Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
34. Menelepon Seseorang.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Arjun kembali meletakkan ponsel Akira pada tempatnya dan berpura-pura tidak melakukan apapun. Hal itu bersamaan dengan Akira yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar lagi.


Eh, cepat juga dia... terlambat sebentar saja, bisa ketahuan gue... batin Arjun lega.


"Lo gak mandi?" tanya Akira kepada Arjun.


Jam sudah menunjuk ke angka 10 pagi dan pria itu harus segera membersihkan diri.


"Dingin tidak?" tanya Arjun dengan muka dibuat-buat. Tentu saja Akira sebal melihatnya. Ingin sekali Akira meremas muka tanpa dosa yang selalu di tunjukkan Arjun tadi.


"Akan ku siapkan air hangat..." jawab Akira dan langsung menuju ke kamar mandi.


Mengisi Bath up dengan air hangat untuk suaminya.


Cukup lama hingga air di Bath up mulai penuh. Akira mematikan kran air dan terkejut ketika membalikkan badan. "Apa yang lo lakuin?" tanyanya pada Arjun yang entah sejak kapan berdiri di belakang sana.


Gleekkk... belum mendapat jawaban dari Arjun, mata Akira entah kenapa menatap ke arah yang salah.


Matanya menatap ke arah perut Arjun yang memang tel*njang sejak tadi. Dengan posisi berdiri seperti ini, Tubuh bagian atas milik Arjun benar-benar terekspos. Dadanya yang bidang dan di tumbuh sedikit rambut, perutnya yang sangat kencang dengan beberapa otot perut berbentuk kotak-kotak membuat nafas Akira serasa terhenti.


Takjub? tentu saja. Ini pertama kalinya Akira melihat tubuh orang dewasa tepat di depan mata. Biasanya Akira selalu melihat perut Ayah Adam yang membuncit itupun dari balik kaos yang selalu dikenakan.


Tapi ini beda, Akira benar-benar melihat tubuh Arjun.


"Halo..." Arjun melambaikan tangan tepat di depan wajah Akira hingga membuat gadis itu tersadar dan refleks mundur ke belalang.


Tapi, "Aah..."


Hampir saja Akira terjatuh di Bath Up jika Arjun tak segera meraih pinggang gadis itu.


Pandangan keduanya otomatis bertemu di satu garis lurus. Hembusan nafas Arjun bahkan sampai menerpa wajah Akira karena jarak diantara mereka begitu dekat.


"Sorry..." ucap Akira setelah sadar dengan apa yang terjadi. Ia segera melepaskan diri dari pelukan Arjun dan bergegas keluar.


Di dalam kamar mandi, hanya Arjun yang masih berdiri mematung dengan muka aneh.


Eh, tadi apa ya? dadaku terasa tersengat sesuatu... batinnya bicara.


Sedangkan Akira yang baru saja keluar langsung duduk di tepi ranjang menetralkan detak jantungnya yang sempat menggila.


Jantungku... kenapa berdetak tak karuan?


"Huufftt..." Akira menghirup oksigen banyak-banyak dan mengeluarkannya dengan semangat.


Ada sesuatu yang aneh dalam diri Akira dan Arjun barusan. Sesuatu yang bahkan tidak mereka pahami sama sekali. Yang pasti ada perasaan aneh, menggelitik yang tercampur menjadi satu.


Selama menunggu Arjun mandi, Akira menyempatkan diri untuk mengecek ponsel miliknya yang memang belum ia lihat sejak pagi tadi.


Segera Akira duduk dan membuka benda pipih berwarna putih itu.


Terlihat beberapa pesan yang ia terima. Bukan dari 1 orang saja, tapi 2.


Karena penasaran, Akira langsung membuka pesan itu,


Dean :


[Selamat pagi sayang...]

__ADS_1


[Pagi... belum bangun ya?]


[Eh, kok tidak di balas?]


Gimana mau balas? gue saja baru pegang hp saat ini... gumam Akira sedikit kesal karena tentu saja pesan dari pria itu yang dia tunggu.


Bukan hanya pesan dari Dan saja, sahabatnya Tiara juga mengirim beberapa pesan.


Tiara :


[Lo dimana? sudah sampai kampus?]


[Akira!]


[Balas atau gue benar-benar membunuhmu nanti!]


Ancam Tiara lagi,


Lihatlah... siapa yang mau membalas juga kalau pesannya penuh ancaman seperti ini... batin Akira lagi.


"Mereka pasti sedang mengikuti kelas," gumam Akira pelan.


Tapi setidaknya ia harus membalas pesan dari Dean dan juga Tiara.


Akira memilih untuk membalas pesan Tiara lebih dulu.


[Maaf gue lagi balas pesan Lo... Gue hari ini absen kuliah... ada kepentingan mendadak...]


pesan pun terkirim.


Sekarang Akira mulai mengetik pesan balasan untuk Dean, pacarnya.


Akira juga memberikan emoji love di akhir kalimatnya setelahnya langsung mengirim pesan itu kepada Dean.


Yang tidak Akira duga sama sekali, Dean langsung membaca pesan itu terlihat dari centang biru di ujung pesannya.


Wihh... langsung dibaca... batinnya terkejut.


Bukan hanya itu saja, sebuah panggilan langsung masuk ke ponsel Akira.


"Dean?"


Akira tak menyangka kalau kekasihnya itu langsung menelponnya saat ini. Sesaat Akira ragu apakah ia harus menjawab telepon dari Dean, tapi jika tidak di jawab bisa-bisa pria itu akan nekad datang ke rumah Akira dan tentu saja Akira tidak mau hal itu terjadi.


Akira berlari menuju ke balkon dan berdiri di sana. "Halo..." ucapnya dengan suara sangat pelan. Akira tidak mau suaranya di dengar oleh Arjun maupun Ayah yang mungkin saja berada di bawah sana.


"Kenapa tidak kuliah? kamu sakit?" Tiba-tiba Dean memberondong Akira dengan banyak pertanyaan.


"Tidak kok... aku baik-baik saja..." elak Akira. Karena pada kenyataannya memang dirinya tidak sakit hanya saja suaminya yang sakit.


Suami? Akira tidak bisa berkata seperti itu di depan Dean.


Karena Akira masih menyembunyikan kalau dirinya telah bersuami. Bodoh memang, tapi itulah yang terjadi pada dirinya saat ini.


"Bener? kamu tidak bohong kan?" tanya Dean lagi.


"Serius... aku baik-baik saja..."


"Padahal aku ingin mengajakmu pergi setelah kelas usai hari ini..." terdengar dari nada bicaranya, Dean terlihat sedikit kecewa karena Akira tidak datang hari ini.


"Kemana?" tanya Akira penasaran.

__ADS_1


"Gak jadi ya gak perlu diberitahu... hehehe" gurau Dean dengan jenaka.


"Iihhh... nyebelin," rengek Akira.


Tanpa Akira sadari di belakangnya lebih tepatnya di ranjang kamar, ada sepasang mata yang mengamati pergerakan Akira. Siapa lagi kalau bukan Arjun. Pria itu terlihat memperhatikan Akira dari belakang dan sedikit mendengar pembicaraan Akira walaupun tidak mendengar pembicaraan dari orang di seberang telepon itu. Apa pria itu yang menelpon Akira? batin Arjun bertanya-tanya.


"Hahaha... lah gimana lagi, kamu nya tidak kuliah hari ini..." ucap Dean.


"Bagaimana kalau besok?" tentu saja Akira tidak meu melewatkan hari bersama Dean.


Jika tidak terjadi hari ini, masih ada hari besok bukan? begitu prinsipnya.


"Besok? kamu mau?"


"Hm," Akira mengangguk seolah Dean mampu melihatnya seperti itu.


"Baiklah... kita pergi besok... udah dulu ya, kelasku akan dimulai..."


"Iya..."


"Love You sayang..."


Akira tidak menyangka akan mendapatkan ucapan seromantis itu dari Dean. Bahkan saat ini dirinya tidak bisa berkata-kata.


"Halo... kenapa tidak di jawab?" tentu saja Dean tidak menerima hal itu. Apa yang diucapkan harus mendapat jawaban dari kekasihnya.


Walaupun itu hanya sebuah ucapan cinta, tapi sangat berarti untuk Dean.


"Ah, iya..." tentu saja Akira malu untuk mengatakan hal itu. Beda lagi jika ucapan itu lewat sebuah pesan. Ia tidak akan merasa canggung.


"Jawab dong..." perintah Dan lagi.


Akira tidak bisa menolak permintaan kekasihnya. Perlahan ia menghela nafasnya untuk sedikit membuat nya berani.


Berani untuk mengatakan cinta pada Dean lewat telepon.


"Love You too..." jawab Akira dengan muka memerah.


Arjun tentu saja mendengar hal itu. Entah kenapa ucapan Akira kepada seseorang di telepon sedikit membuatnya merasa aneh.


"Makasih... udah ya sayang, bye..."


Akira juga tersenyum mendengar Dean begitu bahagia. Setelah mematikan sambungan teleponnya, Akira berbalik badan untuk masuk ke kamar.


Seketika wajahnya berubah pias saat melihat pemandangan di dalam sana.


Arjun?


Senyum yang tampak melengkung menghiasi bibir Akira tiba-tiba pudar setelah mengetahui bahwa Arjun telah keluar dari kamar mandi.


Apa dia mendengarnya? hanya itu pertanyaan yang ada dalam kepala Akira saat ini.


***


Nah Nah Nah...


Tinggalkan Like, Komentar banyak-banyak ya...


Favorit kan juga biar tau Update terbarunya...


Love kalian banyak-banyak... muaacchh...

__ADS_1


__ADS_2