
HAPPY READING...
***
Belajarlah untuk mengikhlaskan seseorang yang sudah tidak membutuhkan kita lagi... jangan pernah sekalipun membuang waktu hanya untuk seseorang yang ingin di hargai tapi lupa bagaimana cara menghargai...
Sulit memang, sakit memang, tapi pada akhirnya air mata yang pernah kamu teteskan akan terbayar... dan perjuangan mu tidak akan pernah sia-sia...
---
"apa?" tanya Galih. ucapan Tiara barusan seperti tak bisa Galih cerna dengan logikanya.
"Aghh, sudah lah... lupakan saja..." elak Tiara.
Tidak ada siaran ulang! begitu gerutunya dalam hati.
"Tiara...".
Kalau sudah begini, jelas terlihat kalau Galih marah. ya... ketika pria itu telah memanggil nama Tiara dengan nada yang sangat aneh seperti itu, tandanya Galih sedang tidak ingin bercanda.
"Apa yang lo katakan tadi?" ulang Galih. ia ingin mendengar sekali lagi apa yang dikatakan Tiara.
Sejenak Tiara memejamkan mata, mengatur detak jantungnya dan mengumpulkan keberanian untuk terlihat berani di depan Galih.
Ya... setidaknya biar pria itu tidak memandang rendah dirinya lagi.
"Gue sudah move on..." ucap Tiara. setidaknya hanya itu kata yang pas untuk diucapkan di depan Galih. setidaknya dengan berkata seperti itu, Galih tidak bisa semena-mena terhadap Tiara. karena sampai saat ini, Galih seperti tak benar-benar memprioritaskan Tiara diatas segalanya.
"Gue berusaha membuka hati untuk pria lain yang mungkin lebih baik darimu...". Tiara melipat kedua tangannya, "Gue ingin lebih dekat dengan Joenatan...".
Maaf Joe, gue menggunakan nama lo untuk membuatnya cemburu... batin Tiara.
Galih seketika mencengkeram kedua lengan Tiara. meremasnya kuat hingga membuat Tiara kesakitan. rasanya seperti kedua lengannya akan di hancurkan.
"Aw..." ringisnya.
"Lo sudah membuatku marah Tiara..." ucap Galih terdengar amat menakutkan. bahkan mata pria itu memerah menahan kobaran api yang ada dalam dirinya.
"Gue sudah bilang kan..." Galih kembali mengingatkan, "Jangan menyukai pria lain... jangan menyukai pria manapun selain diriku... apa lo lupa?".
Bukan hanya sekali Galih mengatakan hal itu di depan Tiara. nyatanya, ucapannya bahkan seperti diabaikan oleh wanita itu. atau mungkin Tiara sengaja tidak mendengarkannya.
"Kenapa?" tantang Tiara.
Kenapa gue tidak boleh jatuh cinta? Kenapa malah terlihat Galih begitu egoisnya hingga tak memperbolehkan Tiara menyukai pria lain selain dirinya?
Egois bukan jika Galih menginginkan hal itu sedangkan tidak ada tempat bagi Tiara untuk tetap tenang di sisinya?
Seharusnya jika Galih menginginkan hal itu, Galih juga harus membuat Tiara menjadi satu-satunya wanita yang bisa berdiri di sampingnya. sedangkan saat ini? pria itu masih menggenggam masa lalunya dan tak berniat untuk melepaskan.
"Bukankah dulu sudah jelas? gue gak mau jadi wanita yang lo genggam bersamaan dengan wanita lain... gue hanya ingin pria yang hanya melihatku saja,.." ucap Tiara.
Melepaskan tangan Galih dari lengannya secara paksa, "Dan lo tidak bisa mengabulkan nya bukan? Lo meminta gue untuk berada di samping lo, tapi di lain sisi lo masih mencintai Alya...".
"Gue hanya mencintai lo Tiara..." sela Galih.
Ia mencoba untuk berkata jujur bahwa yang Galih hanyalah Tiara, bukan Alya ataupun wanita lain.
"Ck... apa gua akan percaya?" Tiara tersenyum, ia pernah mendengar seseorang mengatakan hal itu. mencintainya, berkata bahwa tak bisa hidup tanpanya, tapi semua itu hanyalah bualan saja. tidak ada satupun pria yang benar-benar tulus, tidak ada satupun yang bisa menepati ucapannya. jadi percuma saja Galih mengatakan hal itu, tak akan mempan baginya.
"Tidak Galih... gue tidak akan mempercayai hal itu...".
"Sebanyak apapun lo menyangkal, tapi semuanya sudah jelas... di hati lo," tunjuk Tiara pada dada Galih, "Hanya ada nama Alya disini... hanya Alya...". menunjuk-nunjuk dada Galih dengan kesalnya.
__ADS_1
"Tidak ada gue disini Gal... tidak ada," tolak Tiara.
Wajah Tiara memerah menahan rasa sesak di dada ketika mengingat semua hal yang telah Galih lakukan padanya.
Tiara ingin marah, karena Tuhan seperti berulang kali mempermainkan takdirnya.
"Jadi untuk apa gue berada di dekat lo, yang ada hanya gue yang merasa tersakiti... disini hanya gue yang terlihat begitu mencintai lo, tapi lo nya sendiri tidak... tidak sama sekali...".
Tiara terisak kembali. "Asal lo tau Gal... disini hanya gue yang menderita atas perasaan gue sendiri. gue menderita karena mencintai lo... mencintai pria yang tidak pernah membalas perasaan gue...".
"Tiara..." ucap Galih.
"Tidak tau sejak kapan gue suka sama lo, menjatuhkan diri agar lo bisa membalas cinta gue... tapi semuanya percuma, karena semakin lama gue bertahan semakin lama juga gue hancur... dan gue benar-benar kalah, gue tidak bisa bersaing dengan wanita masa lalu lo!".
"Tidak Tiara... tidak..." ucap Galih, mendekati Tiara dan meyakinkan kalau pemikiran Tiara adalah salah.
Menangkup kedua pipi Tiara dan berucap, "Gue benar-benar suka sama lo... gue benar-benar cinta sama lo...".
Dengan secepat kilat, Galih langsung membungkam mulut Tiara menggunakan bibirnya. tak ingin ada sepatah katapun yang terucap dari bibir wanitanya. karena semakin Tiara bicara, Galih benar-benar sadar bahwa apa yang dilakukannya selama ini sangat menyakiti Tiara.
Dalam toilet wanita tersebut, hanya terdengar suara decapan kedua bibir yang menyatu.
Galih seperti hilang kendali saat merasai hal kesukaan yang pernah terhenti beberapa hari belakangan.
Galih merasa tak ingin melepaskan Tiara lagi. bahkan dengan gerakan tangannya yang cepat, pria itu menggendong tubuh Tiara dan mendudukkannya tepat membelakangi cermin.
"Lo hanya milik gue Tiara... hanya milik gue..." ucap Galih dengan nada berantakan dan kembali melanjutkan aksinya. bahkan dengan liarnya, tangan Galih telah meloloskan dua kancing kemeja Tiara. membuat tubuh bagian atas Tiara sedikit terbuka.
"Gal..." tolak Tiara tapi tak membuat Galih menghentikan aksinya. bahkan Tiara semakin merasa kalau dirinya akan hilang kendali dengan perlakuan Galih yang ciumannya semakin turun ke bawah.
Lo hanya milik gue Tiara... hanya milik Gue...
Tokk... Tokk..
"Tiara... Tiara lo di dalam?" tanya seseorang di luar sana. membuat Galih dan Tiara saling pandang dan otomatis menghentikan mereka.
"Bagaimana ini?" gumamnya.
Akan sangat memalukan jika ia dan Galih terpergok di dalam toilet berduaan seperti ini. apalagi dengan pakaian Tiara yang benar-benar berantakan karena ulah tangan Galih.
Tapi beda dengan reaksi Galih, pria itu terlihat tenang. mengamati Tiara dan membantu mengancingkan kancing kemeja wanitanya sebelum menurunkan Tiara kembali ke lantai.
"Jangan berniat untuk berpaling sedikitpun..." perintah Galih dengan menghapus bibir Tiara yang sedikit belepotan.
"Gue mencintai lo..." ucap Galih lagi.
"Tiara..." panggil Joe lagi.
Jawab lah... begitu sorot mata yang Galih tunjukkan. hingga Tiara memberanikan diri untuk menjawab, "Iya Joe... tunggu sebentar..." teriak Tiara.
Merapikan penampilannya dan berjalan ke arah pintu untuk keluar.
"Ehemmm..." Tiara sedikit berdehem untuk menetralkan detak jantungnya sebelum akhirnya membuka pintu toilet itu. sedangkan Galih, berdiri di sudut toilet bersembunyi untuk beberapa saat.
"Sorry... lama..." ucap Tiara gagu. membuat Joenatan yang berdiri di ambang pintu mengamati nya.
"Kamu sedang berbicara dengan seseorang?" tanya Joe menjulurkan kepalanya untuk melihat ke dalam, tapi segera di cegah oleh Tiara.
"Tidak... tidak ada orang lain di dalam.." elak Tiara. "Ayo pergi saja..." ajak Tiara berharap Joe tidak terlalu ingin tau ada apa di dalam toilet itu.
Akhirnya Tiara sedikit memaksa Joe untuk segera meninggalkan toilet itu dan kembali ke meja tempat makanan nya tadi.
Setelah kepergian Tiara dan Joenatan, Galih keluar dari toilet perempuan dengan menampakkan senyum kemenangannya.
__ADS_1
Gila... batinnya. kalau saja tidak ada Joe, mungkin bukan hanya ciuman saja yang terjadi antara dirinya dan Tiara. mungkin ada aktifitas panas di dalam sana.
Bahkan senyum misterius nya masih terlihat sampai di ruangan VIP tempat pertemuan Arjun dengan rekan kerjanya. membuat Arjun bersuara karena keheranan.
"Lo kesambet?" tanya Arjun. Tadi Galih pamit untuk buang air kecil, tapi anehnya pria itu kembali dengan senyum aneh yang mengukir bibir tanpa pudar.
Galih hanya menggeleng tanpa mengatakan apapun.
"Sepertinya gue tau..." ucap Arjun lagi. kali ini ia yakin ada sesuatu yang membuat Galih lebih lama di toilet.
"Jangan sok tau..." elak Galih.
"Ck... buaya..." umpat Arjun membuat mereka sama-sama tertawa.
Dalam perjalanan kembali ke Perusahaan, Tiara sesekali menyentuh dadanya yang tiba-tiba berdetak tak karuan. padahal hanya mengingat apa yang telah terjadi di toilet tadi.
Gue mencintai lo...
Tiara bingung harus bahagia atau malah sedih, tapi sungguh ucapan Galih barusan mampu mengoyak hati dan perasaannya.
"Nanti lo ada acara tidak?" tanya Joe saat membukakan pintu mobilnya untuk Tiara.
"Acara? emm... belum tau sih..." jawab Tiara. "Ada apa?".
"Aku ingin mengajakmu ke Mall... mau kan?" tanya Joe.
Belum sempat menjawab, ada mobil yang berhenti tepat di Lobi Perusahaan. membuat Tiara dan Joenatan teralihkan pandangannya.
Setidaknya mereka harus hormat karena pemilik mobil itu adalah atasan mereka, Galih dan sang Presdir.
Tiara dan Joenatan sama-sama menundukkan pandangannya, tapi Tiara sengaja mencuri-curi pandang ke arah pria yang telah menciumnya di toilet tadi.
Alangkah bahagianya, pria yang ditatap membalas tatapan Tiara bahkan dengan mengedipkan satu matanya hingga membuat Tiara tersenyum.
Hanya begitu saja, sungguh Tiara sudah bahagia.
Tiara dan Joe kembali menegakkan kepala saat Presdir telah pergi.
"Bagaimana?" tanya Joe lagi.
"Ha? apa?" Tiara tiba-tiba amnesia. bingung dengan pertanyaan Joe.
"Tadi Tiara... bagaimana? kamu mau kan?" jelas Joe tentang rencana pergi ke Mall setelah pulang bekerja.
Tapi tiba-tiba ponsel Tiara berbunyi, Tingg..
membuat Tiara kembali terfokus, "Sorry..." ucapnya pada Joe.
membuka pesan baru dan membacanya,
Galih : [Jangan berniat untuk selingkuh! , paham pacarku?]
Tiara syok sendiri dengan pesan yang ia dapat. ternyata pengirimnya adalah Galih.
Dia tak menghapus nomorku? batin Tiara sedikit terkejut. karena biasanya ketika bertengkar, pasangan lain akan menghapus nomor masing-masing. tapi Galih beda, masih menyimpan nomor Tiara.
Aa... pacarku, kenapa romantis juga?
"Ra, bagaimana?" desa Joe membuyarkan lamunan Tiara.
"Oh, tidak... sorry Joe... sepertinya aku punya acara dadakan..." jawab Tiara. menolak ajakan Joe.
***
__ADS_1
Satu Part aja ya... Toh, ini Part lumayan panjang kok... hehehe...
Semoga syuka dan Sorry Khilaf nya...