Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
186. Mirip Siapa?


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Akira telah di pindahkan ke ruang rawat inap.


Tiduran di ranjang dengan senyum yang terukir tak ada habisnya.


Melihat bagaimana orang tuanya dan juga orang tua Arjun berkumpul di tempat yang sama. Saling tertawa hingga membuat ruangan itu menjadi satu-satunya ruangan paling bersuara di RS.


Dan ada satu orang lagi, Galih. Ya... pria itu juga ikut andil dalam hari bahagia tersebut.


Duduk menyendiri di kursi tak jauh dari sofa.


Sedangkan bayi yang lahir beberapa jam yang lalu seketika menjadi primadona bagi siapa saja. Dalam pangkuan Mami Livia, bayi mungil berpipi merah itu tertidur lelap. Tak terganggu dengan suara berisik yang tercipta dari tawa semua orang.


Bayi berjenis kelamin perempuan itu terlihat nyaman dalam dekapan Mami Livia seperti sudah menjadi hak milik.


"Mami, biarkan Arum juga menggendongnya..." gurau Papi Johan. Karena sejak tadi bayi perempuan itu dalam dekapan Ibunya Arjun saja.


"Oh iya..." jawab Mami Livia menyerahkan cucu kesayangannya walaupun sedikit tak rela.


Ibu Arum mengamati cucu pertama yang saat ini berada dalam pangkuannya.


Mengamati dari kening, mata, hidung dan juga bibir bayu itu. Dan mengamati wajah anak perempuannya di depan sana, seperti tengah membandingkan keduanya.


Hatinya terenyuh seketika. Bayi dalam pangkuannya itu sangat mirip dengan Akira waktu masih kecil.


Membuat mata Ibu Arum kembali menganak sungai.


Ia masih tak percaya kalau putri kesayangannya itu telah melahirkan seorang putri, menjadikan Akira sebagai seorang ibu dalam hidupnya.


Padahal rasanya baru kemarin, Ibu Arum menyuapi Akira. Menyisir rambut putrinya dan memakaikannya baju kesukaannya.


Tapi sekarang, gadis kecil itu telah berubah dewasa. Menjadi seorang istri keluarga kaya dan juga Ibu baru bagi bayi yang belum dinamai tersebut.


"Ibu..." ucap Akira paham dengan tatapan Ibunya.


Hingga di detik selanjutnya, Ibu Arum kembali menyerahkan bayi itu kepada gendongan Mami.


"Aku benar-benar terharu..." ucap Ibu Arum jujur. Sedangkan di sampingnya, Ayah Adam selalu menjadi orang pertama yang menyemangati beliau.


"Menurutmu bayi ini mirip siapa? Akira atau Arjun...?" tanya Mami Livia mengamati wajah cucunya. Bahkan sampai mengelus lembut pipi berwarna merah itu dengan jarinya.


"Sepertinya mirip Akira..." jawab Papi. Sedangkan Ibu Arum juga setuju akan penilaian besannya itu.


Wajah bayi itu benar-benar mirip Akira.


"Bibirnya, hidungnya... benar mirip Akira..." tambah Mami Livia. Sedangkan yang duduk di samping ranjang tidur terlihat tak suka.


Pria itu langsung mengerucutkan bibirnya sebal, membuat Akira dan Galih tertawa cekikikan.


Nah Lo... Gen Lo tidak dominan kan? ejek Galih dengan sorot matanya.


Membuat Arjun melayangkan protes, "Mami.. bayi itu kan masih mengalami perubahan beberapa kali... jadi tidak bisa di tentukan saat ini...".


Membuat semua orang menengok ke arah Arjun.


"Bisa saja kali ini mirip dengan Akira... tapi seminggu lagi jadi mirip Papinya, jadi jangan asal menyamakan..." ucap pria itu sewot.

__ADS_1


Akira langsung menepuk tangan Arjun, berharap pria itu cukup diam tanpa membantah apapun.


"Apa?" ucap Arjun seperti tengah menantang Akira untuk berduel.


Ck... kekanakan... batin Galih.


"Lihatlah Jun... putri kecil ini memiliki garis bibir seperti Akira... hidungnya..." ucap Mami mengutarakan fakta yang ada.


"Kenapa semuanya mirip denganmu, padahal aku yang ngidam..." ucap Arjun mencubit hidung Akira dengan gemas.


"Aww..." protes Akira dan kembali memukul tangan suaminya tanpa rasa bersalah.


Sedangkan hal itu membuat semua orang tertawa. Mereka mengingat bagaimana keadaan Arjun saat Akira hamil muda. Pria itu benar-benar merasakan apa yang di rasakan ibu hamil. Mual, muntah dan kehilangan selera makan.


Lihatlah bagaimana tawa mereka, sedang mengejekku kan? batin Arjun.


Membuat Akira seketika menyentuh telapak tangan Arjun. Menggenggam nya dengan sangat erat. "Terima kasih... Terima kasih telah menemaniku..." ucap Akira pelan dan mungkin hanya Arjun yang mendengarnya karena semua orang sibuk membicarakan bayi mungil yang baru saja lahir.


"Terima kasih telah memberi kekuatan saat aku sendiri merasa hampir menyerah..." tambah Akira.


Bagaimana Arjun menemaninya selama persalinan, benar-benar membuat Akira merasa menjadi wanita paling spesial.


Ia merasa beruntung menjadi istri Arjun Pradipta.


"Jangan berterima kasih padaku... justru aku yang harusnya berkata seperti itu, Terima kasih karena telah melahirkan buah cinta kita dengan selamat..." ucap Arjun.


"Kamu tau... tadi aku ketakutan..." tambah Arjun mengingat kejadian tadi.


"Kenapa?".


"Aku tidak tega melihatmu tersiksa seperti tadi. Bahkan aku tidak bisa membayangkan kalau sampai kamu menyerah tadi...". Arjun menatap Akira dengan penuh cinta.


Pandangannya kabur yang terdengar hanya suara aba-aba dari Dokter bersamaan dengan jeritan Akira.


Bagaimana perjuangan Akira tadi. Bagaimana kuatnya Akira melahirkan bayi itu, benar-benar membuat Arjun bersyukur. Ucapan terima kasih mungkin tak sepadan dengan apa yang telah Akira lakukan.


Karena melahirkan adalah taruhan nyawa seorang ibu.


"Buktinya aku kuat..." jawab Akira dengan sombongnya.


"Jangan lagi..." pinta Arjun.


"Ha?" Akira terkejut dengan ucapan Arjun barusan. Maksudnya?


"Aku tidak akan meminta mu untuk melahirkan lagi... cukup satu saja..." ucap Arjun dengan tulus. Setelah ini, ia tak akan memaksa Akira untuk melahirkan anak mereka lagi.


Entah bagi Akira apa yang dikatakan Arjun menguntungkan baginya atau malah membuat dirinya terbebani. Akira tak bisa berkomentar untuk saat ini.


---


Setelah mengantarkan Orang tua Akira kembali ke rumah, Galih langsung pulang ke Apartemennya. Apalagi sudah malam dan waktunya untuk beristirahat.


Menekan beberapa digit angka, akhirnya pintu Apartemen nya terbuka. Galih masuk sambil mengendorkan ikatan dasi di lehernya.


Ia mengira kalau Tiara telah tidur, tapi nyatanya gadis itu menunggu kedatangannya sambil rebahan di sofa ruang Televisi.


"Sudah pulang ya? bagaimana persalinan Akira?" Tiara memberondong Galih dengan banyak pertanyaan.


"Lancar..." jawab Galih sambil membanting tubuhnya di sofa hingga membuat Tiara yang duduk di setelahnya ikut terhempas.

__ADS_1


"Bagaimana bayinya? laki-laki atau perempuan?" tanya Tiara lagi bahkan sangat antusias.


"Kenapa? Lo ingin juga?" goda Galih.


Kalau iya, gue bisa buatin... bahkan lebih lucu dari bayi Akira... batinnya.


Mana mungkin Galih mengatakan hal itu di depan Tiara.


"Tidak... gue hanya penasaran..." jawab Tiara salah tingkah.


"Oh iya, gue mau minta gaji gue bulan ini..." tambahnya.


"Untuk apa? bahkan belum genap sebulan bukan?" protes Galih seperti majikan pada umumnya.


Hari ini masih pertengahan bulan, jadi belum waktunya bagi Tiara menerima gaji dari Galih.


"Gue juga ingin membelikan kado untuk keponakanku... kalau bukan gaji dari lo, bagaimana bisa gue mendapatkan uang...?" jawab Tiara.


"Bisa..." ucap Galih dengan senyum aneh di sudut bibirnya. Bahkan seringai yang tercipta itu, membuat Tiara bergidik ngeri. Apalagi dengan gigi gingsung Galih yang terlihat seperti vampir penghisap darah.


"Bisa? gimana caranya?" tanya Tiara dengan polosnya.


"Mau lihat kupu-kupu?" tanya Galih dan langsung mendekatkan wajahnya ke arah Tiara.


Bukan pertama kalinya Galih mengatakan hal itu. Mungkin ini adalah ketiga kalinya Pria itu mengajak Tiara untuk melibat kupu-kupu yang entah dimana keberadaannya.


Tapi Tiara menduga kalau perkataan Galih menjurus ke halal m*sum.


"Berhenti menggodaku!" perintah Tiara hingga Galih berhenti. Tapi tetap saja jarak wajah keduanya hanya tersisa beberapa inci saja.


"Tiara..." panggil Galih.


"Hm," jawab Tiara dengan suara parau dan gugup karena jarak mereka berdua sangatlah tipis.


"Boleh gue mencium lo?" tanya Galih.


Membuat Tiara membeku seketika.


Ciuman? Mereka memang pernah melakukan hal itu sebelumnya. Bahkan dua kali.


Tapi kan momen nya beda, dimana saat itu Galih hanya ingin memanas-manasi Alya dan satunya saat Tiara mabuk.


Tapi kali ini mereka benar-benar dalam keadaan sadar tanpa efek minuman keras sama sekali.


Galih langsung menggunakan kesempatan itu untuk menarik wajah Tiara. Tidak memberi kesempatan Tiara untuk berkata iya ataupun tidak. Galih langsung menyatukan bibir keduanya tanpa ragu.


Menciptakan bunyi yang hanya bisa di dengar oleh keduanya.


***


Nah... Author nih sering khilaf kalau menyangkut Galih dan Tiara..


Semoga Syuka... Besok ketemu Dion ya... kita tuntasin Kisah Dion-Gadis dulu... nanti baru Galih dan Tiara sebagai Ending...


Love kalian banyak-banyak... tengku yang udah nemenin Author sampai saat ini.


Sambil menunggu cerita ini, bisa baca karya Author yang pertama di sini. judulnya "Menjadi Yang Kedua".


Karya pertama yang sengaja tidak di Revisi untuk kenang" an... .

__ADS_1


__ADS_2