Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
63. Berdua.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Arjun memicingkan matanya untuk sekedar mendengar jawaban apa yang akan Akira katakan.


"Siapa?" Arjun mengulang pertanyaannya.


Memang siapa yang Akira bicarakan tadi, maksudnya tentang Arjun yang menyukai siapa.


"Itu, wanita yang tadi meminta untuk menemaniku..." jawab Akira sambil memalingkan wajahnya kesal.


Bisa-bisanya Arjun mempekerjakan wanita seksi seperti itu di kantor ini.


Arjun masih tidak paham dengan siapa yang istrinya maksud itu,


"Galih..." Arjun memutuskan untuk memanggil Galih karena hanya pria itu yang tau apa yang telah terjadi tadi selama Arjun mengikuti rapat.


Galih yang baru saja keluar setelah mendapat berkas yang di carinya, kembali masuk karena Arjun memanggilnya. Ya Tuhan... ada apa lagi sih? Protes Galih. Padahal ia sangat ingin pergi ke toilet tapi harus diurungkannya demi untuk menghadap Arjun.


"Apa? Eh..." tanyanya di ambang pintu ruangan tersembunyi di dalam sana.


Akira melepaskan pelukan tangan suaminya karena merasa sungkan dengan Galih. Sedangkan Galih yang sempat melihat terlihat cengengesan dengan pemikirannya, Yaelah... dia memanggilku hanya untuk pamer karena bisa memeluk istrinya? dasar pria gila! umpatnya kepada Arjun.


Arjun mulai menanyakan siapa wanita yang Galih suruh untuk menemani Akira tadi,


"Lo tadi nyuruh siapa untuk menemani Akira?".


"Ha?"


Sejenak Galih bingung dengan pertanyaan Bosnya, "Eh itu... Sella... Ya aku meminta Sella untuk menemani Akira..." jawab Galih.


"Oh jadi Sella..." hanya itu respon yang di berikan Arjun setelah tau siapa yang membuat Akira merajuk seperti ini.


Arjun langsung mengibaskan tangan sebagai perintah untuk Galih agar kembali meninggalkan Arjun berdua saja dengan Akira.


Ck... brengs*k sekali dia! dia memanggilku hanya untuk bertanya itu?


Kesal sekali Galih dengan kelakuan Arjun.


Padahal yang di tanyakan juga tidak terlalu penting.


"Jadi, kamu merajuk karena Sella?" tanya Arjun begitu lembut kepada istrinya.


"Pantas saja kamu selalu semangat berangkat bekerja... karena dia sangat seksi," entah itu sebuah pujian atau apa, tapi yang jelas Akira menampakkan kekesalannya pada wanita tadi.


"Hahaha..." Arjun hanya tertawa mendengar ocehan yang istri yang menurutnya sangat tak masuk akal.


Ck... dia malah tertawa... senang ya?

__ADS_1


"Kamu cemburu?" tanya Arjun.


Tentu saja Akira menatap Arjun tak suka. Siapa yang cemburu?


"Tidak," elak Akira dengan nada ketus.


Mana ada ia cemburu pada Sella yang Notabene nya adalah Sekertaris Arjun.


"Baiklah kalau tidak cemburu... terus kenapa kamu marah?" pancing Arjun lagi.


Setidaknya ia hanya ingin mendengar apa alasan Akira.


"Sudahlah... jangan di bahas lagi," tentu saja Akira tak mau membahas orang lain dimana akan membuat Arjun bersemangat nanti.


"Jawab dulu..." Arjun menarik pinggang Akira dan langsung membuat gadis itu kembali duduk, bukan di ranjang tapi duduk di pangkuan Arjun.


Tentu saja Akira terkejut dengan perlakuan Arjun yang tiba-tiba. Ia berusaha untuk melepaskan diri dari situasi yang sangat aneh tersebut.


"Arjun lepas..." pinta Akira sambil meronta melepaskan diri dari Arjun..


"Jawab dulu, kalau tidak aku tidak akan melepaskan mu..." tolak Arjun.


Apa sih? kenapa kamu memaksaku untuk mengatakannya!


"Apa disini tidak ada peraturan tentang cara berpakaian karyawan?" tanya Akira.


Setidaknya dalam Perusahaan besar seperti ini tentu saja ada peraturan seperti itu.


"Lah terus kenapa wanita itu berpakaian terlalu seksi di kantor? bahkan dandanannya terlalu berlebihan?" Akira bahkan tidak mau menyebutkan nama wanita tersebut.


"Entah, aku juga tidak tau..." jawab Arjun tanpa beban.


"Ck... pasti lo suka kan?".


"Kamu mau aku memecatnya?" tanya Arjun.


Eh, apa itu tidak berlebihan? sepertinya terlalu keterlaluan kalau langsung memecatnya tanpa memberitahu apa kesalahannya...


"Ya... setidaknya tegur dia agar berpakaian sedikit lebih sopan..." Akira menyarankan.


"Baiklah, biar nanti Galih yang mengurusnya..." jawab Arjun.


Mendengar jawaban Arjun, tentu saja Akira sedikit lega. Setidaknya di kemudian hari saat Akira kesini, dia tidak akan melihat cara berpakaian Sella yang masih seksi. Dimana akan mengganggu suaminya bekerja.


Suami? agghh... malu sekali aku mengakuinya.. tapi faktanya memang seperti itu bukan? Arjun memang suamiku...


"Ayo kita pergi..."ajak Akira. Sesuai dengan pembicaraan mereka tadi pagi, Arjun dan Akira akan pergi ke Mall untuk mencari kado untuk anak sepupunya yang batu lahir.


"Sebentar lagi..." pinta Arjun.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Akira. Padahal ia kira mereka akan pergi setelah Arjun selesai rapat tadi. Tapi nyatanya mereka masih belum pergi.


"Aku ngantuk, kamu tau kan kalau menyetir dalam keadaan mengantuk itu sangat berbahaya?" tanya Arjun dengan nada memohon.


Padahal ia hanya berpura-pura saja, nyatanya berdua dengan istrinya di dalam ruangan seperti ini tidaklah buruk.


Arjun menikmati saat-saat seperti ini.


Ck... itu alasannya saja bukan? batin Akira. Sudah sering sekali ia di kerjai Arjun seperti sekarang.


"30 menit lagi," pinta Arjun dan langsung menarik Akira agar merebahkan diri di sana.


"Aku tidak ngantuk..." protes Akira. Lagian mana bisa ia tidur di tempat seperti ini. Bagaimana kalau ada seseorang yang masuk nanti? akan sangat merepotkan bukan?


Seharusnya Direktur memberi contoh yang baik untuk karyawannya.


"Temani aku..." pinta Arjun yang tetap melingkarkan tangannya di perut Akira.


Karena sudah di minta seperti itu, Akira tak lagi menolak. Sedangkan Arjun memejamkan mata untuk sekedar mengusir oening di kepalanya.


Tanpa terduga sama sekali, pria itu benar-benar tertidur. Terlihat dari hembusan nafasnya yang teratur dan mampu di dengar oleh Akira.


Dia benar-benar lelah... batinnya bicara.


Sambil menemani Arjun yang tertidur, Akira terus saja mengamati wajah damai yang terlelap di sampingnya.


Kenapa dia berbeda ya akhir-akhir ini? kenapa dia tidak sebrengs*k dulu ketika baru menjadi suamiku... Apa Arjun telah berubah? Atau inilah sifat aslinya yang baru terlihat olehku?


Ya, Arjun memang sedikit berubah daripada dulu ketika pertama menikah.


Saat ini, Arjun tidak lagi membuat Akira merasa kesal. Cara bicara pria itu kepada Akira juga berubah. Tidak ada kata Lo ataupun Gue, Arjun lebih sering menggunakan kata Kamu dan Aku.


Tentu berbeda bukan? Bahkan lebih terdengar sopan.


Akira masih memainkan rambut Arjun yang tak sengaja menutupi sebelah mata pria itu. Menyingkirkannya agar Arjun tidak terganggu.


"Kalau di lihat-lihat... kenapa kamu tampan sih?" gumam Akira sangat pelan.


Pertama kali bertemu dengan Arjun, Akira juga sudah menilai kalau pria itu lumayan tampan. Apalagi kulit Arjun yang sedikit lebih putih dari pria lainnya.


Tapi semakin hari, ketampanan pria itu semakin bertambah bagi Akira.


Kalau begini terus, bagaimana kalau jatuh cinta sama Lo? ucap Akira dalam hati.


Di detik selanjutnya, Akira menggelengkan kepalanya, Tidak, tidak... ini tidak boleh terjadi... Aku tidak mau jatuh cinta padanya... dia pasti akan mengejekku nanti... mungkin saja aku juga akan kecewa kalau menyadari dia tak mencintaiku...


Akira masih merasakan bagaimana sakitnya patah hati. Bedanya ia patah hati karena di putuskan oleh Dean.


Dan rasa patah hatinya akan lebih parah jika Akira menyukai Arjun tapi pria itu tidak menyukainya.

__ADS_1


Ya... patah hati terberat adalah saat kita memiliki perasaan pada seseorang, tapi orang itu tak memiliki perasaan yang sama terhadap kita.


***


__ADS_2