Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
177. Senyum Terindah.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Sudah 1 bulan lamanya Galih begitu sibuk mengurus pekerjaan Arjun. Lebih tepatnya pria itu yang diberi tanggung jawab untuk membantu segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan Arjun.


Semua itu karena kehamilan Akira yang sudah menginjak 8 bulan. Arjun seringkali cuti bekerja hanya untuk menemani sangat istri dan Galih yang bertanggung jawab menyelesaikan pekerjaan Arjun.


Ia benar-benar sangat lelah baik jiwa maupun raganya.


Tapi Galih sama sekali tidak mengeluh akan hal itu. Ia merasa bersyukur karena Arjun, sahabat baiknya akan menjadi seorang ayah.


Ya... mereka sama-sama bisa keluar dari permasalahan di masa muda yang amat kelam.


Arjun dan Galih sama-sama berjuang dan berubah untuk menjadi pria yang baik dan bertanggung jawab.


Pagi ini saat dimana Galih duduk menyelesaikan pekerjaan Arjun di ruangannya, tiba-tiba Sekertaris Papi Johan datang dan meminta Galih untuk datang menemui beliau di ruangannya.


Sebenarnya Galih heran sekaligus khawatir, alasan apa yang membuat dirinya harus menghadap Presdir Pradipta Group tersebut.


Kalau di pikir-pikir, rasanya Galih tidak melakukan sebuah kesalahan sama sekali selama ini.


Semoga tidak ada hal buruk... batin Galih sesaat setelah menyentuh gagang pintu ruangan Presdir dan sedikit mendorongnya.


"Selamat sore Tuan..." sapa Galih seperti biasa.


Di rumah ataupun di luar pekerjaan, Galih biasa memanggil dengan panggilan Om, tapi beda jika di perusahaan.


"Duduklah..." perintah Papi Johan. Membuat Galuh yang tadinya berdiri langsung memposisikan dirinya duduk di depan beliau.


"Galih... terima kasih telah membantu Arjun dalam segala hal... sulit memang, tapi kamu bisa melakukannya... itulah sebabnya Arjun memilih dirimu untuk bekerja di sampingnya...".


Siapa coba yang tidak terbang si sanjung seperti itu. Begitupun dengan Galih. Rasanya jiwanya benar-benar seperti tengah menari di angkasa mendengar Papi Johan memujinya secara langsung.


Galih hanya bisa mengangguk tanpa berkata-kata.


Papi Johan menggantung tangannya, sedangkan Sekertaris yang sejak tadi telah berdiri di samping tempat duduk langsung paham. Menyerahkan lembar kertas ke Presdir untuk dibacanya.


Papi Johan melihat deretan laporan tersebut. Lembar kertas itu adalah laporan gaji Galih setiap bulannya termasuk bonus dan lain-lain.


"Kamu tau alasan saya memanggilmu Gal?" tanya Papi Johan.


"Tidak Tuan..." jawab Galih. Karena sampai masuk di dalam ruangan ini, ia masih mencari-cari alasan yang masuk akal kenapa ia sampai di panggil.


"Tidak tau? bagaimana kalau alasan saya memanggilmu karena ingin memecat mu dari Pradipta Group?".


"Ha?" ucapan Papi Johan seketika membuat Galih ternganga. Tak percaya sekali gua bingung. Kenapa ia bisa di pecat tanpa alasan ataupun surat peringatan sebelumnya.


"Saya bercanda Gal... heheeh..." gurau Papi pada akhirnya. Membuat Galih yang tadinya terasa hampir mati tiba-tiba mendapatkan nyawanya lagi.


"Ini untukmu..." ucap Papi Johan pada akhirnya dan menyerahkan sesuatu dalam amplop cokelat ke arah Galih, dan tentu saja di terima Galih dengan wajah kebingungan.


"Apa ini Tuan?".


Pandangan Galih masih tertuju pada amplop di tangannya. Ia tau kalau di dalamnya adalah uang, tapi untuk apa?

__ADS_1


"Awal gaji mu mulai sekarang. Saya tau itu tidak sepadan dengan kerja kerasmu... tapi terima lah...".


Senyum langsung mengembang sempurna dari bibir Galih.


Uang dalam amplop itu terlihat sangat banyak. Walaupun tanpa menghitungnya, ia tau kalau jumlah uang itu mungkin 3 kali dari gajinya. Atau bahkan lebih.


"Saya sengaja memberikannya langsung kepada mu hari ini...". Karena biasanya gaji Galih selalu di transfer di rekening pribadinya.


Tapi sore ini, Papi Johan sengaja memberikannya langsung kepada Galih. Anggap saja sebagai gaji pertama darinya.


"Terima kasih Tuan... Terima kasih..." ucap Galih penuh syukur.


Mimpi apa ia tadi malam sampai mendapat keberuntungan seperti sekarang. Gajinya bahkan setara dengan orang-orang penting di Perusahaan.


Terima kasih Tuhan...


"Kembalilah...".


Galih bangkit dari duduknya. Membungkuk sesaat dan undur diri dari ruangan Papi Johan. Bahkan sampai di ruangannya, senyum itu tak kunjung sirna.


Gue harus pulang... batinnya.


Bagaimanapun kabar baik harus ia bagi dengan orang tuanya juga. Galih benar-benar beruntung. Ia memiliki sahabat seperti Arjun dan orang-orang yang menyayanginya.


Bahkan Papi Johan yang seperti tidak peduli, nyatanya juga memikirkannya sampai seperti ini.


Galih segera membereskan sisa pekerjaannya. Meraih kunci mobil dan bersiap untuk meninggalkan Perusahaan.


Hingga di depan Lift, Galih kembali lagi bertemu dengan Papi Johan. Ia membungkuk melepas kepergian pria itu.


Sambil menunggu, Galih merogoh saku jasnya. Mengambil ponsel dan hendak menghubungi seseorang.


"Dimana?".


"Di rumah... bersih-bersih...".


"Bersiaplah... kita pergi ke rumah Ibu..." ucap Galih terdengar seperti sebuah perintah.


Bahkan setelah mengatakan itu, Galih langsung memutus teleponnya. Membuat Tiara yang di telepon menjadi kalang kabut oleh nya.


Bagaimana tidak, saat ini Tiara sedang mencuci pakaiannya dan juga Galih. Juga membersihkan Apartemen karena tadi pagi belum sempat melakukannya.


Sepanjang jalan, Galih terlihat tersenyum lagi. Entah kapan terakhir kali senyum itu terlihat. Mungkin satu, dua atau bahkan tiga tahun yang lalu.


Terlalu lama hilang hingga semua orang lupa akan senyum manis itu.


***


Di Rumah Ibu.


Galih dan semua anggota keluarga termasuk Tiara duduk dan menikmati makan malam.


Ibu sangat senang mendengar cerita Galih tentang kenaikan gajinya. Juga Ayah, walaupun terlihat tak memperdulikan hal itu. Tapi dalam hati beliau, ia juga bangga terhadap Galih.


Bagaimanapun, Galih adalah tulang punggung yang menggantikan ayahnya.

__ADS_1


Pria itu benar-benar sosok yang bertanggung jawab terhadap orang tua dan juga Bella.


"Apa Istrinya Arjun akan melahirkan?" tanya Ibu di sela-sela makan malam.


"Sesuai perkiraan masih 1 bulan lagi Buk... tapi ya semua orang sudah mempersiapkannya... Arjun juga sering tidak masuk ke kantor..." jawab Galih.


"Aaa...aku tidak sabar..." ucap Bella antusias.


Jangan heran, seperti itulah sikap gadis yang beranjak dewasa itu.


Terlalu bersemangat untuk menyambut kelahiran seorang bayi.


"Keluarga Tuan Johan sangat baik pada keluarga kita..." ucap Ayah ikut dalam perbincangan.


Membuat Ibu, Bella dan Galih juga mengangguk menyetujui hal itu.


 


Di teras, Galih dan Tiara duduk berduaan.


Menikmati malam yang cerah ditemani oleh teh hangat dan camilan buatan Ibu.


"Gue rindu dengan Akira..." ucap Tiara.


Sejak Akira tidak berangkat kuliah, pertemuan mereka menjadi sangat jarang. Hanya lewat telepon ataupun pesan, hal itu tak membuat rasa rindu Tiara terobati.


"Nanti gue antarkan saat dia lahiran..." jawab Galih. Mungkin hal itu bisa mengobati rasa rindu Tiara.


"Hm..." jawab Tiara tak sabar menantikan hal itu.


Tanpa mereka sadari, Ibu dan Bella terlihat sesekali mengintip. Menguping pembicaraan Galih dan Tiara.


"Kenapa hanya itu yang mereka bicarakan?" protes Ibu.


Karena yang di bicarakan Galih dan Tiara hanyalah masalah orang lain.


"Sabar Buk... Ibu kan tau bagaimana sifat kakak?" ucap Bella.


Baginya, Galih memang pria yang keras kepala dan juga gengsi seperti Ayah.


Ya... Galih adalah fotocopy Ayah.


Membuat Ibu dan Bella cekikikan dengan pemikirannya sendiri.


"Ibu harap mereka segera menjalin hubungan... masak Arjun akan memiliki bayi sedangkan kakakmu masih jomblo... hehehe..." ucap Ibu.


"Hehehe... Bella yakin, kakak akan segera menyusul..." ucap Bella dengan yakin.


Sedangkan Ayah yang duduk tak jauh dari Ibu dan Bella, tenggelam dalam pemikirannya.


Sudah saatnya Galih berbahagia... dia sudah terlalu menderita...


***


Segini dulu ya gais... Authornya lagi gak enak Bodi... Love kalian banyak-banyak...

__ADS_1


__ADS_2