Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
123. Hujan Air Mata.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Akira masih menangis dalam pelukan Arjun. Membuat kemeja yang di kenakan pria itu terlihat basah dan mungki ln saja lipstik Akira juga menempel disana.


"Maafkan aku... aku benar-benar harus lembur tadi,".


"Kenapa? kenapa harus hari ini? kenapa bukan besok saja lembur nya? ku tau kan kalau hari ini adalah hari ulang tahunmu?" Akira memberondong Arjun dengan banyak pertanyaan.


Ada banyak hari dalam setahun, tapi hanya ada satu hari yang sangat istimewa bagi seseorang. Ya.. hari kelahiran seseorang.


Hari itu sangat patut untuk di rayakan bukan?


Karena ahanya terjadi sekali dalam setahun.


"Karena besok aku lebih sibuk, lusa akan segera pergi..." ucap Arjun.


Pergi? Arjun akan pergi? kemana? batin Akira.


Segera gadis itu mendorong tubuh Arjun yang memeluknya sedari tadi, "Pergi? kamu mau pergi?" tanya Akira bahkan terdengar lebih menyayat daripada tadi.


Arjun mengangguk setuju,


"Kemana? berapa lama?" masih saja Akira ingin tau jawaban suaminya. Kemana pria itu akan pergi dan berapa lama.


"Eropa ... Seminggu, bisa juga 2 minggu..." jawab Arjun.


"Selama itu? kenapa selama itu?" tak terasa Air mata Akira kembali menetes, bahkan lebih derasa dari yang tadi.


Dulu saja saat Arjun pergi ke luar kota untuk beberapa hari, Akira sudah sangat tersiksa karena merindukannya. Bagaimana jika pria itu pergi bahkan sangat jauh dan dalam waktu yang lama, apa Akira bisa hidup tanpa Arjun?


"Jangan pergi, aku mohon jangan pergi..." pinta Akira mengiba. Jika Arjun harus tetap pergi, biarkan Akira ikut bersamanya.


Akira tidak mau di tinggal disini sendirian. Akira kembali memeluk tubuh suaminya, "Jangan pergi Arjun...",


Membuat Arjun tersenyum. Apa kamu tidak mau jauh dariku Akira?


Padahal kita yang akan pergi berdua...


Arjun mengalihkan perhatian Akira, "Apa itu kue buatanmu?" tanya Arjun. Setidaknya biarlah kepergian mereka ke Eropa lusa, jadi surprise bagi Akira.


"Hm," angguk Akira. Itu adalah kue buatannya untuk Arjun.


"Aku ingin meniup lilin dan membuat permohonan," pinta Arjun. Sedikit kekanakan memang, tapi tidak ada salahnya untuk melakukannya bersama Akira.


Karena beberapa tahun terakhir, Arjun tak pernah melakukan hal itu.


Akira kembali melepas pelukannya. Sekarang mereka duduk di atas ranjang dengan sebuah kue yang berada di telapak tangan Akira.


Arjun mulai menhidupkna lilin angka tersebut,


"Selamat ulang tahun..." ucap Akira.


Arjun menatap istrinya yang di sinari oleh lilin. Indah... cantik... puji Arjun.


Semua orang akan mengagumi Akira malam ini yang cantik dengan balutan dress merah.


"Buat permohonan," pinta Akira.


Arjun mengatupkan kedua tangannya memohon sambil memejamkan mata,


Terima kasih Tuhan... Terima kasih atas semuanya... Terima kasih telah menghadirkan Akira dalam hidupku... Terima kasih telah membuatku sadar akan indahnya sebuah pernikahan...


Semoga Akira panjang umur... Semoga Akira lah wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anak ku...


Aku tak minta umur yang panjang, Aku hanya minta bisa menghabiskan umur ku dengannya... dengannya saja...


Arjun membuka matanya kembali, hal pertama yang di lihat adalah senyum tulus istrinya. Senyum yang begitu damai bahkan mampu menghapus rasa penat bekerja seharian ini.


"Huufftt..." Arjun meniup lilin di atas kuenya.

__ADS_1


"Apa rasanya enak?" tanya Arjun penasaran.


Kue di tangan Akira adalah kue buatan Akira langsung. Sangat berbeda dengan kue yang di jual di toko-toko lain.


"Mau mencobanya?" tanya Akira penuh semangat. Sedangkan Arjun langsung mengangguk setuju.


Apalagi perutnya juga sangat lapar karena belum sempat makan malam.


"Hem... enak," ucap Arjun. Bukan hanya bualan saja, kue buatan istrinya benar-benar enak dan sangat cocok jika di masukkan dalam sebuah toko kue.


"Serius?" tentu saja Akira senang mendapat pujian dari Arjun.


"Ah iya, kau punya sesuatu untukmu..." Akira segera bangkit dan menuju ke nakas. Membuka laci nakas dan mengeluarkan kotak dengan pita merah.


"Ini hadiah dariku... pakai ya..." ucap Akira penuh harap.


"Oh, makasih istriku... apa ini?" tanya Arjun berpura-pura bingung, padahal ia sudah tau apa isinya dari laporan kartu kredit yang Akira gunakan tempo hari.


Tak apa lah berpura-pura, yang penting mampu membuat istrinya senang bukan?


"Waw... jam ini adalah incaranku beberapa minggu yang lalu, tapi aku tidak punya waktu untuk membelinya... Terima kasih sayangku, emuach... emuach..." Arjun menghujani wajah i


Akira dengan banyak ciuman. Membuat Galih itu tergelak karena geli.


"Hahaha... hentikan sayang, hentikan..." Akira meronta mencoba untuk lepas dari Arjun tapi nyatanya tenaganya jelas kalah banding.


"Kamu cantik memakai gaun ini," puji Arjun lagi.


"Aku tau,"


"Dan siapa yang mendandanimu?" tanya Arjun.


"Kenapa? apa ada yang salah dengan riasanku?" tanya Akira sambil menyentuh kedua pipinya mungkin saja riasan wajahnya sangat buruk. "Aku bersandan sendiri," Akira mengakui.


"Benarkah? pantas saja..." jawab Arjun ngambang.


"Pantas kenapa? buruk?"


"Cantik..." jawab Arjun dan kembali mengusel-usel kelapanya di tubuh Akira.


"Aku akan memakanmu..." jawab Arjun dengan seringai bak hewan pemangsa.


***


Galih masih sibuk berkonsentrasi membelah jalanan yang di penuhi oleh genangan air.


Untung saja tidak banyak kendaraan yang lalu lalang, jadi tidak ada umpatan yang keluar dari mulut pria itu.


Biasanya saat lelah seperti ini, emosi seseorang benar-benar berada di ubun-ubun. Di tambah dengan perutnya yang keroncongan karena lapar. Kewarasan seseorang akan benar-benar hilang.


Galih memilih jalan yang berbeda dari rute yang biasa ia lalui. Entah kenapa seperti itu, Galih juga tidak tau. Tapi ia hanya ingin melakukannya saja.


Hingga tiba di persimpangan jalan, Mobilnya pun berhenti karena almapu merah.


Lampu merah di persimpangan ini memang sedikit lebih lama dari lainnya, itulah sebabnya Galih bisa leluasa melihat keadaan pinggir jalanan walaupun tidak ada yang menarik karena banyak pedagang kaki lima yang sengaja tutup lebih awal, mungkin karena hujan yang tidak segera berhenti.


Biasanya di jalanan ini, di padati oleh gerobak-gerobak pedangang kaki lima dengna aneka jajanan anak muda, bisa di sebut sebagian tempat tongkrongan anak muda.


Galih, Dion dan Arjun juga dulu sering nongkrong disini, itupun saat merek amasih kuliah.


Dari kaca spion, samar-samar Galih melihat seseorang yang tengah berjalan di bawah guyuran air hujan.


Gadis dengan memakai crop top yang di lapisi dengan jaket serta bawahan celana berbahan jeans. Rambutnya yang sepunggung terlihat amat basah.


Gila... apa dia anak kecil sehingga hujan-hujanan seperti ini? Batin Galih. Karena biasanya hanya anak kecil lah yang suka hujan, bermain di pelataran rumah sambil hujan-hujanan. Walaupun akhirnya kena jewer ibu mereka.


Galih masih sibuk mengamati gadis itu berjalan hingga melewati persimpangan dimana mobil Galih berhenti,


Kayaknya gue pernah melihatnya... batin Galih seperti mengenali postur tubuh gadis itu.


Jika wajahnya terlihat, mungkin Galih akan menyadarinya. Tapi saat ini, rambut panjang gadis itu menutupi wajahnya di tambah dengan air hujan yang kian deras.

__ADS_1


Lampu telah berubah hijau, Galih segera melajukan kembali kendaraannya tapi bukan ke arah dimana tempat tinggalnya berada. Tapi mengikuti kemana gadis itu berjalan. Entah apa maksudnya, Galih juga bingung sendiri.


Hingga gadis itu berhenti di sebuah halte pemberhentian bus. Duduk disana sendirian dengan keadaan yang basah kuyup, sedangkan Galih masih mengamatinya dari jarak yang tidak terlalu jauh.


Terlihat sekali kalau bahu gadis itu bergetar menandakan bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.


Ck... pasti putus cinta,


Galih berniat untuk memutar arah, karena tidak ada gunanya memperdulikan orang lain yang tidak ia kenal sama sekali.


Tapi secara bersamaan, gadis itu mengangkat pandangannya membuat Galih membulatkan mata.


Dia?


Terkejut? tentu saja. Untung Galih memiliki ingatan yang cukup hebat dimana mampu mengenali orang lain yang sekali atau dua kali bertemu dengannya.


"Dia sahabatnya Akira bukan?" gumamnya sendiri.


Galih bimbang untuk melakukan apa. Menelepon Arjun, tentu saja tidak mungkin. Ini adalah hari ulang tahun Arjun, jadi mungkin saja pria itu sangat sibuk bersama istrinya.


Apa yang harus gue lakukan? berpura-pura tidak tau dan pergi?


Tapi baru saja berencana demikian, Gadis yang di lihatnya kembali berdiri hendak meninggalkan halte bus.


Baru melangkah beberapa detik, gadis itu ambruk dan membuat Galih langsung membuka pintu mobilnya.


Berlari membelah hujan dan menghampiri gadis itu.


"Lo tidak apa-apa?" tanya Galih kepada Tiara.


Galih mengamati wajah gadis itu yang pucat dan kedinginan.


"Dimana rumah Lo? biar gue antar..." ucap Galih. Sedangkan Tiara sama sekali tidak merespon. Bibirnya terasa keluarga hanya untuk mengucapkan sebuah kata.


Baru membantu Tiara berdiri dan melangkah menuju ke mobil, tiba-tiba Gadis itu ambruk tepat bersandar pada tubuh Galih dan kembali merosot jatuh.


"Astaga... malah pingsan..." gumam Galih tak menyangka.


***


Tubuh polos Akira terbalut selimut tebal. Sedangkan Arjun duduk di tepi ranjang sambil meminum air putih.


"Arjun..."


"Hm," jawab pria itu.


"Jangan pergi..." pinta Akira. Anggap saja ini sebuah permohonan dari Akira.


"Kenapa?" tanya Arjun.


"Pokoknya jangan pergi... bagaimana bisa kamu meninggalkan ku selama itu? aku tidak bisa jauh darimu... huhuhu..." Akira kembali menangis.


"Kenapa harus meninggalkanmu, kita bisa pergi bersama..."


"Ha?" tentu saja Akira terkejut bahkan sampai duduk mendekati suaminya. Memastikan kalau yang di dengar tadi bukanlah sebuah kesalahan.


"Kita pergi bersama untuk bulan madu," jawab Arjun dengan senyum indah yang hanya di berikan kepada istrinya.


"Ha?" tanya Akira masih dengan mode bodohnya.


"Iya... kita ke Eropa untuk liburan. kita belum pernah liburan bukan?",


Akira mengerjabkan matanya berulang kali. "Kita? liburan?"


Sedangkan Arjun mengangguk setuju.


"Terima kasih sayang..." ucap Akira langsung menghambur memeluk Arjun, bahkan tak memperdulikan selimut yang melorot menampakkan tubuhnya.


***


Hahaha... Apa yang terjadi pada Tiara ya?

__ADS_1


Sudah ada firasat kenapa ultah Arjun dan Pacarnya Tiara samaan??


Komen banyak-banyak...


__ADS_2