Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
81. Gagal.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Sebuah mobil terparkir di tepi jalan yang begitu sepi. Kaca mobil itu juga berwarna hitam hingga tak mampu terlihat aktifitas apa di dalam sana.


Bunyi decapan membaur bersama suara mesin mobil yang masih menyala.


Menjadi satu-satunya suara yang mengiringi pasangan suami istri melepaskan kerinduan mereka. Tangan Akira bergelayut manja di leher Arjun sambil menikmati sentuhan demi sentuhan yang di berikan pria di atasnya.


Bahkan bangku mobil yang sesak oleh tubuh mereka berdua, tak memberi pengaruh apapun.


"Aku rasa, aku tidak bisa menahan diri lagi..." ucap Arjun di sela-sela aktifitasnya.


"Kita lanjutkan di rumah," jawab Akira dengan kedua tangan masih bergelayut manja di pundak Arjun.


"Serius?" tentu saja Arjun meyakinkan atas ucapan istrinya barusan. Apalagi ini adalah pertama kalinya kata itu terucap dari bibir Akira selama mereka menikah.


Senang? tentu saja Arjun senang mendengar hal itu.


Akira mengangguk dengan dengan wajah memerah. Hawa panas seketika menerpa wajah gadis itu, apalagi melihat cara Arjun menatapnya dengan binar mata penuh tanda tanya.


"Jangan menatapku seperti itu..." protes Akira sambil menyembunyikan wajahnya asal tidak menatap Arjun.


Entah kenapa Akira dengan bodohnya berucap demikian.


"Aku menyayangimu..." bisik Arjun di telinga Akira dan selanjutnya mengubah posisi duduknya bersebelahan.


Arjun membenahi dasi yang mengendur, sedangkan Akira juga membenahi atasan yang entah sejak kapan dua kancingnya telah terbuka.


Ini benar-benar gila? bagaimana kalau ada orang lihat tadi?


Akira tak percaya kalau efek berduaan dengan Arjun sungguh di luar nalar. Bahkan tubuhnya saja merespon dengan sangat hebat.


"Kenapa membelikan ku ini?" tanya Akira. Entah kenapa Arjun selalu membelikan barang yang menurut Akira terlalu mahal.


"Kenapa? karena kamu istriku..." jawab Arjun yakin.


Tidak ada ruginya Arjun membelikan sesuatu untuk istrinya walaupun terbilang mahal.


Arjun juga tidak memperdulikan harganya yang penting dia suka.


"Terima kasih," jawab Akira. Hanya itu yang bisa ia katakan kepada Arjun. Sungguh Akira tak bisa membalas sedikitpun apa yang telah Arjun dan Keluarga Pradipta berikan kepadanya.


"Kenapa berterima kasih, sudah sepantasnya kamu menerima semua ini...".


***


Tiba di rumah Pradipta, Akira maupun Arjun langsung masuk ke dalam kamar.


Setelah pelayan meletakkan koper dan Arjun langsung menutup pintu kamarnya. Ia juga berpesan pada pelayan untuk tidak usah memberitahunya kalau makan malam telah siap.


Arjun benar-benar tidak mau ada yang mengganggu kegiatannya dengan Akira sore ini.


Arjun mulai mendekati Akira, bersiap untuk mencium kembali istrinya tapi segera di cegah, "Aku ingin mandi dulu..." ucap Akira. Semua perempuan juga pasti akan membutuhkan waktu dan persiapan sebelum melakukan hal begituan.


Setidaknya Akira ingin menyiapkan dirinya.


"Barengan..." pinta Arjun.


"Kapan-kapan saja... lagian aku akan sedikit lebih lama di dalam kamar mandi," ucap Akira menjelaskan sambil menyentuh pipi suaminya.


Tapi saat telapak tangan itu menempel ke pipi Arjun, Akira sadar bahwa ada yang tidak beres terjadi pada suaminya. Akira merasakan kalau suhu tubuh Arjun sedikit panas dari suhu tubuh pada umumnya.

__ADS_1


"Kamu demam?" tanya Akira khawatir.


"Tidak," di raihnya tangan Akira dari pipi Arjun. "Aku tidak apa-apa... hanya sedikit lelah," jawab pria itu jujur.


Kerena ingin segera pulang, Arjun benar-benar tidak mampu tidur dengan nyenyak.


"Kamu yakin?" tanya Akira. Setidaknya merek abisan menunda nya setelah Arjun sudah sehat. Apalagi Akira juga belum siap untuk menyerahkan dirinya pada Arjun.


"Yakin," jawab Arjun dengan senyum yang selalu nampak dari wajahnya selama ini.


"Baiklah, aku akan mandi dulu..." ucap Akira dan segera meninggalkan Arjun.


Di dalam kamar mandi, Akira mulai berendam dengan air hangat yang telah di tambah dengan sedikit aroma terapi.


Apa aku siap untuk melakukannya? Aku akan menyerahkan diriku sepenuhnya pada Arjun...


Apa yang aku lakukan adalah benar?


Masih ada keraguan dalam hati Akira. Pernikahannya dengan Arjun di mulai dari keterpaksaan. Di awal, mereka sama-sama tidak saling mencintai.


Tapi siapa sangka setelah 6 bulan bersama, Arjun maupun Akira mulai tertarik satu sama lain. Mereka menyadari kalau kehadirannya benar-benar di butuhkan. Akira maupun Arjun mulai terbiasa hidup bersama.


Walaupun perasaan yang mereka rasakan masih samar, tapi di dalam hati Akira ataupun Arjun mereka ingin melengkapi satu sama lain.


Bagaimana nanti? aku masih kuliah... selama itu pula aku belum ingin memiliki seorang anak... apa Arjun akan mengerti? Apa ia mau kalau kita menunda nya lebih dulu? setidaknya biar aku lulus...


Akira masih sibuk di dalam bathtub. Membayangkan malam pertama yang sudah sangat tertunda benar-benar membuatnya gugup. Apa yang akan di lakukan nya nanti? bagaimana Akira bersikap? sungguh hal itu semakin membuatnya khawatir.


Apalagi Arjun adalah pria yang sudah punya pengalaman tentang hubungan intim. Itulah yang membuat Akira minder. Ia takut akan berbuat yang dapat mengecewakan Arjun, membuat pria itu menyesal telah melakukannya dengan Akira.


"Agghh... aku benar-benar bisa gila..." teriak Akira frustasi.


Untung saja Akira tadi membawa ponselnya masuk ke dalam kamar mandi. Jadi yang di lakukan nya adalah mencari artikel tentang masalah tersebut di mesin pencarian.


"Agghhh... percuma," Akira melempar ponselnya. Sekarang ia bertindak sesuai feeling.


Segera Akira mengambil benda untuk membersihkan bulu yang tumbuh di kakinya agar terasa halus.


Mungkin inilah mandi terlama yang pernah Akira lakukan. Setelah semuanya selesai, Akira keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi. Berjalan melewati ranjang menuju ke ruang ganti pakaian.


Sesaat ia melihat Arjun yang selonjor miring dengan ponsel menyala di depannya.


"Apa tang dia tonton?" gumam Akira dan segera masuk ke dalam ruang ganti pakaian.


Di dalam sana, kebimbangan kembali merasuki kepalanya. Bukan tanpa sebab Akira demikian, sekarang yang membuatnya bingung adalah pakaian apa yang akan Akira kenakan di malam ini.


Di lemarinya memang sudah berjejer rapi pakaian tidur dengan bahan yang sangat transparan. Jangan tanya siapa yang memilih itu karena saat Akira menginjakkan kakinya pertama kali di rumah ini, pakaian tersebut telah terpajang dengan deretan pakaian lain.


Tidak... Arjun bisa salah paham nanti... bagaimanapun Aku tak mau terlihat yang paling ingin di tiduri...


Semua wanita pasti akan berpikiran sama seperti Akira.


Akhirnya setelah menimang-nimang pilihan beberapa saat, Akira memutuskan untuk mengenakan piyama dengan celana pendek di atas lutut.


Tidak terlihat terbuka memang, tapi sudah mampu membuat lawan jenisnya tertarik karena bahu Akira benar-benar terekspos oleh seuntai pita piyama yang berbentuk sampul.


Tidak hanya itu saja, Akira juga menyemprotkan parfum dengan aroma kesukaan Arjun. Ya.. parfum dengan aroma Persik.


Arjun bukan hanya sekali bilang kalau bau parfum Akira sangat wangi.


Sambil mengoles tangannya dengan body lotion, Akira berjalan menuju ke ranjang mendekati Arjun yang posisinya masih sama seperti tadi.


Hanya mendekati Arjun, sudah membuat jantung Akira berdetak tak karuan.

__ADS_1


Aghh... aku gugup...


Akira menghela nafasnya kasar, "Arjun..." panggil Akira.


Akira berusaha mengingatkan kalau pria itu harus mandi dan membersihkan diri dulu sebelum menghabiskan malam dengannya.


Karena tak mendengar jawaban dari Arjun, Akira semakin mendekati pria itu. Perlahan membalik tubuh Arjun menjadi telentang, "Ar-" Akira tak meneruskan kalimat nya karena pria di depannya sedang tertidur dengan ponsel yang menyala di depannya.


Dia tidur... eh, tapi kenapa banyak peluh di keningnya...


Akira tau ada yang tidak beres kepada Arjun, tanpa ragu Akira menyentuh kening pria itu dengan punggung tangannya. Seketika matanya membulat saat mengetahui kalau suhu tubuh suaminya lebih panas daripada tadi. Dia demam...


Akira langsung terperanjat, segera masuk ke dalam ruang ganti pakaian dan menyambar jaket. Akira tidak bisa turun ke lantai dasar dengan piyama seperti itu. Sambil mengenakan jaketnya, Akira melangkah keluar. Sedikit berlari menuruni anak tangga.


"Nona Akira..." panggil Pelayanan yang tak sengaja berada di ujung anak tangga.


"Dimana kotak obat?" tanya Akira dengan khawatir.


"Siapa yang sakit?"


"Arjun, ... eh, suamiku demam..." ralat Akira.


Pelayanan itu segera ikut berlari menuju ke ruang penyimpanan obat. Juga memberitahu pelayan lain dan juga Mami Livia.


Sedangkan Akira kembali berlari menuju ke kamar setelah mendapatkan obat penurun panas untuk Arjun.


"Arjun... minum obatnya," Akira berusaha membangunkan suaminya. Di belakangnya sudah ada pelayan yang membawa segelas aur dan juga baskom untuk mengkompres Arjun nanti.


Dengan telaten, Akira membantu Arjun meminum obat.


"Istirahatlah..." pinta Akira kembali meletakkan kepala Arjun di bantal agar nyaman.


"Tapi-" protes Arjun. Tentu saja bukan ini yang mereka rencanakan tadi.


"Istirahatlah dulu..." jawab Akira.


"Maaf," hanya itu kata yang mampu terlontar dari mulut Arjun. Entah apa maksudnya tapi Akira hanya tersenyum.


"Keluarlah, Aku bisa mengganti pakaiannya sendiri..." pinta Akira kepada Pelayan.


"Baik Nona," jawab pelayan itu dan segera undur diri.


Akira hanya tidak mau pelayan ikut melihat tubuh Arjun yang tentu saja bertelanj*ng d*da karena sedang di ganti kemejanya akibat badah oleh peluh.


Ini adalah kedua kalinya aku merawat mu... dulu kamu juga datang tengah malam dengan keadaan demam seperti sekarang... Bedanya dulu aku merawat mu karena kasihan, sedangkan sekarang... Aku rasa inilah kewajiban ku sebagai seorang istri...


"Cepatlah sembuh sayang..." gumam Akira pelan.


"Akira, bagaimana keadaan Arjun?" tanya Mami Livia yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu lebih dulu.


"Eh, Mami... anu... Arjun sudah meminum obat penurun panas," jawab Akira.


Tapi pandangan Mami Livia malah teralih pada baskom yang terisi air.


"Maafkan Arjun yang telah merepotkan mu sayang," sesal Mami Livia.


Tentu saja Akira langsung menggelengkan kepala, "Tidak Mi... kenapa meminta maaf? ini semua sudah kewajiban Akira merawat Arjun yang sakit...".


Pernikahan bukan hanya tentang saat kita merasa bahagia dan senang bukan? kita juga harus menerima saat sedang sakit seperti sekarang.


***


Aduh... Arjun malah sakit saat ada kesempatan di depan mata... duh, jadi gagal kan? haahaha...

__ADS_1


__ADS_2