Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
98. Mimpi Buruk.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Galih sudah bersiap untuk kembali pulang setelah bekerja seharian penuh. Tenaganya benar-benar terkuras habis karena jadwal padat hari ini. Bagaimana ia beberapa kali mengantarkan Arjun untuk bertemu Klien dan juga menyelesaikan pekerjaannya secara bersamaan.


Dan sekarang lah waktunya mengistirahatkan tubuhnya dan pulang. Berendam air hangat dalam Bathup mampu membuat tubuhnya kali segar nanti.


Agghh... rasanya ingin segera sampai rumah...


Dengan penuh semangat, Galih masuk ke dalam Lift yang akan membawanya ke lantai dasar gedung Pradipta. Sambil menunggu Lift turun, Galih membuka ponselnya. Membaca setiap pesan yang masuk dalam benda pipih berwarna hitam tersebut.


Tidak ada yang penting, hingga Galih menemukan sebuah pesan yang mampu membuat matanya membulat sempurna.


Dengan cekatan, Galih langsung menghubungi pemilik nomor tersebut.


"Halo," ucapnya setelah sambungan teleponnya tersambung.


"Pak, saya telah menemukan informasi yang Bapak perlukan. Dia tinggal di sebuah Apartemen yang terletak di Jalan ***,"


"Dimana kamu sekarang?"


"Saya... saya masih berada di sini, memantaunya..."


"Baiklah, saya ke sana sekarang..." ucap Galih yakin.


Galih memutuskan sambungan teleponnya bersamaan dengan pintu Lift yang terbuka.


Langkahnya sedikit di percepat agar sampai dimana mobilnya terparkir.


"Terima kasih," ucap Galih ketika satpam tempat itu telah menyiapkan mobilnya. Dan Galih langsung mengendari mobilnya meninggalkan gedung Pencakar Langit bernama Pradipta Group.


Rencana awal berendam di air hangat tentu saja gagal karena ada sesuatu hal yang perlu Galih lakukan terlebih dahulu.


Apalagi ini semua demi kepuasan hatinya sendiri. Setidaknya ia tak akan terus ber penasaran tentang semua hal.


Jalanan yang macet karena jam pulang bekerja menjadikan Galih beberapa kali mengalami kemacetan. Bahkan jarak tempuh yang biasanya hanya 40 menitan molor hampir 1 jam lamanya. Dan sekarang, disini lah dia berada. Di depan kawasan Apartemen sesuai dengan apa yang di katakan anak buahnya tadi.


"Apa dia tidak keluar sama sekali?" tanya Galih sambil membakar sebatang rokok di tangannya.


"Terakhir kali pukul 4 sore tadi Pak, sepertinya pergi ke toko untuk membeli sesuatu..." jawab anak buah Galih melaporkan apa yang di lihatnya sejak tadi.


Galih hanya mengangguk paham.


---


Galih terlihat mengistirahatkan tubuhnya di dalam mobil, sedangkan anak buahnya berdiri di depan bodi mobil terus mengamati pergerakan apapun di depan Apartemen tersebut ditemani dengan beberapa makanan kecil dan minuman bersoda.


Langit Ibukota mulai berubah gelap karena jam sudah menunjuk ke angka 8 malam. Tapi cuaca terlihat cerah karena bertaburan bintang di atas sana.


"Aku pulang," ucap Galih. Karena sudah sangat lama ia munggu tapi tidak ada hasilnya sama sekali.


Galih tidak mau membuang-buang waktu untuk satu hal saja.


"Baik Pak," sedangkan Anak buah Galih masih berada di sana untuk memata-matai seseorang.


Galih menghidupkan mobilnya dan segera pergi dari sana.


***


Tiba di Apartemen miliknya, Galih langsung melempar jas kerja yang melekat di tubuhnya seharian dan duduk di tepi ranjang. Tubuhnya benar-benar merasa lelah.


Membuka ikatan dasi, pikiran Galih tertuju pada suatu hal. Kenangan-kenangan masa lalunya kembali terngiang di dalam kepalanya. Berputar bagaikan sebuah film di bioskop.


"Brengs*k!" umpat Galih. Entah kenapa akhir-akhir ini ia selalu memikirkan wanita di masa lalunya.


Padahal Galih sudah berusaha untuk melupakan hal itu sejak lama.

__ADS_1


Galih berjalan menuju ke kamar mandi. Menghidupkan kran air untuk mengisi Bath up dengan air panas.


Walaupun sudah malam, tapi tak mengurungkan niat Galih untuk berendam air hangat.


Setidaknya hal itu akan membuatnya tidur lebih nyenyak nantinya.


Sambil menunggu air penuh di Bath up, Galih membuka seluruh pakaiannya. Mengecek suhu air sebelum masuk ke dalam sana.


"Aahhh..." ucap Galih merasakan air yang mulai membasahi tubuhnya. Apalagi dengan aroma terapi yang menguar memenuhi kamar mandi tersebut, membuat pikirannya menjadi rileks.


Di dalam Bath up, Galih kembali meraba bekas luka di telapak tangannya.


Walaupun gue telah berusaha untuk melupakannya, tapi melihat luka ini kembali... sosoknya kembali hadir.


Luka di tangannya adalah luka dari kekasih Galih di masa lalu.


Anggap saja sebagai kenang-kenangan sebelum kekasih Galih pergi entah kemana.


Bohong jika gue tidak lagi peduli... kadang gue juga ingin tau dimana dia sekarang... bagaimana keadaannya... dan dengan siapa dia hidup...


Mencintai seseorang benar-benar bisa merubah segala sesuatu tentang diri kita. Dan seperti itulah yang Galih rasakan di masa lalu. Ia sangat mencintai kekasihnya bahkan rela untuk berkorban apapun agar kekasihnya tidak menderita.


Tapi siapa sangka kalau takdir Galih berubah. Setelah menjalin hubungan cukup lama, kekasih Galih tega mengkhianati perasaanya. Gadis itu meninggalkan Galih demi bersama pria lain hanya karena Galih tidak semapan sekarang.


Padahal Galih yang dulu selalu ada untuknya. Saat-saat terpuruk kekasihnya Galih berdiri paling depan untuk melindungi gadis itu.


Sudah 1 jam lamanya Galih berendam dan tubuhnya benar-benar terasa ringan saat dirinya keluar dan membilas tubuhnya dengan air shower.


Seperti inilah kegiatan Galih setelah seharian bekerja.


Setelah mengganti pakaiannya dengan piyama tidur, Galih langsung merebahkan dirinya di atas ranjang bersiap untuk tidur.


Menepuk guling dan langsung miring memejamkan mata.


Tak butuh waktu lama, suara nafas pria itu terdengar stabil menandakan bahwa Galih telah benar-benar masuk ke alam mimpi


***


Apalagi melihat gadis yang dicintainya menggenggam erat tangan pria lain tanpa sungkan sedikitpun.


"Siapa dia?" tanya Galih.


"Inilah alasan kenapa aku ingin menemui mu malam ini," gadis itu diam untuk menjeda kalimatnya.


"Aku ingin mengakhiri hubungan kita...".


"Kenapa?" tanya Galih masih tidak paham apa yang dikatakan kekasihnya. Tidak ada hujan tidak ada angin tiba-tiba kekasihnya memutus hubungan yang sudah lama mereka jalin.


"Aku akan pergi dengannya..." jawab gadis berambut panjang tersebut.


Bahkan Galih melihat kalau kekasihnya semakin erat menggenggam tangan pria lain di depannya sendiri.


"Apa itu bisa di terima?" tanya Galih. Mereka tidak terlibat pertengkaran sama sekali tapi entah kenapa tiba-tiba gadis itu ingin pergi dari sisi Galih.


"Aku tidak mencintaimu lagi Galih... aku mencintainya, aku ingin pergi dan hidup dengannya... bukan denganmu..." adu gadis itu jujur.


Galih menggelengkan kepalanya, "Tidak, kamu tidak mencintainya... kamu mencintai uangnya bukan?".


Karena hanya itu alasan kekasihnya meninggalkan Galih.


"Terserah jika itu penilaian mu... aku pergi," pamit gadis itu.


Tapi Galih tidak menerima semuanya. Tanpa aba-aba, Galih langsung mendorong pria yang bersama gadisnya. "Br*ngsek!" hingga pria itu tersungkur.


Galih langsung melayangkan pukulan pertamanya ke wajah pria itu.


Bukk...

__ADS_1


"Galih, hentikan!" teriak gadis itu histeris.


Ini bukanlah yang diinginkannya.


"Karena dia kan Lo ingin pergi? ha?" Galih benar-benar lupa diri. Ia tidak memperdulikan pria di bawahnya yang entah sudah berapa kali mendapatkan pukulan darinya.


"Galih hentikan! dia tidak salah... aku hanya tidak ingin hidup dengan mu. Aku tidak bisa hidup menderita...",


ucapan Gadis itu membuat Galih berhenti memukul.


Apa dia bilang?


"Aku tidak mau hidup dengan pria pas-pasaan seperti mu,"


Galih tersenyum getir. Apa yang ia harapkan adalah cinta dari gadis itu. Tapi nyatanya, gadis itu hanya memikirkan tentang uang saja.


Gadis yang selalu bersamanya benar-benar telah berubah sekarang.


"Br*ngsek!" umpat pria di bawah sana membalas apa yang di lakukan Galih tadi.


Pria itu mengeluarkan pisau dan langsung menikam nya ke arah Galih, tapi secara spontan di tangkap menggunakan tangannya.


Pisau itu langsung menembus tangan Galih hingga membuat pria itu meringis kesakitan.


"Galih..." ucap Gadis itu terkejut.


"Aaaa..." Galih meringis merasakan benda tajam itu menembus punggung tangannya dan tersungkur.


"Galih..." ucap Gadis itu merasa iba dan kasihan.


Bagaimanapun Galih adalah pria yang di cintainya.


"Kamu jadi ikut denganku atau tidak?" tanya pria yang berdiri tak jauh dari Galih dan kekasihnya.


"Maafkan aku,"


Tentu saja gadis itu memilih untuk pergi meninggalkan Galih. Karena Galih bukan lagi dunia baginya.


"Alyaa!" teriak Galih keras melepaskan kepergian gadis itu.


"ALYAA!" teriak Galih dan langsung terduduk dengan nafas ngos-ngosan.


Keringat di keningnya benar-benar sebagai tanda bahwa Galih telah melalui mimpi yang begitu buruk.


Apa-apa ini? kenapa aku mimpi itu lagi? batinnya masih berusaha untuk mengumpulkan kesadarannya kembali.


Sudah lama sekali Galih tidak lagi bermimpi buruk seperti itu, tapi entah kenapa tiba-tiba hal itu datang lagi dalam kehidupannya.


Galih melihat jam kecil yang berada di nakas samping tempat tidur.


"Jam 2.." gumamnya pelan.


Galih benar heran dengan semuanya, mimpi buruk yang di alaminya benar-benar terlihat nyata.


Karena mimpi buruk itu juga Galih tak berniat untuk meneruskan tidurnya.


Dengan langkah pasti, pria itu turun dari ranjang.


Meraih bungkus rokok dan berjalan kearah balkon kamar. Udara dingin langsung menusuk tulang saat Galih membuka pintu kaca tersebut.


Galih menyalakan korek untuk membakar sebatang rokok yang terselip di antara bibirnya. Mengamati pemandangan dini hari yang terlihat sepi dan sebagian bangunan telah padam.


Seberharga apa dirimu sampai tak mau pergi dari ingatanku!


***


Jeng Jeng Jeng...

__ADS_1


__ADS_2