Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
150. Telepon Dari Sahabat.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Aktifitas Dion selama dalam masa pelariannya di awali dengan berolahraga pagi. Mengelilingi desa kecil yang jauh dari pusat kota dan berakhir pada sebuah air terjun tidak terlalu tinggi namun sangat indah.


Di air terjun itu pula Dion selalu berdiam diri. Membuat pikirannya tenang dengan alunan suara gemericik air yang jauh dari atas sana.


Sudah 4 hari Dion mendatangi air terjun itu. Berharap bisa menemukan seseorang yang dulu sempat mengintipnya saat mandi.


Sedikit menakutkan juga membuat penasaran karena Dion tidak tau apakah yang mengintipnya adalah seorang pria ataupun wanita.


Itulah sebabnya Dion datang di air terjun itu di waktu yang selalu sama seperti waktu itu.


Pagi ini Dion kembali mendatangi Air terjun walaupun sedikit terlambat dari biasanya. Langkah demi langkah membawa Dion turun. Menitipkan anak tangga dari bebatuan untuk menuju ke tempat pelariannya.


Hingga tak butuh waktu lama, Dion berhenti berjalan. Yang menjadi alasannya berhenti adalah sosok yang berdiri tepat menghadap Air terjun di depan sana.


Eh, apa dia orang yang sama?


Bagaimana Dion tidak terkejut. Ia mengenali jaket yang di gunakan seseorang itu. Sama persis dengan orang yang di kejar waktu itu.


Seperti terkena sihir, Dion kembali melangkah semakin mendekati sosok di depannya. Menatap mulai dari atas sampai ke bawah dan kembali lagi ke atas.


Dion yakin kalau di depannya adalah sosok perempuan.


Walaupun mengenakan jaket yang oversize dengan celana panjang, tak juga mampu menutupi lekuk tubuh gadis itu. Siapapun juga akan mampu melihat kalau dia adalah seorang wanita, walaupun dari belakang.


"Eheemm," Dion berdehem mengejutkan gadis itu.


Dan benar saja, gadis itu langsung terperanjat dan melihat ke arah Dion.


Hah? dia? batin gadis itu.


"Dari ekspresi yang Lo tunjukkan, lo terlihat mengenali gue!" ucap Dion dan langsung berjalan mendekati gadis itu. Berdiri di sampingnya dan menatap ke arah air terjun.


"Maksud Lo?"


Ck... pintar sekali dia berpura-pura...


"Apa lo menyukai nya?" tanya Dion. Sedikit geli memang menanyakan hal itu kepada orang yang bahkan tidak kenal sama sekali.


Tapi karena gadis itu yang telah mengintip Dion, tak masalah bukan?


"Ha?" tentu saja gadis itu kebingungan.


Apa maksudnya? air terjunnya?


"Pasti Lo sudah mengintip sejak lumayan lama bukan? jadi ada berapa roti sobek di perutku?" tanya Dion hingga membuat gadis itu membulatkan mata saking terkejutnya.


Bahkan mulutnya sampai melongo tak percaya, Apa dia gila? bagaimana bisa mengatakan hal sevilg*r itu?


"Maksud Lo apa sih?" rajuk sangat gadis.


Bagaimanapun apa yang di ucapkan pria itu sudah termasuk pelecehan bukan?


"Hahaha..." Dion tertawa keras bahkan sampai membuat gadis di sampingnya sedikit memberi jarak.


Benar... dia tidak waras... umpat gadis itu menilai Dion.


"Sudah deh, jangan berpura-pura... gue sudah tau semuanya... Lo yang mengintip gue waktu itu kan?" tanya Dion yakin.


Jaket yang di kenakan gadis itu sama persis dengan orang yang Dion kejar waktu itu.


"Apaan sih Lo itu... siapa yang mengintip Lo? gue bahkan tidak pernah melihat lo sebelumnya..." jawab gadis itu.


Ya, itu adalah pertama kalinya gue melihat lo...

__ADS_1


Gadis itu mengelak untuk mengakuinya karena sangat memalukan bukan? melihat pria dewasa mandi di air terjun seperti waktu itu.


Padahal tujuan ia datang ke air terjun adalah untuk istirahat setelah berolahraga.


Dion mengamati gadis di sampingnya naik turun. Membuat yang di tatap sama sekali tidak nyaman. Apalagi tatapan mata Dion seperti tengah menel*njangi dirinya.


Kedua orang itu masih berdiri menatap air terjun. Tanpa mengatakan ataupun bertanya apapun.


Gadis itu pun sama sekali tidak berniat untuk mengatakan apapun. Sesekali ia melirik sosok di sampingnya, senyum yang tadi terlihat jelas di wajah pria itu seketika lenyap. Meninggalkan tatapan nanar penuh kesedihan.


Bagaimana bisa ekspresi nya berubah secepat itu? batinnya penasaran.


Hingga terdengar dari belakang, seseorang berteriak "Boss...!".


Membuat Dion langsung memutar tubuhnya melihat siapa yang datang. Dugaannya benar, Agus datang menemuinya.


"Saya mencari-cari bos dimanapun, ternyata disini..." ucap anak buah Dion.


Membuat gadis di samping Dion semakin penasaran tentang semuanya.


Dari penampilan pria di sampingnya, gadis itu bisa menilai kalau Dion bukan lah orang asli sini. Mungkin dia datang dari kota ataupun memang di tugaskan untuk desa ini.


"Ada apa?" tanya Dion.


"Tuan Galih menghubungi anda tadi," ucap Agus memberitahu.


Saat dirinya tengah memeriksa kamar Dion, Agus tak sengaja mendengar ponsel Dion berbunyi. Dan ternyata adalah panggilan telepon dari Galih.


Wajah Dion langsung berubah. Dan tentu saja gadis di sampingnya kembali mengerti ekspresi yang ditunjukkannya. Berubah kembali.


"Disini tidak ada sinyal..." keluh Dion sambil mengangkat ponselnya ke udara. Mencari-cari sinyal.


"Ayo kita pergi..." ajak Dion pada Agus.


Baru beberapa langkah, Dion seperti mengingat sesuatu hingga membuatnya kembali terdiam. Menengok ke arah gadis yang di tinggalnya, "Nama ku Dion..." ucap Dion dengan menampakkan senyum indahnya.


Dan kembali meneruskan langkahnya meninggalkan Air terjun.


Dion?


***


Tina di rumah, Dion duduk di teras hendak menghubungi Galih. Tapi nyatanya sahabatnya itu lebih dulu menelepon Dion kembali. Hingga tanpa banyak berpikir Dion langsung mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Ya! kemana saja Lo sampai sulit di hubungi..."


Dion langsung menjauhkan ponselnya dari telinga. Bagaimana tidak, tanpa salam ataupun basa-basi Galih langsung meneriaki nya.


Membuat telinga Dion berdengung.


Setelah tak mendengar suara Galih, Dion kembali menempelkan teleponnya dan berucap "Kalau hanya ingin memarahiku, jangan menelpon nyet!" umpatnya.


Tapi dalam hati Dion, ia sangat bahagia. Nyatanya ada orang yang peduli dengan dirinya.


Masih ada yang bertanya keadaannya.


"Dimana Lo sekarang? Gue dan Arjun benar-benar khawatir karena ponsel Lo mati..."


Dion memang sengaja tidak menghidupkan ponselnya sejak 4 hari terakhir.


Tadi pagi ia hanya mengecek apakah ada pesan dari Ibunya atau tidak, tapi nyatanya tidak ada pesan satupun yang masuk.


Dan Dion lupa untuk mematikan kembali ponselnya sebelum pergi berolahraga.


"Kalian khawatir? gue sedikit terharu mendengarnya..." jawab Dion dengan nada bicara yang di buat-buat.


"Pulang lah Yon..."

__ADS_1


Dion langsung terdiam. Entah kenapa mendengar Galih memintanya untuk pulang membuat hati Dion terasa teriris. Sakit...


Ucapan Galih benar-benar terdengar tulus.


Mungkin jika Ibunya yang memintanya seperti itu, Dion tidak akan mampu menahan tangisnya.


Karena hanya wanita itu yang membuat Dion selalu kuat menghadapi nasibnya.


"Lo tau? Arjun marah-marah ke gue karena nomor Lo tidak aktif..." Adu Galih.


Mungkin karena faktor kehamilan Akira membuat mood Arjun selalu buruk. Pria itu selalu marah-marah tanpa alasan.


"Jadi karena Arjun, lo meminta gue pulang?" goda Dion.


Padahal ia sangat tau bukan itu alasan Galih memintanya untuk kembali pulang.


"B*ngke Lo! Lo benar-benar cari mati ya..." umpat Galih hingga membuat Dion menyunggingkan senyum.


Tanpa Galih dan Arjun sadari, selama 4 hari disini Dion amat merindukan keduanya.


Dion ingin sekali menghubungi sahabatnya tapi ia masih belum siap.


Lebih tepatnya Dion takut kalau ponselnya bisa di lacak oleh anak buah Papanya.


Dan akan sangat gawat jika Dion di paksa untuk kembali dan menikahi putri keluarga Adiguna.


"Pulang lah Yon... Arjun akan senang nanti... Lo tau, Akira hamil... Arjun akan menjadi seorang ayah sebentar lagi..."


Senyum di bibir Dion kembali melengkung sempurna, Akira hamil?


"Benarkah? gue ikut senang mendengarnya..." jawab Dion.


"Apa Lo mau bicara dengannya?" tanya Galih. Saat ini ia memang bersama dengan Arjun.


"Boleh...",


Setelah menunggu tak terlalu lama, " Halo..."


Dion mengenal suara siapa itu. Arjun...


"Halo... selamat atas kehamilan Akira.. gue ikut senang walaupun tidak ikut ambil andil..." gurau Dion.


"Sh***..." umpat Arjun. "Lo bosan hidup ya?".


Ucapan Dion benar-benar mampir mendidihkan darah Arjun.


"Hahaha... sensi banget calon Papa..." ledek Dion.


"Bagaimana keadaanmu?"


Seandainya Arjun tidak sibuk, pria itu sudah pergi ke tempat Dion dan menyeret pria itu agar kembali ke Ibukota.


"Baik... sangat baik," jawab Dion bohong. Bagaimana ia bisa baik-baik saja seperti saat ini. Bahkan ada sesuatu dalam hati Dion yang terasa hancur. Meninggalkan rasa sesak di dada.


"Bohong! Lo bohong Dion!".


Membuat Dion yang mendengarnya tersenyum getir. *Apa semua orang tau betapa menyedihkannya diriku? bahkan tanpa mereka melihat nya sekalipun?


"Pulang lah Yon*..." pinta Arjun penuh harap.


Sebuah masalah akan selalu ada penyelesainnya. Dan jika perlu, Arjun akan membantu Dion untuk mencari penyelesaiannya.


"Lo tidak bisa selalu menghindar dari masalah... Lo harus menghadapinya... pulang lah, gue dan Galih siap membantu...".


"Tidak untuk saat ini Jun..." jawab Dion penuh keterpaksaan.


Ia tidak bisa pulang saat ini.

__ADS_1


***


itulah pertemuan Dion dan Jodohnya...


__ADS_2