Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
31. Arjun Sakit.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Arjun tak henti-hentinya menenggak minuman di depannya. Tanpa ia sadari, sudah 1 botol minuman keras itu telah berpindah ke dalam perutnya.


Tak dapat di pungkiri, ucapan Dion barusan memenuhi kepalanya dan membuatnya semakin ragu sekaligus gusar.


"Arjun yang mendeklarasikan sebagai pecinta wanita mempunyai takdir yang tragis. Di selingkuhi istrinya sendiri..." ucap Dion seolah sedang membaca judul dalam sebuah berita.


"Bayangkan itu Nyet! memalukan bukan? mau di taruh dimana muka Lo!" tambah Dion.


Bukan hanya Arjun, Galih juga seperti tersihir dengan ucapan sahabatnya itu.


Kilasan-kilasan adegan dimana Akira di cium pria lain di depan rumah mertuanya, kembali berputar di kepala Arjun.


Tanpa Dion sadari, ucapan pria itu benar-benar telah terjadi di depan mata Arjun sendiri.


"Apa yang harus gue lakukan?" tanya Arjun dengan mata penuh kekhawatiran.


Ia tidak bisa membayangkan bagaimana citranya akan hancur karena ulah sangat istri.


Playboy yang telah melekat pada dirinya akan hancur begitu saja dan semua orang pasti akan menertawai Arjun nantinya.


 


Arjun pulang saat jam telah menunjuk ke angka 2 dini hari.


Bukannya masuk ke dalam kamar, Arjun malah duduk di taman samping rumah.


Kedua penjaga pintu tidak ada yang berani menegur Arjun karena tentu saja Tuan Muda keluarga ini akan marah pada mereka.


Taman ini terasa sangat sepi dengan angin yang berhembus cukup dingin menembus kulit.


Disini gue pertama kali bicara dengannya... batin Arjun teringat 2 bulan yang lalu.


Saat pertama kali Akira datang ke sini atas undangan makan malam Papi Johan.


Di taman ini juga Akira dan Arjun bicara hanya berdua saja.


Arjun mendongakkan kepalanya. Menatap langit gelap di atas sana. Entah kenapa malam ini sangat berbeda. Tidak ada bulan yang terlihat sama sekali, bahkan bayangannya saja tak nampak karena awan hitam menutupinya.


"Huueeekk..." tiba-tiba Arjun memuntahkan kembali sisa minuman di dalam perutnya.


Hal itu bukannya menyiksa tapi membuat Arjun sedikit merasakan nyaman. Kepalanya tak lagi pening dan berat seperti tadi.


Arjun juga lebih bisa berpikir jernih.


"Apa yang harus gue lakukan?" tanya Arjun kepada Dion tadi saat di Klub malam.


"Lah Lo maunya gimana?" Dion balik bertanya. Karena yang menjalani pernikahan itu adalah Arjun bukan dirinya. Tentu saja Arjun yang tau bagaimana harus bertindak.


"Benar kata Lo, kalua sampai media tau dia selingkuh... citra gue akan hancur!" jawab Arjun khawatir.

__ADS_1


"Jangan biarkan dia selingkuh!" ucap Dion yakin.


"Kalau sudah terjadi?" tanya Arjun karena pada kenyataannya dia telah melihat Akira selingkuh tadi sore.


Bukan sekedar kabar burung saja, Arjun melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.


"Maksud Lo Dia selingkuh?" tanya Galih dengan sedikit menaikkan nada bicaranya.


Arjun mengangguk dengan lemah.


"Lo harus menghentikan semuanya!" saran Dion.


Arjun menyentuh pangkal hidungnya, "Menghentikan nya? gampang sekali dia ngomong begitu..." gumamnya seorang diri.


Arjun tidak bisa menerima saran dari sahabatnya yang terdengar mustahil itu.


Memang apa yang akan Arjun lakukan untuk menghentikan Akira? begitu yang dia pikirkan.


Akira bukan gadis seperti gadis yang pernah Arjun kenal. Gadis itu sangat keras kepala juga sulit untuk dikendalikan.


"Dia akan ngamuk bukan jika gue merusak hubungannya?" batin Arjun menerka-nerka apa yang akan terjadi nantinya.


Arjun bangkit dari duduknya. Berjalan kembali melewati teras rumah sedangkan para penjaga pintu langsung membuka pintu itu.


Eh,


Tapi perkiraan mereka salah. Arjun tidak masuk ke dalam rumah tapi malah menuju kembali ke Carport dimana mobilnya berada.


Mobil Arjun langsung pergi meninggalkan rumah di dini hari.


Tepat pukul 3 dini hari, mobil Arjun telah terparkir di depan sebuah rumah di sebuah kawasan perumahan.


Ia juga bingung kenapa menuju ke tempat ini, semua ini terjadi begitu saja.


Segera Arjun mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.


Cukup lama tapi tidak ada jawaban yang di dapatnya. Arjun tidak seputus asa itu. Ia tetap mencoba untuk menghubungi Akira.


"Halo... kenapa menghubungiku di jam segini sih?" Terdengar Akira langsung memarahi Arjun.


Bukannya marah, Arjun malah tersenyum akhirnya Akira mengangkat teleponnya.


"Keluarlah..." pinta Arjun dengan nada lembut.


"Keluar? kenapa? Lo gak liat kalau ini sudah jam 3?" tanya Akira menggebu-gebu.


"Gue ada di depan, keluar lah..."


"Lo di depan? ngapain?" terdengar Akira langsung terkejut mendengar perkataan dari Arjun.


Belum sempat menjawab, Akira kembali bersuara "Tunggu, gue segera turun..."


Hal itu membuat Arjun lega dan menyenderkan kepalanya sesaat sebelum Akira datang.

__ADS_1


Tak berapa lama, suara pintu gerbang terbuka dan terlihat sosok gadis berpiyama biru keluar. Rambutnya sedikit berantakan tapi tidak membuatnya berubah jelek. Akira malah terlihat sangat natural dan manis.


Akira mengetuk kaca mobil itu dan membuta Arjun langsung membukanya.


"Ngapain lo kesini?" tanya Akira penasaran.


"Gue sakit..." jawab Arjun datar.


Seketika Akira mengulurkan tangannya menyentuh kening Arjun untuk mengetahui suhu tubuh pria itu.


Rasa panas dari kening Arjun langsung membuat telapak tangan Akira ikut merasakan panas. "Kenapa bisa begini? Ayo turun," ucap Akira dan langsung membuka pintu mobil itu.


Segera Akira membantu Arjun turun dari sana dan memapahnya masuk ke rumah.


"Papi sama Mami tidak di rumah?" tanya Akira sepanjang jalan masuk. Arjun menggeleng pelan.


"Harusnya Lo bilang tadi malam..." sesal Akira. Seandainya ia tau kalau Papi dan Mami tidak ada di rumah, Akira akan pulang menemani Arjun yang sedang sakit.


Mereka telah tiba di kamar milik Akira. "Berbaringlah... aku akan mengambil air untuk meng kompres kening mu," pinta Akira.


Akira sudah bangkit dari tepi ranjang," jangan pergi..." pinta Arjun mengiba sambil menggenggam tangan Akira.


"Gue mau ambil obat penurun panas," ucap Akira. Suhu tubuh Arjun sangat panas, dan wajah pria itu juga memerah menahan sakit.


"Tunggu sebentar, tidak akan lama..." ucap Akira lagi dan melepaskan tangan Arjun lalu pergi dari kamar untuk mengambil obat.


Bergegas Akira berlari ke ruang keluarga untuk mencari kotak obat. Setelahnya pergi untuk mengambil baskom yang diisi dengan air dan membawanya menuju ke kamar.


Akira duduk di tepi ranjang dengan pandangan yang henti-hentinya menatap ke arah Arjun yang memejamkan mata. Terlihat deru nafas pria itu sangat cepat serta keringat dingin yang bercucuran hingga membuat kaos yang dikenakannya sedikit basah.


"Bagaimana ini? dia akan merasa tidak nyaman kalua tidak di lepas dulu..." gumam Akira pelan.


Tapi Akira juga tidak bisa membuka pakaian yang Arjun kenakan. Memalukan bukan?


"Jun, minum obat dulu..." pinta Akira sambil berusaha membangunkan suaminya.


Akira menyelipkan sebutir pil ke dalam mulut Arjun dan membantu pria itu meminum air.


"Dingin..." gumam Arjun dengan mata terpejam. Bibir pria itu bergetar hebat menahan rasa sakit.


Akira segera mematikan AC kamar yang tadinya menyala. Juga tak lupa mengecek apakah jendela kamarnya sudah tertutup apa belum karena biasanya Akira seringkali lupa menutup jendela kamarnya semalaman.


"Semuanya sudah rapat, tidak akan ada angin yang masuk..." ucap Akira.


Walaupun terkadang Akira sebal dengan tingkah Arjun, tapi melihatnya terbaring kesakitan seperti ini membuat Akira merasa kasihan.


Seharusnya aku tidak meninggalkan mu tadi... batin Akira menyesal telah apa yang baru ia lakukan.


"Maafkan aku," pinta Akira entah apa maksudnya.


Akira duduk di tepi ranjang sambil sesekali meng kompres kening Arjun dengan air supaya suhu tubuh pria itu turun.


***

__ADS_1


__ADS_2