Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
250. Menerima Apa Adanya.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Bodoh jika harus berurusan dengan Pradipta Group. dibawah kepimpinan Arjun yang sekarang jangankan untuk mencari para pengkhianat perusahaan, mencari Tiara adalah hal mudah.


Bahkan belum sampai 24 jam lamanya setelah kepergiannya, anak buah Arjun yang telah disebar hingga seluruh Ibukota mampu melacak dimana keberadaan Tiara.


Pada saat jam menunjuk ke angka 2 dini hari, Galih mendapat kabar dimana keberadaan Tiara. dan saat itu juga pria itu bergegas hendak meninggalkan Apartemen.


"Gue akan nemenin lo!" ucap Dion yang ternyata sudah berada di samping pintu Apartemen Galih. membuta si pemilik Apartemen sempat terkejut karena Galih bahkan tidak memberitahu Dion sama sekali. tapi entah kenapa pria itu juga mengetahui keberadaan Tiara bahkan telah siap menunggu Galih di depan sana.


"Tapi Nyet..." sejenak Galih ragu. Dion sudah berumah tangga dan akan sangat merepotkan baginya kalau sampai ikut mengurusi urusan Galih. sungguh Galih tidak enak hati dengan Gadis ataupun Mamanya Dion yang memang saat ini juga tinggal bersama dengan Dion di Apartemen milik Arjun.


"Gadis tak keberatan untuk itu..." perjelas Dion. bahkan istrinya itu sangat mendukung Dion apapun yang dilakukan nya, termasuk dengan mencari keberadaan Tiara saat ini.


Walaupun Gadis tak memperlihatkan nya pada semua orang, tapi dalam hatinya Gadis amat khawatir dengan keadaan Tiara saat ini. dimana Tiara? apa dia baik-baik saja? itulah pertanyaan yang menyelimuti hatinya.


"Ayo... kita jemput dia," ajak Dion dan langsung membawa Galih pergi dari Apartemen sebelum terlambat.


Sepanjang perjalanan, Dion tak mau membahayakan diri dengan membiarkan Galih mengemudi seorang diri. itulah sebabnya ia ikut, menyetir mobil Galih untuk mencari Tiara.


bagaimanapun keselamatan mereka adalah yang nomor satu.


"Yakin kalau Tiara masih disana?" gumam Dion. bertanya tentang keakuratan informasi yang Galih dapatkan dari anak buah Arjun.


"Ya... mereka bilang seperti itu...".


Hingga 30 menit berlalu, mobil yang Dion kemudikan mulai menepi tepat di belakang sebuah mobil hitam dimana ada 2 orang berjas hitam yang amat familiar bagi mereka. seragamnya saja sudah memperlihatkan kalau mereka adalah anak buah Arjun.


Segera Dion dan Galih turun dari mobil. menemui kedua orang di depannya. "Dia masih di sini?" tanya Galih.


"Ya Tuan... disana..." tunjuk salah satu anak buah itu menunjukkan tempat Tiara tengah duduk.


"Gue disini saja..." ucap Dion, menepuk bahu Galih. karena masalah ini hanya bisa di selesaikan oleh yang bersangkutan, itulah sebabnya Dion tak mau ikut campur. biarkan Galih dan Tiara yang menyelesaikan masalahnya.


Galih menghela nafasnya, mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Tiara setelah kekacauan yang telah terjadi seharian ini.


udara dingin terlihat mengepul di udara ketika Galih menghela nafas. mengingat bagaimana a keadaan Tiara saat ini, karena Tiara tidak tahan cuaca dingin seperti sekarang.


Galih melepaskan jas yang ia kenakan. meletakkan di salah satu tangannya dan mulai berjalan. perlahan tapi pasti menghampiri Tiara yang tengah duduk di bangku besi yang berada di tepi danau buatan.


Tap Tap Tap... langkah kaki Galih menjadi satu-satunya suara yang bisa di dengar siapa saja. tapi tidak bagi Tiara, bahkan sampai Galih berdiri tepat di belakangnya, Tiara tidak menyadari akan hal itu.

__ADS_1


wanita itu sibuk menatap riak air danau dibalik kegelapan sambil melamun.


Tak ada yang bisa Tiara harapkan lagi. masa depan, impian yang pernah ia rajut hancur seketika. kecewa, gagal menikah dan sendirian, inilah yang terjadi padanya. Apakah ini yang Alya rasakan selama hidupnya? sendirian...


Entah kenapa di saat seperti ini, Tiara justru teringat dengan Alya. membayangkan kalau nasibnya sama seperti Alya, sendirian hingga nafas terakhirnya. sungguh hal yang sangat menyedihkan bukan?


Tiara kembali menghela nafasnya. mengusir rasa dingin yang seperti menusuk sampai ke tulang. bahkan Tiara sampai menggosok lengannya yang terbuka, berharap sedikit menaikkan suhu tubuhnya agar tidak terasa menggigil. bagaimana tidak, sampai saat ini Tiara masih mengenakan gaun pengantin yang seharusnya menjadi gaun pernikahannya tadi pagi.


Jangankan untuk ke pelaminan, impian Tiara berakhir di sini. di danau yang pernah ia kunjungi bersama dengan Galih 2 tahun yang lalu.


"Dingin sekali..." gumam Tiara pelan. bahkan sekarang, ia hanya bisa berbicara pada dirinya sendiri.


Galih yang melihat tingkah laku Tiara sejak beberapa menit yang lalu semakin tak tahan. pria itu ingin sekali memeluk wanitanya. hingga yang dilakukan Galih adalah membentangkan jas miliknya dan berjalan mendekati Tiara sambil menutupi bahu terbuka milik gadis itu.


"Seharusnya tidak memakai pakaian terbuka di malam-malam seperti ini..." ucap Galih mengejutkan Tiara. bahkan membuat yang diajak bicara sampai terlonjak dan bangkit dari duduknya.


"Ga-Galih..." hanya itu yang terucap dari bibir Tiara. nama pria yang dicintainya dan sekaligus pria yang baru saja mengejutkannya.


"Udaranya sangat dingin bukan?" tanya Galih. tak menghiraukan tatapan Tiara dan langsung duduk di samping Tiara. padahal Tiara masih bertanya-tanya kenapa pria itu bisa sampai di sini. tapi satu hal yang semakin membuat Tiara penasaran, wajah Galih yang terlihat tenang. padahal seharusnya pria itu marah bukan?


Tiara yakin, Galih bisa saja marah karena kelakuannya. bahkan tidak ada yang mencegah kalau Galih sampai mengata-ngatai Tiara setelah Tiara pergi dan membatalkan pernikahannya. tapi... Galih tak melakukan hal itu.


"Gal-," Tiara sulit untuk berkata-kata. lidahnya terlalu kelu untuk menjelaskan alasan kepergiannya seharian.


tapi bagaimanapun Tiara punya kesempatan untuk menjelaskan semuanya bukan?


"Maafin gue... hiks..." tangis Tiara akhirnya kembali pecah. "Maafin gue Gal..".


Tangis orang yang kita cintai adalah hal paling menyakitkan bagi kita. dada rasanya ikut sesak dan sulit untuk menghela nafas.


"Maaf karena tidak datang di hari pernikahan yang pernah kita impikan..." ucap Tiara. sedangkan Galih tetap terdiam, berharap Tiara mengatakan semua yang ada dalam hatinya. penjelasan yang hanya bisa Tiara katakan kepada Galih.


"Gue tidak bisa Gal... sungguh, maafin gue...".


Galih menghela nafasnya karena merasa Tiara tak lagi bisa berkata-kata.


"Sudah? boleh gantian gue yang bicara?" tanya Galih sebisa mungkin tetap bicara dengan nada yang rendah.


Tiara hanya mengangguk sambil menyeka air matanya. "Tiara... saat kita telah berkomitmen untuk sebuah hubungan, bukankah harus bagi kita untuk tidak menyembunyikan rahasia?" tanya Galih membuka suara.


"Bukankah yang terbaik adalah tidak menyembunyikan apapun dari pasangan kita?".


"Gal...".

__ADS_1


"Seharusnya lo bilang padaku... bilang apapun yang sedang menjadi alasan dari kekhawatiran mu... bukannya pergi dan meninggalkan semua orang..." ucap Galih. mungkin saja jika Tiara bicara lebih awal, Galih akan bisa membantu menyelesaikannya.


"Tapi Gal-" Tiara masih mencoba mempercayai apapun yang ada dalam hatinya.


"Gue...-,".


"Gue sudah tau semuanya..." sela Galih. membuat Tiara semakin pias. bibirnya bergetar karena takut, takut kalau alasan Galih menemuinya saat ini adalah menginterogasi dirinya.


"Hiks..." Tiara selain kesal. karena Galih sampai tau mungkin saja dari mulut Andre langsung. padahal Tiara membatalkan pernikahannya juga karena ucapan Andre. tapi nyatanya, semuanya hancur. Galih telah mengetahui semuanya dan pernikahan yang juga batal.


"Tapi, gue lebih kecewa karena gue tau dari orang lain Tiara... bukan lo sendiri..." tambah Galih.


menyakitkan ketika Galih mengetahui semuanya dari mulut orang lain, bukan dari Tiara secara langsung.


"Maafkan gue Gal...".


"Tapi Tiara..." Galih menggeser duduknya, meraih tangan Tiara dan menggenggam nya erat. "Apa lo pikir, setelah gue tau semuanya gue akan meninggalkan lo?" tanya Galih.


Pertanyaan Galih mampu membuat Tiara merasa aneh, ia juga balik menatap manik mata pria di sampingnya dengan sangat dalam.


"Tidak... tidak sama sekali..." jawab Galih. "Setelah tau semuanya, perasaan gue kepada lo tidak berubah sama sekali... gue tetap mencintai lo Tiara... hanya mencintai lo...".


Tiara semakin menangis. entah kenapa ucapan Galih seperti angin segar baginya. di balik kekalutan hatinya, Galih mengatakan hal yang paling ingin Tiara dengar. betapa ada pria yang benar-benar mencintainya tanpa melihat bagaimana masa lalu Tiara.


"Gue tidak peduli bagaimana masa lalu Lo, apa yang pernah lo lakukan, gue tak peduli Tiara... karena gue juga bukan pria yang baik dulunya... keper*w*nan bukan hal yang penting buat gue..." ucap Galih dengan sungguh-sungguh.


Mungkin inilah karma yang Galih terima sebagai balasan atas apa yang ia lakukan beberapa tahun belakangan. bagaimana pria itu selalu mengencani wanita-wanita dan merusaknya. dan menjadikannya hanya sebagai mainan untuk m*mu*skan dirinya.


"Ayo kembali Tiara... kembalilah, gue benar-benar takut kehilangan lo..." ucap Galih dan merengkuh tubuh Tiara tanpa ragu sedikitpun.


"Maafin gue Gal..." malah itu yang Tiara ucapkan.


"Jangan meminta maaf.. kita lupakan semuanya... karena bahagia kita yang menentukan bukan orang lain..." tolak Galih.


"Terima kasih..." jawab Tiara.


Malam semakin larut. Di danau kecil yang ada di pinggiran kota, Galih dan Tiara saling bicara. membuka rahasia yang masih mereka tutupi selama ini. di danau itu pula, Tiara beberapa kali meminta maaf. meminta maafkan karena telah mengecewakan banyak orang. apalagi dengan orang tua Galih yang pasti tengah sedih saat ini.


"Lo tidak benar-benar ingin membatalkan pernikahan kita bukan?" tanya Galih.


"Tidak..." jawab Tiara sambil menggelengkan kepalanya. karena menikah dengan Galih adalah salah satu impian baginya.


***

__ADS_1


Menuju Ending... Terima kasih semuanya...


__ADS_2