
HAPPY READING...
***
Arjun mencengkeram kerah baju Galih. Menatap sahabatnya itu dengan penuh rada kecewa. Ya... Arjun sangat kecewa terhadap sahabatnya ayang satu itu.
Padahal Arjun sangat menginginkan Galih berubah. Sosok Galih yang Arjun kenal dulu ketika mereka masih SMA.
Galih yang selalu ada untuk membantunya. Galih yang selalu bisa diandalkan untuk membuat pelajaran kepada musuh-musuh mereka.
Galih yang mempunyai pukulan terkuat diantara Arjun maupun Dion.
"Dia kembali Jun, Alya kembali..." ucap Galih lirih bahkan matanya memerah seperti menahan sebuah kesedihan di dalam sana.
Bukan hanya Arjun yang terkejut, Dion pun sama. Bahkan Arjun sampai mengendorkan cengkeramannya dan sedikit terhuyung ke belakangan.
"Apa yang bisa gue lakukan?" tanya Galih tertunduk lemas.
Arjun dan Dion kembali mengingat masa lalunya.
FLASHBACK ON...
"Apa Lo mau minum sampai jantung Lo berhenti berdetak?" Arjun merampas botol minuman keras yang ada di tangan Galih.
Apapun yang terjadi, Arjun tidak mau ada hal buruk yang terjadi pada sahabatnya.
Arjun tidak ingin Galih mati konyol hanya gara-gara di tinggalkan oleh seorang wanita saja.
"Apa yang bisa gue lakukan?" itulah pertanyaan Galih di beberapa hari terakhir. Pertanyaan sama yang selalu terlontar dari mulutnya.
"Lo jangan bodoh hanya karena di khianati seorang wanita nyet! masih ada banyak wanita di luaran sana..." ucap Arjun menyemangati sahabatnya.
"Alya adalah hidup gue... di poros kehidupan gue..." curhat Galih dengan keadaan setengah sadar.
Ck... gue benar-benar heran dengan pria yang bisa berkomitmen dengan satu wanita saja...
batin Arjun sedikit geli.
Arjun mengamati pergerakan sahabatnya yang kini duduk mendongak di sofa yang berada di salah satu ruangan yang ada di lantai 2 Club malam Ibukota.
Tangan Galih masih berbalut perban menandakan ada sebuah luka di dalam sana.
Dia benar-benar pria bodoh! Saat bertengkar, Galih tidak akan membiarkan tubuhnya terluka sedikit pun... tapi hanya karena wanita si*lan itu, Galih menerima luka itu dengan suka rela, bahkan tak berniat menghindar sama sekali...
Andai Arjun ada bersama dengan Galih waktu itu, tentu saja ia tak segan-segan untuk menghajar pria yang berani membawa kekasih sahabatnya.
Setidaknya biarlah darah di bayar dengan darah. Itu baru seimbang.
Masih dengan Arjun yang menatap iba sahabatnya, di ruangan lain lebih tepatnya di lantai dasar Club malam tersebut Dion terlihat sedang berbicara dengan seseorang.
"Dimana si brengs*k yang selalu bersama Lo?" tanya pria tak di kenal kepada Dion.
"Siapa maksud Lo?" tanya Dion dengan suara lantang seperti tak kenal takut dengan siapapun.
"Si Galih lah..."
"Ada urusan apa Lo mencarinya?" tanya Dion heran karena pria di depannya bukanlah teman ataupun orang yang dia kenal. Bagaimana mungkin Galuh bisa bergaul dengan pria seperti itu tanpa Dion ketahui.
"Lo gak usah banyak b*cot! gue hanya ingin tau dimana Galih!" umpat pria itu tak sabar karena Dion seolah menutupi keberadaan pria bernama Galih.
"Lo nantang gue?" tanya Dion sambil mencengkeram keras baju yang dikenakan pria di depannya. Walaupun pria itu terlihat lebih tua dari Dion, tapi ia sama sekali tidak takut.
"Gue hanya ingin tau dimana Galih. Dia telah makai barang gue dan belum bayar!" ucapnya kesal.
Seketika Dion lemah. Antara percaya dan tidak percaya tapi telinganya benar-benar mendengar apa yang dikatakan pria itu dengan jelas.
__ADS_1
Apa? Galih pemakai? sejak kapan?
"Asal Lo tau ya... si brengs*k itu sudah 3 hari ini memakai barang gue!",
Dion masih berdiri dengan pikiran berkecamuk. Ia tak menyangka kalau Galih bisa terjerumus pada barang seperti itu. Padahal antara Dion, Arjun dan Galih benar-benar dekat secara khusus.
Bagaimana ini bisa terjadi?
Walaupun mereka nakal, sering berkelahi dan kadang juga balapan liar tapi di dalam kepala Dion, tidak ada keinginan sedikitpun untuk mencicipi barang haram tersebut.
Apalagi Dion dan Arjun adalah anak konglomerat, mereka tidak bisa berbuat gegabah.
"Berapa harganya? tulis nomor rekening Lo dan gue transfer sekarang..." ucap Dion yakin.
Senyum seketika terukir dari bibir pria di depan Dion. Menulis deretan angka di ponsel Dion dengan hati senang. "Nih, gue tunggu..." ucapnya menyerahkan kembali ponsel milik Dion.
Tanpa basa basi Dion segera mentransfer uang ke rekening pria itu dan segera pergi.
Dengan langkah cepat dan sedikit berlari, Dion menuju ke ruangan dimana Arjun dan Galih berada. Membuka pintu ruangan itu dengan keras hingga menciptakan suara yang mampu membuat Arjun terjingkat.
"Dion?"
Tapi Dion sama sekali tak menghiraukan Arjun. Di dekatinya sahabat yang saat ini duduk di sofa. Dengan seluruh tenaganya, Dion memaksa Galih untuk bangkit dan,
Buukk... satu pukulan keras mendarat di wajah Galih hingga membuat pria itu tersungkur.
"Dion, apa yang Lo lakukan?" tanya Arjun mencoba untuk mengendalikan Dion.
"Dia yang harusnya Lo tanyain Jun..." tunjuk Dion dengan marah.
Sedangkan Galih yang jatuh ke lantai hanya mampu meringis sambil menyentuh sudut bibirnya yang benar-benar terasa ngilu.
Apa maksudnya? batin Arjun bertanya-tanya.
"Lo bisa jelasin semuanya?" tanya Dion kepada Galih.
"Ada apa ini?" tanya Arjun bersuara karena antara Dion dan Galih sama-sama tidak ada yang mau menjelaskan.
"Dia!" tunjuk Dion pada Galih.
"Dia menjadi pemakai Jun... si br*ngsek ini!" teriak Dion murka.
Arjun membulatkan matanya sambil menatap kemana arah jari telunjuk Dion mengarah.
"Dia telah meminta barang dari seseorang... tanya saja kepadanya, apa gue salah?" tambah Dion.
Perlahan Arjun mendekati Galih dengan tatapan yang sulit untuk di artikan. Sebenarnya Arjun tak percaya tapi melihat Galih yang diam saja, Arjun benar-benar kecewa.
"Apa itu benar?" tanya Arjun penuh penekanan.
"Apa yang dikatakan Dion adalah benar?" ulang Arjun lagi.
"Maafkan gue..." hanya itu kata yang terucap dari bibir Galih saat ini. "Maaf...",
Arjun langsung mengepalkan tangannya dan satu pukulan kembali mendarat ke wajah Galih tanpa ada perlawanan sama sekali.
Mata Arjun memerah penuh kekecewaan. Ia tidak menyangka kalau hal ini akan terjadi di antara sahabat-sahabatnya.
Ini benar-benar masa kelam dalam persahabatan mereka.
"Gue bingung... gue tidak tau harus berbuat apa..." sesal Galih.
Setelah Alya meninggalkannya, hidup Galih benar-benar berantakan.
Pria itu tak punya tujuan hidup lagi. Hati dan perasaannya benar-benar hancur berkeping-keping.
__ADS_1
"Apa yang harus gue lakukan?" tanya Galih. Setidaknya ia bertanya apa yang harus ia lakukan untuk meneruskan hidupnya yang telah hancur.
"Lo tidak percaya dengan kita?" tanya Arjun. Padahal ia berusaha untuk selalu ada untuk Galih maupun Dion.
Apapun yang terjadi diantara sahabatnya, Arjun dengan suka rela selalu membantu sebisanya.
Tapi kali ini Galih tidak mempercayai hal itu.
"Lo harus berhenti dan melakukan rehabilitasi, kalau tidak... persahabatan kita benar-benar berakhir..." ucap Dion telak.
Jika orangtuanya tau semua ini, Dion tidak bisa berbuat apa-apa selain meninggalkan Galih sendirian.
"Tidak... gue mohon jangan katakan pada siapapun... gue mohon," ucap Galih sambil mengatupkan kedua tangannya. Membayangkan masuk ke dalam panti rehabilitasi benar-benar membuat Galih ketakutan.
"Lo tidak akan bisa lepas nyet!" tambah Arjun.
Dion pun setuju dengan apa yang dikatakan Arjun.
"Gue bisa... gue bisa, tolong jangan bawa gue ke tempat itu..." pinta Galih.
Dan sejak saat itu, Dion dan Arjun benar-benar membantu Galih untuk lepas dari jeratan obat-obatan terlarang.
Tidak mudah memang, tapi tahun demi tahun Galih bisa melaluinya dan benar-benar lepas dari obat tersebut.
FLASHBACK OFF...
"Darimana Lo tau dia kembali?" tanya Arjun menyelidiki alasan di balik Galih yang kembali mengkonsumsi obat-obatan terlarang itu.
"Dia ada di sini... Lea... dia mengubah namanya menjadi Lea...", jawab Galih.
"Lea?" ucap Arjun dan Dion bersamaan.
"Ya... Lea, wanita yang hampir Lo kencani waktu itu... dia Alya Jun.. gue yakin," ucap Galih.
Karena Galih telah cukup lama hidup bersama dengan Alya jadi walaupun Alya berubah, tapi Galih tetap merasakan kehadirannya.
Arjun dan Dion hanya bisa saling pandang dengan pikiran yang entah kemana. Tapi yang jelas inilah alasan Galih seperti sekarang.
"Kapan Lo tau?" tanya Dion.
"Gue yakin di Alya... gue yakin sejak 3 hari belakangan..." jawab Galih.
Ia bahkan sudah meminta anak buahnya untuk memata-matai wanita bernama Lea itu.
"Dan sejak saat itu Lo kembali mengkonsumsi obat si*lan itu?" tunjuk Arjun pada beberapa butir obat yang berada di lantai ruangan tersebut.
"Tidak... gue baru mencobanya satu tadi..." ucap Galih jujur.
"Maafkan gue Jun... maafkan gue Yon!" pinta Galih. Ia benar-benar sudah tidak tau harus berbuat apa lagi. Semakin Galih memikirkan Alya, gadis itu semakin sering muncul di dalam kepalanya dan membawa mimpi buruk.
Galih merasa risau.
"Dia sekongkol dengan pria selingkuhan Akira... mereka sekongkol untuk sebuah rencana..." Galih tidak bisa lagi menyembunyikan apa yang dia tau.
Setidaknya berbagi dengan Arjun dan juga Dion, membuat Galih sedikit lebih tenang.
"Sekongkol? untuk?" tanya Dion tak paham.
"Gue takut kalau mereka akan merencanakan sesuatu untuk Lo..." jawab Galih kepada Arjun.
Gue? dan Akira maksudnya?
"Lo harus hati-hati Jun..." ucap Dion memperingati sahabatnya.
"Hm,"
__ADS_1
***
Sumpah kasihan sekali sama Galih... terkadang seseorang yang terlihat jenaka justru menyimpan banyak kesedihan dalam hatinya...