
HAPPY READING...
***
Tiara menutup mulutnya saking tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut seorang pria yang berdiri di ambang pintu rumah.
Membuat tubuhnya tiba-tiba terasa ringan dan terhuyung ke belakang saking syoknya.
"Tiara... kamu tidak apa-apa nak?" tanya pria paruh baya yang datang memberitahu Tiara.
Tubuh Tiara merosot dan jatuh ke lantai. Air matanya jatuh tanpa aba-aba. "Ibuuu...". Hanya satu kata yang mampu menggambarkan perasaannya saat ini.
"Mari paman antar ke rumah sakit," hibur pria itu dengan tulus.
Dengan hati hancur, Tiara bangkit dari duduknya. Berlari mengambil jaket dan mengenakannya dengan tergesa-gesa.
Dengan di bonceng oleh tetangganya itu, Tiara menuju ke Rumah Sakit untuk melihat keadaan ibunya.
Selama perjalanan tak henti-hentinya Tiara memanjatkan doa untuk keselamatan sang ibu.
Karena hanya ibu lah kehidupan Tiara.
Tumbuh dengan orang tua tunggal, membuat Tiara sangat dekat dengan ibunya. Tiara amat menyayangi ibunya hingga tak memperdulikan siapa ayahnya selama ini.
Tiba di Rumah sakit, Tiara berlari sekuat tenaga menuju ke IGD yang memang berada di ruangan terdepan gedung itu.
Langkahnya tiba-tiba terhenti saat melihat 2 pria yang menunggu di depan ruang penanganan. Satu diantaranya Tiara mampu mengenalinya.
Tiara mengamati pakaian pria itu yang berlumuran noda darah.
Jelas sekali karena pakaian yang di kenakan pria itu berwarna putih.
"Dimana Ibu?" tanya Tiara dengan parau.
Sedangkan yang di tanya hanya diam saja. Tak punya kekuatan untuk menjawab pertanyaan dari putri wanita yang di tolong nya tadi.
"Kenapa Lo diam saja? dimana Ibu? dimana Ibu?" teriak Tiara tanpa memperdulikan siapapun.
Membuat Galih bangkit dari duduknya dan berdiri berhadapan dengan Tiara secara langsung.
"Dimana Ibu? jawab gue Gal... dimana ibuku?" bahkan tanpa sadar Tiara memukul dada Galih berulang kali. Melampiaskan rasa takut dan kekecewaannya.
"Ibu baik-baik saja kan? jawab gue Gal... jawab gue...".
Entah kenapa dada Galih ikut sesak. Lidahnya kelu hanya untuk mengatakan hal sebenarnya yang terjadi pada ibunya Tiara.
Sehingga yang di lakukan Galih hanya memeluk tubuh gadis di depannya. Melupakan rasa sedih mereka bersama-sama.
"Maafin gue..." ucap Galih lirih.
Bahu Tiara terlihat bergetar hebat menandakan bahwa gadis itu benar-benar kehilangan.
***
Pemakaman telah usai beberapa jam yang lalu. Akira pulang bersama dengan Arjun setelah berpamitan pada Tiara di rumah duka.
"Hiks..." tangis Akira masih terdengar bahkan saat mobil yang dikendarai suaminya telah jauh melaju dari rumah Tiara.
"Sudahlah sayang... jangan sedih lagi," pinta Arjun. Bukan karena apa, Akira juga harus menjaga kesehatannya dan juga bayi dalam kandungannya.
Kalau Akira sedih, bayi dalam kandungannya juga akan merasakan kesedihan yang sama.
"Bagaimana Tiara bisa hidup mulai saat ini, selama ini Tiara hidup dengan ibunya... hiks, dia akan hidup sendirian sekarang..." ucap Akira.
"Ada Bella yang akan menemaninya... dan juga keluarga Galih..." ucap Arjun.
__ADS_1
Anehnya kenapa Arjun sampai tidak tau kalau Tiara begitu dekat dengan keluarga Galih.
Karena yang ia tau, Galih tidak pernah menceritakan apapun tentang hal itu.
Ya, lucu memang. Galih mampu menyembunyikan semua itu dengan sangat rapi.
"Jangan sedih lagi..." pinta Arjun pada istrinya.
Di lain tempat, Tiara duduk seorang diri di dalam kamar ibunya. Mengamati sisa kenangan yang tertinggal dari sosok malaikat yang selama ini membesarkannya.
Karena hanya foto Ibu yang bisa Tiara lihat mulai saat ini.
Mata gadis itu sudah terlalu bengkak untuk memperlihatkan bagaimana kesedihannya.
Semua orang juga akan tau hal itu.
Sedangkan di ambang pintu, Galih terlihat mengamati Tiara tanpa mau mengganggu gadis itu sedikitpun. Biarlah Tiara berkabung atas kematian Ibunya untuk beberapa saat.
"Bagaimana?" tanya Ibunya Galih juga ikut mengamati Tiara.
Keluarga Galih datang untuk melayat sejak pagi. Sedangkan Bella tak meninggalkan Tiara walau sedetik pun. Menenangkan Tiara dari kesedihan akibat di tinggal seseorang.
Ayah juga ikut berbaur dengan para tetangga Tiara. Menyambut para pelayat yang datang karena Tiara tidak memiliki keluarga lain selain ibunya.
"Ibu akan tinggal disini menemani Tiara untuk beberapa hari..." ucap Ibu pada Bella, Galih dan juga Ayah.
"Bella, pulanglah bersama Ayah..." tambahnya.
"Tapi Bu-," protes Bella. Kenapa ia harus pulang bersama Ayah kalau Tiara bisa pulang bersama mereka? begitu pikir Bella.
Karena Tiara tidak akan sendirian jika tinggal bersama keluarga mereka.
"Tiara akan sedih nanti..." jawab Ayah. Setidaknya biarkan Tiara menenangkan hatinya lebih dulu di rumahnya sendiri.
"Tidak apa tante, Om... Tiara disini saja," tolak Tiara tiba-tiba keluar kamar menemui keluarga Galih.
"Tapi Nak..." protes Ibu.
Sangat bahaya jika Tiara tinggal sendirian. Bukan karena apa, bagaimana kalau Tiara frustasi dan melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya. Karena tidak ada hal paling menyakitkan selain kehilangan orang yang kita sayang.
"Tiara janji akan baik-baik saja," ucap Gadis itu masih ngeyel.
"Yakin? aku mau kok menemani mu..." bantah Bella. Karena sudah sewajarnya Bella ada untuk teman yang membutuhkan.
"Tidak usah Bel," tolak Tiara.
Hingga membuat semua orang tidak bisa berkata-kata.
Walaupun masih ragu, keluarga Galih benar-benar pulang. Meninggalkan Tiara sendirian di rumah.
"Kabari Tante kalau ada apa-apa..." ucap Ibunya Galih. Membelai pucuk kepala Tiara penuh kasih sayang.
"Iya Tante... maaf sudah merepotkan," ucap Tiara penuh air mata.
Karena keluarga Galih benar-benar membantu dirinya sejak pagi.
Dan juga Galih, sejak semalam berada di Rumah Sakit mengurusi jenazah Ibunya Tiara.
Pria itu terlihat begitu lelah dengan kantung mata yang sedikit menghitam karena begadang.
"Kami pulang ya Ra... jaga dirimu baik-baik," Bella memeluk tubuh Tiara.
Membuat Tiara mengangguk walaupun ia tak yakin kalau dirinya akan baik-baik saja sendirian tanpa Ibu di sisinya.
Galih masuk ke dalam mobil diikuti oleh keluarganya.
__ADS_1
Walaupun mobil miliknya masih tersisa noda darah dari Ibunya Tiara, tak membuat Galih ragu untuk mengantarkan kedua orang tuanya pulang lebih dulu dan baru mencuci mobil setelahnya.
Tiara menatap nanar kepergian keluarga itu. Meninggalkan rumahnya dan juga dirinya.
***
Malam hari saat jam makan malam tiba, Galih tiba-tiba terpikirkan bagaimana keadaan Tiara saat ini.
Apa gadis itu sudah makan? apa dia baik-baik saja? itulah yang mengganggu pikirannya.
Galih mengambil ponselnya untuk menghubungi gadis itu.
Tuutt... tutt... tutt...
Tersambung tapi tidak ada jawaban sama sekali.
Membuat Galih semakin risau.
"Kemana sih dia?" gumamnya seorang diri.
"Apa dia melakukan hal-hal bodoh?". Galih terkejut dengan pemikirannya sendiri. Tanpa pikir panjang, Galih meraih kunci mobil dan segera pergi melihat keadaan Tiara.
Langit Ibu kota terlihat gelap dengan kilatan-kilatan petir seperti meretakkan langit. Angin bertiup cukup kencang hingga membuat ranting-ranting pohon berjatuhan mengotori jalanan.
Galih turun dari mobil dan langsung berlari menuju ke rumah yang terlihat gelap karena lampu depan tidak di hidupkan.
"Tiara!" panggilnya sambil menggedor pintu itu.
Mengintip dari jendela yang tidak tertutup tirai.
"Tiara!" panggil Galih lagi tapi tetap tidak ada sahutan dari dalam sana.
Galih berlari menuju ke sisi samping rumah itu. Mengintip jendela yang terbuka.
"Ra!" panggilnya.
Galih tau kalau itu adalah kamar Tiara.
Hingga matanya membulat melihat sepasang kaki tergeletak di lantai tidak bergerak.
"Tiara!" panggil Galih semakin khawatir.
Dan tanpa pikir panjang, Galih membuka lebar jendela itu agar bisa masuk ke dalam.
Dari jendela itu lah Galuh melompat masuk seperti seorang pencuri.
Sesuai dugaannya, Tiara pingsan di lantai kamarnya.
"Demam..." gumamnya pelan ketika merasai kening Tiara menggunakan punggung tangannya.
Tanpa ragu, Galih menggendong gadis itu. Melewati pintu depan dan langsung membawanya masuk ke dalam mobil.
"Ibu..." gumam Tiara sambil memejamkan mata.
Galih tau apa yang dirasakan Tiara saat ini. Kehilangan seseorang benar-benar membuat seseorang menjadi hancur.
Sama seperti ketika Galih kehilangan Alya, tapi bedanya Tiara benar-benar kehilangan orang yang di sayangi untuk selama-lamanya. Dan rasanya sangat jauh lebih menyakitkan.
Malam di tambah dengan hujan lebat, Galih membawa Tiara pulang ke Apartemen nya di bandingkan harus menuju ke rumah Orang tuanya.
Karena Galih bisa merawat Tiara yang hanya demam.
***
**Hayo Galih... jangan macam-macam ya... Aku tidak percaya dengan mu! hehehe....
__ADS_1
Semoga syuka dengan Part kali ini**...