Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
110. Amarah.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Tepat pukul 1 dini hari, Arjun mengendarai mobilnya membelah jalanan yang sangat sepi.


Sesekali menginjak pedal gas agar cepat sampai di tempat tujuan.


Walaupun sudah sangat malam, tapi Arjun tetaplah seorang pria yang bertanggung jawab.


Senakal-nakalnya seseorang, tetap dapat menemukan tempat dimana ia harus pulang.


Dan itulah yang terjadi pada Arjun, walaupun sekarang ia tidak lagi nakal sih...


Membayangkan sampai di rumah akan di sambut dengan wajah cemberut istrinya. Ahh... rasanya benar-benar menyenangkan.


Tentu saja Arjun sudah menduga kalau istrinya akan cemberut dan kesal karena Arjun tidak menepati janjinya untuk pulang jam 11 malam.


Tepatnya terlambat 2 jam dari waktu yang di janjikan.


Dalam bayangan Arjun, gadis berambut lurus se punggung itu akan duduk di ranjang sambil membawa sebuah bantal yang akan melayang tepat ketika Arjun masuk ke dalam kamar.


Bukan tanpa sebab, karena Arjun sangat tau kalau istri kesayangannya itu tidak bisa tidur tanpa dirinya.


Karena entah ada sihir apa di tangan Arjun hingga terasa sangat nyaman bagi Akira.


Agghhh... aku tidak sabar... batin Arjun penuh harap. Saking tidak sabarnya, jalanan yang lenggang tak juga membuat Arjun cepat sampai di rumah.


Beberapa menit kemudian, mobil Arjun tiba di pintu gerbang utama Kediaman Pradipta. Melaju dengan santai dan berhenti di Carport bersama dengan kendaraan lain.


Arjun bahkan hanya tersenyum saat kedua penjaga pintu memberikan hormat.


Langkah demi langkah membawa Arjun memasuki rumah yang sudah ia tinggali sejak kecil. Menyusuri setiap ruangan dimana lampunya beberapa memang sengaja dipadamkan karena sudah lewat tengah malam.


Hanya ada lampu sepanjang anak tangga yang membantu Arjun naik menuju ke kamarnya.


Seketika senyum terukir sempurna ketika telah sampai di depan pintu sebuah kamar.


Dengan sangat pelan, Arjun mendorong gagang pintu tersebut dan perlahan masuk ke dalam.


Terasa aneh. Seperti tidak ada kehidupan pun di dalam sana yang membuat Arjun keheranan.


Kenapa sunyi? itulah kesan pertama saat Arjun tiba di dalam kamar miliknya.


Lampu kamar itu juga padam dan menyisakan lampu kecil di atas nakas sebagai sumber penerangan.


Suasana kamar yang biasanya hangat tiba-tiba berubah dingin.


"Sayang..." panggil Arjun mencari keberadaan istrinya.


Langkah kakinya membawa Arjun menuju ke ruang ganti pakaian, mungkin saja istrinya ada di dalam sana untuk ganti baju.


"Akira?" panggilnya lagi, tapi tidak ada sautan sama sekali dari ruangan itu.


Kemana dia? satu pertanyaan itu sudah mewakili semuanya.


Bahkan sampai di kamar mandi pun, Arjun tak dapat menemukan istrinya. Semua ruangan yang ada di dalam kamar juga tak ada.


Membuat Arjun bertanya-tanya dimana istrinya berada saat ini.


Arjun kembali keluar meninggalkan kamarnya dengan sedikit membanting pintu keras, menciptakan suara yang cukup membuta penghuni rumah terbangun karena terkejut.

__ADS_1


Dan benar saja, ada seorang pelayan yang telah menunggu Arjun dasar anak tangga. Berdiri dengan menundukkan pandangannya karena takut.


"Dimana Akira?" tanya Arjun terdengar dingin dan menakutkan.


"Nona... Nona muda menginap di rumah orangtuanya, Tuan Muda..." jawab pelayan itu tanpa mengangkat pandangannya sama sekali.


"Menginap? tanpa memberitahu ku?" jawab Arjun tak percaya.


Kenapa? apa Ibu Arum sakit?


"Apa Ibunya sakit?" itulah satu-satunya alasan yang kemungkinan terjadi.


"Tidak Tuan,"


Lalu? apa dia marah karena Aku pulang terlambat?


"Kembalilah..." perintah Arjun kesal dan langsung kembali menaiki anak tangga.


Pelayan itu menunduk sekilas bersamaan dengan kepergian Arjun.


Di dalam kamar, Arjun menggerutu kesal. Di raihnya ponsel untuk menghubungi istrinya itu.


"Sial! kenapa ponselnya mati?" kekesalan Arjun bertambah saat mencoba menghubungi istrinya, ternyata tak tersambung sama sekali.


Arjun kembali turun, langkahnya benar-benar terlihat kalau pria itu sangat marah.


Membuka pintu utama dan berdiri di sana.


Sedangkan dua pria yang tadinya sedang duduk sambil bermain catur langsung bangkit seketika dan menundukkan kepala.


Terkejut sekali mereka dengan sosok Tuan Muda yang tiba-tiba keluar di tengah malam seperti ini.


"Panggil supir Akira!" perintah Arjun.


Sedangkan satunya lagi berdiri bersama Arjun tanpa berkata apapun.


Ada apa ini? apa yang terjadi?


Hingga tak lama, Arjun melihat 2 pria berjalan menuju ke arahnya. 1 orang adalah penjaga pintu sedangkan satunya adalah supir Akira yang beberapa kali mengucek matanya.


Dini hari biasanya sangat nyaman untuk seseorang tidur dan beristirahat, tapi tidak untuk supir tersebut.


Suasana malam dingin dan sunyi, dia harus bangun dan menghadap ke Atasannya entah kesalahan apa yang di buat hingga tak menunggu sampai pagi hari.


Teras rumah itu seperti ruang sidang dimana Arjun duduk sambil mengamati pergerakan supir yang berdiri di depan sana.


"Kamu yang bertugas mengantarkan Akira hari ini kan?" tanya Arjun pertama kali.


"Iya Tuan muda,"


jawab supir itu dengan nada bergetar.


Siapa yang tidak takut ditanya seperti itu.


"Lalu?"


Lalu apa Tuan, bukankah Nona sampai di rumah orangtuanya dalam keadaan selamat?


Apa Nona mengeluh kepada Anda?


"Kamu mengantarkannya ke rumah Ayah?" tanya Arjun. Karena supir di depannya tidak terlalu peka seperti halnya Galih yang memang selalu paham apa mau Arjun.

__ADS_1


"Iya Tuan Muda, Nona Akira meminta untuk langsung di antar ke rumah Tuan Adam sepulang kuliah...," jawab sangat supir menjelaskan apa yang terjadi tadi sore.


"Apa alasannya?" tanya Arjun seorang diri.


Ya mana saya tau Tuan... saya kan tidak berani bertanya kenapa Nona ingin ke rumah orangtuanya..


"Tapi Tuan... em itu..." sang supir ragu untuk mengutarakan maksud dan tujuannya.


"Apa? katakan..." perintah Arjun.


"Itu... Nona Akira terlihat sedih...".


Sedih? kenapa? kita tidak bertengkar bukan?


"Saya tidak tau alasannya, tapi sangat terlihat sekali kalau Nona bersedih..." tambah supir itu.


Apa gara-gara aku tidak bisa menjemputnya? tapi tadi pagi Akira bilang tidak masalah bukan?


"Kembali lah..." usir Arjun.


"Baik Tuan,"


Sedangkan Arjun langsung masuk kembali ke dalam rumah. Mengambil jaket dan juga kunci mobilnya.


Malam yang terasa dingin tak menyurutkan niat Arjun untuk kembali membelah jalanan.


Rasanya Arjun benar-benar tidak sabar untuk menunggu sampai pagi. Karena sebuah masalah jika tidak segera di selesaikan akan bertambah buruk dan Arjun tak ingin hal itu terjadi.


Jika mungkin istrinya sedang salah paham, biarlah di jelaskan Arjun malam ini juga.


Dan benar saja setelah 30 menit berkendara, mobil Arjun tiba di depan pagar rumah mertuanya.


Mengamati keadaan disana, semua lampu rumah itu telah padam dan menyisakan lampu di teras rumah yang di biarkan menyala.


Dengan hati-hati, Arjun membuka pagar besi tersebut untuk membawa dirinya masuk ke dalam pekarangan rumah.


Sudah di depan pintu, tangan pria itu juga berada tepat di bell yang berada di samping pintu, hendak menekannya tapi ragu.


Arjun kembali menggenggam tangannya dan tak jadi menekan Bell tersebut.


Tidak... Ayah pasti sudah tidur... aku tidak bisa mengganggunya...


Arjun kembali merogoh saku untuk mengambil ponsel miliknya. Mencoba untuk menghubungi Akira mungkin saja ponsel tersebut telah hidup kembali.


Semoga tersambung... harap Arjun.


Tapi nyatanya ponsel Akira tetap mati sama seperti sebelumnya. Dia pasti sengaja mematikan ponselnya bukan? batin Arjun frustasi.


Sekarang Arjun hanya bisa pasrah. Ia tidak bisa masuk juga tidak tega untuk membangunkan penghuni rumah di jam seperti sekarang.


Dan inilah yang akhirnya terjadi pada Arjun, bergadang dengan di temani oleh sebungkus rokok.


Berharap malam cepat berganti pagi dan ia akan menjelaskan semuanya kepada Akira maupun Ayah.


Walaupun Arjun sendiri tidak yakin apa yang telah terjadi hingga membuat istrinya itu salah paham.


Arjun kira setelah menyelesaikan permasalahan Galih, semuanya akan beres. Tapi nyatanya adalah masalah lain yang harus di selesaikan Arjun.


Dimana tubuh dan jiwanya benar-benar sudah lelah.


***

__ADS_1


Dikit dulu ya Gais...


__ADS_2