
HAPPY READING...
***
Ini adalah hari kelima Alya di rawat. Selama itu pula tidak ada siapapun yang datang menjenguknya. Bahkan pria yang dia harap-harap juga tak terlihat batang hidungnya sama sekali.
Padahal Alya tau, pesan yang ia kirimkan telah dibaca.
Hari ini Alya sudah di perbolehkan untuk pulang dan menjalani rawat jalan.
Walaupun belum sepenuhnya pulih, tapi dengan berlama-lama tinggal di RS juga membutuhkan biaya yang sangat banyak. Alya tidak mampu untuk membayarnya.
"Maaf nona... semua tagihan biaya pengobatan nona sudah di lunasi..." ucap seorang perawat sambil mengembalikan kartu debit milik Alya.
"Hah? siapa?".
"Maaf, saya tidak tau..".
Alya terkejut saat tau biaya perawatannya lima hari terakhir sudah di lunasi seseorang yang tidak mau di sebutkan namanya. Pihak rumah sakit juga tidak mau bilang kepada Alya mengenai seseorang itu.
Alya kira tidak ada yang peduli lagi dengan hidupnya. Tapi nyatanya salah. Buktinya masih ada orang yang peduli terhadap Alya.
Membayar semua tagihan biaya perawatan tanpa memberitahu Alya.
Tapi satu hal yang Alya yakin, orang yang membayar semua itu tak lain adalah Galih.
Karena Alya hanya memberitahu Galih saja.
Galih?
Apa dia datang menjenguk ku? kapan? kenapa dia tidak bilang? batin Alya.
Bahkan sepanjang perjalanan pulang, Alya masih memikirkan semua itu.
Tiba di sebuah kost-kostan dimana tempat tinggal Alya saat ini, Wanita itu langsung masuk dan duduk di tepi ranjang.
Mencari kotak nama seseorang di ponselnya dan menghubunginya tanpa menunggu waktu lagi.
Cukup lama, tapi sama sekali tidak ada jawaban. Kenapa tidak di angkat? batinnya bertanya-tanya.
Alya masih berusaha menghubungi ponsel Galih, tapi lagi-lagi tidak ada jawaban hingga Alya kembali menghubungi nomor itu untuk kesekian kalinya, nomor itu sengaja di nonaktifkan.
Kenapa dia mematikan ponselnya? kenapa ia tak mau menjawab telepon ku?
Alya benar-benar sedih.
---
Di lain tempat, Galih terlihat risau saat ponselnya bergetar beberapa kali. Padahal saat ini ia sedang mengemudi, mengantarkan Arjun untuk bertemu Kliennya.
"Kenapa tidak lo angkat?" protes Arjun.
"Tidak..." jawab Galih singkat. Tidak ada hal penting yang mengharuskan Galih untuk mengangkat telepon dari seseorang itu.
Karena Galih sempat melihatnya sekilas siapa yang dengan kurang ajarnya menelepon tanpa henti barusan.
Hingga ponsel miliknya kembali berdering, membuat Galih menghela nafasnya kasar. Seperti menahan kemarahan.
"Sorry jun..." ucap Galih dan menepikan mobilnya.
Arjun kira Galih menepikan mobil hanya untuk mengangkat telepon itu, tapi dugaannya salah. Galih justru langsung mematikan ponselnya tanpa ragu.
Gila... dia mematikan ponselnya? siapa yang meneleponnya ya? batin Arjun penasaran.
Gara-gara Akira hamil, Arjun tang tadinya tidak memperdulikan orang-orang di sekitarnya menjadi berubah. Pria itu selalu ingin tau tentang apa apapun yang terjadi, termasuk kehidupan pribadi Galih.
__ADS_1
"Kenapa malah mematikan ponsel Lo?" protes Arjun pada akhirnya.
"Siapa yang menelepon? Tiara? kalian bertengkar ya? kenapa?" tanya Arjun begitu penasarannya.
Membuat Galih mencengkeram kuat stir kemudi saking kesalnya.
Andai sedang dalam keadaan biasa, Galih benar-benar ingin menurunkan Arjun di tengah jalan. Tapi karena siang ini ia masih bekerja, Galih tak berani melakukannya. Jadi yang dilakukan Galih hanya diam, walaupun sebenarnya kesal.
Ck... pasti dia memang bertengkar bukan? batin Arjun berspekulasi sendiri.
---
Sore hari sesuai janji Galih malam itu ia menjemput Tiara sekalian mengantarkan Arjun kembali ke Rumah Pradipta. Selama perjalanan, tak ada yang bersuara karena Arjun sibuk berkirim pesan dengan sang istri, sedangkan Galih Tiara yang duduk di bangku depan tidak ada hal yang perlu di bicarakan. Bahkan setelah tiba di Rumah Pradipta, Galih turun dari mobil lebih dulu. Membuka pintu untuk Arjun dan juga Tiara.
Sore ini, Tiara akan bertemu dengan Akira. Menemani wanita hamil itu untuk sekedar mengobrol melepaskan rindu.
"Nanti gue jemput..." ucap Galih singkat, padat dan jelas. Membuat Tiara hanya bisa mengangguk setuju dan segera mengikuti langkah Arjun masuk ke dalam rumah.
Sedangkan Galih, pria itu segera masuk kembali ke mobil dan pergi dari sana.
Galih mengemudikan mobilnya menuju ke arah berlawanan dari Apartemen. Menuju ke sebuah tempat yang tak asing baginya.
Tempat yang dulu sering ia kunjungi karena kekasihnya tinggal di sana.
Rumah Kost khusus putri yang tak jauh dari Universitas.
Di sinilah Galih menghentikan mobilnya tapi tak segera turun dari sana.
Pria itu malah merogok saku jasnya untuk mengambil ponselnya.
Menghidupkan benda pipih berwarna metalik dan menunggu beberapa saat.
Sesuai dugaannya, banyak sekali notifikasi pesan masuk setelah ponsel itu hidup. Banyak sekali, tapi hanya ada satu pengirim.
[Keluarlah...].
Begitu lah pesan balasan Galih. Tidak berbelit-belit namum jelas.
Hingga tak berapa lama, dari pintu gerbang besi tinggi di depan sana keluar wanita dengan balutan jaket tebal dengan rambut yang terurai dan sedikit berantakan.
Jelas menandakan bahwa wanita itu mungkin tengah tertidur tadi.
Galih turun dari mobil. Berdiri di depan bodi mobilnya sambil melipat tangan tanpa menyunggingkan senyum sedikitpun.
"Kenapa menggangguku?" itulah pertanyaan yang langsung terlontar dari mulutnya.
Membuat Alya, sedikit kecewa. Nyatanya, Galuh benar-benar berubah. Kepribadian pria tak lagi seramah dulu.
"Gue hanya ingin berterima kasih..." jawab Alya jujur. Terima kasih karena Galih telah membayar semua tagihan pengobatannya.
"Untuk?"
Alya tersenyum di paksakan, "Jangan berpura-pura seperti itu Gal!".
"Terima kasih..." Alya menghela nafasnya dengan berat.
Bagaimanapun inilah yang ingin ia ucapkan. Berterima kasih kepada Galih secara langsung.
Tapi hal itu tidak mengubah pendirian Galih. Pria itu hanya terdiam sambil menatap jalanan di depan sana. Sama sekali tak ingin melihat wanita di sampingnya.
"Galih..." panggil Alya. "Kenapa kamu tau aku ada disini?". Ya.. Alya penasaran. Padahal ia tak memberitahu dimana tempat tinggalnya sekarang, tapi Galih tau akan hal itu.
Yang berarti Galih juga diam-diam menyelidiki kehidupan Alya.
"Karena gue asal menebak..." jawab Galih dengan percaya diri.
__ADS_1
Sedangkan Alya langsung tersenyum, mendengar ucapan Galih malah terdengar lucu bukannya ketus.
"Kenapa tidak masuk melihat kondisi ku saat di RS? aku kesepian..." tanya Alya.
Padahal ia sangat menantikan kedatangan Galih setiap malam. Sekedar untuk menemaninya beberapa saat.
"Aku sudah berumah tangga..." jawab Galih bohong. Entah sudah berapa banyak kebohongan yang telah ia ucapkan. Inilah yang membuat Galih merasa berat untuk melangkah maju.
"Ck... bohong..." jawab Alya tetap pada pendiriannya. Dari dulu ia tak yakin kalau Galih telah menikah.
Karena dari cara pria itu memandang dirinya, masih sama seperti waktu dulu.
Dan dengan Galih yang peduli pada Alya seperti sekarang, Alya yakin. Pria itu belum berumah tangga.
"Berhenti untuk mengonsumsi alkohol Ya.. kalau lo ingin hidup lebih lama..." pinta Galih dengan tulus.
Mungkin inilah ucapan paling panjang yang Alya dengar dari pria itu.
Dari ucapan itu, tersirat pesan bahwa Galih mencemaskan keadaan Alya.
"Kenapa? kamu mencemaskan ku?" goda Alya. Sedangkan Galih tak bisa menjawab ataupun menolaknya.
Benar kan? dia diam karena perkataanku adalah kebenaran? batin Alya.
"Makasih telah mencemaskan ku..." ucap Alya pada akhirnya.
Angin malam mulai berhembus cukup kencang. Membuat tubuh Alya sedikit bergetar karena dingin. Tentu saja Galih paham akan hal itu walaupun hanya meliriknya saja.
"Masuklah...".
"Tidak..." tolak Alya sambil membetulkan jaket bulunya.
"Kalau aku masuk, mungkin tidak ada waktu lagi bagimu untuk menemuiku lagi...".
Sedikit sakit memang mendengar ucapan Alya barusan. Entah kenapa hati Galih semakin bimbang. Ini hanya rasa peduli sebagai sesama manusia kan? gue tak lagi mencintainya kan? batin Galih.
"Masuklah... udara sangat dingin..." perintah Galih lagi.
"Tapi berjanji dulu pada ku..." pinta Alya.
"Berjanjilah... jangan mengabaikan ku lagi...".
Sejenak terjadi kontak mata di keduanya, hanya sebentar karena Galih langsung melempar pandangannya ke arah lain.
"Berjanjilah Galih..." desak Alya. Hingga Galih tak enak hati dan mengangguk setuju.
"Minggu depan jadwal kontrol dengan dokter... kamu mau menemani ku kan?" tanya Alya tanpa ragu.
Galih kembali terkejut dengan ucapan Alya. Tapi untuk menolaknya, ia tak bisa.
"Akan ku lihat jadwalku dulu..." itulah keputusan Galih.
"Aku harap kamu bisa menemani ku... karena disini kau sendirian..." ucap Alya dengan nada sedih. Dan setelahnya wanita itu berjalan masuk ke dalam Kostnya.
Sedangkan Galih menatap kepergian wanita itu dan segera pergi dari sana.
***
Inilah alasan Halalnya Galih masih lama.
karena ada peran penting Tiara dalam kehidupan Galih nantinya.
Jadi keduluan Dion -Gadis yang menikah..
Oke???
__ADS_1