
HAPPY READING...
***
Oksigen di sekitar seketika berubah aneh saat langkah kaki Galih semakin mendekati Tiara. membuat debaran hati semakin menggila dan Tiara seperti kehilangan kewarasannya.
Sosok pria yang ingin coba Tiara lupakan, berdiri di hadapannya dengan jarak yang sedemikian dekatnya. Gila memang, karena Tiara belum siap untuk bertemu ataupun mengontrol hatinya. karena pria di depannya itu pernah singgah, bukan! pria itu menjadi satu-satunya nama yang masih bersemayam dalam lubuk hati terdalamnya.
Bohong jika Tiara telah menghapus perasaannya pada Galih, karena sebuah rasa cinta itu tak bisa hilang begitu saja. Butuh waktu untuk seseorang benar-benar move on dari seseorang, bukan hanya 1 bulan, mungkin juga beberapa tahun.
sedangkan Tiara, tak lagi dekat dengan Galih hanya 2 minggu belakangan. waktu yang masih terlalu singkat untuk berkata dia tak lagi ada di hati.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Galih seiring dengan langkah kaki yang mendekati Tiara. mengikis jarak hingga terpaksa Tiara harus terus mundur.
Kabar? lo tak lihat kalau gue baik-baik saja? batin Tiara. Tapi tidak guna kalau harus menjawabnya juga, bukankah Tiara harus terlihat kalau dia masih marah? setidaknya jangan terlalu terlihat dialah yang menginginkan Galih, Jual mahal dong...
"Lo tidak merindukanku?" tanya Galih lagi. Bahkan kali mendekat Tiara saat gadis itu tak lagi bisa bergerak mundur karena di belakangnya hanya ada pintu sebuah ruangan yang tertutup.
"Padahal gue sangat rindu..." ucap Galih lagi dan lagi. membuat Tiara seperti kehilangan nafasnya karena ucapan pria di depannya itu terdengar aneh. bahkan sampai membuat bulu kuduk nya meremang.
Sadar Tiara, Lo hanya di goda... dia tak benar-benar mengatakan nya... lo harus ingat, berapa kali pria bermulut manis itu selalu mempermainkan perasaanmu! batin Tiara.
Sialnya lagi, di lantai 2 ini terlihat sepi tak ada siapapun hingga Tiara tak bisa meminta tolong pada orang lain.
Sial! kenapa jam berputar sangat lambat sih? batinnya lagi.
Seperti sebuah sihir memang, karena Galih seperti menghentikan waktu untuk bisa berbicara dengan Tiara.
Tangan pria itu terulur menyentuh ujung rambut Tiara yang jatuh di bahu. menggulung dengan jari telunjuknya dengan sangat teratur hingga membuat rambut itu seperti di curly.
"Aw..." protes Tiara. menyentak kasar tangan Galih agar tidak lagi mengulangi perbuatannya.
"Lo tidak merindukanku?"ulang Galih.
Apa sih? lo mau gue bilang rindu begitu? memang gue semurahan itu jujur bilang kalau merindukan mu? batin Tiara.
"Padahal gue rindu, rindu suaramu, wajahmu, senyummu, bahkan aroma tu-".
"Stop Gal!" protes Tiara ketika Galih seperti mendekat untuk merasai parfum yang menempel di leher Tiara.
Tiara benar-benar gugup, khawatir tentang apa yang akan terjadi jika Galih selalu menggoda nya. sungguh Tiara tak bisa menahan diri nantinya, ia pasti akan dikhianati hatinya lagi. dimana bukannya menjauhi Galih, Tiara justru semakin terikat dengan pria itu.
Tidak, Tiara tak lagi mau patah hati. apalagi Galih juga tidak bisa memberikan kepastian padanya. mungkin dia juga bersikap seperti ini pada Alya bukan?
"Kenapa?" tanya Galih berubah nada menjadi halus tapi justru terdengar menakutkan.
"Gue bahkan belum selesai bicara...".
Galih semakin memajukan wajahnya hingga hembusan nafas pria itu hangat menerpa wajah Tiara.
__ADS_1
Gawat... kalau begini terus, nih jantung bisa rusak bukan? batinnya.
"Jangan menggodaku!" teriak Tiara. Meninggikan nada bicaranya untuk menutupi rasa gugupnya.
"Jangan menggodaku, karena... karena itu tidak akan mempan lagi,..."tambahnya.
Gue tidak akan tergoda dengan mulut manismu pria si*lan!
Galih tersenyum tanpa bersuara. membuat Tiara malah terpukau karena senyum itu, senyum yang ia rindukan. senyum yang tidak lagi Tiara lihat 2 minggu terakhir.
Ya Tuhan! apa ini cobaan untuk ku?
"Apa lo sengaja?" tanya Galih terdengar ambigu.
Sengaja apa? memang apa yang gue lakukan? Tiara kebingungan karena sejak tadi ia tidak melakukan apapun.
"Ha?",
Galih kembali tersenyum, membuat Tiara ingin sekali berteriak untuk membuat pria itu tak menunjukkan senyumnya lagi.
"Gue cemburu..." ucap Galih, menjatuhkan kepalanya di pundak Tiara.
Eiitss.. apa-apaan ini... perlakuan Galih otomatis membuat Tiara menegang. berdiri bahkan sampai melupakan nafasnya.
"Galih hentikan..." pinta Tiara setelah mampu mengontrol dirinya sendiri. mendorong kepala Galih agar tidak lagi bersandar pada pundaknya. tapi tetap saja, Tiara tak bisa melarikan diri dari kungkungan kedua tangan Galih yang berada di kanan kiri wajahnya.
"Tidak," jawab Galih terdengar tegas.
Kenapa ia harus membiarkan mangsanya kabur begitu saja? bodoh jika Galih melakukan hal itu.
"Gue mau pergi," desak Tiara lagi.
"Tiara..." ucap Galih seperti sengaja mengeja nama itu dengan suara beratnya. seperti ada sesuatu yang tertahan di dalam dirinya. membuat Tiara kembali tertahan.
Hingga, pria itu memajukan wajahnya hendak mencium Tiara. mencium wanita yang amat ia cintai dan rindukan beberapa minggu terakhir, tapi...
Tingg... suara Lift berbunyi.
Segera Tiara mendorong Galih membuat jarak diantara mereka.
Dan benar saja, pintu Lift terbuka dengan beberapa karyawan Perusahaan yang telah kembali dari jam makan siang.
Syukurlah... batin Tiara. merapikan penampilannya sambil melangkah pergi meninggalkan Galih.
"Siang Pak..." sapa karyawan yang baru saja keluar dari Lift. menyapa Galih walaupun tau pria itu tak akan menanggapinya.
Br*ngsek! umpat Galih dalam hati. padahal kurang sedikit saja, ia kembali bisa merasai bibir Tiara setelah sekian lama. tapi nyatanya, semesta tak mendukung hal itu.
Hingga Galih memutuskan untuk pergi, mengepal tangannya sebagai tanpa ada kemarahan yang sedang ia tahan.
__ADS_1
Begitu juga dengan Tiara. Sambil berjalan lebih cepat, Tiara kembali menuju ke ruangannya. Duduk di kursinya dengan tergesa-gesa dan memejamkan mata. sungguh, pertemuannya dengan Galih benar-benar mengguncang jiwa dan perasaannya. andai lebih lama lagi, mungkin Tiara akan menjatuhkan dirinya kepada pria dingin yang selalu seenaknya itu.
"Tiara, kamu kenapa?" tanya rekan kerja di sampingnya.
"Aagghh... aku benar-benar gila..." keluh Tiara. mengambil beberapa tissue di meja untuk menyeka keringat yang ada di wajahnya.
Yang di ajak bicara justru menyerngitkan keningnya bingung dengan ucapan Tiara yang tidak ada sangkut pautnya dengan pertanyaannya tadi.
---
Galih masih berkeliaran di Lantai yang sama dengan tadi. tapi kali ini pria itu sengaja masuk ke dalam sebuah ruangan khusus operator CCTV. Galih termasuk orang yang detail dalam segala sesuatu yang ia kerjakan.
"Siang Pak..." sapa salah satu operator yang langsung bangkit saat pintu di buka oleh
"Saya ingin memastikan untuk menghapus aktifitas di Lantai ini beberapa menit yang lalu..." perintah Galih.
Dari reaksi operator itu ketika Galih bicara, jelas terlihat kalau pria berkaca mata itu juga melihat aktifitas yang dilakukan oleh Galih.
"Iya Pak..." ucapnya terdengar gugup dan menahan tawa.
Operator itu mulai sibuk melihat menit-menit yang telah terekam oleh CCTV, dan setelah Galih mengangguk pria itu langsung menghapusnya agar tidak ada bukti apapun.
"Sudah Pak..." lapor nya kepada Galih. walaupun tanpa melapor pun Galih sudah melihatnya juga tadi.
"Saya ingin, jangan ada CCTV sama sekali di ruangan itu..." tunjuk Galih pada layar komputer di depannya.
"Yang ini?" tanya Operator itu memastikan.
"Hm,".
"Kenapa Pak?" tanyanya dengan polos. Walaupun ruangan yang Galih bicarakan tak menyimpan berkas penting Perusahaan, tapi akan mencurigakan kalau sampai ada satu ruangan saja di Pradipta Group yang terlepas dari CCTV.
"Karena Saya menginginkannya..." jawab Galih tegas dan terdengar tak bisa di ganggu gugat.
"Ba-baik Pak..." jawab Operator itu gugup.
"Matikan CCTV menuju ke ruangan itu ataupun di dalamnya, dan satu hal lagi... ini rahasia kita..." ucap Galih.
"Iya Pak..." jawab operator itu. sekarang ia paham, Atasannya itu meminta 1 ruangan di Pradipta Group untuk sedikit bersenang-senang dengan salah satu karyawan.
Haha... anda benar-benar tidak terduga Pak Galih...
"Selesaikan hari ini juga...",Galih menepuk bahu operator itu dan kembali meninggalkan ruangan CCTV untuk meneruskan pekerjaannya.
Hahaha... Besok kita bermain-main lagi wanitaku.. batin Galih dengan senyum penuh rencana.
***
Yok Buat si kulkas kebakaran jenggot gara-gara Tiara dan Joenatan... Semoga Syuka...
__ADS_1