Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
244. Merepotkan!


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Sejak kembali dari minimarket hingga malam datang, Tiara terlihat berbeda. gadis itu terlihat lebih pendiam dari biasanya. bahkan ketika Gadis mengajaknya bicara, Tiara seperti melamun dan memikirkan hal lain.


Semua itu disadari oleh Galih, yang memang duduk di samping Tiara. menautkan jemari mereka seolah menguatkan satu sama lain.


"Gue mau ke kamar mandi dulu..." pamit Tiara. karena mereka memang sedang mengobrol di ruang keluarga Apartemen Galih.


"Iya..." jawab Gadis yang duduk sambil menemani Cello bermain di karpet di samping meja itu.


sedangkan Dion hanya mengangguk tapi beda lagi dengan ekspresi yang Galih tunjukkan. pria itu tau ada sesuatu yang memang mengganggu pikiran Tiara saat ini. tapi tak tau apa yang membuatnya seperti itu.


"Tunggu sebentar ya..." pamit Galih mengikuti Tiara. akan tiba baik jika Galih membiarkan Tiara sendirian tanpa tau apa yang gadis itu khawatirkan. lagipula berkaca pada kejadian-kejadian di masa lalu, semakin menunda masalah semuanya akan sulit di selesaikan.


Yaelah, gini amat jatuh cinta... cerca Dion. karena Dion tak pernah sebucin itu pada istrinya, beda dengan Galih. bahkan mengikuti Tiara padahal hanya mau ke kamar mandi.


"Sayang, apa yang mereka lakukan?" tanya Dion pada istrinya. membuat Gadis seketika mengerutkan keningnya heran dengan pertanyaan Dion yang justru terdengar aneh.


"Ya mana gue tau Yon..." jawab Gadis. toh bukan urusannya juga kan harus mengetahui apa yang Tiara dan Galih lakukan?


"Agghh... kirain tau..." ucap Dion dengan menampakkan senyum lebarnya. hingga membuat sepasang matanya kian tertutup.


"Papa..." panggil Cello. mengalihkan perhatian orang tuanya.


"Ya Boy, ada apa?" tanya Dion. beralih dari tempat duduknya dan ikut lesehan dengan putranya itu.


"Apa Starla tidak datang?" tanya Cello dengan suara khas anak kecil.


"Kamu ingin bertemu dengan Starla?" tanya Dion antusias. karena tak menyangka kalau Cello bahkan akrab dengan Starla, putri Arjun dan Akira.


"Tadi kami mengunjungi Tante Livia... dan Cello sangat asyik bermain dengan Starla..." lapor Gadis. ya... sejak siang, Gadis dan mertuanya juga Cello memang pergi dan ternyata mengunjungi Mami Livia di rumah Pradipta.


sekaligus memamerkan Gadis karena Mami Livia belum pernah bertemu langsung dengan istri Dion.


"Oh... bukannya Arjun dan Akira pergi?" tanya Dion. Ya... itulah yang ia dengar sejak pagi. entah kemana mereka hingga tak bisa menjemput kedatangan Dion.


"Iya, hanya Arjun dan Akira saja yang pergi. sedangkan Starla tinggal dengan Tante Livia..." jelas Gadis.


"Jadi kamu menyukai Starla?" tanya Dion kembali pada putranya.


walaupun usia Starla jauh lebih besar dibandingkan dengan Cello, nyatanya tak membuat mereka bertengkar.


Cello mengangguk. mungkin membayangkan bagaimana asyiknya bermain dengan Starla tadi siang.


"Baiklah, besok Papa akan mengajak mu kesana... oke?" tanya Dion. dan tentu saja Cello sangat senang bahkan menganggukkan kepalanya antusias.


Bersamaan dengan itu, Galih mencegah Tiara yang hendak masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Galih tanpa bada-basi.


"Ha? apa?" tanya Tiara yang memang tidak paham dengan pertanyaan Galih. karena mereka memang tidak ada masalah ataupun berdebat sama sekali.


"Sepertinya ada sesuatu yang mengganggumu..." tuduh Galih. berharap Tiara bisa membagi masalahnya dengannya.


"Tidak..." jawab Tiara.


"Bohong..." tolak Galih. mana mungkin tidak ada apapun yang terjadi pada Tiara? bahkan raut wajah gadis itu terlihat murung, tidak seperti biasanya.


"Sungguh Gal... tidak ada apapun..." bohong Tiara.


"Sungguh?".


membuat Tiara seketika menganggukkan kepalanya. tapi Galih tetap melihat kedua mata Tiara, berharap menemukan sesuatu di dalam sana.


"Kalau begitu beri gue satu ciuman..." pinta Galih. ucapan Galih benar-benar tak terduga. seperti inilah, meminta sesuatu yang kadang di waktu yang tidak tepat.


"Lo gila?" tanya Tiara spontan. alam pikirannya hanya satu, bagaimana kalau Gadis maupun Dion melihatnya? memalukan bukan? Tiara cukup punya malu untuk itu.


"Ya... gue gila karena lo..." jawab Galih kembali lagi pada rayuannya. kadang memang membuat Tiara luluh begitu saja.


Apa sih yang tidak untukmu Gal... tapi tidak sekarang! karena mereka sedang ada tamu di luar sana.


"Jangan aneh-aneh!" ancam Tiara dan hendak kembali ke dalam kamar mandi.


"Tidak ada penolakan sayang..." bisik Galih terdengar merdu di telinga Tiara.


Dan pada akhirnya, Galih memang menikmati apa yang ia minta dari Tiara. meraup bibir ranum wanitanya tanpa memperdulikan situasi.


Terkadang inilah yang membuat Tiara was-was. Galih selalu ingin lebih dari sekedar ciuman. hingga Tiara harus mengontrol pria itu. jangan sampai lepas kendali sebelum mereka benar-benar menjadi suami istri.


"Cukup Gal..." tolak Tiara sedikit mendorong dada Galih agar menjauhi dirinya. nafas keduanya masih berkejaran.


"Kita lanjutkan nanti..." bisik Galih dan mengecup pipi Tiara tanpa aba-aba dan melangkah pergi. membuat Tiara kembali mematung melihat kelakuan Galih.


Tuhan... kenapa dia sangat manis... batin Tiara. sungguh Galih benar-benar mampu membuat Tiara gila. selain parasnya yang menawan, cara Galih memperlakukan Tiara mampu membuat semua orang iri melihatnya.


siapa sangka kalau di balik sikap dingin itu ada hati yang lunak dan lembut. bahkan penuh kasih kepada keluarganya dan juga wanita yang Galih cintai.


---


Malam semakin larut. Dion sedang menggendong Cello di punggung dan berdiri di sebelah Gadis. "Istirahat lah..." ucapnya dengan menaikkan alisnya seperti mengejek Galih.


"Ck..." yang diejek tentu saja hanya berdecak. karena seperti itulah sikap Dion yang kadang menyebalkan.


"Baiklah kami kembali ya Ra..." pamit Gadis walaupun tanpa pamit pun tak masalah karena mereka hanya pergi beberapa langkah saja menuju ke unit Apartemen dimana masih milik Arjun sama seperti yang pernah mereka tinggali beberapa tahun silam.


"Iya mbak... besok ngobrol lagi..." jawab Tiara. karena selain Akira, Gadis sangat seru jika diajak ngobrol apalagi curhat. Agghh... sebenarnya gue ingin curhat padamu mbak... tapi mana bisa, karena ada Galih...

__ADS_1


"Oh iya Nyet... besok antar kami rumah Pradipta ya..." ucap Dion meminta.


"Ngapain?" padahal besok Galih sudah tidak akan kemana-mana karena lusa adalah hari pemberkatan pernikahannya dengan Tiara. bahkan Galih sudah menjalani cutinya dari Pradipta Group.


"Cello ingin bermain dengan Starla... iya kan boy?" ucap Dion dan beralih pada bocah dalam gendongannya. hingga membuat Cello otomatis mengangguk setuju.


Ck... anak dan bapak sama-sama merepotkan... cerca Galih dalam hati. bagaimana tidak? setiap Dion datang selalu saja merepotkan dirinya. sellau saja Galih yang beralih pekerjaan menjadi supir pria itu.


"Bawa saja mobil gue..." tolak Galih. ia ingin mengistirahatkan tubuhnya juga mempersiapkan hatinya bukan? karena lusa mungkin saja akan terjadi senam jantung saat Galih dan Tiara berdiri di depan Pendeta untuk mengucap janji pernikahan.


apalagi ini adalah pertama bagi mereka, Galih tidak mau ada kesalahan sedikitpun.


"Tidak... lo aja yang nyetir..." bantah Dion.


Yaelah... nih orang benar-benar menyebalkan! umpat Galih.


"Kalau tidak mau, hadiahnya batal..." ancam Dion penuh kelicikan.


"Ck..." Galih kembali berdecak kesal. sedangkan Dion tersenyum penuh kemenangan. karena dari bunyi decakan itu tersirat makna kalau Galih mau walaupun ada keterpaksaan di dalam hatinya. bahkan mungkin saja mengutuk Dion tanpa henti.


"Oke, besok jam 9 ya... oke?" ucap Dion dan segera pergi dari sana sebelum Galih berubah pikiran nantinya.


Setelah kepergian Dion dan istrinya, Galih kembali menempel ke Tiara seperti seekor siput.


"Apa sih Gal..." membuat gadis itu protes sambil berusaha mendorong tubuh Galih agar tidak menempel.


"Kenapa?" tanya Galih. karena ia hanya ingin menempel seperti sekarang. dimana membuatnya merasa nyaman ketika harum parfum Tiara masuk ke hidungnya. bau vanilla yang amat manis dan Galih ingin menggigitnya.


"Jangan nempel-nempel kayak kuman," protes Tiara. tanpa disadari, ucapannya itu justru membuat Galih kesal.


"Apa?".


"Iya, lo kayak kuman..." ulang Tiara bahkan dengan senyum yang melengkung sempurna menghiasi wajah. membuat Galih kesal tapi tak bisa membalas ucapan gadis itu sama sekali.


Kuman? apa gue terlihat seperti kuman? ck...


Melihat Galih yang hanya berdiri terpaku, Tiara langsung mengambil kesempatan untuk pergi. berlari menuju ke kamar dan menguncinya sebelum Galih ikut masuk.


"Ya Tiara! buka pintunya!" teriak Galih. menggedor pintu kamar Tiara tanpa henti.


"Tidak... gue tidak akan membukanya..." balas Tiara dari dalam kamar.


Hahaha... kapan lagi gue bisa kurang ajar terhadapnya...


"Tiara!" Galih masih tak bergeming sedikitpun. terus saja berteriak berharap Tiara segera membuka pintu untuknya.


"Awas saja nanti! gue akan benar-benar memakan lo!" ancam Galih dengan nafas naik turun.


***

__ADS_1


__ADS_2