
HAPPY READING...
***
Dion duduk di teras sambil menselonjorkan kakinya. Di meja terdapat segelas susu hangat dan juga kue buatan nenek yang merawat Villa tempatnya tinggal.
Sedangkan Agus, pria itu tengah mencuci mobil di halaman sendirian. Sambil bernyanyi entah apa yang di nyanyikan, Dion tak paham. Lebih tepatnya tak berkeinginan untuk mendengarkan.
"Oh iya? serius?" tanya Dion berbicara dengan seseorang lewat telepon.
"Acaranya 2 hari lagi barengan sama pengumuman Presdir baru..." ucap pria yang tak lain adalah Galih.
Ya, pria itu sengaja mengabari Dion tentang semua hal yang terjadi. Dari Arjun yang telah mempunyai seorang anak perempuan dan juga di angkatnya menjadi Presdir baru menggantikan Papi Johan.
"Lo datang kan?" tanya Galih ragu. Dalam hatinya ia sangat menantikan kehadiran Dion dalam acara penuh kebahagiaan tersebut.
Menjadi saksi di terimanya Arjun sebagai penerus Pradipta Group mulai sekarang.
"Gue..." ucap Dion ngambang. Walaupun ia telah memikirkannya beberapa bulan terakhir, tapi nyatanya masih ada keraguan yang menyelimuti hatinya.
Ada ketakutan tersendiri saat Dion menemui keluarganya setelah 7 bulan lamanya.
Apalagi membawa Gadis bersamanya yang mungkin saja tidak di terima oleh Papa.
"Gue gak mau tau, pokoknya Lo datang atau gue bakal kesana saat ini juga! nyeret lo sampai Ibukota..." ancam Galih terdengar menakutkan.
"Issstt... galaknya... Hi, gue takut... hahah" jawab Dion dan berpura-pura takut dengan ucapan Galih. Bergidik ngeri dengan gaya jenakanya.
"Iya-iya... gue akan datang, dan membawa kakak ipar Lo... tapi janji, Lo harus sediain kita tempat menginap..." pinta Dion.
"Ha? kakak ipar?" tentu saja Galih terkejut. Siapa yang di maksud kakak ipar?
Membuat Galih yang saat ini berada di atap gedung Pradipta menikmati jam istirahat nya menjadi bingung.
"Jangan berpura-pura oon deh... Ya kali, gue ikut jalur Lo yang tidak mempercayai tentang cinta... Gue juga ingin mencoba bagaimana rasanya malam pertama nyet," ucap Dion sewot.
Mungkin jika tidak lari sampai disini, Dion masih tetap menunggu dan mencari siapa jodohnya.
Karena jodoh Dion tak lain adalah anak kepala desa. Gadis Ayudia, nama seorang perempuan yang mampu membuat Dion bertekuk lutut dan terlihat bodoh setiap harinya.
Padahal di Ibukota, Dion termasuk pria yang selalu meninggikan harga diri di atas segalanya.
Tapi karena Gadis, Dion sampai mau berkutat di dalam lumpur sawah.
Membantu menanam padi di sawah calon mertuanya. Calon mertua? Dion malu sendiri untuk mengatakan hal itu. Padahal ia dan Gadis belum mendapatkan restu dari pihak keluarganya.
__ADS_1
Juga pria itu tak malu untuk berbaur dengan warga desa lain saat Tradisi Wiwitan tiba.
Apa yang di maksud dengan Tradisi Wiwitan?
Tradisi Wiwitan adalah tradisi ritual atau syukuran yang biasa di lakukan oleh masyarakat petani sebelum panen sebagai bentuk rasa syukur atas panen yang berhasil. Berhasil dalam artian selama masa tanam tidak ada hama ataupun penyakit apapun yang menyerang dan membuat kerusakan pada sawah mereka.
Biasanya mereka/ para petani berkumpul pada area persawahan, berdoa bersama dan menyaksikan tertua desa memotong padi pertama sebelum di panen.
Mereka juga akan menyantap secara bersamaan nasi berbentuk kerucut atau biasa di sebut sebagai nasi wiwit yang memang dibawa untuk acara Wiwitan tersebut.
Tidak ada yang membedakan kasta mereka saat acara Wiwitan. Karena semua orang berkumpul dan makan secara bersamaan biasanya menggunakan daun pisang sebagai wadah.
Sangat kontras dengan kehidupan Ibukota, tapi Dion sangat menikmati hidupnya disini.
Bahkan usaha Rental mobilnya di pusat kota juga sudah berkembang lebih baik.
Dion bahkan mulai membangun sebuah Penginapan dekat dengan pantai.
Suatu hari saat dirinya telah menikah, Dion tak berkeinginan untuk kembali lagi Ke Ibukota. Ia akan tinggal di kota ini bersama istri dan anaknya.
Membuktikan bahwa Dion tidak sama dengan Rega yang hanya mengandalkan harta orang tuanya. Membuktikan pada semua orang bahwa anak yang terkenal dengan citra pembangkang mampu berdiri dengan kakinya sendiri.
Melihat keberhasilannya sekarang, sudah membuat Dion merasa puas.
Dan ambisi terbesarnya adalah membawa Gadis menemui orangtuanya. Memaksa mereka untuk memberi restu terhadap keluarganya.
Setelah membicarakan dengan Pak Kepala Desa tentang rencananya membawa Gadis menemui orang tua Dion Ibukota, akhirnya hari itu juga Dion bersiap. Menunggu di teras rumah Gadis untuk mempersiapkan segalanya.
"Sudah?" tanya Dion saat Gadis keluar dari dalam rumah dengan menyeret koper berisi pakaian dan beberapa keperluan pribadinya.
Gadis mengangguk setuju. Akhirnya hari ini datang juga. Hari dimana Gadis akan berjalan di samping Dion untuk meminta restu atas hubungan mereka.
"Dion... Bapak cuma berpesan padamu..." ucap Bapak kepada Dion. "Jaga Gadis...".
Terlihat jelas ada pesan tersirat dalam ucapan Bapak.
Apalagi Dion dan Gadis belum memiliki hubungan yang bisa membuat Bapak merasa tidak khawatir.
Mereka belum terikat pada sebuah hubungan yang resmi.
"Iya Pak, Dion akan menjaga Gadis selama di Ibukota..." jawab Dion dengan yakin.
"Bapak tidak perlu khawatir... Gadis bisa menjaga diri..." tambah Gadis meyakinkan Bapaknya.
"Yah... Bapak percaya..." hanya bisa pasrah dan berpikir positif walaupun dalam hati, Bapak takut dengan kehidupan kota yang sangat menakutkan bagi anak perempuan seperti Gadis.
__ADS_1
"Restu Bapak bersama kalian nak... Hati-hati di jalan..." ucap Bapak.
Sedangkan Gadis dan Dion bergantian mencium punggung tangan Bapak sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkan mereka sampai di Bandara.
Kali ini Dion tidak membawa mobil menuju ke Ibukota. Sebagai seorang pria, ia cukup tau diri untuk membuat Gadis merasa nyaman pergi dengannya. Itulah sebabnya Dion memilih menggunakan transportasi udara untuk pergi ke Ibukota.
Di dalam pesawat, Dion duduk tepat di sebelah Gadis. Sedangkan Agus duduk di belakang tempat duduk Dion sendirian.
"Gue ngantuk..." keluh Dion dengan manjanya. Bahkan tak ragu menyenderkan kepalanya di pundak Gadis.
"Dion... singkirkan kepala mu..." ucap Gadis. Malu sekali kalau sampai di lihat oleh penumpang lain bukan? terlalu kekanakan juga.
"Tapi gue mengantuk...".
"Sana pinjam bahu Agus untuk bersandar... hahaha..." Gadis tertawa sendiri dengan ucapannya.
Membuat Dion langsung melirik pria yang duduk di bangku belakang nya dengan tatapan aneh.
"Awas saja nanti..." ancam Dion pada Gadis.
Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di Ibukota. Beda lagi jika naik kendaraan darat, dimana membutuhkan waktu lebih lama.
Tiba di Ibukota, Dion langsung menghubungi Galih.
"Heh, jemput kami..." perintah pria itu tanpa berbasa-basi lebih dulu.
"Hah? jemput? dimana?" tentu saja membuat Galih yang tadinya tengah bersiap untuk tidur kembali terperanjat saking terkejutnya.
"Di Bandara lah... dimana lagi..." ucap Dion berjalan sambil merangkul pinggang perempuan semampai di sebelahnya. Diikuti oleh Agus yang menyeret tiga koper sekaligus.
"Lo sudah sampai? kenapa cepat sekali...?" malah Galih yang dibuat bingung sendiri.
Karena baru tadi siang ia menelpon Dion tapi nyatanya malam hari pria itu malah sudah sampai di Ibukota.
"Lo jemput gak? kalau gak gue balik lagi nih..." goda Dion.
"Oke... tunggu disana...".
Malam itu juga, Galih langsung menyambar jaket dan langsung turun mengambil mobil.
Tak memperdulikan rasa kantuknya yang tadi telah bergelayut di pelupuk mata.
Karena kedatangan Dion adalah kebahagiaan bagi Galih.
Sahabat yang tak bisa ia dapat dari orang lain.
__ADS_1
***