapapun di sekitar tempat itu.
Galih sama sekali tak menemukan Tiara. Hingga pria itu memutuskan untuk menelepon Tiara.
Cukup lama, sama sekali tidak di angkat.
Membuat Galih kembali meracau tak jelas. Tapi yang pasti marah karena Tiara tak kunjung menerima panggilannya.
Karena dirasa percuma, Galih kembali menjalankan kendaraannya. Menyusuri jalanan yang kemungkinan di lewati Tiara.
Dalam hatinya ada rasa penyesalan yang membuat dirinya tak nyaman. Menyesal karena telah membuat Tiara menunggu.
Menyesal karena telah berjanji tapi tidak bisa menepatinya.
Malam itu, Galih benar-benar mengelilingi jalanan Ibukota. Banyak tempat yang ia datangi, termasuk dengan rumah lama Tiara. Tapi semuanya sia-sia.
Galih juga sempat menelepon Bella, tapi Bella juga bilang bahwa Tiara tidak berada di rumahnya. Membuat Galih semakin panik.
Karena sudah sangat malam, Galih memutuskan untuk kembali pulang.
Kembali mengecek kamar gadis itu, tapi tetap saja kosong.
"Br*ngsek..." umpat Galih dan terduduk di lantai kamar Tiara.
Pikirannya campur aduk karena tak bisa menemukan Tiara.
Saat mencoba untuk memikirkan Tiara, ponsel Galih berbunyi. Segera meraih benda pipih berwarna metalik untuk melihat siapa yang tengah meneleponnya. Walaupun Galih juga berharap kalau yang menelepon adalah Tiara.
Tapi harapannya sirna karena yang menelepon dirinya adalah Alya.
Galih sengaja tidak menerima panggilan tersebut. Membiarkan benda itu bergetar di lantai samping tempat duduknya.
Tapi Alya masih bersikukuh menelepon Galih tanpa henti. Membuat pria itu akhirnya menjawab, "Ada apa sih..." jawabnya tanpa mengucap hallo sama sekali.
"Galih... kamu marah ya?" tanya Alya. Dari nada bicaranya, Galih memang terlihat menahan kemarahan tadi.
"Tidak, ada apa?" tanya Galih berusaha untuk menutupi rasa marahnya.
"Kamu sudah tidur...? aku belum bisa tidur... itulah sebabnya menelepon dirimu..." jawab Alya.
"Belum," jawab Galih singkat.
"Gal... besok bisa temenin aku jalan-jalan ke Mall... aku jenuh hanya duduk diam di kost,".
"Sorry Ya... sepertinya gue tidak bisa...".
"Kenapa?".
Galih tidak bisa menjawab, "Ya Beb, aku datang!" teriak Galih berpura-pura. "Sudah dulu Ya... Pacar gue memanggil," tambah Galih dan langsung memutuskan panggilan Alya.
Tanpa Galih sadari, Alya terlihat sangat sedih. Apa Galih benar-benar tinggal serumah dengan kekasihnya?
---
Malam semakin larut, Tiara baru tiba di depan Apartemen milik Galih. Tadi gadis itu sengaja untuk pergi ke sebuah tempat sendirian.
Ya.. dia pergi mengunjungi makam ibu.
Menumpahkan rasa rindunya di pusara sangat Ibu. Karena tidak ada yang bisa menyayangi Tiara setulus kasih Ibu.
__ADS_1
Mungkin dunia sangat tidak adil baginya. Tiara merasa sendirian di dunia yang besar ini.
Saat ia telah mencoba untuk percaya pada Galih, pria itu mengingkarinya.
Tapi malam ini, Tiara tidak punya tempat untuk kembali pulang selain ke Apartemen Galih.
Karena semua barang-barang miliknya termasuk pakaian ada di sana.
Sejenak, Tiara melihat ke atas tepat dimana unit Galih berada.
Lampu kamar itu masih menyala menandakan bahwa Galih belum tidur.
Dan karena itu pula Tiara tidak jadi masuk ke dalam sana. Hingga ia memutuskan untuk duduk di taman kecil yang berada di depan Apartemen. Merasai angin malam yang dingin menusuk tulang.
Dengan bersandar pohon, Tiara menggosok bahunya yang kedinginan. Apalagi seharian memang hanya mengenakan pakaian lengan pendek tanpa dilapisi jaket.
Ternyata sesuai dugaan Tiara kalau Galih belum tidur, nyatanya pria itu segera turun ketika melihat ada Tiara yang berdiri di depan Apartemen. Sejak tadi, Galih memang duduk di balkon kamar, mengamati jalan sekitar sambil menunggu kedatangan Tiara.
"Darimana saja Lo?" tanya Galih tiba-tiba dan mengejutkan Tiara.
Gadis itu kembali berdiri menegang.
"Gue sudah menghubungi lo beberapa kali, dan lo sengaja tidak mengangkatnya kan?" tuduh Galih dengan perasaan kesal dan juga lega. Kesal karena Tiara mengabaikan teleponnya hingga membuatnya khawatir. Lega karena gadis itu baik-baik saja.
"Darimana saja Lo?" tanya Galih lagi karena Tiara tidak berniat untuk menjawab pertanyaannya.
"Bukan urusan lo kan?" tanya Tiara ketus.
Untuk apa ia harus memberitahu Galih kemana ia sejak sore.
Tidak ada sangkut pautnya dengan Galih sama sekali.
"Tiara!" bentak Galih. Membuat gadis itu semakin kesal. Memang siapa Galih sampai berani membentaknya seperti itu?
"Jawab gue! darimana saja Lo!" bahkan Galih sampai menggenggam pergelangan tangan Tiara seperti hendak menghancurkannya.
"Kenapa lo memaksa gue untuk menjelaskannya? padahal lo sendiri tidak bisa menepati janji Lo dan gue tidak memaksa Lo untuk menjelaskan alasannya bukan?" tantang Tiara.
Terasa imbang bukan karena Galih juga perlu di salahkan.
"Asal Lo tau... gara-gara pesan Lo, gue sampai berdiri menunggu Lo 2 jam lamanya. Sendirian... lo tidak tau bukan? gue nyesel telah mempercayai Lo..." ucap Tiara dengan mata penuh air mata dan segera menghempaskan tangan Galih dan pergi.
Membuat Galih terkejut dan berdiri tanpa berkata apapun. Tak bisa di pungkiri, Galih mengakui kesalahannya.
Ia lupa menjemput Tiara karena menemani Alya ke Rumah Sakit.
"Tiara, tunggu..." ucap Galih mengejar gadis itu.
Kembali menarik paksa tangan Tiara agar tidak pergi.
"Maaf..." ucapnya penuh sesal.
Tiara yang tadinya hendak pergi langsung terdiam mendengar permintaan maaf dari Galih. Tidak terpikirkan sama sekali kalau pria kulkas itu mampu merendahkan dirinya hanya untuk mengucapkan kata maaf.
***
Haloo semuanya...
Kita potong dulu kisah Galih dan Tiara.
Karena bab selanjutnya akan membahas kelahiran anaknya Ajun-Akira dan momen Dion pulang kembali ke Ibukota bersama Gadis untuk mencari restu. ...
Semoga syuka ya... dan harap bersabar bagi tim Galih-Tiara... hehehe... love kalian banyak-banyak...
__ADS_1