
HAPPY READING...
***
Jalanan Ibukota penuh sesak dengan kendaraan saat Dean mengendarai motor nya membelah jalanan di malam hari.
Tanpa di temani siapapun, pria itu pergi untuk menemui seseorang tak di kenalnya yang entah bertujuan apa telah mengancam bukan hanya dirinya tapi orang tua dan adik perempuan Dean juga.
"Kakak... saat Erika pulang tadi, ada seorang pria yang mengikuti ku..."
"Siapa?"
"Aku tidak tau, pria itu memakai jas hitam serta kacamata hitam dan memakai mobil..."
"Kamu ingat plat nomornya?"
"Tidak..."
"Jangan khawatir... tidak akan terjadi apa-apa, kakak akan menjamin hal itu..."
Dean semakin menarik gas motornya agar cepat sampai ke tempat tujuan. Ia ingin segera menemui siapa orang yang berani mengancamnya.
"Ada apa Yah?" tanya Dean kepada Ayahnya yang baru saja pulang dari bekerja.
Ayah Dean adalah Mandor di sebuah pabrik yang bergerak dalam bidang produksi makanan ringan.
"Ayah bingung..."
"Kenapa?"
"Tiba-tiba, bagian Personalia di Pabrik bilang kalau Ayah diberhentikan bekerja sampai waktu yang tidak dapat di tentukan," adu Ayah kepada Dean.
"Masalahnya?" tentu saja Dean ingin tau alasan apa yang membuat Ayahnya di perlakukan seperti itu.
"Ayah juga tidak tau... padahal seingat Ayah, Ayah tidak pernah melakukan kesalahan..."
Mendengar ucapan dari Ayahnya, Dean ingat dengan nomor yang mengirim pesan tadi sore. Di sana tertulis bahwa bukan hanya Dean, bahkan pria itu bisa menghancurkan seluruh keluarganya... termasuk pekerjaan ayahnya.
Tak terasa motor Dean telah sampai di depan bangunan yang masih di tutup oleh kayu karena bangunan itu belum di buka untuk umum. Bangunan itu adalah bangunan yang baru saja selesai di bangun untuk pusat perbelanjaan.
Hanya ada akses kecil di samping untuk masuk ke dalam bangunan itu. Motor Dean bisa masuk ke dalam sana.
Tanpa berpikir panjang, Dean langsung masuk ke dalam bangunan kosong tersebut.
Hal pertama yang Dean lihat adalah sunyi, tidak ada siapapun di sana.
Dean segera merogoh ponselnya, ia berniat untuk menghubungi pemilik nomor baru yang mengajaknya bertemu di tempat ini.
Tapi, "Sial! kenapa nomornya mati," celetuk Dean karena nomor yang ia hubungi tidak dapat menerima panggilannya.
Belum sadar akan situasi di sekitarnya,
__ADS_1
Buukkk... sebuah pukulan benda tumpul menghantam pundak bagian belakang Dean hingga membuat pria itu jatuh tersungkur dan pingsan.
Arjun baru saja tiba. Membuka pintu dan segera turun dari kendaraan yang dikemudikan oleh Galih.
Kalau begini saja, gue di ikutkan... gerutu Galih dalam hati.
Sebenarnya Galih tak mau ikut terlibat dalam masalah yang diciptakan oleh Arjun. Jika saja Tuan Johan tau, pasti yang mendapat hukuman berat adalah dirinya. Sedangkan Arjun? tentu saja pria itu akan terlepas dari semua kemarahan sang ayah. Atau hanya mendapat sedikit omelan, sedangkan Galih mungkin di pecat atau yang lebih buruk namannya akan masuk ke dalam Blacklist Pradipta Group.
"Ayo,"
Arjun meminta Galih untuk berjalan lebih dulu.
Ck, dia masih takut kegelapan? tubuhnya saja yang gede... nyalinya ciut!
Tapi Galih tentu saja tidak berani mengatakan hal itu secara langsung di depan Arjun.
Tanpa bicara sedikitpun, Galih berjalan lebih dulu di depan Arjun.
Di depan sana, sudah ada 4 anak buah yang tentu saja adalah anak buah Dion. Berdiri di depan yang mungkin saja memang menunggu kedatangan Arjun.
"Dimana Dion?" tanya Galih kepada pria itu.
"Tuan Dion sudah di dalam,"
Tanpa banyak bertanya, Arjun dan Galih mengikuti 1 anak buah yang akan mengantarkan mereka.
"Jadi ini semua rencana si Lucknat Dion?" tanya Galih tak menyangka.
Entah apa yang membuat Dion punya rencana segila ini.
Galih saja yang sering tawuran di masa muda tidak pernah terpikirkan akan menyandra orang seperti sekarang.
"Lo lagi PMS ya? sejak tadi ngomel mulu..."
"Gue hanya tidak mau bokap Lo tau semua ini, masa depan gue dalam bahaya Nyet!" jawab Galih.
Menjadi bagian Pradipta Group adalah sebuah masa depan yang sangat cerah. Dimana lagi Galih mendapatkan gaji sebesar itu tiap bulannya. Bahkan ia juga mendapatkan kendaraan pribadi untuk pergi dan pulang bekerja.
"Gue sudah pastiin semuanya..." ucap Arjun meyakinkan sahabatnya.
Sekarang mereka tiba di depan pintu tertutup yang dijaga oleh 2 orang di sisi kanan dan kiri.
Gila! Apa Dion membawa semua anak buahnya saat ini? batin Galih bertanya-tanya.
Anak buah Dion segera membuka pintu itu, mempersilahkan Arjun untuk masuk ke dalam sana. Di dalam hanya ada sebuah lampu yang menyala tepat di atas seseorang yang terikat oleh tali dan terduduk di kursi kayu dengan keadaan tidak sadarkan diri.
Apa yang di perbuat Dion kepadanya? batin Galih bertanya-tanya. Sedangkan Arjun terlihat tak terkejut sama sekali.
Bahkan pria itu seperti menikmati apa yang telah Dion perbuat kepada pria tak berdaya di depan sana.
__ADS_1
"Nyet! lo tidak membunuhnya kan?" tanya Galih kepada Dion. Galih khawatir pria yang terikat itu dalam keadaan mati.
"Gue tidak segila itu ya... hanya benda tumpul tidak akan membuatnya kehilangan nyawa..." jawab Dion tak terima dengan perkataan Galih tadi.
"Lo memukulnya?" gantian Arjun yang bertanya.
Kenapa harus berbuat sampai seperti itu? begitu hatinya bicara.
"Iya," jawab Dion tanpa merasa bersalah sama sekali.
Menit telah berganti menit, jam juga telah berubah tapi keadaan pria yang terikat itu masih sama. Tidak ada pergerakan sama sekali hingga membuat Arjun dan Galih merasa gusar.
"Sudah 1 jam, kenapa dia belum bangun juga?" tanya Galih.
Dion segera melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, Benar... sudah 1 jam...
Dengan hanya mengangkat tangan, anak buah Dion langsung mengerti apa yang di minta Bosnya. Pria berjas hitam mulai mendekati Dean, memastikan kalau pria itu baik-baik saja.
Dengan yakin, anak buah Dion menepuk pipi Dean untuk membuat pria itu bangun dari pingsannya. "Bangun!" perintahnya.
Dan benar saja, tak butuh waktu lama Dean mulai bergerak dengan sedikit mendongakkan kepalanya. Sesekali matanya berkedip untuk menyesuaikan cahaya yang ada di dalam ruangan ini. Dimana aku? batin Dean setelah benar-benar sadar.
Hal pertama yang di lihatnya adalah 3 pria tinggi dan beberapa orang dengan seragam yang sama.
"Mau apa kalian?" tanya Dean terdengar lantang. Walaupun saat ini tak mampu bergerak, Dean sama sekali tidak takut.
Dean mulai menajamkan penglihatannya. Tidak ada yang ia kenal dari pria-pria disana kecuali satu orang, Arjun. Benar hanya pria itu yang Dean lihat.
"Jadi semua ini kelakuan Lo?" tanya Dean.
Arjun, Galih dan juga Dion mulai mendekati Dean.
Menatap Dean seperti seekor mangsa buruan yang telah tertangkap.
"Ya, ini semua kelakukan gue..." jawab Arjun sama lantangnya.
Inilah kesempatan bagi Arjun untuk berbicara 4 mata dengan selingkuhan istrinya.
"Maksud Lo apa ngancam gue seperti ini?" tanya Dean tak terima. Jika hanya dirinya yang di ancam, tentu saja Dean tidak keberatan. Tapi yang di lakukan Arjun benar-benar keterlaluan. Arjun juga telah memata-matai Erika dan lebih parahnya, Ayah Dean juga di cepat dengan alasan tidak masuk akal.
Itulah yang membuat Dean murka.
"Lepaskan ikatannya," perintah Arjun kepada anak buah Dion.
"Biarkan sampah ini berbicara dengan nyaman," tambah Arjun disertai nada mengejek.
Segera anak buah Dion melepaskan ikatan di tangan dan juga kaki Dean. Setelah semua terlepas, Dean langsung bangkit mendekati Arjun dan mencengkeram kerah jaket yang Arjun kenakan, "Kenapa Lo memecat ayah gue?" tanya Dean dengan marah.
"JAWAB!"
***
__ADS_1