Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
89. Tamu Tak Di Undang.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Jalanan pagi hari begitu sesak oleh kendaraan yang lalu lalang. Di tambah dengan gerombolan pesepeda musiman yang memadati bahkan setengah ruas jalan sendiri.


Kenapa di juluki pesepeda musiman? karena mereka hanya muncul saat musim sepeda saja. Sedangkan saat tidak musim, entah kemana kendaraan dua roda itu di museumkan.


Diiitttt... Dittt...


"****!" umpat Arjun sambil beberapa kali membunyikan klakson mobil. Inilah yang membuat dirinya benci pergi di hari minggu. Jalanan benar-benar membuatnya darah tinggi.


"Sabar..." yang duduk di sebelah kemudian selalu berucap demikian untuk menenangkannya.


Memang apa yang bisa Akira lakukan selain meminta Arjun untuk bersabar? Akira juga tidak bisa mengendarai mobil sendiri.


Dan tidak mungkin juga ia turun dari mobil dan memarahi pesepeda yang tidak tau diri di depan sana.


"Kenapa sih mereka selalu terlihat saat hari minggu seperti ini?" omel Arjun yang hanya bisa di dengar olehnya sendiri dan juga Akira.


"Ya... karena hari minggu adalah hari yang cocok untuk bersepeda..." bela Akira.


Karena pekerja kantoran memang libur di hari sabtu dan minggu seperti sekarang.


"Memenuhi jalan saja!" gerutu Arjun.


Sedangkan Akira hanya menggelengkan kepalanya karena heran dengan tingkah suaminya.


"Kamu sudah membawa semuanya kan?" tanya Arjun memastikan kalau Akira tidak melupakan satupun barang yang di butuhkan hari ini.


"Sudah..." jawab gadis itu dengan yakin.


Ngomong-ngomong, Arjun dan Akira akan pergi menemui seseorang pagi ini.


Hingga tak terasa sudah 30 menit mobil yang melaju di jalanan itu mulai memasuki sebuah kawasan Apartemen mewah yang berada tak jauh dari pusat kota.


"Ayo..." ajak Arjun pada istrinya.


Pasangan suami istri tersebut mulai berjalan bersama masuk ke gedung tinggi tersebut.


"Pasti mahal tinggal disini..." ucap Akira.


Karena yang ia lihat, kawasan itu sangat nyaman dan juga bersih. Setiap unitnya juga terlihat elegan walaupun Akira hanya melihatnya dari luar.


"Tidak juga, Aku punya satu disini..." jawab Arjun seolah pamer kepada istrinya.


"Benarkah? kenapa tak di tinggali?" tanya Akira penasaran.


"Kamu mau tinggal disini?" Arjun ganti bertanya.


"Boleh?" tanya Akira penuh harap. Sepertinya enak tinggal berdua saja dengan Arjun. Tidak seperti tinggal di Rumah Pradipta yang selalu tak lepas dari pelayan. Sebenarnya enak juga, tapi tetap saja Akira merasa sungkan.


"Boleh kalau kamu berani berbicara pada Papi,".


Nyali Akira seketika menciut walaupun hanya mendengar kata Papi. Punya nyali berapa ia sampai berani bertanya pada mertuanya itu? bisa-bisa Akira langsung di bunuh oleh mertuanya.


"Tidak jadi... tidak jadi,"


"Hahaha..." Arjun tertawa lepas. Lagian kenapa istrinya itu kenapa memiliki keinginan yang aneh-aneh seperti itu.


Arjun berhenti di salah satu unit Apartemen,


Eh, sudah sampai? batin Akira bertanya-tanya.


Arjun menekan bell, dan tak perlu waktu lama pintu terbuka dengan menampakkan seorang pria yang bertel*njang dada. Tentu saja Arjun langsung memutar tubuhnya dan berdiri di depan Akira agar gadis itu tidak sampai melihat tubuh pria di depan sana.


Akan sangat berbahaya kalau Akira sampai melihat tubuh orang dewasa lain selain tubuh Arjun.


"Kenapa lo seperti itu?" protesnya pada Galih.


Ada apa sih? Sedangkan Akira yang tidak paham apa yang tengah terjadi berusaha menjulurkan kepalanya melihat ada apa di depan sana.

__ADS_1


Jangan macam-macam! begitu sorot mata Arjun kepada istrinya hingga membuat Akira tak lagi berani untuk mencari tau apa yang sedang terjadi.


"Gue lagi olahraga nyet!" jawab Galih dengan entengnya.


"Kepala istriku bisa teracuni nanti, sana pergi!" usir Arjun.


Galih langsung membulatkan matanya kerena heran, Lah, kenapa gue yang di usir dari rumahku sendiri? dasar sinting!


Tapi Galih tidak mau mendebat Arjun sepagi ini. Apalagi perutnya juga belum terisi sesuatu, mana ada tenaga untuk adu argumen?


Galih masuk ke dalam Apartemen nya sambil menggerutu, "Kenapa membawa istrinya?".


Tentu saja Galuh bingung karena tadi malam saat Arjun menelpon, pria itu tidak bilang kalau datang bersama dengan Akira.


Setelah semuanya aman, Arjun kembali memutar tubuhnya menghadap pintu yang terbuka. Celingak-celinguk untuk memastikan kalau Galih sudah benar-benar masuk ke dalam kamar.


Sudah aman...


"Sayang, ayo masuk..." ajak Arjun dan langsung menarik tangan istrinya.


Arjun dan Akira duduk di sofa yang berada di depan TV sambil sesekali Akira mengedarkan pandangannya mengamati tata letak Apartemen milik Asisten pribadinya sangat suami.


"Besar ya..." Akira bahkan sampai terkagum-kagum.


"Hm, ini yang terbesar setelah punyaku..." jawab Arjun.


"Oh, pantas saja...".


Hingga Galih telah kembali dengan kaos santai dan juga celana pendek jeans.


"Nih," ucapnya sambil menyodorkan botol kaca yang Akira duga adalah botol obat.


"Thank's..." Arjun menerimanya dengan senang. Mengamati botol yang kini berada di tangannya dengan seksama.


Obat apa itu? batin Akira bertanya-tanya mengamati botol yang di pegang Arjun.


"Lo tidak menawari tamu mu minum?" sindir Arjun kepada pemilik rumah yang terlihat pelit.


Ck... tamu tidak tau diri!


"Mau minum apa sayang?" gantian Arjun yang bertanya pada istrinya minuman apa yang diinginkannya.


"Apa saja," tentu saja Akira harus tau diri karena disini dia adalah tamu. Minuman apapun yang di berikan si tuan rumah, Akira pasti akan meminumnya.


"Soda?" tawar Galih.


"Mana ada orang minum soda sepagi ini?" tanya Arjun sewot.


"Air putih saja..." sela Akira. Tidak akan selesai perdebatan ini kalau tidak ada yang mengalah.


"Oke," jawab Galih dan langsung menuju ke dapur untuk mengambil air dingin sesuai permintaan Akira.


Tapi tanpa di sadari, Arjun juga ikut pergi menemui Galih "Lo tidak punya makanan kecil?". Arjun benar-benar definisi tamu tidak tau diri.


Bahkan pria itu sampai membuka sendiri lemari pendingin milik Galih. Mencari sesuatu di dalam sana yang bisa untuk mengganjal perutnya.


Tapi ekspektasi Arjun benar-benar jauh dari kenyataan yang ada. Di dalam sana tidak ada makanan kecil apapun. "Hanya ini?" tanya Arjun dan mengeluarkan roti tawar yang tinggal setengah bungkus.


"Gue belum sempat belanja Nyet!" jawab Galih. Karena niatnya pria itu akan pergi ke supermarket nanti siang. Tapi siapa sangka kalau pagi-pagi begini Arjun telah datang dimana Galih mengira bahwa Arjun datang saat sore hari.


"Ck... makanya cepetan nikah!" celetuk Arjun tanpa memikirkan perasaan Galih.


"Sayang? kamu mau roti bakar?" teriak Arjun pada istrinya.


"Boleh..." jawab gadis itu.


"Buatin roti bakar..." ucap Arjun sambil melempar roti ke arah Galih.


Lah napa gue? batin Galih sebal. Ia seperti seorang pembantu saja.


Sedangkan Arjun langsung pergi dengan membawa 3 botol air mineral menggantikan tugas Galih.

__ADS_1


Galih benar-benar seperti pembantu di rumahnya sendiri. Dan hanya Arjun lah yang berani berbuat seenaknya seperti itu kepadanya.


Tak butuh waktu lama, Galih mendatangi pasangan suami istri dengan sepiring roti bakar dengan selain cokelat.


"Silahkan..." ucap Galih dan ikut duduk disofa lain.


Menikmati roti buatannya untuk menu sarapan.


"Gue kira Lo sendirian tadi..." ucap Galih masih penasaran kenapa Arjun sampai membawa Akira kesini. Galih menduga kalau sekarang Arjun menjadi suami takut istri yang kemana-mana harus meminta ijin lebih dulu.


"Tidak, karena Akira perlu bantuan Lo!" jawab Arjun sambil sibuk mengunyah roti bakarnya.


"Ha?"


tentu saja Galih tidak paham dengan perkataan Arjun barusan.


"Lo lupa pembicaraan kita semalam?" tanya Arjun.


Galih mulai mengingat-ingat pembicaraannya dengan Arjun semalam.


FLASHBACK ON...


"Gue butuh bantuan Lo!" ucap Arjun.


"Untuk?" tanya Galih di seberang sana.


"Belikan gue obat penunda kehamilan..."


"Hah? Lo mabuk? untuk siapa?" tanya Galih penasaran.


"Ya Akira lah... siapa lagi,"


"Kenapa?" tanya Galih dengan bodohnya.


"Sudahlah jangan banyak tanya... besok gue akan datang ke Apartemen Lo! dan satu lagi, Lo mau membantu gue kan?"


"Bantu apa lagi?"


"Pokoknya mau bantuin gue tidak? ini demi Akira..."


"Iya-iya... gue bantu..." jawab Galih seenaknya sendiri.


"Oke, besok gue datang..." jawab Arjun dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.


FLASHBACK OFF...


Galih menganggukkan kepalanya ingat dengan perkataan Arjun semalam.


"Udah gue bantuin kan, tuh udah gue beliin obat untuk Akira..." ucap Galih. Karena yang ia tau hanya itu.


"Sayang, ayo..." ucap Arjun pada istrinya.


Akira langsung mengeluarkan alat-alatnya. Sedangkan Galih langsung membulatkan mata keheranan dengan semuanya.


"Untuk apa itu?" tanyanya dengan perasaan tidak enak.


"Apalagi... tentu saja membantu Akira untuk menyuntik..." jawab Arjun.


"Ha?" Galih syok bukan main. Menyuntik? siapa?


"Lo sudah janji nyet!" ucap Arjun pada Galih.


"Kapan? kapan aku berjanji begitu?" tanya Galih panik. Karena ia tidak merasa berjanji demikian.


"Tadi malam... saat gue minta bantuan lo... katanya Lo mau membantu gue demi Akira... ya ini maksudnya, menjadi pasien Akira untuk praktek,"


"What?" tanya Galih dengan mata membulat sempurna. Antara tak percaya dan bingung.


***


Nah... 3 Part lagi kan untuk hari ini... ayo bilang apa? hehehee...

__ADS_1


Pasangan ini benar-benar licik ya... Apa Galih mau di suntik? kita ketemu lagi besok... oke?


Love kalian banyak-banyak..


__ADS_2