Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
157. Ayo Menikah Saja!


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Nyatanya Galih tidak bisa menepati janjinya untuk segera pulang setelah selesai bekerja.


Karena saat bersiap pulang, Arjun dan Galih diminta untuk menghadiri makan malam bersama dengan Kolega Perusahaan menggantikan Papi Johan.


Walaupun sudah sangat lelah, tapi Arjun dan Galih tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti kemauan Papi.


Dan di salah satu Restoran inilah mereka berada. Duduk menikmati banyak hidangan di meja.


"Tuan Johan bilang istri Anda sedang hamil," ucap Kolega Papi. Seorang pria berumur 50 tahunan dan memiliki wajah campuran.


"Benar... usia kandungannya sudah jalan 5 bulan..." jawab Arjun dengan ramah.


"Oh, selamat Tuan Arjun... Saya akan datang saat sudah lahir nanti...".


"Terima kasih,".


Kehamilan Akira benar-benar menjadi kabar yang menggembirakan bagi siapa saja. Bahkan Papi Johan yang selalu jadi orang pertama yang memberitahu para sahabat dan rekan kerjanya.


Tentu saja berita kehamilan Akira cepat menyebar dan di tunggu-tunggu setiap orang.


Bahkan sejak kehamilan Akira, Ayah Adam sering mengunjungi putri semata wayangnya bersama Ibu.


Kadang juga sekedar mengantarkan makanan kesukaan Akira.


"Kapan Anda nyusul Tuan Galih? jangan lupa kabari kami...", Pria itu beralih pada Galih yang memang belum berumah tangga. Galih hanya tersenyum terpaksa.


Berumah tangga sangat jauh dari cita-citanya.


Tidak untuk saat ini, karena masih ada sesuatu yang Galih lakukan.


Salah satunya adalah janjinya kepada Ibunya Tiara.


Galih tidak tau apa yang akan di lakukan nya setelah ini.


Beda lagi dengan Arjun yang sedikit meledek, Sepertinya dia tidak suka wanita... hehehe..


Hingga tak terasa makan malam itu telah usai. Di tutup dengan beberapa tenggak minuman keras yang masuk ke dalam perut mereka tapi tak sampai mabuk.


Bagaimanapun Galih harus mengantarkan Bosnya pulang dengan selamat.


Setelah mengantarkan Arjun pulang, Galih kembali pulang ke Apartemen nya sekitar pukul 9 malam.


Memarkirkan mobilnya dan segera turun.


Rapi langkah kakinya terhenti saat di depan sana ada sosok wanita yang amat di kenalinya.


Alya...


Entah kenapa dia bisa disini malam-malam sendirian. Tapi satu hal yang pasti, gadis itu tentu saja ingin menemui Galih.


"Aku menunggu mu sejak tadi," ucap Alya tiba-tiba.


Sedangkan Galih hanya menatapnya dengan tatapan dingin. Tidak ada rona kebahagiaan sama sekali dalam dirinya.


Kedatangan Alya benar-benar seperti membuka kembali luka masa lalu yang pernah membuat Galih hancur berantakan.


"Kenapa? apa kita ada urusan yang belum terselesaikan?" tanya Galih ketus.

__ADS_1


Membuat mimik wajah Alya yang tadinya senang berubah sedih.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?". Ucapan Galih benar-benar membuat Alya sedih.


Padahal ia sengaja datang kesini untuk menemui Galih.


Pria yang pernah mengisi hari-harinya di masa lalu.


"Bukankah gue sudah memintamu untuk pergi sejauh mungkin sampai tidak bisa gue temukan lagi?", Galih mencoba untuk mengingatkan Alya tentang ucapannya waktu itu.


Karena saat Alya berada di dekatnya, Galih akan selalu terbayang-bayang dengan rada sakit yang di timbulkan gadis itu.


"Galih...-" siapa yang tidak sedih mendengar ucapan Galih yang seperti itu. Alya benar-benar sedih bahkan sampai menitikkan air mata.


"Separah itu rasa kecewamu terhadapku? maafkan aku Galih... sungguh maafkan aku..." pinta Alya. Berjalan mendekati Galih hendak memeluk tubuh itu, tapi Galih juga spontan mundur ke belakang beberapa langkah.


Bukan karena jijik ataupun apa terhadap Alya, tapi Galih mencoba untuk tidak terpengaruh. Lebih tepatnya menjaga hati yang sudah hampir sembuh. Galih takut ketika Alya kembali memeluk nya, hatinya akan kembali berontak. Menginginkan Alya menjadi miliknya seperti dulu.


"Cukup, jangan terlalu mendekat Ya..." Pinta Galih.


Alya semakin terisak dengan perkataan mantan kekasihnya itu.


Padahal jika Galih tau, Alya sama menderitanya dengan pria itu.


Alya juga hancur melihat kenyataan dirinya saat ini. Tidak di harapkan siapa saja.


Bahkan Galih, pria yang pernah singgah di hatinya juga tidak menginginkannya lagi. Lebih parahnya pria itu seperti menjaga jarak dengannya.


Tanpa Alya dan Galih sadari, dari dasar Gedung Apartemen muncul Tiara yang berjalan ke arah Galih.


Sebenarnya gadis itu hanya ingin memastikan apakah Galuh sudah sampai atau belum. Itulah sebabnya Tiara hendak menunggu pria itu di taman depan Apartemen. Tapi nyatanya, Galih sudah sampai dan malah berbicara dengan seorang gadis lain.


Hingga saat Tiara telah berdiri di dekat Galih, membuat ketiganya tersentak.


Tatapan Alya jelas sekali kalau dirinya juga penasaran dengan sosok gadis muda yang berdiri di samping mantan kekasihnya. Hal itu sengaja di manfaatkan Galih untuk menggenggam tangan Tiara tanpa ragu. Memperlihatkan pada Alya kalau gadis di sampingnya adalah sosok spesial untuk Galih.


"Dia...?" tanya Alya lirih.


"Seperti yang lo lihat kan, kami tinggal bersama..." ucap Galih bahkan lebih gila lagi dengan mencium tangan Tiara di depan Alya.


Dan Tiara yang menjadi satu-satunya orang yang tidak paham dengan semuanya.


Tinggal bersama? apa istrinya? Galih telah menikah? kapan? banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam kepala Alya.


Bagaimana bisa ia sampai tidak mengetahui hal itu. Padahal tanpa Galih sadari, Alya selalu tau kabar Galih. Dirinya selalu melihat Galih dari kejauhan.


Tapi adanya gadis lain membuat Alya seperti kecolongan.


"Bohong..." ucap Alya lirih.


Ucapan Galih masih tidak bisa ia percayai.


Sejak kapan Galih bisa menikah dengan gadis lain sedangkan Alya tau bagaimana sifat Galih selama ini.


Posesif bukan hanya kepada keluarganya, tapi juga kekasihnya.


Bahkan Alya sangat ingat bagaimana keadaan Galih sejak kedatangannya waktu itu.


Terlihat sangat jelas di mata Galih kalau ada sebuah perasaan yang masih sama untuk Alya.


Perasaan yang membuat Galih hanya terpaku pada gadis itu saja.

__ADS_1


"Bohong? apa yang membuatmu percaya diri seperti itu?" tanya Galih.


"Kalian tidak ada hubungan apa-apa kan?" tanya Alya bahkan bukan hanya kepada Galih tapi kepada Tiara juga. Alya ingin mendengar kalau mereka memang tidak ada hubungan apapun.


"Kami akan segera menikah... Aku dan dia sangat mencintai..." ucap Galih dan langsung meraih kepala Tiara. Mencium gadis itu dengan paksa dan menekannya agar Tiara tidak bisa menolak apapun.


Hal itu tentu saja membuat Alya membulatkan mata.


Syok sekaligus kecewa karena Galih memperlihatkan kepada semua orang bahwa gadis di sampingnya benar-benar gadis pilihannya.


Menikah?


Entah kenapa hati Alya terasa bertambah hancur. Ia kira Galih akan memaafkannya. Alya sudah sepercaya diri itu. Menganggap Galih akan mau menerimanya kembali.


"Hiks...".


Hingga yang dilakukannya adalah lari. Ya... lari meninggalkan Galih dan membawa kesedihan hatinya.


Setelah di rasa Alya pergi jauh, Galih melepaskan ciumannya. Menghapus bibir Tiara dengan Ibu jarinya dan pergi. Berjalan masuk ke dalam Gedung Apartemen tanpa bicara apapun dengan Tiara.


Ikhlas adalah bohong! yang ada cuma keadaan terpaksa hingga lama-lama mulai terbiasa... batin Galih dengan kegundahan hatinya.


Bohong memang jika Galih tidak lagi mencintai Alya. Karena Alya adalah cinta pertama baginya.


Tapi untuk kembali dengan gadis itu, Galih tak mampu.


Cintanya pada Alya mengingatkan kembali dengan pengkhianatan yang di lakukan oleh Alya.


Tinggal Tiara yang masih berdiri mematung seorang diri.


Menatap nanar kepergian Galih yang masuk ke Apartemen dengan mimik wajah yang terkejut.


Apalagi saat dirinya menyentuh bibir, ada perasaan aneh yang menjalar sampai ke hati.


Menciptakan sebuah sengatan listrik yang mengejutkannya.


Tadi itu apa? siapa wanita itu? dan apa yang Galih bilang tadi?


Hingga saat Tiara sudah kembali menguasai diri, Gadis itu berlari masuk menuju ke unit Apartemen dimana Galih tinggal selama ini.


Menekan beberapa digit angka dan masuk ke dalam. "Galih!" panggil Tiara tanpa ragu.


Gadis itu hanya ingin bertanya kenapa dirinya di seret pada masalah yang bahkan Tiara sendiri tidak tau.


Tiara memandangi Galih yang duduk di kursi makan sambil menenggak minuman keras berwarna bening.


Membuat bau minuman itu menguar dan menusuk hidung.


"Kenapa Lo menyeretku pada masalah yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya denganku?" tanya Tiara. Tapi tidak mendapat jawaban apapun dari Galih.


Membuat Tiara kesal dan juga marah karena dengan seenaknya sendiri Galih telah menciumnya tanpa meminta ijin.


Kalaupun Galih meminta ijin lebih dulu, apakah Tiara mau? sama saja tidak!. Memang siapa yang mau di cium oleh pria kulkas itu.


"Lo tidak bisa seenaknya mencium orang seperti tadi. Dan kenapa lo berbohong di depan wanita itu? ha?" tanya Tiara penasaran.


"Ayo kita menikah saja..." ucap Galih kembali membuat Tiara membulatkan mata.


***


Upss...

__ADS_1


__ADS_2