Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
173. Klub Malam.


__ADS_3

HAPPY READING..


***


Arjun dan Galih sudah berada di jalanan. Mereka akan mampir ke Universitas menemui Tiara sebelum pulang. Sesuai dengan pesan Akira tadi pagi kepada Arjun.


Selama perjalanan, Arjun sibuk memainkan ponselnya. Sedangkan Galih terlihat khawatir.


Tentu saja ia khawatir karena saat ini dirinya harus menemui Tiara di tempat kuliah gadis itu.


Hingga perjalanan mereka terasa begitu singkat. Mobil hitam itu akhirnya berhenti tepat di depan gerbang Universitas.


Di samping gerbang sudah terlihat Tiara yang memakai kemeja pendek dan celana jeans tengah berdiri menunggu kedatangan mereka.


"Biar gue yang turun..." pinta Galih. Tanpa memperdulikan Arjun menyetujuinya atau tidak.


Bahkan pria itu langsung berlari mendekati Tiara.


"Mana titipan Akira?" tanya Galih menyodorkan tangannya meminta barang yang Akira titipkan.


"Nih..." Tiara mengeluarkan beberapa buku dari tasnya.


Galih menerima buku itu tanpa berpenasaran sedikitpun. Karena dari sampulnya saja terlihat jelas kalau buku itu adalah novel. Dan Galih memang tidak tertarik dengan bacaan romantis seperti itu.


Karena kisah cinta romantis hanya ada di sebuah novel saja, tidak di dunia nyata.


"Lo masih ingat dengan ucapan gue tadi kan? kalau lo masih ingin menerima gaji, tutup mulut lo rapat-rapat! paham?".


"Iya-iya.." jawab Tiara ketus.


Akhirnya Galih meninggalkan Tiara dengan membawa 2 buku baru menuju ke mobil.


"Nih..." menyerahkannya pada Arjun lewat jendela dan segera masuk kembali ke dalam mobil.


Arjun melambaikan tangannya pada Tiara bersamaan dengan mobil yang di kemudikan Galih mulai berjalan kembali.


Sedangkan Galih mampu melihat itu hanya dengan ekor matanya.


***


Tiba di Apartemen setelah mengantarkan Arjun, Galih langsung merebahkan dirinya di ranjang. Masih dengan mengenakan jas dan sepatunya.


Seperti nya gue butuh hiburan... batin Galih. Bukan hanya tubuhnya, otaknya juga butuh hiburan untuk sesaat.


Dan setelah mandi dan membersihkan diri, Galih memutuskan untuk datang ke Klub Malam yang biasa ia datangi. Tapi kali ini sendirian, karena Dion tidak berada di kota ini sedangkan Arjun, pria itu pasti sibuk dengan istrinya.


Ya... seperti itulah kehidupan pria setelah menjalani pernikahan. Tak lagi bisa sesering mungkin bertemu dengan teman-temannya.


Dengan mengendarai mobil berwarna hitam, Galih menuju ke Klub malam. Baru saja hendak turun, Tiba-tiba ponsel miliknya bergetar. Menandakan ada sebuah pesan singkat yang masuk.


Galih yang masih bersandar pada mobil segera melihat siapa pengirim pesan tersebut.


Bocah Tengil? , batinnya sedikit terkejut.


Bocah Tengil adalah nama kontak dari Tiara di ponsel Galih. Kenapa menamainya seperti itu?karena hanya itulah yang pantas menggambarkan sosok Tiara yang selalu mencari perhatian pada ibu dan juga ayahnya.


Sedikit kekanakan memang, tapi tetap saja Galih cemburu dengan kedekatan mereka.

__ADS_1


Itulah sebabnya ia menamai nomor Tiara dengan kata Bocah Tengil.


Bocah Tengil : [Gue pulang terlambat... ada temen gue yang ulangtahun... jadi kami akan berpesta kecil...]


Begitu pesan Tiara. Sedangkan tanggapan Galih benar-benar berbeda. Ngapain lapor gue? memang gue peduli? batinnya. Apapun yang di lakukan Tiara, Galih tidak peduli.


Dan akhirnya Galih masuk tanpa membalas pesan Tiara sama sekali. Padahal tanpa Galih sadari, Tiara sedang menunggu pesan balasan dari pria itu.


Galih di sambut dengan suara musik keras memekakkan telinga. Lampu kelap-kelip dan bau minuman keras langsung menguar menusuk hidung siapa saja.


Beda seperti biasanya, Galih malah berjalan ke arah Bar yang berada di lantai dasar tempat itu. Padahal biasanya ia akan langsung naik menuju ke ruangan VIP yang ada di lantai dua.


Tapi sendirian mungkin jadi satu-satunya alasan yang membuat Galih seperti ini.


"Tumben..." ucap bartender perempuan di sana.


Menyapa Galih yang terlihat tidak seperti biasanya.


"Gue males jalan ke atas..." jawab Galih dan langsung menyalakan sebatang rokok untuk menikmati suasana malam ini.


"Kemana sahabat lo? gue tidak pernah melihatnya...".


"Sibuk..." jawab singkat Galih. Menandakan kalau ia tak lagi mau membahas hal itu. Dan Bartender itupun mengerti.


"Lo pesan apa?".


"Wine..." jawab Galih.


Dan setelah menyebutkan pesanannya, Bartender perempuan itu langsung mengambil sebotol Wine lengkap dengan gelas.


Galih memilih Wine karena ia tak berkeinginan untuk mabuk. Ya setidaknya untuk membuat dirinya merasa rileks atas pekerjaan berat yang ia tanggung beberapa bulan terakhir.


Galih menuang minuman itu pada gelas kaca. Menenggaknya sambil mengamati pemandangan di depan sana.


"Apa Si Bidadari Malam tak lagi datang kesini?" tanya Galih pada Bartender yang sedang bekerja.


Si Bidadari malam? sepertinya julukan itu tidak asing di telinga gue... batin Bartender.


"Alea..." tambah Galih.


Membuat Bartender itu langsung ingat.


"Oh Lea... tidak, sudah beberapa bulan terakhir dia tidak kesini... mungkin sudah kembali ke Amerika..." jawab bartender itu berspekulasi.


Galih hanya mengangguk. Oh... jadi dia tidak lagi datang kesini...


Karena Galih mampu mengenali Alya dari sini.


"Kenapa lo ingin mencobanya?" goda Bartender pada Galih. Karena tipe Alea memang cowok-cowok berdompet tebal seperti Galih dan teman-temannya.


"Ogah!" cerca Galih.


Membuat keduanya tersenyum dengan pemikirannya masing-masing.


Hingga Galih menuang kembali minumannya saat seorang wanita muda mendekati meja itu.


"Vodka 2 dengan 6 gelas ya... di meja sana..." tunjuk wanita itu pada meja yang berada cukup jauh dari tempat duduk Galih.

__ADS_1


Gila... masih muda sudah mau mabuk... batin Galih mendengar pesanan tamu itu.


"Siap..." jawab Bartender itu.


Di saat Bartender sedang menyiapkan pesanan, tatapan mata Galih terus mengamati kepergian wanita muda itu hingga sampai di tempatnya berkumpul dengan teman-teman sebayanya.


Galih menajamkan pandangannya saat tak sengaja melihat salah satu dari wanita di sana.


Postur tubuhnya tak asing bagi Galih. Membuat matanya membulat sempurna.


Dia? bukankah dia Tiara?


Walaupun dengan lampu yang memusingkan penglihatan karena kerlipnya, Galih yakin kalau gadis itu adalah Tiara. Ngapain dia disini?


Itulah satu-satunya pertanyaan yang ada dalam kepala Galih.


Terkejut dan juga tak percaya kalau Tiara bisa datang ke tempat seperti ini.


Padahal ia adalah gadis yang masih menimba ilmu di perguruan tinggi.


Tentu tau dengan tempat seperti apa yang ia datangi saat ini.


Atau memang seperti ini lingkup pertemanan Tiara?


Galih sedikit khawatir karena Tiara sangat akrab dengan Bella.


Bisa saja kan Tiara mengajak Bella datang kesini?


Galih akan merasa marah jika hal itu terjadi.


Setidaknya Bella tidak boleh datang ke tempat seperti ini.


Tanpa sadar, Galih sedikit mendekati meja dimana Tiara dan teman-temannya duduk.


Pria itu duduk di meja lain yang tak begitu jauh dari meja Tiara. Juga dengan memilih tempat duduk yang memunggungi gadis itu. Biar Tiara tidak sampai melihat keberadaannya.


"Kenapa disini?" tanya Tiara yang masih di dengar oleh Galih.


"Maaf ya Tiara... gue tidak memberitahu lo tentang tempat kita berpesta..." ucap Teman Tiara menjelaskan.


Karena mereka tau, Tiara mungkin saja menolak kalau tau dimana tempat mereka akan mengadakan pesta ulang tahun malam ini.


"Tapi karena lo sudah sampai disini... setidaknya nikmati suasananya... walaupun agak berisik sih... heheh..." jawab satu temannya lagi.


Ck... mereka benar-benar Gadis nakal! umpat Galih.


Setidaknya ia tau alasan Tiara bisa datang ke tempat ini karena di paksa oleh temannya.


"Gue tidak bisa mendengar perkataan Lo... musiknya terlalu keras..." adu Tiara dengan keadaan yang terjadi saat ini.


"Gapapa... Lo akan terbiasa nanti..." jawab teman Tiara.


"Woy... disini..." teriak teman Tiara memanggil beberapa pria tang juga bari tiba di tempat itu.


Otomatis membuat Galih juga ikut menatap pria yang di panggil temannya Tiara.


Galih yakin kalau 3 pria itu juga akan ikut bergabung dengan pesta di meja belakang Galih.

__ADS_1


***


__ADS_2