Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
165. Lukisan Kupu-Kupu.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Sudah beberapa hari terakhir Dion sengaja berdiam diri di dalam Villa. Tidak ada olahraga pagi ataupun agenda bersama Gadis.


Pria itu benar-benar menghindar dari suasana luar, seperti seorang vampir yang takut matahari.


"Bos, Anda tidak mau melakukan apapun?" tanya Agus yang keheranan melihat bosnya hanya duduk, sesekali tiduran sambil bermain ponsel.


"Tidak," jawab Dion masih asyik dengan Game yang ada di benda pipih tersebut.


"Di luar cuacanya sangat cocok untuk berolahraga... Bos tidak ingin ke Air terjun?" tanya Agus lagi.


Membuat Dion hanya menggelengkan kepalanya singkat dan pandangannya terus mengamati ponsel sambil sesekali menajamkan mata saat jago Game nya dalam bahaya.


"Bagaimana kalau jalan-jalan keliling desa?" tanya Agus lagi.


"Tidak ya tidak... gue tidak mau ngapa-ngapain..." ucap Dion telak.


Tapi masih tidak membuat Agus berdiam diri.


Hingga pria itu kembali bersuara,


"Bos-".


Membuat Dion seketika melotot ke arah Agus. Membuat Agus kembali menelan ucapan yang sudah terkumpul di tenggorokan.


Memandang pias wajah Dion yang berubah kesal.


"Diam atau gue kuncir mulut Lo pakai karet gelang! kesel gue..."ancam Dion terlihat kesal sekali dengan ucapan unfaedah dari anak buahnya itu.


Sudah jelas sekali Dion tidak ingin berbuat apa-apa hari ini. Masih saja Agus mengajaknya keluar Villa.


"Baik," hingga yang di lakukan Agus hanya diam. Duduk di lantai samping sofa tanpa bersuara sama sekali.


Begitu kan lebih baik... gumam Dion dalam hati melihat Agus tak bersuara.


Menit telah berganti menit. Jam juga berputar sangat cepat hingga tak terasa sudah pukul 4 sore. Tapi yang dilakukan Dion masih selonjoran di Sofa di temani Agus di bawah sana.


Setelah mendapat ancaman dari Dion, Agus benar-benar tidak bersuara. Bahkan mungkin memelankan suara nafasnya takut mengganggu si Bos.


"Lo tidak capek hanya duduk di bawah sana?" hingga setelah beberapa jam berlalu, Dion mulai bersuara lagi.


Yaelah... kenapa baru tanya? hampir 5 jam aku duduk di bawah sini seperti obat nyamuk bakar yang di abaikan... batin Agus.


Tapi ia juga tidak berani mengatakannya langsung kepada Dion.


"Tidak bos..." hingga hanya itu yang terpaksa keluar dari mulutnya.


"Ck... dasar... memang gue membayar lo setiap bulan hanya untuk duduk menemani gue begitu?" semprot Dion.


Lah mau apa lagi sih Bos... Anda hanya duduk tanpa melakukan apapun... biasanya juga aku yang menemani Anda ke kota melihat Rental, batin Agus.


Karena biasanya dia selalu menjadi supir bagi Dion kemanapun pria itu pergi. Tapi sudah 4 hari yang dilakukan Dion hanya berdiam diri di dalam Villa.


Memang Agus bisa menjalankan tugasnya kalau bos nya sendiri di rumah? tidak kan?

__ADS_1


"Beliin gue Pizza..." perintah Dion. Sudah sangat lama ia tak lagi memakan pizza. Mungkin terakhir kali 5 bulan yang lalu saat masih berada di Ibukota.


Dan sekarang Dion merindukan makanan itu, dimana tidak ada yang menjualnya di desa ini.


"Pizza? ke Kota?" tanya Agus terkejut. Sudah 4 hari ia hanya bermalas-malasan tanpa melakukan apapun. Dan sekalinya bekerja, ia harian pergi membeli makanan yang di minta Bosnya di Pusat kota. Keterlaluan bukan?


"Iya lah... disini tidak ada yang begituan..." jawab Dion.


Yaelah... sengsara amat hidup gue... batin Agus.


Bagaimana tidak, pusat kota dari desa itu memakan waktu sekitar 2 jam. Dan selama itu pula perjuangan Agus hanya untuk membeli sekotak Pizza permintaan Dion. Tidak sebanding bukan?


"Sendirian?" tanya Agus penasaran.


"Iya lah.. masak harus gue temenin... lagian kenapa sih kalau pergi sendiri? lo takut? jangan khawatir... setan aja ogah nakutin Lo..." semprot Dion semakin kesal.


Ck... percuma saja gue membawanya tinggal disini...


Mood Dion sedang buruk di tambah dengan kelakuan Agus yang menyebalkan. Sungguh memperkeruh suasana hatinya saja.


"Baiklah... saya berangkat... mana uangnya?" ucap Agus pasrah dan meminta uang kepada Dion.


Ck... ujung-ujungnya minta uang juga... batin Dion.


Oh iya.. kan gue yang memintanya membeli Pizza... bodoh! di detik selanjutnya Dion mengumpati dirinya sendiri.


"Nih..." ucap Dion sambil menyodorkan sejumlah uang.


"Buatlah dirimu berguna..." tambahnya sebelum Agus benar-benar menjauh dan pergi.


Melihat Agus sudah menutup pintu Villa itu, Dion kembali melihat ke arah ponselnya. Tapi sialnya benda pipih itu kehabisan baterai.


Membuat Dion kembali mengumpat untuk kesekian kalinya.


Dan yang dilakukan pria itu adalah berjalan menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua untuk mengisi kembali daya baterai ponsel.


 


Di luar Villa saat Agus mulai masuk ke dalam mobil, di luar pagar terlihat seorang wanita yang berteriak memanggilnya. Membuat Agus kembali turun dan menemui wanita itu.


"Nona Gadis..." ucapnya terkejut. Karena sudah 4 hari terakhir wanita itu tak lagi bersama Dion.


Membuat Agus tau, kalau memang terjadi sesuatu hingga membuat Gadis dan Dion terlihat menjauh.


"Dimana bos mu?" tanya Gadis dengan suara khasnya.


Hadis benar-benar definisi seorang pria yang terjebak dalam tubuh wanita. Sama sekali tidak ada feminimnya.


"Di dalam..." jawab Agus tanpa bersalah.


Tanpa basa-basi, Gadis menghentakkan kakinya dan langsung masuk ke dalam Villa. Sedangkan Agus, sengaja mempercepat langkahnya masuk kembali ke dalam mobil dan pergi.


Rasain tuh Bos... anak kepala desa datang marah-marah... batin Agus dan pria itu segera membawa mobil Kabir dadi Villa.


Setelah menginjakkan kakinya masuk ke dalam Villa, Gadis mulai celingukan mengamati suasana rumah itu.


Rumah yang membuat dirinya penasaran sejak kecil, akhirnya kali ini Gadis benar-benar masuk. Melihat bagaimana tata letak dekorasi serta apapun yang ada di sana.

__ADS_1


Apa tidak ada orang? batin Gadis.


Karena suasana sunyi seperti ini sama dengan suasana di film horor yang tiba-tiba ada hantu di depan matanya.


Sejak Dion tinggal di Villa ini, Nenek yang biasa menjaga tempat ini datang ketika pagi hari dan pulang saat menjelang jam 12 siang. Jadi, jelas sekali kalau rumah megah ini hanya ditinggali Agus dan Dion saja.


Gadis lebih menajamkan pendengarannya hingga yang di dengar adalah suara gemericik air dari sebuah tempat.


Karena penasaran, Gadis melangkah mengikuti suara air tersebut.


Kakinya terus berjalan meniti anak tangga dan tiba di lantai kedua.


Apa di kamar ini? batin Gadis. Menempelkan telinganya pada salah satu pintu kamar di depan sana.


Sunyi... berarti kamar itu tidak ada siapapun.


Gadis kembali berjalan lagi, mendekati pintu satunya. Dan matanya membulat, karena suara gemericik air berasal dari kamar berpintu putih tersebut.


"Dion..." panggil Gadis setelah membuka sedikit pintu itu.


Tak ada sautan dari dalam sana.


Gadis semakin mendorong pintu itu agar terbuka lebar. Dengan langkah kaki yang amat berat, Gadis masuk ke dalam sana. Memang terdengar suara gemericik air yang menandakan ada seseorang yang mandi di kamar mandi yang berada di ujung kamar tersebut. Gadis yakin kalau Dion lah yang sedang mandi.


Sambil menunggu Dion menyelesaikan mandinya, Gadis justru tertarik pada lukisan yang berada di samping ranjang kamar itu.


Belum selesai? batinnya. Lukisan sebuah kupu-kupu yang hinggap pada sebuah bunga.


"Indah... apa ini lukisan Dion?" gumam Gadis pada dirinya sendiri. Karena ada pewarna yang mengering di samping lukisan itu.


Walaupun hubungan mereka dekat, Dion tak pernah bercerita tentang lukisan. Itulah sebabnya Gadis tak tau kalau Dion juga memiliki bakat di bidang seni.


Gue kira bakatnya cuma menggoda ku saja batin Gadis dan tersenyum.


Karena selama ini yang Gadis tau, Dion selalu menggodanya dengan untaian kata-kata manis.


Sama seperti pria lain pada umumnya.


Saking fokusnya Gadis mengamati lukisan Kupu-Kupu itu, hingga tak menyadari sosok pria telah keluar dari kamar mandi yang berdiri di ambang pintu mengawasinya.


"Apa lo suka?" tanya Dion. Sedangkan Gadis langsung mengangguk setuju.


Ia suka dengan lukisan itu, walaupun belum sepenuhnya selesai.


Dan di detik selanjutnya Gadis terperanjat mendengar pertanyaan dari seseorang barusan. Membuat dirinya langsung memutar tubuh dengan membulatkan mata melihat Dion yang entah sejak kapan telah berdiri di ambang pintu.


"Lo cukup berani ya masuk seorang diri..." ucap Dion terdengar menakutkan bahkan membuat Gadis bergidik ngeri.


"Gue mau bicara dengan Lo!" ucap Gadis kembali pada mode galaknya.


Sikap Dion yang menjauhinya benar-benar keterlaluan bagi Gadis.


Ia merasa di campakkan oleh pria itu walaupun pada kenyataannya Dion tidak berkata ataupun berjanji apapun pada Bapaknya Gadis.


Apalagi hubungan Gadis dan Dion masih semua untuk dikatakan sebagai pasangan kekasih. Karena keduanya tidak pernah mengatakan kalau mereka suka satu sama lain.


***

__ADS_1


Diantara Dion, Arjun dan Galih... Dion yang lebih berani melakukan apapun... jadi ngeri kalau berduaan seperti ini...


__ADS_2