Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
217. Alya VS Tiara.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Tidak selamanya kita menjadi hal yang berharga dalam hidup seseorang. tak lagi berarti dan keberadaan kita tak lagi dicari.


Pernah diistimewakan, tapi kemudian... tak lagi jadi prioritas. diberi sayap untuk terbang dan kemudian dipatahkan.


Kita diibaratkan sebagai payung. kita sadar bahwa payung hanya akan di genggam erat ketika hujan dan dilepas, di tinggalkan saat matahari kembali bersinar..


---


Galih pamit kepada Tiara sesaat setelah sebuah pesan singkat masuk dalam ponselnya.


Mengenakan hoodie berwarna hitam dan bergegas meninggalkan unit Apartemen dimana ia tinggal.


Galih berjalan sedikit tergesa-gesa sambil menyembunyikan kedua tangannya dalam saku hoodie. menjaga suhu tubuhnya tetap hangat karena beberapa saat yang lalu telah turun hujan yang begitu lebat disertai dengan angin kencang.


Padahal tadi dia dan Tiara Tengah menikmati secangkir minuman hangat sambil bercerita. bukan... lebih tepatnya Galih mendengarkan celoteh Tiara yang membicarakan aktifitasnya beberapa hari terakhir.


Ngomong-ngomong, sudah satu minggu Tiara bekerja. Siapa sangka kalau Galih memberikan hadiah paling istimewa untuk Tiara.


Menempatkannya menjadi bagian dari Pradipta Group.


Siapa yang tak mengenal perusahaan itu? Perusahaan raksasa yang saat ini berada dalam kekuasaan Arjun sebagai Presdir.


Dan, Galih sebagai orang kepercayaannya. dan Tiara juga menjadi pegawai baru di tempat itu.


Seperti mimpi memang bisa bekerja di disana.


Karena impian Tiara hanyalah bekerja di manapun asal mendapatkan gaji untuk membiayai kehidupannya. Tapi nyatanya, di tangan Galih semuanya telihat mudah.


Tiara dan beberapa orang beruntung lainnya, bisa bekerja di sana.


Walau begitu, baik Tiara maupun Galih sangat jarang bisa bertemu dan berbincang saat bekerja di Pradipta Group. Bahkan pertemuan mereka selama seminggu ini hanya terjadi sekali saja. itupun saat Galih dan Tiara tak sengaja berpapasan di Lobby.


Sedikit sedih memang, padahal Tiara ingin berbicara ataupun menyapa Galih. Tapi ada sebuah aturan yang jelas saat Tiara menandatangi surat perjanjian kerjanya. Di tambah dengan aturan dari Galih sendiri kalau mereka tidak bisa terlihat akrab di depan karyawan lain.


Akan menjadi konsumsi publik bila Tiara sampai kepergok bicara dengan Galih dimana pria itu memiliki posisi yang amat penting di samping Presdir.


"Hai..." seseorang melambaikan tangan saat Galih telah berada di dasar gedung Apartemen. senyumnya bahkan melengkung sempurna melihat kedatangan pria yang ia tinggu beberapa saat yang lalu.


"Apa tidak melihat kalau cuaca sangat dingin?" tanya Galih sedingin cuaca malam ini.


"Aku mengenakan jaket..." pamer wanita yang tak lain adalah Alya. tersenyum manja sambil memperlihatkan jaket tebalnya. Alya sudah mengantisipasi hal tersebut. cuaca dingin adalah salah satu musuh baginya saat ini.


Alya kerap menggigil ketika angin bertiup kencang dan udara terasa turun beberapa derajat.


Untuk itulah malam ini, tubuh tingginya terbalut jaket tebal. Berdiri di samping mobil merahnya dan melepas rindu dengan Galih.


"Ada apa?" tanya Galih. Merogoh kembali saku hoodie untuk mengambil sebungkus rokok dan korek api.

__ADS_1


"Rindu... hehehe..." jawab Alya. bersamaan dengan itu asap rokok yang baru Galih hisap menguar ke udara. bercampur dengan udara dingin malam hari.


"Al-ya..." jawab Galih terdengar tertahan. menjelaskan kalau dia sedikit terganggu dengan ucapan Alya barusan.


"Aku hanya bercanda Gal..." sela Alya pada akhirnya. walaupun senyum indah yang melengkung sempurna di bibirnya kian sirna. Ya... ada sebuah kekecewaan dalam hatinya, ketika Galih seperti menolak Alya dengan halus.


Menganggap bahwa Alya bukan siapa-siapa lagi untuk Galih.


Galih ikut bersandar pada bodi mobil. menatap langit malam dengan sedikit awan putih yang menutupi taburan bintang. mungkin hutan akan kembali turun malam nanti.


"Bagaimana kesehatanmu?" tanya Galih membuka obrolan.


karena ayang ia tau, Alya masih sering mendatangi Rumah Sakit untuk mengecek kesehatannya.


"Kenapa? kamu menyesal tidak menemaniku waktu itu?" protes Alya.


Terakhir kali Alya menelepon Galih adalah untuk menemaninya pergi ke Rumah Sakit. tapi nyatanya, Galih tidak bisa tapi tak juga memberitahu Alya apa alasannya.


"Alya..." sejenak bimbang kembali merasuk dalam hatinya. Apakah tak apa jika Galih mengatakannya kepada Alya saat ini. Apa yang ia rasakan, apa yang Galih mau, dan apa yang ingin Galih lakukan saat ini.


Tapi di sisi lain, Galih takut apa yang akan ia katakan akan menyakiti hati wanita itu.


Apalagi sampai mempengaruhi kesehatannya. Galih akan merasa bersalah untuk itu.


Tapi semakin hari, Galih semakin sadar bahwa tindakannya selalu membuat seseorang tersakiti. Ya... hanya Tiara yang sakit dan sedih untuk semua tingkah Galih selama ini. betapa gadis itu selalu memaksakan senyum walaupun hatinya tengah sedih.


Dan keputusan Galih semakin bulat. Ia tak bisa menggandeng dua tangan seseorang secara bersamaan. Ia harus memilih dan pilihannya adalah Tiara.


Ucapan Tiara beberapa waktu yang lalu, yang Galih kira hanya gurauan ternyata menjadi sebuah kenyataan. Dan benar... Galih tak lagi memiliki perasaan apapun terhadap wanita di sampingnya itu. Wanita yang pernah ia prioritaskan, wanita yang menjadi poros kehidupan Galih di masa lalu. Saat ini... tak lagi menjadi siapa-siapa. Bahkan tak berpengaruh ada tidaknya Alya dalam hidup Galih.


"Berhentilah Ya..." ucap Galih dan senejak melihat ke arah Alya dengan binar mata penuh permohonan. "Berhentilah untuk menggapai tanganku lagi...".


Galih menghela nafasnya dengan berat, sedangkan Alya yang kebingungan masih mentap Galih penuh tanda tanya apa yang akan terlontar dari mulut pria itu setelah ini.


"Kenapa?" tanya Alya begitu lirih.


Galih memejamkam mata. menguatkan diri untuk mengatakan apa yang ada dalam hatinya. mungkin sedikit menyakitkan untuk Alya, tapi lambat laun Alya akan menerimanya.


"Karena sesungguhnya... ada tangan yang selalu menunggu untuk ku gapai," kembali mentapa Alya demi melihat bagaimana reaksinya. "Tapi aku harus menahannya karena mu... karena menjaga perasaanmu...".


Ada Tiara yang selalu setia di sampingku... mungkin Tiara tak segigih dirimu, karena dia hanya diam dan menunggu waktu. tak sekuat dirimu, karena dia selalu menangis di belakangku... tapi, dia pantas untuk ku perjuangkan.. batin Galih.


"Akkhh...", tak tau harus tertawa atau menangis gara-gara ucapan Galih barusan. tapi sebagai seorang wanita, Alya merasa hancur. seperti ada bagian dalam dirinya yang hancur berkeping-keping mendengar penuturan Galih.


"Apa sebegitu benci kamu terhadapku,Galih?" tanya Alya. bahkan sampai tak menyadari kalau ada sebutir air mata yang jatuh melewati pipinya.


Galih masih dengan rokoknya. bahkan hisapannya kali ini terlihat dalam dan kepulan asap putih jauh menguar ke udara.


"Tidak... aku tak pernah membencimu Ya... tidak pernah. Bahkan sampai hari ini, aku tak pernah sekalipun menaruh dendam kepadamu...".


"Lalu? kenapa-?".

__ADS_1


"Karena tidak semua luka bisa disembuhkan dengan kata maaf...".


Ucapan seseorang membuat Galih dan Alya terkejut. mereka sama-sama mengalihkan pandangannya ke sosok yang berjalan dengan santai menuju arah mereka.


Terkejut? tentu saja. karena yang datang adalah Tiara.


Tiara telah sampai di hadapan Galih dan Alya. terlihat jelas senyum di bibirnya seolah menyambut kedatangan Alya yang sangat ia tunggu.


Tiara ingin sekali saja berhadapan dengan wanita itu. seperti sekarang, di tempat yang sama dan menghirup oksigen yang sama pula.


"Tidak semua kekecewaan bisa hilang hanya karena penyesalan... kamu bisa saja meminta maaf, kamu juga bisa menyesal karena telah begitu jahat... tapi, rasa sakit tidak pernah hilang dengan mudah..." tambahnya sambil melirik Galih.


"Maksudnya?" tanya Alya. ucapan gadis di depannya itu sungguh menyentil hatinya. karena ucapan itu seperti sebuah sindiran atas apa yang pernah Alya lakukan.


Ya... menyakiti dan menyia-nyiakan Galih di masa lalu. bahkan dengan jahatnya, Alya meninggalkan Galih hanya karena pria itu belum semapan sekarang.


"Gue Tiara..." Tiara menggantung tangannya di depan Alya. memperkenalkan diri tanpa diminta. dan semakin membuat Galih kebingungan.


Seperti yang Tiara duga sebelumnya kalau Alya tidak akan mau menerima jabat tangannya. hingga Tiara kembali mengepal tangannya dan menariknya dengan senyum aneh.


"Gue tau, Lo Alya kan...?".


Entah dapat keberanian dari mana hingga Tiara mengatakan hal itu. membuat Galih ketar-ketir kalau akan ada perdebatan nantinya. Biasanya memang seperti itu bukan? jika dua wanita saling bertemu, apalagi keduanya saling menatap dengan tatapan yang aneh. seperti sama-sama mengibarkan bendera perang.


Udara malam di sekitar mereka berubah aneh. cukup lama antara Galih Tiara dan Alya tidak ada yang berbicara.


"Alya, pulanglah..." hingga suara Galih menjadi satu-satunya suara yang terdengar. membuyarkan lamunan Alya maupun Tiara.


"Kamu mengusir ku gara-gara dia?" tanya Alya tertuju pada Tiara yang saat ini berdiri di samping Galih. Bahkan tak sungkan sama sekali menggenggam jemari pria itu untuk memperlihatkan pada seluruh dunia kalau Tiara memang punya tempat spesial.


"Tidak... hanya saja, tidak baik seorang wanita berkeliaran malam-malam begini," sela Tiara. bahkan membuat Galih yang tadinya sudah ingin mengucapkan sesuatu, tertelan kembali.


"Iya kan baby?" Tiara bahkan sampai bergelayut manja di lengan Galih.


Gleekk... sungguh Galih beberapa kali menelan ludahnya sendiri. merinding dengan tindakan Tiara yang amat frontal.


"Hei! aku tidak bicara denganmu!" bentak Alya sambil menunjuk ke arah lawannya.


kesal sekali karena Tiara sengaja membuat suasana menjadi tak enak.


gadis itu sengaja membuat Alya tak bisa berbicara dengan Galih lebih lama.


"Siapa lo sampai ikut campur urusan gue? ha?" tantang Alya.


Membuat Tiara tersenyum mengejek, "Lo tidak tau? yakin? apa perlu gue ceritakan semuanya? Gue... -" Tiara melihat ke arah Galih sebelum meneruskan kalimatnya. Gue tak akan diam lagi, Galih!


"Wanita yang Galih cintai...".


***


Wow... Tiara, kenapa lo berani sekali???

__ADS_1


Hebat...


__ADS_2