
HAPPY READING...
***
Kediaman keluarga Pradipta terlihat sangat sibuk. Beberapa kendaraan telah terparkir di depan teras dan siap untuk di gunakan nantinya.
Saat ini para penghuni rumah itu sedang duduk dan menikmati sarapan pagi mereka.
"Kenapa tidak bareng dengan Arjun saja?" begitu yang terdengar dari mulut Papi Johan saat semua orang sedang menikmati sarapan mereka.
"Akira di antar supir saja Pi," jawab Akira. Tentu saja ia tidak mau membebani Arjun dengan mengantarnya ke Kampus pagi ini.
Ya, ini adalah hari pertama Akira masuk kuliah.
Ngomong-ngomong, hari ini sudah genap 2 minggu sejak Insiden Ibu Arum yang masuk Rumah Sakit.
Sejak saat itu Akira telah membulatkan tekad untuk melanjutkan sekolahnya.
Akira memasuki sebuah Universitas dimana ada bidang kesehatan di dalamnya.
Akira bertekad untuk belajar lebih giat lagi dan berhasil untuk menjadi seorang Perawat di kemudian hari.
Berkaca dari kejadian Ibu Arum waktu itu, Akira ingin menjadi seorang anak yang berguna untuk orangtuanya.
Akira ingin sekali merawat kedua orangtuanya. Untuk itulah ia berkuliah.
Lagian siapa yang mau mengantarnya? ... ck, kurang kerjaan sekali gue... batin Arun.
Hubungannya dengan Akira juga bisa dibilang hanya jalan di tempat sana. Tidak ada kemajuan sama sekali di belakang keluarganya.
"Arjun berangkat dulu Pi, Mi..." pamit Arjun lebih dulu. Pagi ini ia juga ada rapat sehingga Arjun memutuskan untuk berangkat lebih awal dari biasanya.
"Aku pergi," pamit Arjun sambil menyentuh pucuk kepala Akira di depan orangtuanya. Jangan tanya apakah itu bagian dari sandiwara? tentu saja iya!
"Hati-hati," jawab Akira.
***
Mobil yang mengantarkan Akira kuliah telah berhenti tepat di depan pintu gerbang sebuah gedung yang cukup familiar bagi kalangan pelajar. Dan mulai sekarang Akira menjadi bagian dari Universitas terkenal itu.
"Terima kasih," ucap Akira kepada sang supir yang telah mengantarkan nya dengan selamat.
Setelahnya Akira turun dari sana dan berjalan masuk, sedangkan mobil itu melaju kembali ke tempat asal.
Senyum seketika mengembang sempurna di bibir Akira sepanjang kakinya melangkah masuk.
Akira memang bukan gadis yang pintar, jadi ia akan belajar 2x lebih dibandingkan yang lain.
Karena ada impian yang ingin Akira capai untuk saat ini.
Dan menjadi perawat adalah pekerjaan yang cukup aman untuk masa-masa mendatang.
Hal lain yang membuat Akira senang adalah di Universitas ini juga sahabatnya kuliah. Ya... Tiara juga belajar disini. Tentu saja mereka akan lebih sering bertemu saat jam kuliah telah usai.
"Akira..." panggil seseorang dari kejauhan. Baru saja di pikirkan sosok gadis yang amat dekat dengan Akira muncul juga.
"Tiara," jawab Akira bertambah senang.
__ADS_1
"Gue senang sekali lo mau kuliah..." ucap Tiara masih tidak menyangka kalau sahabatnya telah berubah pikiran.
"Gue mau jadi anak yang berguna..." masih saja seperti itu jawaban dari Akira.
Ya, gue tau... gue juga sedih mendengar kabar Ibu lo... batin Tiara menjawab.
"Jam berapa mata kuliah Lo?" tanya Tiara mengalihkan pembicaraan.
"Em... sebentar lagi," jawab Akira sambil menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Ya udah kalau gitu... nanti setelah selesai, kabari gue..."
"Kenapa?" tanya Akira kebingungan.
"Gue punya kejutan buat Lo... udah ya, kabari gue nanti..." ucap Tiara dan langsung berlari meninggalkan Akira yang masih mematung kebingungan.
***
Tepat jam 1 siang, Akira baru keluar dari kelasnya sambil mengeluarkan ponsel dari Jas Almamater yang ia kenakan.
Kelasnya telah selesai dan sesuai dengan perintah Tiara tadi, Akira memutuskan untuk menelponnya.
"Lo dimana?" tanya Akira lewat telepon.
"Gue ada di kantin... cepetan kesini!" perintah Tiara.
"Oke"
Segera setelah menutup teleponnya, Akira pergi menuju ke tempat Tiara berada.
Di kantin,
Hingga di kursi cukup jauh dari Akira berdiri, Tiara melambaikan tangan ke arah Akira dan tentu saja Akira yang mengerti akan hal itu segera mendekati sahabatnya.
Siapa pria yang bersama dengan Tiara? apa pacarnya? hahaha... akhirnya dia menemukan kekasih juga... batin Akira saat melihat Tiara bersama seorang pria tapi tak terlihat bagaimana wajah pria itu karena duduknya yang memang memunggungi Akira.
"Ini kejutan yang gue maksud..." ucap Tiara saat Akira telah berada disana.
Pria yang hanya terlihat punggungnya itu berdiri dan menghadap ke arah Akira.
Seketika Akira membulatkan matanya karena terkejut. Bahkan tubuhnya sampai mematung melihat siapa yang berada di depannya saat ini.
"DEAN?"
Pria bernama Dean menampakkan wajah jenaka dan berpura-pura ikut terkejut, "Akira? hehehe..."
"Jadi Lo kuliah disini juga?" tentu saja Akira baru mengetahui kalau ternyata Dean juga kuliah di Universitas yang sama dengan Tiara.
Sungguh mungkin ini adalah hari paling membahagiakan untuk Akira. Di sini Ia bisa bertemu dengan Tiara dan juga Dean, sebuah keberuntungan bukan?
"Duduk..." Dean meraih tangan Akira dengan lembut dan meminta gadis itu untuk duduk di sebelahnya.
"Mau pesan apa?" tanya Tiara. Mereka akan makan siang disini bertiga sama seperti waktu SMA dulu.
"Soto!" ucap Akira dan Dean bersamaan.
Ya, mereka memang menyukai makanan khas nusantara tersebut. Nasi dengan kuah bening panas yang dipadukan dengan daging, potongan kentang juga tauge sungguh menggugah selera. Apalagi kuah panasnya mampu membuat perut menjadi hangat.
__ADS_1
"Kalian tidak berubah sama sekali..." ledek Tiara hingga membuat Dean dan Akira tertawa.
Di kantin inilah ketiga orang itu menikmati makan siang bersama.
Walaupun terkadang hanya Tiara yang merasa kalau Dean hanya sibuk bicara dengan Akira seolah tidak memperdulikan keberadaannya disini.
Tapi Tiara memaklumi hal itu,
Akira sejak dulu memang tertarik padanya... tapi bagaimana kalau Dean tau yang sebenarnya? batin Tiara khawatir.
Tiara memang telah berjanji pada Akira tidak akan memberitahu siapapun kalau sahabat yang itu sudah menikah.
Sehingga sampai saat ini Tiara hanya bisa diam.
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu.
Ketiga orang itu segera meninggalkan kantin dan berjalan keluar.
"Lo tadi berangkat naik apa?" tanya Dena pada Akira.
"Oh, tadi naik taxi..." bohong Akira.
gue tidak bisa bilang kalau di antar supir bukan? Dean akan curiga nanti... batinnya membenarkan.
Memang sejak SMA, Akira berangkat ke sekolah berboncengan dengan Tiara menggunakan sepeda motor. Terkadang juga menggunakan kendaraan umum seperti Bus.
Dean juga tau akan hal itu.
"Apa mau gue antar pulang?" tanya Dean memberi tumpangan pada gadis itu.
Akira dan Tiara saling senggol. Sebenarnya Akira ingin sekali pulang bareng Dean, tapi ia ragu karena rumahnya saat ini tidak sama saat Akira SMA. Sekarang ia tinggal di rumah mertuanya dan Akira tidak bisa memberitahu Dean akan hal itu.
"Lin kali saja... gue ada keperluan dengan Akira setelah ini... iya kan Ra?" ucap Tiara kembali menyelamatkan nyawa sahabatnya.
Tentu saja Akira tidak akan membuang-buang kesempatan itu.
"Iya..." jawab Akira menganggukkan kepalanya sangat yakin.
Terima kasih Tuhan... batinnya kegirangan.
"Baiklah... sampai ketemu besok..." ucap Dean dan setelah itu pergi lebih dulu meninggalkan Akira dan Tiara.
"Aaggghh... syukur lah..." ucap Akira lega.
"Kali ini Lo selamat, tapi lain kali gue ogah bantu Lo..." jawab Tiara ketus tapi hanya berpura-pura saja.
"Makasih sahabatku..." ucap Akira sambil memeluk tubuh sahabatnya dengan erat bahkan membuat Tiara meronta untuk dilepaskan. Geli sekali bukan di peluk seperti itu oleh sesama jenis? itulah yang dirasakan Tiara saat ini.
"Apa hal ini tidak keterlaluan untuk Dean?" Tiba-tiba ada sebuah rasa tak enak dari dalam diri Tiara.
Bagaimanapun, ia terlihat seperti mendukung kebohongan Akira dari semua orang.
"Jangan khawatir... kita nikmati saja saat ini..." jawab Akira tak peduli.
Yang penting saat ini, dirinya benar-benar bisa bernafas lega saat berada di luar kediaman Pradipta.
Inilah hidup yang Akira inginkan. Bertemu dan berkumpul dengan teman seusianya dan menikmati hari-hari sebagai seorang pelajar.
__ADS_1
***