Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
24. Memberitahu Semua Orang.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


"### Perasaan yang disatukan oleh Tuhan, tidak akan mampu di pisahkan oleh Manusia..."


Papi Johan.


Akira memberanikan diri untuk memberitahu semua orang tentang rencana yang telah dipikirkannya matang-matang.


Saat ini ada Papi, Mami, Arjun yang tengah duduk menikmati makan malam mereka.


Dengan menenggak air di gelas miliknya, sejenak Akira bersiap untuk mengucapkan sesuatu.


"Mami, Papi... Akira ingin bicara sesuatu..." ucapnya dengan nada bergetar.


"Iya sayang," jawab Mami.


"Bicara apa?" tanya Papi Johan penasaran.


Mau ngomong apa dia? batin Arjun sedikit sewot. Apalagi sebelum makan malam ini, ia sempat berdebat dengan Akira di kolam renang tadi.


Ya hanya karena menyuruh untuk berbicara lebih dulu, hak itu mampu menciptakan sebuah perdebatan diantara mereka.


Tentu saja tidak ada yang mau mengalah karena baik Akira maupun Arjun, mereka menganggap bahwa dirinya benar.


Tidak seperti anak kecil yang saat bertengkar saling main tangan, Arjun dan Akira hanya adu mulut kekanakan tapi tidak sampai main fisik.


Tapi hanya begitu saja membuat Akira kalah. Sungguh berdebat dengan Arjun selalu membuatnya kalah.


"Begini Mi, Pi... Akira..." Akira berubah seperti demam panggung. Ia ragu untuk mengutarakan niatnya. Ia talut kalau mertuanya akan melarang.


"Ada apa nak?" Sekarang Mami Livia lah yang tidak sabar menunggu apa yang akan dikatakan menantunya itu.


"Akira ingin kuliah Mi..." Akira tak mampu mengangkat pandangannya. Gadis itu sibuk melihat sendok garpu di piring tepat di hadapannya.


"Kuliah?" begitu respon yang terdengar dari mulut Papi Johan. Sedangkan Mami Livia juga Arjun banyak diam tapi dengan ekspresi yang sama terkejutnya.


Aaa... mereka marah ya? benar... mereka marah... batin Akira menerka-nerka.


"Ah, Maaf... Papi terlalu terkejut tadi..." sesal Papi Johan yang tak sengaja meninggikan nada bicaranya hingga membuat Akira menciut ketakutan.


"Kenapa sayang?" kali ini Mami Livia yang bersuara. Padahal beliau ingat betul perkataan dari Ibunya Akira beberapa hari yang lalu saat membahas tentang Akira.


Ya... Ibu Arum dulu bilang kalau Akira sama sekali tidak punya niat untuk kuliah.


Apalagi dia bukan gadis yang cukup pintar.


Tapi yang membuat Mami Livia penasaran adalah kenapa tiba-tiba gadis itu ingin sekali kuliah... sedikit tidak masuk akal bukan?


Akira meremas tangannya di bawah meja untuk sedikit meredakan rasa gugupnya saat ini.

__ADS_1


"Begini Mi... Em..." bahkan saking gugupnya, Akira kesulitan untuk bicara.


Kata-kata yang telah ia rangkai selama di kolam renang hilang begitu saja.


Rasanya bukan hanya Mami dan juga Papi yang penasaran dengan alasan Akira, bahkan Arjun yang selalu bilang tidak mau ikut campur tentang hal yang menyangkut Akira juga penasaran. Ck... cepetan ngomong bisa tidak sih! begitu sorot matanya bicara.


"Akira ingin kuliah seperti gadis lain..." jawab Akira. Agghh... alasan yang cukup masuk akal saja... batinnya.


"Oh..." begitu tanggapan Mami, yang menurut Akira sangat datar.


Apa alasanku tadi lebih tidak masuk akal? Aaa... bagaimana ini? bagaimana kalau mereka menolaknya?


Akira tentu saja ketakutan. Keringat di kedua tangannya semakin banyak bahkan tubuhnya ikut merasa dingin dan khawatir.


"Mau kuliah dimana? biar Papi yang daftarkan..." ucapan dari Papi Johan sedikit membuat Akira merasa lega.


Ucapan dari pria itu seperti sebuah angin segar untuk Akira.


Belum sempat Akira menjawab, Mami Livia langsung bertanya, "Kamu yakin mau kuliah Ra?" dari nada bicaranya terlihat kalau Mami Livia sedikit mencegah Akira untuk melanjutkan sekolahnya.


Dalam hati Mami Livia, ia takut kalau dengan kuliah waktu Akira dan Arjun akan semakin berkurang. Dan tentu saja akan mempengaruhi hubungan mereka.


Apalagi saat ini Mami Livia telah melihat sedikit kemajuan dari hubungan anak serta menantunya itu.


Selain itu, Arjun juga tidak pergi ke Klub malam ini. Mami Livia beranggapan kalau Arjun memilih untuk di rumah untuk menemani istrinya.


"Iya Mi, Akira ingin kuliah..." jawab Akira jujur.


Gue tidak akan jadi janda yang miskin dan pengangguran... batin Akira.


"Bagaimana denganmu Jun?" kali ini Mami Livia mencari tanggapan dari Arjun.


Karena bagaimana pun Akira adalah istri dari anak semata wayangnya.


"Kalau Arjun sih terserah Akira saja maunya bagaimana..." jawab Arjun dengan entengnya.


Walaupun dalam hatinya, Arjun tidak peduli sama sekali mengenai Akira, gadis pembuat masalah dalam keluarganya.


Bagaimana Pi? Mami Livia menyenggol lengan suaminya.


"Ya itu... Papi juga mendukung keputusan Akira..." Jawab Papi Johan dengan enteng.


Semua orang di ruang makan itupun setuju dengan keinginan Akira, walaupun hanya Mami Livia yang terlihat tidak terima. Tapi mau bagaimana lagi? kuliah memang keinginan Akira entah sejak kapan.


Mami Livia sebagai orang tua hanya bisa mendukung dan mendoakan anak-anaknya.


***


Di dalam kamar, Mami Livia duduk di depan meja rias sambil mengerucutkan bibirnya kesal.


"Mi... sudahlah, jangan cemberut terus..." ucap Papi Johan.

__ADS_1


"Bagaimana tidak cemberut sih Pi... kalau Akira kuliah, waktunya dengan Arjun akan berkurang..." hanya itu yang Mami takutkan.


Apalagi hubungan yang mereka ciptakan sangatlah sulit.


"Mereka akan tetap bertemu di pagi dan malam hari bukan?" beda lagi dengan pemikiran Papi Johan.


Hubungan antara Akira dan Arjun sangat erat. Mereka telah terikat dengan sebuah benang bernama Pernikahan. Bukan hanya diri mereka, Hati, Perasaan Akira dan Arjun tentu saja akan tetap terikat. Apapun yang di satukan oleh Tuhan, tidak akan mampu dipisahkan oleh Manusia.


"Papi yakin hal ini tidak akan mempengaruhi hubungan mereka?"


Mami Livia bahkan membalik tubuhnya demi menatap sang suami.


"Iya Papi yakin... takdir tidak akan mempermainkan mereka..." jawab Papi Johan dengan sangat yakin.


 


Di kamar Arjun dan Akira.


Akira sudah bersiap untuk tidur. Gadis itu sudah menata sofa sebagai tempat tidurnya.


Tapi semuanya terganggu karena sebuah suara yang tercipta dari orang paling menjengkelkan baginya, siapa lagi kalau bukan Arjun.


"Lo mau tidur dengan pakaian seperti itu?" tanya Arjun dari atas ranjang besar yang bahkan muat untuk tidur 2 orang. Tapi dengan tidak tau malunya, Arjun menggunakan ranjang itu seorang diri tanpa berpura-pura menawari Akira tidur disana.


"Kenapa? gaun ini baru gue pakai tadi setelah mandi..." protes Akira. Di tidak berkeringat jadi gaun yang dikenakannya tentu saja tidak bau.


"Lo tau tidak kalau tidur Lo itu sangat tidak sopan?"


Eh, apa maksudnya? batin Akira bertanya-tanya.


"Gue risih melihatnya!" tambah Arjun dengan Menggidikkan bahunya seolah melihat hal menjijikkan.


Tidur di kamar yang sama dengan Akira beberapa hari membuat Arjun sedikit tau bagaimana tingkah bocah itu. Akira bukan gadis yang diam saat tidur.


Terkadang kaki Akira tidak pada tempatnya. Tentu saja hal itu dilihat oleh Arjun. Tapi bedanya saat itu Akira memakai celana, sedangkan malam ini gadis itu memakai dress dimana akan kelihatan ********** bukan?


Hal itulah yang membuat Arjun tidak nyaman nantinya.


Tadi tak sengaja melihat belahan d*da Akira saja membuat adik kecilnya tak nyaman dan di tuntaskan di kamar mandi, bagaimana kalau sampai Arjun melihat yang lain?


Jangan sampai ia pergi ke kamar mandi di tengah malam.


Akhirnya Akira bangkit dari tempat tidurnya dengan menghentakkan kakinya kesal dan pergi ke ruang ganti.


Ck... apa dia bilang? Risih? memang gue se najis itu? Di luaran sana banyak ya pria yang ingin menjadi pacar gue... batin Akira kesal dengan ucapan Arjun tadi.


***


2 Bab untuk hari ini... tinggalkan Like dan komentar ya... Kalau ada Poin/ Koin juga Gapapa di sumbangin biar Authornya makin semangat... hehehe....


Love kalian banyak-banyak...

__ADS_1


__ADS_2