
HAPPY READING...
***
Ibu sedang melipat pakaian di ruang keluarga. Sesekali melihat acara televisi yang memberitakan tentang gosip selebriti tanah air.
Sedangkan Bella, duduk di bawah menyetrika pakaian yang digunakannya untuk kuliah setiap harinya.
"Kenapa Galih belum tiba?". Seperti itu lah seorang ibu. Walaupun terlihat sedang menonton televisi, tapi nyatanya ada sesuatu hal yang berada dalam pikirannya dan sedikit mengganggu.
Sudah satu minggu lamanya Galih tidak mengunjungi rumah mereka. Membuat Ibu sedikit khawatir sekaligus rindu pada putra pertamanya itu.
"Kakak bilang agak siangan Buk..." jawab Bella. Seperti itulah pesan Galih kepada Bella tadi pagi.
Dan sekarang juga masih jam 11 siang. Pasti kakaknya masih berada di jalan menuju ke sini.
Dan dugaan Bella benar. Tak butuh waktu lama, sebuah motor terlihat berhenti di halaman rumah mereka.
Membuat Bella dan Ibu langsung menengok heran.
Motor siapa? batin Bella dan Ibu. Karena yang di tunggu biasanya mengendarai mobil.
"Ibu... Galih pulang..." teriak seseorang yang suaranya saja sudah bisa di hafali mereka.
Ibu seketika bangkit dari duduknya. Berlari ke arah ruang tamu, "Ya..." teriaknya.
Dan di ambang pintu, terlihat Galih berdiri menunggu ibunya. Senyum langsung tersungging sempurna di bibir Galih.
Tapi pandangan ibu bukanlah tertuju pada Galih. Melainkan pada gadis di samping putranya yang juga tersenyum ramah.
"Tiara..." ucap Ibu spontan. Siapa sangka kalau gadis yang kerap kali datang ke rumah ini juga datang bersama dengan Galih.
"Kalian datang bersama?" tanya Ibu dan segera menarik tangan Tiara masuk ke dalam rumah. Membuat Galih mengerucutkan bibir karena cemburu.
Ck... sebenarnya apa sih kelebihan gadis itu... batin Galih.
Padahal seharusnya Galih lah yang perlu di sambut, bukan Tiara.
"Iya Tante..." jawab Tiara pada pertanyaan Ibu.
"Galih tak sengaja bertemu dengannya di jalan dan membawanya kesini..." sela Galih dan langsung masuk ke dalam rumah. Membiarkan Ibu dan Tiara yang melongo tak percaya.
Apa dia bilang? ck... pasti cemburu... batin Tiara menerka-nerka.
Hingga tatapan Tiara yang tadinya terfokus pada punggung Galih buyar saat Ibunya Galih kembali bertanya.
"Bagaimana keadaanmu nak? maaf tante belum bisa datang ke rumahmu lagi...". Terakhir kali Ibu datang memang saat hari berkabung dulu. Dan sejak saat itu, Ibu benar-benar sibuk dengan kesehariannya.
"Tidak perlu merasa bersalah seperti itu Tante. Tiara baik... sangat baik malahan..." ucap Tiara.
Sedangkan di ruangan dalam, tepatnya di sofa yang berada di depan televisi Galih ngedumel "Ck... Jelas sekali dia baik... tidak perlu di lebih-lebihkan seperti itu...".
Membuat Bella juga ikut tertawa dengan tingkah kakaknya yang kekanakan.
"Apa Lo!" tantang Galih pada Bella bahkan sampai menyenggol bahu gadis itu dengan kakinya.
"Kakak... apaan sih..." protes Bella membersihkan lengannya dengan tangan.
"Ibu... kapan ibu membuatkan ku kopi?" teriak Galih.
Setidaknya hanya itu cara yang bisa ia lakukan untuk memisahkan kedua wanita beda usia yang sedang asyik mengobrol di ruang tamu.
"Iyaa..." teriak Ibu.
"Ayo Tiara... Bella sedang menyetrika di dalam..." ajak Ibu.
__ADS_1
Dan tentu saja Tiara pasrah mengikuti kemana Ibu membawanya.
"Hai Tiara..." sapa Bella ketika Taira juga ikut duduk di sofa samping Galih.
Jelas Bella tidak menanyakan kabar tiara. Karena hanya Bella lah yang tau kalau gadis itu tinggal bersama kakaknya. Tapi bulan sebagai sepasang kekasih, melainkan pembantu Apartemen milik Galih.
Tapi karena Galih yang meminta menyembunyikan semuanya, Bella tidak memberitahu orang tuanya tentang hal itu.
Entah sampai kapan Bella akan diam, Galih tak tau. Karena terkadang mulut adiknya itu tidak bisa di ajak kompromi.
Ya... mungkin saja Bella akan membocorkan hal itu pada Ibu maupun Ayah.
"Bel, Ayah mana?" tanya Galih pada adiknya.
"Cie... kangen Ayah ya... cie..." goda Bella benar-benar menyebalkan. Apalagi dengan tampang menjengkelkannya itu. Membuat Galih menyesal telah bertanya.
"Ayah pergi ke rumah temennya sejak tadi..." jawab Bella pada akhirnya.
Ibu kembali datang membawa 2 cangkir minuman. Satu kopi panas untuk Galih dan satunya teh untuk Tiara.
"Ayo di minum..." ucap Ibu. Tiara pun hanya mengangguk. Untuk saat ini Ia belum terlalu haus.
"Galih... kenapa kamu pakai motor? dan milik siapa itu?" tanya Ibu. Inilah pertanyaan yang ingin Ibu tanyakan sejak tadi.
Kenapa Galih pulang dengan mengendarai sepeda motor.
"Oh... lagi pengen Buk... Itu motornya Dion, sengaja di titipin ke Galih..." jawab Galih berbohong.
Padahal itu alasannya mengendarai motor menuju ke rumah orang tuanya.
Yang pasti karena ada Tiara bersamanya. Entah kenapa rasanya lebih nyaman saja saat Tiara duduk di belakangnya tadi pagi. Apalagi bisa sesekali menggodanya. Mengasyikkan.
"Kak Dion sudah kembali?" sela Bella.
Karena yang Bella tau, Dion tidak berada di Ibukota sejak 5 bulan terakhir.
"Belum..." jawab Galih singkat. Hal itu membuktikan kalau tidak ada jawaban yang akan terlontar dari mulutnya selain itu. Bella juga paham, jadi ia tak berani bertanya lebih.
Yang ada mungkin Galih akan menyemprotnya dengan kata-kata pedas.
"Jadi Tiara juga akan kesini tadi?" tanya Ibu.
"Iya... Galih melihatnya menunggu taxi di pinggir jalan seperti orang bodoh..." jawab Galih ketus. Sedangkan yang di bicarakan hanya bisa tersenyum sungkan di depan Ibu.
Tidak mungkin kan Tiara membalas perkataan jahat Galih barusan? bisa hancur citra gadis sopan dan manis yang selama ini melekat pada dirinya.
Br*ngsek! umpat Tiara dalam hati.
Hanya Bella yang tau segalanya. Tapi yang di lakukan nya hanya tersenyum sedikit di tahan.
Takut Ibunya curiga dan memarahinya.
Jam makan siang telah tiba.
"Kalian mau makan apa?" tanya Ibu saat melihat jam yang terpajang di atas televisi sudah menunjuk ke angka setengah 1 siang.
"Apa saja..." jawab Galih.
Tadi pagi ia dan Tiara sarapan nasi uduk di pinggir jalan. Dan sekarang ia sudah kembali lapar.
"Biar saya bantu Tante..." pinta Tiara. Karena duduk bersama Galih membuatnya sedikit salah tingkah.
Karena ia tak terbiasa duduk bersama dengan pria itu lebih lama.
__ADS_1
Jantungnya akan berdetak tak karuan.
Hingga Tiara memutuskan untuk membantu Ibu menyiapkan makan siang mereka.
Sudah hampir 1 jam lamanya, bau makanan mulai menyeruak menusuk ke hidung siapa saja yang ada di rumah. Bahkan Ayah yang baru saja tiba juga tak ketinggalan.
Pria itu hanya melihat sekilas Galih di ruang televisi dan langsung menuju ke dapur.
"Loh... ada Tiara ternyata..." ucap Ayah yang mampu di dengar Galih dan Bella.
"Iya Om..." jawab Tiara.
"Bagaimana kabarmu? sehat?"
"Tiara sehat om...".
Hal itu kembali membuat Galih berkomentar. "Dasar! pintar sekali dia mengambil hati Ayah...".
"Calon mantu idaman..." jawab Bella membuat Galih mengerucutkan bibir sebal.
"Jangan bicara aneh-aneh!" ancam Galih.
Ck... calon mantu?
Hingga Bella, Galih, Tiara, Ibu dan Ayah duduk bersamaan di ruang makan. Menikmati makan siang bersama-sama.
"Nanti kamu bawa makanan kan Gal?" tanya Ibu. Sejak seminggu terakhir, Ibu tak lagi membuatkan makanan untuk putranya.
"Tidak usah Bu..." jawab Galih.
"Kenapa?" membuat Ibu protes. Karena sejak dulu, Galih memang selalu di masakin Ibu dan biasanya Bella yang di suruh mengantar.
Galih tidak segera menjawab. Ia tidak bisa bilang kalau sekarang ada yang memasak makanan untuknya bukan? bisa gawat kalau Galih mengatakan hal itu di depan Ayah dan Ibunya.
"Tidak perlu buk... sudah ada yang masak buat Kakak..." sela Bella. Membuat tenggorokan Galih tercekat dan juga Tiara yang membeku.
"Ha?"
"Karena di depan Apartemen kakak. ada warung yang menjual lauk-pauk..." tambah Bella. Sambil menaikturunkan alisnya di depan Galih seperti sengaja.
"Ah, iya Buk..." jawab Galih engan senyum kaku.
Padahal dalam hatinya ia tengah mengancam Bella karena ucapannya.
Dasar nih bocah! awas lo ya...
"Galih juga seringkali makan di luar sebelum pulang..." tambah Galih memastikan.
Tiba jam 8 malam, sama seperti biasanya Ayah lebih dulu pergi ke dalam kamar sebelum Galih pulang. Sengaja seperti menghindari ketika Galih berpamitan.
"Galih pulang buk... salam buat Ayah..." ucap Galih memberanikan diri mengucapkan kata Ayah sedikit lebih keras. Setidaknya biar sang Ayah mendengar hal itu.
"Tiara juga pulang Tante..." pamit Tiara dan mencium punggung tangan Ibu.
"Kalian hati-hati... dan Galih, pelan-pelan saja nanti..." pinta Ibu. Karena Galih menggunakan Motor dimana sedikit lebih bahaya dibandingkan dengan mobil.
"Iya buk..." jawab Galih.
Di dalam kamar, Ayah terlihat berdiri di belakang pintu. Mendengar semua pembicaraan antara istri dan juga putranya.
Dalam hati beliau, Ayah juga ingin sekali berbicara dengan Galih. Tapi egonya masih mengambil alih dirinya.
Hati-hati Galih... batin beliau mendengar motor Galih mulai hidup dan perlahan meninggalkan rumah.
***
__ADS_1
Kadang kesel sama sikap Ayahnya Galih... tapi lebih baik sih daripada Papanya Dion...
Ya gak???