
HAPPY READING...
Sejak semalam Akira merasakan sesuatu yang sulit untuk di deskripsikan. Sesuatu yang membuat perutnya terasa di aduk, mulas dan sedikit sakit.
Semalam saat Akira terbangun dari tidurnya ingin buang air kecil, wanita hamil itu langsung bangkit dan tanpa ia duga sama sekali sebuah cairan bening seperti merembes dari pusat tubuhnya dan membasahi pakaian bawah Akira.
Akira mengira kalau dirinya ngompol, tapi ternyata tidak. Dan malam itu juga ia dibawa Arjun dan Mami Livia menuju ke Rumah Sakit.
Rumah sakit yang akan menjadi tempat persalinan Akira memang telah siap sejak seminggu yang lalu. Papi Johan dan Arjun yang menyiapkan itu semua. Memesan salah satu kamar mewah di Rumah Sakit untuk di tempati Akira.
Sejak tanda-tanda datangnya persalinan, setiap 1 jam sekali wanita merasakan sesuatu yang bergejolak. Kata dokter itu adalah kontraksi tapi tak berlangsung lama, mungkin hanya sekitar 5-10 menit saja lalu kembali reda.
Selama hampir 5 jam lamanya, Akira masih bisa untuk tidur. Walaupun tidak nyenyak seperti biasanya.
Karena kontraksi palsu itu membuat dirinya kembali terbangun dan merasakannya.
Tepat pukul 6 pagi, Akira membungkukkan tubuhnya sambil berpegangan pada brankar Rumah Sakit. Sedangkan Arjun, pria itu juga ikut andil. Mengelus pelan punggung Akira dan berharap bisa mengurangi rasa sakit.
"Sudah lebih baik?" tangannya dengan nada halus.
"Hm," jawab Akira. Sungguh rasa yang dialaminya saat ini tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Dan satu hal yang Akira ingat, ia ingat dengan Ibunya. Jadi seperti ini yang di rasakan Ibu saat melahirkan ku... batinnya.
Sangat berdosa jika Akira sampai membuat ibunya menangis. Karena perjuangan yang seorang ibu lakukan demi melahirkan buah hatinya sangat lah berat.
Tidak ada hal yang lebih berat selain yang di lakukan ibu.
Beri tepuk tangan pada seluruh Ibu-Ibu di luaran saja yang telah berjuang untuk melahirkan buah hatinya...
Durasi kontraksi yang tadinya hanya datang setiap jam sekaki telah berubah menjadi singkat. Mungkin hampir tiap 10 menit Akira merasakan sesuatu yang seperti berputar pada perutnya.
Di ruangan sebelah, perawat sudah bersiaga. Menyiapkan berbagai alat untuk membantu persalinan Akira.
Keringat dingin mulai bercucuran dari kening Akira. Wajah cantik wanita itu terlihat sedikit pucat dan panik.
Tapi Akira mencoba untuk bersikap tenang. Apalagi impiannya adalah melahirkan secara normal.
Jadi di saat seperti ini, Akira harus menjaga tekanan darahnya agar tetap stabil.
"Mami... bantu Akira dulu..." pinta Arjun.
"Mau kemana lagi kamu Jun?" tanya Mami Livia penasaran.
"Toilet...".
"Lagi?" tanya Mami Livia penuh keheranan. Karena entah sudah berapa kali Arjun keluar masuk toilet. Walaupun toilet ada di dalam ruangan tersebut, tapi tetap saja.
Entah apa yang di keluarkan pria itu.
Tanpa banyak bicara, Arjun langsung masuk ke dalam ruang kecil di sudut ruangan. Sedangkan Mami Livia mendekati Akira. Mengelus perut yang terasa kencang itu sambil bergumam pelan, yang tidak Akira dengarkan. Toh bagaimana bisa ia mendengarkan perkataan orang lain saat dirinya saja sedang merasa sakit.
__ADS_1
Tak berapa lama, Arjun keluar. Merapikan celananya sambil tak lepas memandangi Akira.
"Mami... apa Papi juga seperti ini saat menemani Mami lahiran?" tanya Arjun dengan polosnya.
Melihat Akira yang merasakan kontraksi malah membuat Arjun panik sendiri. Pria itu merasa ingin buang air kecil saking gugupnya.
"Tidak..." jawab Mami Livia yakin. Karena suaminya terlihat paling tenang saat itu. Bahkan tak henti-hentinya menciumi Mami Livia dan menenangkan beliau.
"Kenapa Arjun yang merasa ikut mulas sih?" protes pria itu.
Sungguh perutnya terasa mulas dan aneh.
Tapi ketika Arjun masuk ke dalam toilet, rasa itu seperti mempermainkannya.
"Kamu itu aneh Jun... sebenarnya yang akan melahirkan itu Akira atau kamu?" protes Mami. Heran dengan perkataan Arjun yang terdengar mengada-ada.
Seorang perawat mendekati Akira. Memeriksa selang infus yang terkadang pada punggung tangan sebelah kanan wanita itu.
"Sus, saya merasakan sesuatu yang hendak keluar..." adu Akira.
Yang wanita itu rasakan adalah ia semakin ingin buang air besar.
"Maaf, saya periksa dulu Nona..." jawab perawat yang terbalut dengan seragam berwarna putih dengan tepian warna biru.
Seketika Akira memposisikan tubuhnya tiduran di atas brankar.
Ya, seperti inilah cara perawat yang memeriksa sampai dimana pembukaan yang terjadi pada tubuh Akira.
Dan salah satu dari mereka memberitahu Dokter dan tenaga kesehatan lainnya.
Akira di bantu dengan perawat menuju ke ruangan sebelah dimana di kelilingi oleh tirai berwarna putih.
Semua orang telah bersiap. Mami Livia dan Arjun berdiri di samping kanan dan kiri Akira. Bunyi dentingan alat-alat dokter mulai terdengar.
"Maaf Nona..." ucap Perawat menyuntikkan sebuah cairan dalam selang infus Akira.
Entah cairan apa itu, Akira juga tidak paham.
Pemikirannya hanya tertuju pada dirinya yang merasakan sakit yang bertambah dari porsi sebelumnya.
"Jangan takut... ada aku dan Mami..." ucap Arjun sambil menyeka keringat yang mengucur deras di kening Akira.
Bahkan sampai seorang perawat memberi sapu tangan pada Arjun untuk menyeka keringat wanita hamil itu.
"Berjuang lah sayang..." ucap Mami menyemangati.
Akira di kelilingi dokter, beberapa perawat dan seorang bidan.
"Nona... saat hitungan ketiga, Nona bersiap untuk mengejan sekuat mungkin..." ucap Dokter wanita memberi aba-aba.
"1.. 2.. 3, ayo Nona..." ucap Dokter itu.
__ADS_1
Dengan sekuat tenaganya, Akira mengejan.
"Bagus... ambil nafas banyak-banyak dan dengarkan aba-aba saya..." perintah Dokter. Karena tidak semua orang berhasil melahirkan dalam sekali aba-aba bukan?
Bukan hanya Akira, Arjun merasa aneh. Perutnya semakin bergejolak dan kepalanya pusing.
Bahkan pria itu seperti tak bisa melihat pemandangan dan penderitaan Akira dengan jelas. Semuanya terlihat buram.
Tapi Arjun tidak mau memperlihatkan ketakutannya pada Akira. Karena istrinya tengah berjuang untuk melahirkan buah hatinya.
"Semangat sayang... semangat..." ucap Mami juga khawatir.
Terdengar lagi Dokter memberi aba-aba untuk kedua kalinya. Akira telah mempersiapkan nafasnya. Wanita itu mengejan dengan sekuat tenaga saat Dokter telah mengucapkan angka 3.
Tangannya erat menggenggam jemari Arjun mungkin saja sampai melukai tangan Arjun dengan kukunya.
Akira merasakan kesakitan yang amat besar. Jika bisa di ibaratkan, rasa sakit itu seperti semua tulang dalam tubuhnya di patahkan dengan serentak. Akira tak peduli dengan nyawanya, karena tujuannya hanya ingin melahirkan buah cintanya dengan Arjun.
Hingga di detik selanjutnya, suara tangis bayi menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan. Mendengar tangis itu, Air mata Akira lolos begitu saja. Juga dengan Mami Livia dan Arjun.
Setelah mendengar tangis bayi itu, Akira merasakan suatu kelegaan dimana ia bisa kembali bernafas dengan ringan.
"Selamat Akira..." ucap Mami. Mencium tangan menantunya yang terasa dingin dan berkeringat.
Sedangkan Arjun, pria itu langsung menjatuhkan wajahnya di pipi Akira. Menenggelamkan rasa khawatirnya di wajah Akira hingga yang terdengar hanya sebuah isak tangis penuh kebahagiaan.
"Terima kasih... Terima kasih sayang..." ucap Arjun sambil menciumi pipi sang istri.
Mendengar itu, Akira juga lega. Wanita itu juga menangis melihat kenyataan bahwa ia telah berhasil melahirkan buah cintanya dengan Arjun.
---
Di depan ruang bersalin, Papi Johan memeluk tubuh Ayah Adam tanpa ragu saat mendengar tangis seorang bayi dari dalam sana.
Kedua sahabat itu saling membagi kebahagiaan mereka hingga tak menyadari bahwa di antara mereka masih ada Galih, Ibu Arjun yang duduk di kursi roda juga beberapa pengawal.
"Hahaha... Selamat Adam, kamu telah menjadi seorang Kakek..." ucap Papi Johan.
"Kamu juga menjadi seorang Kakek Jo... kita sama-sama tua sekarang..." tambah Ayah Adam sambil menepuk bahu sahabatnya.
Bahkan Ibu Arum juga menyeka air mata yang tiba-tiba menetes. Ada kebahagiaan dalam diri beliau. Bahagia karena Akira telah melahirkan cucunya dengan selamat. Tapi juga ada kesedihan, karena beliau tidak bisa menemani Akira dalam protes persalinan nya.
Selamat Jun...batin Galih ikut senang melihat Arjun yang telah memiliki anak.
Juga dengan senyum para pengawal Papi Johan yang juga bahagia dengan kelahiran calon pewaris Pradipta Group di masa mendatang.
Selamat Tuan besar... selamat Tuan Muda... Selamat Nona Akira...
Kira-kira, anaknya Arjun cowok atau cewek ya? batin Galih.
***
__ADS_1
Yee... launching juga Arjun junior...