Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
163. Membantu Gadis.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Dion membuka pintu depan rumahnya. "Huaah...". Dua hari meninggalkan tempat ini, sudah membuatnya rindu berat.


Rasanya Dion sudah terbiasa tinggal di Desa kecil ini dan mungkin tak akan pernah kemana-mana lagi.


Dion sudah bersiap mengenakan sepatu olahraganya saat beberapa orang melewati jalan di depan sana sambil mengenakan Caping.


Caping adalah sebuah topi berbentuk kerucut yang terbuat dari anyaman bambu.


Caping ini pula sangat familiar bagi masyarakat pedesaan.


Dulu Dion juga tidak tau hal itu hingga Gadis memberitahunya.


Ingat Gadis? Gadis adalah anak kepala desa yang membantu Dion ketika di pukul oleh pemabuk kala itu.


Sejak saat itu, hubungan Dion dan Gadis juga semakin akrab. Mereka kerap kali berolahraga bersama di pagi hari dan mengobrol di air terjun cukup lama.


"GADIS!" teriak Dion memanggil salah satu dari mereka.


Membuat yang di panggil tentu saja menengok ke arahnya dan tersenyum.


Dion berlari menuju ke gerbang. Membuka pagar besi itu dan menemui Gadis.


"Mau kemana?" tanya Dion penasaran.


"Ke sawah..." jawab Gadis tanpa ragu.


"Ngapain?".


"Lo mau ikut?" tanpa memutuskan lebih dahulu, Gadis langsung menarik tangan Dion untuk mengikutinya.


Dan perempuan-perempuan yang berjalan bersama Gadis tersenyum melihat anak kepala desanya sangat akrab dengan pria kota tersebut.


Dengan beriringan, mereka berjalan menuju ke area persawahan.


Melewati jalanan dari tanah yang di buat sepanjang sawah.


Kalau orang biasa, mereka akan dengan mudah melewatinya. Tapi beda lagi dengan Dion. Pria itu terlihat kesulitan menyeimbangkan jalannya di gundukan tanah tersebut. Di tambah lagi dengan hujan yang turun tadi malam. Jalan tanah itu semakin licin dan membuat Gadis menggelengkan kepala keheranan.


"Gadis... pegangin tangan gue..." pinta Dion. Bisa-bisa ia terjatuh tergelincir nanti.


"Hahaha... salah sendiri pakai sepatu..." bukannya kasihan, Gadis malah menertawakan Dion yang mengenakan sepatu menuju ke sawah.


"Lah, kenapa tidak memberitahu ku tadi..." ucap Dion sewot.


"Kenapa gue? Lo tidak bertanya ..." sela Gadis.


Membuat Dion hanya bisa melongo heran.


Karena tidak sepenuhnya semua itu kesalahan Gadis.


Dion juga tidak bertanya tadi.


Dan tibalah mereka pada sebuah lahan persawahan yang belum di tanami padi. Kosong... hanya terlihat selahan tanah kosong yang sudah di bajak sebelumnya.


Di pinggir-pinggir terdapat bibit padi yang diikat menggunakan tali hingga beberapa ikat banyaknya.

__ADS_1


"Ini milik Pak kepala desa?" tanya Dion penasaran.


"Iya... lo mau membantu?" tanya Gadis.


Dion hanya mengangguk tanpa paham apa yang akan dilakukannya nanti. Gadis memberikan satu caping dan mengenakannya di kepala Dion. Di tambah dengan sedikit mengerjai pria itu dengan menarik karet di dagunya. "Aakk..." membuat Dion mengaduh.


"Hahaha..." puas sekali Gadis mengerjai pria itu.


"Dasar!" ancam Dion kesal dengan perbuatan Gadis tadi.


Dion berdiri mengamati Gadis yang menurunkan celana panjangnya. Matanya membulat karena berprasangka mesum. Tapi nyatanya Gadis mengenakan celana pendek di dalam celana panjangnya.


Ck... lihatlah mata mesumnya itu... batin Gadis.


"Sepertinya ekspektasi lo salah..." gurau Gadis di telinga Dion. Membuat pria itu tersenyum malu.


Jelas sekali karena Dion menginginkan hal lebih dari itu.


Penilaiannya kepada Gadis kembali berubah. Melihat Gadis yang mengenakan celana pendek dengan kaos berwarna merah muda, Gadis benar-benar terlihat feminim. Bukan lagi Gadis yang berpakaian seperti seorang pria.


Inilah sosok perempuan di mata Dion, seksi dan menggoda.


Gila... seksi juga dia... batin Dion.


Semua perempuan sudah mulai masuk ke dalam kubangan sawah. Berjalan dengan tenang sambil membawa bibit padi yang siap di tanam.


Dion mengamati perempuan-perempuan yang berjajar rapi di depan saja.


Apa yang mereka lakukan? batin Dion bertanya-tanya.


"Mereka bersiap untuk Tandur...".


"Orang kota mana paham..." cerca Gadis.


Karena di kota tidak ada hal semacam ini. Kalaupun ada, cara menanam padi di perkotaan berbeda dengan pedesaan.


Di kota mungkin sudah menggunakan alat pertanian modern, menanam padi dengan alat modern. Sedangkan di desa dimana Gadis tinggal, cara menanam padi masih di lakukan oleh warga desa.


Biasanya ada lebih dari 8 orang dalam setiap kotak lahan sawah.


Cara menanam padi itu di sebut dengan Tandur. Dimana cara menanam padi di lakukan oleh warga desa dengan cara berjalan mundur ke belakang sambil menanam bibit padi.


Hingga Dion baru paham setelah melihat bagaimana perempuan-perempuan disana mulai mundur sambil menanam padi. oh begitu ya...


"Ayo kita bantu..." ucap Dion tiba-tiba dan langsung turun di kubangan sawah tanpa berpikir panjang. Membuat Gadis yang masih berdiri di di atas berteriak, "Yon... sepatu lo!" tapi percuma saja karena Dion lebih dulu masuk.


"Haaa... sepatuku..." Dion berteriak.


"Hahaha..." Gadis kembali tertawa melihat tingkah Dion yang benar-benar polos.


Sebenarnya bukan polos sih, Dion hanya tidak tau bagaimana hidup di desa seperti itu.


Itulah sebabnya Dion terlihat aneh bagi warga masyarakat desa tersebut.


Dion tak menduga kalau memakai sepatu dan masuk dalam kubangan sawah benar-benar mempersulit langkah kakinya. Ia sama sekali tidak bisa bergerak karena lumpur si bawah sana seperti mencengkeram kakinya.


Membuat Gadis tak henti-hentinya tertawa.


"Saya bantu bos..." ucap Agus tiba-tiba. Entah datang dari mana pria itu hingga berada di dekat Gadis.

__ADS_1


Dion segera meraih tangan Agus dan berharap untuk segera keluar dari sana.


"Ihhh... jorok sekali..." keluh Dion melihat bagaimana penampakan sepasang sepatunya yang benar-benar berubah warna menjadi cokelat karena tanah sawah.


Hingga selesai melepaskan sepatunya, Gadis Dion dan juga Agus ikut turun kembali membantu para pekerja menanam padi.


Sebenarnya bukan membantu sih, karena Dion hanya ngrecokin pekerjaan mereka.


Bahkan saat Gadis notabene nya adalah anak kepala desa dan warga desa itu asli sedang serius menanam padi, Dion terlihat berdiri di belakangnya. Mengamati kedua kaki jenjang Gadis yang menggoda.


Duh... bisa gila gue! batin Dion salah tingkah.


Sedangkan Agus, pria yang selalu bersama Dion hanya nyengir paham dengan apa yang ada di pikiran bosnya.


Semakin membuat Dion malu.


"Fokus kerja!" perintah Dion pada Agus.


"Baik bos..." jawab Agus mengalah.


Dengan sebisanya, Dion mulai menancapkan akar bibit padi di dalam tanah. Sungguh membuatnya geli merasakan bagaimana tekstur tanah basah nan lembek tersebut.


"Lo jijik ya?" goda Gadis pada Dion.


"Apa? mana ada gue jijik..." elak Dion. Akan sangat memalukan jika ia mengakui kalau dirinya memang jijik menyentuh tanah bertekstur lembek seperti itu.


"Masak sih...",


Hingga terlintas di pikiran Gadis untuk menggoda Dion. " Yon, di dekat lo ada kodok!" teriak Gadis hingga membuat Dion terkejut dan spontan berlari tunggang langgang.


"Hiii... mana-mana..?" tanya Dion sambil mengamati sekitarnya.


Geli sekali kalau dia sampai melihat hewan meloncat dengan empat kaki tersebut. Bahkan sampai sembunyikan tubuhnya di belakang Agus.


"Hahaha..." Gadis tertawa lebih puas lagi daripada sebelumnya. Ternyata pria kota itu benar takut dengan katak.


Hingga membuat Dion lebih waspada dan bergidik geli.


Awa lo ya! ancam Dion. Ia akan membalas Gadis nanti.


Hingga tak berapa lama, "Gadis..." teriak Dion memanggilnya.


Membuat Gadis menengok dan, Buukkk...


Sebuah bulatan lumpur menghantam bajunya di iringi dengan tawa Dion.


"Hahah... rasakan pembalasanku..." ucap pria itu tanpa dosa.


"Aagghh... Dion..." teriak Gadis kesal.


Dan acara menanam padi berubah menjadi perang lempar lumpur di keduanya. Membuat tubuh mereka benar-benar berubah menjadi manusia lumpur.


Setidaknya hidup di Desa itu, Dion merasakan kebahagiaan yang sebenarnya.


Hidup berdampingan dengan warga desa yang penuh kesederhanaan dan jauh dari polusi seperti Ibukota.


***


Duh, jadi kangen kampung halaman...

__ADS_1


Di kampung kalian sama tidak sih penyebutan Caping (topi petani) dan Tandur (cara menanam padi dengan berjalan mundur)???


__ADS_2