
HAPPY READING...
***
Pada akhirnya, semua yang kita inginkan tak semuanya tercapai. ada kalanya yang benar-benar ingin kita gapai, hanyalah sebuah impian belaka. Mampu dilihat oleh kedua mata tapi tak sekalipun bisa di genggam.
Kehadirannya hanya sekedar singgah tapi tak menjadi tempat kembali pulang. hanya penenang saat hati terluka tapi kembali jauh saat tak lagi di butuhkan.
Dia yang sesekali terlintas dalam benakku, hanya menjadi angan-angan dalam hening malamku.
berharap menjadi nyata, namun kenangannya yang menjadi pelipur lara.
Dia yang pernah menjadi impian masa depanku. bagian indah dari setiap mimpi-mimpi.
apakah aku yang terlalu berharap?
Entahlah...
tapi aku tak pernah menyesal mencintainya.
tak pernah menyesal menjadi bagian dari hidupnya yang pada akhirnya hilang tak kembali.
Karena, kenangannya akan terus bersama ku. bersama dengan hembusan nafas terakhirku.
----------------------- ALYA ---------------------
***
Hembusan angin pantai menerpa, membuat anak rambut sesekali berkibar dan menutupi sebagian wajah.
Ombak menggulung menuju ke daratan, memecah batu karang yang ada di depan sana.
Langkah kaki seseorang jelas terlihat sepanjang bibir pantai. menyisakan jejak kaki beberapa saat hingga deru ombak menghapus jejaknya.
Langit di atas sana terlihat mendung. burung camar berterbangan seperti mengkhawatirkan hujan akan segera jatuh membasahi pasir pantai berwarna putih keabu-abuan.
Nyanyian camar seakan bersenandung merdu di telinga setiap orang termasuk wanita yang saat ini tengah berada dalam gendongan seseorang. dia adalah Alya. dan sekarang yang masih mampu menggedong berat tubuhnya adalah Galih, pria yang tak lain adalah cinta pertamanya.
Sedangkan jauh dari mereka, Tiara berdiri. menatap dari kejauhan dengan hati yang sulit untuk diartikan.
Tidak pernah terpikirkan kalau Tuhan kembali menguji hubungannya dengan Galih. kembali terombang-ambing bak kapal di tengah-tengah lautan. sesekali takut, cemas dan juga berpikir apakah sudah saatnya ia menyerah. tapi saat keputusasaan datang, saat itu harapan akan masa depan yang indah kembali menjadi iming-iming yang ingin Tiara gapai.
Tapi sebelum itu semua, Tiara mencoba mengikhlaskan untuk beberapa saat. karena ia tau, ada hal yang lebih penting daripada egonya.
itulah sebabnya Tiara mengijinkan Galih untuk sedikit membahagiakan Alya, sebelum wanita itu pergi untuk selama-lamanya.
Salah satunya adalah membiarkan Alya menikmati suasana pantai sore ini. bersama dengan Galih tanpa gangguan sedikitpun. sedangkan Tiara, ia cukup senang melihat pemandangan itu dari kejauhan. walaupun Galih beberapa kali menengok ke arah Tiara, berharap gadis itu juga ikut berjalan di belakangnya.
"Sudah sangat lama aku tak lagi bisa datang ke pantai ini..." ucap Alya terdengar jelas dari telinga Galih. tangan pucat itu erat memeluk bawah leher pria yang menggendongnya.
"Apa aku begitu berat Gal?" tanya Alya lagi. mungkin saja Galih keberatan untuk menggendongnya lebih lama lagi.
Tubuh lo begitu ringan Ya... batin Galih. tanpa menggendongnya pun, Galih sudah tau kalau Alya benar-benar kehilangan banyak berat badannya selama sakit.
"Tidak..." jawab Galih, "Tidak sama sekali...".
Galih kembali teringat dengan kenangan mereka beberapa tahun silam. menggendong Alya menyusuri bibir pantai adalah hal yang mengasyikkan.
Mereka sama-sama tertawa dengan begitu kerasnya. membuat seisi dunia iri dengan keromantisan mereka.
"Apa aku begitu ringan?" Alya kembali bertanya.
membuat Galih sejenak terdiam bingung untuk menjawab apa.
Hingga pada akhirnya Galih pun menjawab, "Makanlah yang banyak... lo akan cepat sembuh...". karena hanya dengan begitu, Alya mungkin saja sembuh dan tidak sakit-sakitan lagi.
"Kamu tau, semalam aku bermimpi..." adu Alya.
"Tentang?".
__ADS_1
"Aku tidak tau apakah itu mimpi atau nyata, aku seperti terhempas tapi tidak juga jatuh. tubuhku terasa melayang seperti sebuah kapas yang begitu ringan..." jelas Alya. kembali mengingat mimpi aneh itu tadi malam.
"Mungkin karena demam..." sela Galih. karena biasanya, ketika seseorang demam mereka akan mengalami mimpi buruk. seperti berada dalam sebuah ruangan yang berwarna putih sendirian ataupun dikejar oleh sebuah bola putih yang semakin lama semakin membesar yang ingin menggelinding ke arah kita.
"Tidak... sepertinya aku akan meninggal Gal...".
"Jangan bicara seperti itu Ya... memang siapa lo sampai berhak memutuskan kapan meninggal?" omel Galih walaupun pada kenyataannya ia juga takut kalau ucapan Alya benar-benar menjadi kenyataan.
"Gue benci mendengar hal sebodoh itu!".
"Apa kamu takut?" tanya Alya. berharap Galih bilang iya.
"Semua orang pasti akan takut jika kehilangan seseorang. apa gue tidak boleh termasuk ke dalamnya?" tanya Galih.
Ada banyak cara untuk meninggalkan, kenapa harus kematian cara yang di pilih?
"Cepatlah sembuh..." pinta Galih.
Langkah kaki mereka semakin menjauhi Tiara. hingga Tiara ikut melangkah, memastikan kalau Galih tidak membawa Alya terlalu jauh yang akan merepotkan jika hujan segera turun nantinya. Alya akan kehujanan dan mempengaruhi kesehatannya.
Tapi nyatanya, Galih berputar arah. menyusuri bibir pantai yang telah ada jejak kakinya tadi.
"Gal..." panggil Alya lagi.
"Hm,".
"Apa kamu benar-benar membenciku?" tanya Alya. dari sekian banyak pertanyaan, Alya memilih pertanyaan itu. apakah Galih masih membencinya sama seperti terakhir kali mereka berpisah saat itu?
"Tidak pernah..." jawab Galih. karena sejak awal, Galih tak pernah menaruh benci pada Alya.
mungkin, yang ia rasakan selama ini adalah kekecewaan saja. Egonya yang dengan sengaja dilukai Alya.
"Kenapa? padahal aku begitu jahat padamu... meninggalkanmu begitu saja... hiks..." Alya tak bisa meneruskan ucapannya. air matanya tiba-tiba terjatuh mengingat apa yang telah ia lakukan kepada Galih.
"Kita sudah pernah membahas ini Ya... lupakan semuanya... aku tak pernah membencimu, dendam ataupun ingin membalas perbuatanmu sedikitpun... tak pernah..." jelas Galih.
"Lihatlah, langit ikut bersedih kalau lo bersedih..." gurau Galih dan membuat Alya tersenyum walaupun terpaksa.
"Apakah ucapan Tiara benar?" tanya Alya.
"Tentang?" tanya Galih penasaran. banyak sekali yang diucapkan Tiara selama perjalanan tadi. tentu saja Galih tak bisa mengingatnya satu persatu.
"Bahwa aku pemenangnya...".
Sejenak Galih kembali membisu. tatapannya tertuju pada Tiara yang berdiri di depannya dengan jarak yang cukup jauh. merasa bersalah karena Tiara mampu mengetahui hal itu, padahal Galih telah berusaha menyembunyikan perasaan yang masih tersisa untuk Alya.
Tapi, Ya... seperti itulah yang terlihat. Alya memang masih punya tempat di hati Galih. bahkan sampai saat ini.
"Iya... karena lo adalah cinta pertama gue Alya..." jawab Galih.
Jawaban Galih benar-benar membuat Alya tersenyum senang, karena mungkin jawaban itulah yang akan ia ingat sepanjang hidupnya.
karena masih ada orang yang mencintai dirinya disaat semua orang membenci Alya.
"Terima kasih..." jawab Alya.
"Sekarang, aku akan melepaskan mu Gal..." ucap Alya yakin bersamaan dengan langkah kaki Galih yang seketika berhenti tepat di samping Tiara. agar gadis itu juga mendengar apa yang dikatakan Alya barusan.
"Aku ikhlas melepaskan mu bersama Tiara... aku mendukung hubungan kalian... dan aku tak ingin merebut mu lagi... karena kamu telah membuatku bahagia secara bersamaan...".
Tiara terharu dengan ucapan Alya. hingga tanpa sadar tangannya terulur untuk menyentuh pucuk kepala Alya. membelainya dengan sangat lembut walaupun tetap bergetar menahan haru.
begitu juga dengan Galih, pria itu tak bisa berkata-kata. lidahnya terlalu kelu untuk sekedar mengucapkan Terima kasih.
"Ayo jalan lagi Gal... aku bisa ketiduran nanti..." protes Alya karena cukup lama Galih tak lagi melangkah menyusuri bibir pantai.
"Iya..." jawab Galih dan mereka kembali melangkah diikuti oleh Tiara di belakangnya.
Apa ini rasanya mengikhlaskan? rasanya benar-benar ringan di dadaku... batin Alya.
__ADS_1
"Gal, kamu ingat ini hari apa?" tanya Alya.
"Ya..." jawab Galih dengan yakin "Tanggal kematian orang tua lo kan?", tadi pagi ia tak sengaja melihat tanggal di layar ponselnya dan ternyata sama dengan peristiwa yang pernah terjadi di masa lalunya.
"Aku cuma ingin, kamu juga mengingat tanggal ini selain tanggal yang lain...".
"Kenapa?" tanya Galih tak paham.
"Karena sekarang tanggal ini, adalah milikku..." jawab Alya. "Mungkin tanggal ini adalah tanggal yang akan terukir dalam pusara ku nanti...".
Deggg, jantung Galih seperti berhenti berdetak. matanya mulai memanas mendengar ucapan Alya barusan. hatinya bergemuruh menyadari firasat kalau Alya benar-benar akan meninggalkannya.
"Tidak... gue sudah meminta lo untuk datang ke pernikahanku nanti kan? apa lo sengaja?" omel Galih.
"Bodoh..." cerca Alya. padahal ia sudah melepaskan Galih, tapi nyatanya Galih masih ingin melihatnya di masa yang akan datang.
"Aku akan bisa melihatmu dari kejauhan..." hibur Alya.
"Tapi Gal... apa aku bisa bertemu dengan Ayah dan Ibuku di atas sana?" tanya Alya khawatir. ia takut kalau pada akhirnya, Alya akan kembali sendirian di dunia barunya.
"Iya... lo akan bertemu dengan mereka," hibur Galih.
"Kamu yakin?".
"Tentu saja... kalian akan dipertemukan... berpelukan dan melepas rindu..." jawab Galih.
"Lalu? ceritakan lagi Gal... ceritakan lagi untuk membuatku merasa senang nantinya..." pinta Alya.
"Lo akan bertemu dengan orang tua lo... memakai gaun putih indah dan juga riasan wajah yang sangat cantik... berjalan dan bergandengan tangan menyusuri taman yang dipenuhi oleh bunga krisan, bertiga... tertawa dan menjadi yang paling bahagia..." ucap Galih sedangkan Alya diam tanpa menjawab apapun. matanya kian lama kian sayu tapi masih mendengar jelas ucapan Galih.
"Lo masih mendengarkan gue kan Ya?" tanya Galih, memastikan kalau Alya masih bernafas.
"Hm..." jawab Alya.
"Lo akan seharian duduk diantara bunga krisan, menikmati suasananya dan sesekali menghitung berapa jumlah kelopak bunga itu..." lanjut Galih.
"Dan lo tidak akan sendirian lagi... melihat kami dari atas sana... dan...-," Tiba-tiba ucapan Galih terhenti ketika merasakan tautan tangan Alya terlepas di dadanya. tubuh Alya serasa seluruhnya bertumpu pada punggung Galih membuat pria itu menghentikan langkahnya. waktu terasa berhenti seketika.
"Ya..." panggilnya.
Mata Galih memanas dan butiran air mata menggenang, mengganggu penglihatannya.
"Alya... lo dengerin gue bukan?" tanyanya lagi. tapi masih tak mendapat jawaban apapun dari wanita itu.
Sedangkan Tiara yang sejak tadi berjalan di belakangnya seketika menutup mulutnya. wajahnya langsung berubah merah dengan air mata yang kian deras jatuh membasahi pipinya.
"Alya..." panggil Tiara dengan suara kacau dan penuh kesedihan.
Masih dengan posisi berdiri menggendong Alya, Galih terisak. air matanya jatuh begitu saja. berat memang... melepaskan kepergian orang yang spesial bagi hidup kita. kepergian Alya kali ini jauh menyakitkan dibanding kan dengan waktu itu.
"Andai bisa memilih, gue ingin Lo mati Alya...".
Ucapan Galih beberapa waktu yang lalu seperti boomerang baginya. Galih pernah sejahat itu berharap Alya mati karena terlalu kecewa.
dan saat ini, ucapan Galih benar-benar menjadi kenyataan. Alya benar-benar meninggal di depan mata dan kepala nya sendiri.
Selamat jalan Alya... selamat jalan cinta pertama ku...
Bersama dengan senja, Alya pergi meninggalkan dunia. meninggalkan tempat yang selalu membuatnya menderita dan sendirian. dengan senja... Alya menyadari bahwa dari sekian banyak orang yang membencinya, masih ada orang yang begitu tulus menangisi kepergiannya.
Tapi, Senja selalu menggiring keceriaan menuju kegelapan.
***
Sedih yak... huhuhu...
Hayo, siapa yang dulu selalu membenci Alya... apa masih benci atau malah kasihan????
Komen banyak-banyak dan Sorry udah nabur bawang... Lop kalian banyak-banyak...
__ADS_1