
HAPPY READING...
***
Di dalam kamar Mama, Dion menumpahkan kesedihannya. Menumpahkan rindu yang amat berat, dipendam dalam hati dan tak ada yang bisa mengetahuinya.
Ingin rasanya Dion membawa Mama pergi dari rumah ini. tinggal dengannya di kota lain dan menata hidup kembali. apalagi sekarang usaha yang Dion dirikan sudah cukup bahkan lebih hanya untuk menghidupi Mama dan juga keluarga Dion nantinya.
Sedangkan Gadis, yang ia lakukan hanya mengelus pelan bahu Dion. Menguatkan pria yang amat di cintainya itu.
Sambil terus memperhatikan sosok wanita yang masih terbaring di ranjang karena pingsan. sesekali menggosok telapak tangan dengan minyak angin dan beberapa bagian tubuh lainnya.
Hingga beberapa saat kemudian, Mama mulai sadar. Matanya mengerjab beberapa kali mengumpulkan kesadarannya yang sempat hilang. "Dion...", hanya satu kata yang terlontar dari bibirnya. Betapa nama itu yang selalu berpahat indah di dalam hati. Satu nama yang menjadi kekuatannya menjalani hidup selama ini.
"Dion disini Ma... Dion disini..." ucap Dion. Membelai tangan Mama dan meyakinkan diri kalau Dion tak berniat pergi meninggalkan Mamanya.
"Dioonn..." panggil Mama dan langsung spontan duduk dan merangkul putra kesayangannya. Ucapannya yang pilu menandakan dalamnya kerinduan yang ia rasakan selama Dion tak berada di sampingnya.
Mata Gadis memanas. Ia tak menyangka harus melihat peristiwa menyedihkan seperti ini. Hingga ikut meneteskan air matanya melihat pertemuan anak dan Ibu di depan matanya langsung.
Dion yang begitu hangat kepada ibunya membuat sudut pandang Gadis kembali berubah. Padahal tadi, saat di bawah sana Dion menampakkan sisi buruknya. Liar dan tak mempunyai rasa iba terhadap siapapun. Tapi di depan Mama, Dion berubah seketika. Seperti anak bayi yang masih manja dan lemah.
"Maafkan Mama Dion... maafkan Mama," sesalnya. Karena hanya mampu melihat semuanya tanpa bertindak apapun.
Kalaupun bisa bersuara? apakah Mama bisa membuka mulutnya dimana di rumah ini, rumah yang ia tempati sejak pernikahan beliau tidak mempunyai hak untuk berbicara sama sekali.
"Mama tidak salah... Dion yakin Mama tidak bersalah..." yakin Dion.
Pasti ada suatu alasan Mama sampai turun dan berdiri di lantai dasar rumah mereka sejak tadi.
"Maafkan saya nak..." ucap Mama beralih pada wanita yang duduk di tepian ranjang. Mengamati sosok cantik yang terbalut gaun berwarna hitam itu.
"Tidak Tante.. jangan meminta maaf pada Gadis...". Sungguh Gadis tidak enak mendapatkan permintaan maaf dari Mamanya Dion. Karena yang perlu di salahkan memang Papa. Andai Mama tak segera turun tadi, mungkin Gadis akan mendapatkan perlakuan yang lebih buruk lagi. bukan hanya sekedar di jatuhkan dari kursi yang mengikat tubuhnya.
Cukup lama menunggu tangisnya mereda. tak ada satupun anggota yang ikut masuk dalam kamar itu, membuat Gadis paham bagaimana keadaan rumah ini.
Ya... semua orang takut pada sang kepala keluarga. begitu juga dengan Rega. nyatanya pria itu tidak ikut masuk dan hanya berdiri di balik pintu. dan setelahnya kembali turun ke lantai dasar saat terdengar Mama telah siuman.
"Mama...". ucap Dion perlahan.
Serentak Mama dan Gadis melihat ke arah pria itu. Menanti apa yang akan terucap dari bibir Dion.
Terdengar nafas berat Dion, bimbang harus mengatakannya atau tidak. Tapi tujuannya datang kesini memang untuk memberitahu semua orang tentang niat Dion untuk menikahi Gadis. mencari restu kepada beliau.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Mama penasaran.
Sejenak Dion memejamkan mata. mempersiapkan dirinya untuk berkata, "Mama... dia adalah Gadis, wanita yang Dion sukai...".
Hal yang pertama Dion lakukan adalah mengenalkan Gadis pada Mama. Setelah itu baru mengutarakan maksud dan tujuannya kembali ke Ibukota.
"Dion sengaja mengajak Gadis datang ke kota ini tak lain untuk bertemu dengan Mama...".
Mama memandangi Dion dan Gadis bergantian. ada rasa hari saat Dion memperkenalkan wanita yang dicintainya. padahal terakhir kali Dion tinggal disini, Dion tak mempunyai kekasih satupun.
"Gadis adalah anak kepala desa di sana. Kami ingin meminta restu pada Mama... Dion serius dan ingin menikahi Gadis Ma..." adunya dengan sungguh-sungguh.
Dion tak berniat untuk menunda-nunda keinginannya. Ia ingin segera mempersunting Gadis setelah mendapatkan restu dari beliau.
Tak apa jika Papa maupun Rega tidak peduli akan hal itu. Setidaknya Dion lega hanya mendapatkan restu dari malaikatnya, Mama.
"Dion tak lagi anak yang manja Ma... Dion bisa berdiri dengan kaki Dion sendiri. Dan sekarang, bisnis Dion sudah berkembang lebih baik... itulah sebabnya Dion berani untuk membawa Gadis pada hubungan yang lebih serius..." ucap Dion lagi.
Sedangkan Gadis hanya terdiam tanpa berkata apapun. Karena Dion lebih berhak untuk bicara daripada dirinya.
"Mama, ayo ikut dengan Dion... kita pergi dari rumah ini. kita hidup di kota yang jauh dari sini... hiduplah bersama Dion, Ma..." pinta Dion.
Mendengar keinginan anaknya, sungguh membuta hati Mama bergetar hebat. Pertama kalinya ada yang mengulurkan tangan untuk membantunya pergi dari sangkar emas yang ia tempati hampir 30 tahun lebih.
Tapi apakah Mama bisa pergi dari sini? rasanya seperti separuh jiwanya sudah menetap di rumah ini.
"Tante...?" ucap Gadis yang juga terkejut melihat Mamanya Dion kembali menangis.
"Mama tak apa disini... pergilah Dion... Mama merestui hubungan kalian. Menikahlah... tapi untuk pergi dari sini, Mama tidak bisa..." ucap Mama jujur.
Ada sesuatu hal yang membuat beliau terpaku pada rumah ini.
"Tapi Ma... Mama tidak lihat kelakuan suami dan juga anak Mama? bagaimana Dion bisa meninggalkan Mama sendirian disini? ikutlah dengan Dion Ma... Dion mampu membahagiakan Mama..." ucap Dion meyakinkan Mama.
Bahkan tatapan Dion benar-benar memohon. Bagaimanapun Mama harus keluar dari sini bersamanya. Walaupun harus menentang beberapa orang di bawah sana.
"Dion, tidak semuanya bisa pergi dan datang begitu saja. Sebuah pernikahan tidak semudah yang terlihat..." ucap Mama sambil mengamati Dion dan Gadis bergantian.
Sejenak menarik nafas dan kembali menjelaskan, "Saat menikah, kita akan berjanji bukan hanya kepada pasangan kita melainkan pada Tuhan juga,".
Gadis mendengarkan itu dengan saksama.
"Apapun yang terjadi, sehat atau sakit, miskin atau kaya, bahagia atau menderita, kita berjanji untuk tetap berada di samping orang yang kita cintai... termasuk Mama... jadi apapun yang terjadi, Mama akan tetap berada di samping Papamu sampai waktu nya tiba dimana Tuhan akan membawa Mama kembali pulang kepadaNya...".
__ADS_1
Menyedihkan memang mendengar penuturan Mama. Wanita itu benar-benar seperti malaikat yang tak peduli dengan dirinya sendiri demi kebahagiaan orang lain.
"Tapi Ma-," Dion masih mencoba untuk menolak semua itu.
"Mama baik-baik saja... pergilah, restu Mama bersama dengan kalian...".
"Apa Tante juga tidak akan datang dalam pernikahan kami nanti?" tanya Gadis. Tenggorokannya seperti tercekat hebat. Sedih dan juga terluka. Padahal harapannya, ia bisa membawa keluarga Dion menemui keluarganya di desa. Menjadi saksi pernikahan mereka nantinya.
Pertanyaan Gadis tak mampu Mama jawab. Wanita paruh baya itu segera meraih tubuh calon menantu nya dan menumpahkan kesedihan disana. "Maafkan Mama nak... Maafkan Mama..." sesal Mama.
Andai bisa meminta, orang tua mana yang tidak ingin datang dalam pernikahan putranya? Mama juga ingin menjadi saksi upacara sakral tersebut.
"Apa Mama tak lagi menyayangi Dion?" tambah Dion. hatinya ikut hancur melihat kenyataan bahwa Mama tak akan ada di pernikahan nya nanti.
"Tidak Dion... tidak. Mama tetap menyayangi Dion sama seperti dulu... Dion adalah anak kesayangan Mama, itulah faktanya..." tolak Mama. Mama menyayangi Dion bahkan lebih dari nyawanya sendiri.
"Tapi bagaimana bisa Mama membiarkan Dion sendirian?".
Memilukan memang harus menjawab pertanyaan-pertanyaan Dion saat ini.
"Doa Mama menyertai langkah kalian. Dengarkan Mama, Dion... walaupun Mama tidak di dekatmu, bersama denganmu, tapi selalu ada nama mu yang terselip ketika Mama berdoa... kembalilah nanti, saat kalian telah memiliki anak... Mama akan menyambut kalian dengan kebahagiaan yang jauh lebih besar...".
Gadis dan Dion sama-sama menyeka air mata di pelupuk matanya. menghapus kesedihan dan berpegang teguh pada ucapan Mama.
Gadis dan Dion menatap Mama yang mulai bangkit dari ranjang dan menuju ke ruang ganti pakaian.
Cukup lama, hingga wanita itu keluar lagi dengan membawa sesuatu di tangannya.
Kantong berwarna hitam yang tak tau apa isi di dalamnya.
"Terima lah Gadis... ini adalah hadiah pertama dari Mama kepada menantunya, sebagai bentuk restu Mama pada hubungan kalian... selamat atas pernikahan kalian nanti," ucap Mama yakin.
"Apa ini Ma?" tanya Gadis penasaran. Merasakan tekstur keras seperti sebuah benda.
"Bukanlah..." perintah Mama.
Perlahan Gadis membukanya. Matanya langsung membulat sempurna melihat isi di dalam dana. Berkilauan dan indah. "Tapi-,".
"Terima lah, ini sudah kewajiban yang diberikan dari pihak laki-laki pada pihak perempuan...". Mama tersenyum dan ikhlas memberikan 2 set perhiasan lengkap untuk calon menantunya. Perhiasan itu memang sengaja Mama beli sejak lama, dan tujuannya memang untuk pernikahan Dion nantinya.
"Terima kasih Ma..." ucap Dion dan Gadis bersamaan. Mereka sama-sama memeluk tubuh Mama.
***
__ADS_1
Yee... dapat restu dari Mama...