
HAPPY READING...
***
Pada akhirnya Galih memang pergi menjemput Dion di Bandara. Tak memperdulikan setelan piyama panjang yang di lapisi dengan jaket, Galih tiba.
Mendekati 3 orang yang duduk dimana salah satunya Galih mengenalinya.
"Lama banget sih..." protes Dion tidak tau diri sama sekali.
"Ya sabar nyet... emang jalanan punya nenek moyang Lo!" umpat Galih. Tak peduli dengan tatapan perempuan yang duduk di samping Dion.
Perempuan yang tinggi dengan rambut panjang, tapi terlihat entahlah... pokoknya beda dengan perempuan yang ada di Apartemen Galih. Perempuan yang dibawa Dion lebih terlihat kaku dan tidak cocok untuk di goda.
"Hei, jaga mata Lo!" ucap Dion kesal melihat cara Galih memandang Gadis.
"Kenalkan, dia Gadis..." ucap Dion mengenalkan calon istrinya pada Galih.
Galih menggantung tangannya untuk sekedar berjabat dan berkenalan dengan wanita itu, "Galih...".
Tapi saat Gadis ingin menjabat tangan Galih, Dion kembali protes.
"Tidak perlu bersalaman..." celoteh nya.
Membuat Galih ternganga tak percaya.
Ck... sinting!
"Ayo..." ucap Galih pada akhirnya.
Belum beranjak dan pergi, Dion malah berbicara pada Agus.
"Lo pulang dulu... besok gue kabari lagi..." titahnya.
"Tapi bos..." mana bisa Agus pergi sendirian. Seharusnya ia juga bersama dengan Dion bukan? sesuai dengan perintah Kepala Desa tadi.
"Besok gue kabari... lagian lo juga butuh kendaraan bukan?".
Benar juga ya... batin Agus membenarkan.
Mereka tidak membawa mobil sampai ke Ibukota.
"Temui keluarga Lo!" perintah Dion telak. Hingga pada akhirnya Agus menyetujui hal itu.
Setelah memasukkan koper miliknya, Dion duduk di bangku tengah bersama dengan Gadis. Sedangkan Galih menjadi supir bagi mereka.
"Lo menginap dimana?" tanya Galih membuka pembicaraan setelah kendaraan itu kembali melaju di jalanan Ibukota.
"Lah, bukannya gue udah bilang untuk menyiapkan tempat... gimana sih?".
Galih menghela nafasnya dengan kasar, "Hei, gimana gue bisa menyiapkan nya... lo datang tiba-tiba kayak jalangkung..." protes Galih.
Toh mana kalau Dion datang malam ini juga.
"Jangan khawatir sayang... dia memang sedikit lemot..." sindir Dion. Kali ini memaksa kepala Gadis untuk bersandar pada bahunya. Seperti sengaja memanas-manasi Galih yang duduk di depan.
Ck... gue yakin, Ini lebih bucin di bandingkan Arjun... batin Galih. Tersenyum melihat keadaan sahabatnya.
Sampai di Apartemen, Galih berjalan di depan menunjukkan jalan pada Gadis sedangkan Dion di belakang kesulitan untuk membawa 2 koper sekaligus.
"Bantuin gue dong nyet!" teriaknya pada Galih. Berharap pria itu mau membantu dirinya untuk membawa 1 koper.
"Ogah..." jawab Galih asal. Toh apa untungnya bagi dirinya untuk membawa koper Dion. Mengingat polusi suara yang di ciptakan di bangku belakangnya tadi sungguh membuat Galih kesal.
Bukan apa, karena hanya terdengar saling adu argumen dimana Dion menjadi yang kalah.
Heran sendiri Galih melihat kebucinan sahabatnya itu. Dan dirinya tak mau untuk melakukan hal bodoh tersebut.
"Sini gue bantu," ucap Gadis akhirnya bersuara.
Istt... apa dia tak malu? meminta bantuan pada wanita?
"Tidak usah sayang... gue kuat kok..." tolak Dion dan memperlihatkan otot di lengannya layaknya superman.
"Lihatlah... kuat kan? gue kayak superman?" tanya Dion menggoda Gadis.
Sedangkan Gadis yang tersenyum geli. Beda lagi dengan Galih yang sedang menekan digit angka di pintu Apartemennya.
__ADS_1
"Kayak Suherman..." celetuk Galih tanpa dosa. Bahkan Gadis sampai tertawa terpingkal-pingkal mendengar percakapan 2 sahabat itu.
"Hahaha...".
Terlihat seru juga memiliki sahabat seperti persahabatan Dion dan Galih. Bahkan membuat Gadis iri, karena ia tak memiliki teman yang biasa di ajak saling ledek seperti itu.
"Gadis, jangan menertawai diriku!" titah Dion.
"Oh, maaf..." jawab Gadis walaupun senyum di bibirnya tak kunjung hilang bersamaan dengan langkah kaki yang membawa mereka masuk ke dalam Tempat tinggal Galih.
Di dalam sana, Gadis mengedarkan pandangannya mengamati sekitar.
Cukup tercengang karena Apartemen ini sangat besar bahkan memiliki ruang yang luas dengan pemandangan indah dari Balkon.
"Sementara kalian tidur disini dulu... besok gue akan mengambil kunci Apartemen milik Arjun..." ucap Galih menjelaskan.
"Lalu tidur ku?" tanya Dion dengan nada cukup keras. Hingga tanpa sadar membuat Galih protes, "Husstt... jangan berisik!" pintanya kepada Dion.
Apa sih? batin Dion.
"Sementara kalian tidur di kamar itu..." tunjuk Galih pada kamar miliknya.
"Itu kamar gue, Lo bisa menggunakannya untuk malam ini... tapi ingat,".
Galih juga memiliki peraturan untuk Dion. Karena Dion adalah tamu dan harus mematuhi segala peraturan yang Galih buat sebagai pemilik rumah.
"Apa?" tanya Dion penasaran.
"Kalian belum menikah kan?" tanyanya dengan serius.
"Sebentar lagi..." jawab Dion dengan jenaka. Sedangkan Gadis terlihat menundukkan pandangannya karena malu.
"Jangan gunakan kamarku untuk berbuat aneh-aneh... apalagi gue baru mengganti seprei..." ucap Galih.
Sedangkan Dion langsung paham kemana arah pembicaraan pria itu.
"Ck... lo kira gue cowok apaan?" protes Dion.
"Kita gak gitu ya... iya kan sayang?" mencari dukungan dari Gadis.
Benar selama menjalin hubungan, Dion dan Gadis benar-benar berpacaran secara sehat. Sebenarnya terpaksa sih... karena terakhir kali Dion mencium paksa kekasihnya, sebuah pukulan mendarat sempurna di wajahnya.
Kalaupun tak tahan, Dion meminta ijin lebih dulu untuk mencium Gadis.
"Jadi, sudah berubah jadi cicak Lo?" goda Galih.
Padahal ia sangat tau bagaimana sifat Dion. Ya... Sama-sama brengs*k seperti dirinya lah.
"Si*lan Lo!" umpat Dion kesal.
"Galih... apa yang Lo lakuin?",
Belum selesai saling ejek, terdengar suara dari kamar sebelah Galih. Membuat Gadis dan Dion sama-sama terkejut dan menunjukkan wajah penasarannya.
Sedangkan Galih terlihat yang paling panik diantara mereka bertiga.
"Hayooo... suara siapa itu?" goda Dion dengan wajah jenakanya.
Ternyata ada suara lain yang berada di dalam rumah ini. Membuat Dion senang karena ada bahan untuk mengejek Galih.
"Ck... bukan urusan Lo! sudah ya... gue mau tidur..." ucap Galih ingin segera menghindar dari Dion.
Pria itu segera menuju ke kamar yang di pakai Tiara, sebelum masuk Galih kembali berbalik "Ingat! jangan mengotori kamarku!" ucapnya dan langsung hilang di balik pintu.
"Suara siapa tadi?" tanya Gadis penasaran.
"Kekasihnya Galih... atau mungkin hantu... hiii..." ucap Dion berpura-pura takut demi untuk memeluk Gadis. Kapan lagi ia punya kesempatan untuk memeluk wanitanya.
"Lepas atau gue pukul!" ancam Gadis.
Ck... gini amat punya calon bini... batin Dion.
"Kita tidak boleh tidur dalam satu ranjang, mengerti?" tanya Gadis.
"Kenapa?".
"Ya pokoknya tidak boleh... tunggu sampai menikah..." ucap Gadis.
__ADS_1
"Yaelah... lagian gue tidak ingin ngapa-ngapain kok..." ucap Dion berusaha untuk bernegosiasi.
"Tidak!" ucap Gadis final.
Akhirnya setelah perdebatan kecil, Dion dan Gadis masuk ke dalam kamar Galih. Gadis tidur di ranjang, sedangkan Dion terpaksa mengistirahatkan tubuhnya di sofa panjang yang berada di kamar itu.
Setidaknya itu lebih baik daripada harus mendapat pukulan atau mungkin tendangan super dari Gadis.
Beda lagi dengan 2 manusia di kamar sebelah.
Galih langsung menutup mulut Tiara rapat-rapat agar gadis itu tak berteriak dan menjadi pusat perhatian Dion.
"Apaan sih..." protes Tiara.
Kesal sekali dia karena Galih selalu seenaknya sendiri. Memperlakukan Tiara seperti hak miliknya sendiri.
"Sstt...".
"Lo bicara dengan siapa tadi?" tanya Tiara dengan suara pelan.
"Ada yang datang untuk menginap disini... jadi malam ini terpaksa kita harus berbagi ranjang...".
"APA?" teriak Tiara bahkan terkejut sendiri dengan teriakannya.
"Ssttt... pelankan suaramu kenapa sih?" protes Galih.
"Tapi kenapa?" tanya Tiara masih tak paham.
"Apanya yang kenapa?" Galih tak paham dengan pertanyaan Tiara barusan.
"Lo kan tau disini hanya ada dua kamar... kenapa menerima tamu untuk menginap?".
"Ya... gak apa-apa kan? dia sahabatku yang baru tiba dari kota lain... besok juga akan pindah kok...".
Hubungan Galih dan Tiara memang lebih baik setiap harinya. Mereka terlihat semakin normal dalam berbicara.
"Sudahlah, ayo tidur..." ajak Galih dengan senyum aneh yang mengukir bibirnya. Untung saja kamar tidak banyak cahaya yang hidup, jadi Tiara tak menyadari senyumnya.
"Gue tidur di ruang TV saja..." tolak tiara dan hendak pergi.
Tapi tangan Galih cukup cekatan untuk menarik gadis itu dan menjatuhkannya tepat disisi ranjang sampingnya.
"Tidur!" perintahnya.
Tiara benar-benar merasa gugup. Merasai bagaimana tangan Galih memeluk perutnya benar-benar membuat dirinya seperti kehilangan kesadaran. Tubuhnya menegang.
Bahkan detak jantung Galih seperti terasa di balik punggungnya.
Aa... gue benar-benar gila! umpat Tiara.
Hubungan mereka tidak seperti pasangan pada umumnya. Tapi berdekatan seperti itu sungguh membuat Tiara merasa aneh.
Ada rasa dalam dirinya untuk memiliki Galih seutuhnya.
Ya... Tiara takut kalau sampai dirinya jatuh cinta pada pria itu. Pria yang selalu membuat detak jantungnya menggila.
Tiara berontak dan melepaskan tangan Galih dengan paksa. Sekarang mereka berdua sama-sama terlentang menatap langit-langit kamar dan tenggelam dalam pemikirannya masing-masing.
"Galih..." panggil Tiara.
-
***
Cut ...
hahaha... Kita lanjut besok ya...
Inilah devinisi Bucin.
Arjun yang liar bisa berubah jinak.
Dion yang pemberani berubah menjadi patuh pada Gadis.
Sedangkan Galih... kita tunggu nanti ya...
Semoga Syuka dengan Bab kali ini...
__ADS_1
Love kalian banyak-banyak...