
HAPPY READING...
***
Dion tak lagi mampu mengontrol emosinya. Dengan sepotong kayu bekas patahan kursi, pria itu berjalan mendekati pria yang dulu pernah ia percaya. pernah Dion hormati dalam hal apapun, Papa.
Ya... tapi itu dulu. Saat kesabarannya masih di ambang batas.
Tapi sekarang... setelah Papa nya dengan tega mendorong kursi Gadis hingga membuatnya terjatuh, Dion tak lagi peduli.
Darah di balas dengan darah. Luka di bayar dengan luka dan kekecewaan di balas pula dengan hal sama.
Karena tidak ada hal yang bisa membuat Papa berubah cara berpikirnya. Dalam kepala pria itu, hanya di penuhi dengan ambisi dan juga ketamakan akan kemewahan dunia.
Dan mungkin, satu hal yang bisa membuatnya berubah. Karma.
Saat semua yang bisa ia andalkan meninggalkan beliau, saat beliau sendirian dan tak mampu lagi menegakkan kepalanya lagi, Dion yakin Papanya akan menyesal.
Meratapi segala sesuatu yang pernah beliau perbuat semasa hidupnya.
"Lihatlah! lihatlah anak yang selalu kamu banggakan... lihatlah," ucap Papa dengan nada bergetar dan menunjuk ke arah Dion.
Langkah kakinya semakin mundur, memberi jarak dari Dion.
Ya.. Dion adalah anak kesayangan Mama. Apapun yang dilakukan Dion, Mama selalu jadi pertama yang berdiri mendukungnya.
Membela Dion di depan suaminya.
"Pengawal, beri anak durhaka itu pelajaran!" teriak Papa. Membuat beberapa pengawal langsung bergerak maju.
Tanpa takut ataupun gentar, Dion segera mengayunkan kayunya. Memukul satu persatu lawan di depan yang menghadangi tekadnya.
Saat ia memukul lawan, Dion berusaha untuk mengingat apa yang telah terjadi pada Gadis.
Disana hanya terdengar tangis Mama yang menggema serta memilukan. Bukan ini yang beliau inginkan.
Apapun yang terjadi, Dion tidak boleh melawan Papanya.
"Dion jangan..." teriak Mama. Berharap semuanya berhenti saat ini juga. Berharap smuanya bisa di bicarakan dengan kepala dingin.
Tak butuh waktu lama, 6 anak buah Papa tumbang oleh kemapuan bela diri Dion.
"Mungkin anda lupa, sejauh apapun Dion pergi... tak membuat kemampuan berkelahi Dion memudar..." ucap Dion dengan jumawa. Sejak dulu, Dion memang punya kemampuan bela diri yang cukup hebat.
Dengan pakaian yang acak-acakan juga dasi yang mengedor dari lehernya, Dion kembali maju. Mendekati Papa tanpa peduli tatapan semua orang.
"Gadis," panggil Dion sejenak.
Apa? begitu ekspresi Gadis saat ini. Memamg apa yang bisa ia lakukan sekarang?
__ADS_1
Membalas semua perlakuan yang ia terima sejak tadi?
Ck... yang benar saja Dion...
"Cukup Dion!" perintah Rega. Seperti itulah anak sulung dari keluarga ini.
Selalu berdiri paling depan demi melindungi orang tuanya terkhusus Papa.
Bahkan jika perlu Rega menerima dengan sepenuh hati kalau Dion hendak menghajarnya juga.
"Cukup Yon... cukup..." ucap Rega dengan nada merendah.
Karena Dion pernah menjadi adik kebanggaannya sebelum hubungan mereka serumit sekarang. Dimana Dion yang pemberani dan telak gentar menghadapi apapun.
"Ingat, dia Papa kita...".
"Kita?" tanya Dion mengulang ucapan Rega. Memastikan kalau bukan itu yang Rega ingin katakan.
"Dia hanya Papa lo, dia hanya Papa buat Lo..." ralatnya.
Karena semua yang terjadi, Rega selalu menjadi kebanggan sang Papa bukan Dion.
"Karena jiwa pengecut nya hanya menurun di Lo..." ucap Dion sambil menunjuk dada Rega. Membuat Rega sedikit terhuyung ke belakang beberapa langkah.
Rega terlihat marah dengan ucapan Dion yang terdengar melecehkannya. Egonya terluka dengan celotwh Dion yang pada kenyataannya memang kah benar.
"Apa yang lo lakuin saat seorang perempuan di tendang dari kursi? ha? diam?... hanya diam?".
Dion tersenyum getir, melihat semua orang hanya melihat tingkah Papa kepada Gadis barusan.
Membuat Dion kecewa. karena hanya Mama yang melihatnya iba tapi tak mampu berbuat apa-apa.
"Lo hanya diam dan tak berbuat apa-apa... padahal sudah jelas sekali salahnya dimana... tapi dengan pengecutnya lo hanya diam, menyaksikan semuanya..." tambah Dion.
Seketika tatapan marah Rega berubah. Binar mata itu meredup seperti tengah kehilangan cahayanya.
"Apa gue salah? padahal sejak awal sudah jelas... gue yang diincar, bukan dia..." tunjuk Dion pada sosok Gadis yang berdiri tak jauh di belakangnya.
Gadis tak berbuat apapun...
"Dengan liciknya kalian memaksa dia berada disini untuk mengancam ku..." tambah Dion, semakin menyudutkan perbuatan Rega ataupun memang rencana Papa yang membuat semua itu terlaksana.
Mama semakin terisak. Beliau merasa sama buruknya dengan semua orang. Hanya diam dan menyaksikan ketidakadilan terjadi pada wanita muda di depan sana.
"Apa kalian tau, alasan dia bisa sampai di kota ini? apa kalian tidak bertanya kepadanya?" tanya Dion.
"Dia...", tunjuk nya pada sosok Gadis. Tenggorokan Dion tercekat, sesak dan menyedihkan.
"Dia hanya ingin sedikit merendahkan harga dirinya di depan kalian...! berlutut untuk meminta restu kepada Mama dan juga pria tua yang naif itu untuk merestui hubungan kami... hanya itu,".
__ADS_1
Mata Dion memerah. Ia merasa tak pecus menepati janjinya pada Bapak untuk menjaga putrinya. Dion merasa gagal untuk melindungi Gadis.
"Tapi apa yang dia dapat..? kalian memaksanya datang ke rumah ini. Mengikatnya seperti seorang tahanan, dan memperlakukannya dengan sangat tidak adil, br*ngsek!" teriak Dion murka.
Juga dengan Gadis yang terkejut dengan apa yang dikatakan Dion barusan. matanya semakin menggenang melihat bagaimana Dion begitu memperdulikan nya. bahkan menyakiti dirinya sendiri ketika Gadis terluka. sebegitu dalamnya perasaan yang Dion berikan pada Gadis.
Sedangkan Mama yang mendengarnya seketika terduduk di lantai. Tubuhnya lemas mendengar semua penuturan yang terucap dari mulut Dion. "Hiks... maafkan Mama, Dion...".
Gadis berlari menghampiri wanita itu. "Anda tidak salah tante..." ucapnya sambil berusaha membantu Mama untuk bangkit kembali.
"Tadinya kami ingin datang ke rumah ini esok hari. tapi setelah apa yang kami dapat saat ini... sepertinya rencana kami adalah sebuah kesalahan... buktinya, calon menantu keluarga ini di perlakukan secara tidak terhormat..." ucap Dion telak. Membungkam seluruh mulut anggota keluarga dan semua orang yang berada di sini.
Mama semakin bersalah. Yang tadinya sudah bangkit kembali karena bantuan Gadis, Tiba-tiba matanya kian buram. dan bersamaan dengan itu, Mama merosot kembali dan pingsan. "Tanteee..." teriak Gadis panit begitu juga dengan Dion yang berlari menghampiri Mama.
"Mama..." panggil Dion lembut sambil menepuk pelan pipi Mama.
Tanpa pikir panjang, Dion langsung menggendong Mamanya. Membawanya naik menuju ke kamar beliau diikuti oleh Gadis dan Rega. Sedangkan Papa, pria itu tak bereaksi sama sekali. Masih berdiri mematung melihat kepergian Dion ke lantai atas.
Di dalam kamar, Dion membaringkan Mama di ranjang dengan pelan dan hati-hati.
"Mama..." panggil Dion lembut masih sama seperti yang terdengar sejak dulu.
Seperti itulah Dion, ia bisa terlihat kasar di luaran sana tapi ketika berhadapan dengan Ibunya, Dion begitu lembut. Bahkan tak pernah sekalipun meninggikan suaranya.
"Apa ada minyak angin?" tanya Gadis bersuara.
"Coba lihat di meja rias..." jawab Dion tapi masih tak lepas mengamati Mamanya yang terpejam.
Hingga beberapa saat Gadis mendekat dengan membawa botol minyak angin. Duduk di tepi ranjang sambil mengoleskan minyak tersebut pada kening Mama.
"Mama... bangun Ma..." ucap Dion sambil membelai punggung tangan Mama yang mulai keriput. Terakhir kali menggenggam tangan itu, tangan Mama terlihat berisi. Tapi sekarang, tangan itu begitu kurus dan mungkin hanya tersisa tulang yang dilapisi oleh kulit beliau.
Mama? apa Mama begitu merindukan Dion hingga sampai kurus begini?
Mata Dion memanas. Menahan tangis yang akan pecah sebentar lagi.
Betapa Dion juga merasakan hal yang sama selama ini. Ia juga merindukan Mamanya, tapi tak bisa berbuat apapun.
Gadis yang paham tentang situasi yang terjadi, menyentuh bahu Dion. Tak apa kalaupun menangis. karena Dion juga manusia pada umumnya dimana mempunyai hati dan perasaan.
Mendapat dukungan dari Gadis, Dion merasa lemah. Tangannya menggenggam tangan Mama dan menumpahkan kesedihannya.
"Maafkan Dion Mama... maafkan Dion..." isaknya mulai terdengar. Juga dengan Gadis yang ikut sedih mendengar isak pilu Dion.
Ikut merasakan bagaimana rasa rindu yang ditahan selama ini.
***
Gak banyak basa-basi, cuma mo bilang Lov kalian banyak-banyak... makasih dukungannya, sungguh komen dan Like kalian sangat membuat Mood Authornya selalu senang... tengkyu gais...
__ADS_1