
HAPPY READING...
***
Tidak semuanya harus menggunakan hati... ARJUN.
Mata Arjun masih mengamati pergerakan motor di depannya.
Mau kemana mereka? batinnya bertanya-tanya.
Hingga motor Sport di depan sana mulai memasuki sebuah kompleks perumahan, Arjun masih tetap Membuntutinya.
Ia tau kalau kompleks di depan sana adalah kompleks perumahan dimana rumah Orangtua Akira berada.
Yang membuat Arjun kebingungan adalah kenapa Akira menuju ke sana saat ini.
Mobil Arjun berhenti lumayan jauh dari rumah Ayah Adam sambil terus melihat Akira yang turun dari motor itu.
Tiba-tiba matanya membulat sempurna saat melihat Akira di cium oleh pria muda itu.
Hei! Dia menciumnya? apa-apaan dia itu? mereka pacaran? batin Arjun bertanya-tanya.
Akira mau di cium oleh pria itu berarti memang ada hubungan yang spesial diantara mereka, begitu pikir Arjun.
Arjun masih dalam mode bodohnya bahkan sampai motor di depan sana mulai melaju pergi dan setelahnya Akira juga ikut masuk ke dalam rumah Ayah.
Mereka pasti punya hubungan... batinnya.
Arjun menyalakan mobilnya dan ikut pergi.
Setidaknya ia tau dimana Akira saat ini.
***
Tiba di rumah, Arjun melihat suasana rumahnya sangat sepi. Arjun tidak penasaran kenapa bisa begitu karena Papi Johan sudah memberitahunya kalau beliau pergi bersama Mami ke luar kota malam ini.
Baru melangkah menaiki anak tangga, tiba-tiba ponsel di saku jasnya bergetar menandakan ada pesan yang masuk.
Segera Arjun merogoh saku dan mengeluarkan ponselnya.
Akira : Kalau Mami tanya, bilang kalau Gue tidur di rumah Ayah...
Begitu bunyi pesan yang dikirim Akira. Arjun hanya membacanya tanpa berniat untuk membalas pesan itu.
Ck... setelah puas pacaran, dia bahkan tidak ingat pulang...
Sambil menggenggam ponsel miliknya, Arjun kembali melangkah menuju ke kamarnya di lantai 2. Tubuhnya benar-benar terasa berat dan lelah.
"Setidaknya mandi akan membuat tubuhku menjadi segar..." gumamnya pelan.
Arjun masuk ke kamar mandi dan mengisi Bath Up dengan air hangat.
Sedang menunggu Bath Up penuh, kepala Arjun di penuhi oleh bayangan-bayangan saat Akira di cium oleh pria tadi sedikit membuat Arjun menjadi gusar.
Bagaimana reaksi gadis iri setelah di cium, membuat kepala Arjun berdenyut nyeri.
"Si*l, apa pedulinya gue..." umpatnya pada diri sendiri.
__ADS_1
Apa yang dilakukan oleh Akira tentu saja bukan urusan Arjun bukan? Mereka hanya terjebak pada sebuah pernikahan yang tidak mereka inginkan.
Arjun masuk ke dalam Bath up dan menenggelamkan tubuhnya di dalam sana. Tapi bayangan itu tidak pernah hilang sedikitpun dari kepalanya.
"Aaahhh..." Arjun menyeka air di wajahnya.
"Gue bisa gila kalau memikirkannya... apa yang harus gue lakukan?" gumam Arjun bingung.
"Aaa... Ya... gue akan minum bersama Dion dan Galih. Ya... gue akan menelpon mereka dan pergi ke Klub malam..."
Akhirnya Arjun menemukan ide untuk melupakan hal gila di dalam kepalanya barusan.
Setidaknya dengan minum dan bertemu dengan sahabatnya, Arjun akan kembali menjadi Arjun yang dulu.
Arjun yang selalu berbuat sesuai dengan keinginannya.
---
Di lain tempat, Akira baru saja mandi dan duduk di tepi ranjang sambil mengamati ponselnya.
Eh, langsung dibaca... batinnya sedikit terkejut karena pesan yang ia kirim kepada Arjun barusan langsung dibaca oleh si empunya.
Akira masih menatap layar ponselnya siapa tau kalau mendapat pesan balasan, tapi sampai 5 menit berlalu tidak ada pesan balasan sama sekali.
Ck... dia hanya membacanya saja? dasar! umpat Akira kesal.
"Akira!" panggil Ayah Adam dari balik pintu kamar putrinya.
Seketika Akira terperanjat kaget dan berdiri, "Iya Yah..." jawabnya langsung menuju ke pintu.
"Ayo makan," ucap Ayah Adam ketika pintu kamar Akira telah terbuka.
Di ruang makan, tidak ada siapapun.
Ini terjadi sejak Ibu Arum sakit waktu itu. Akira duduk di kursinya diikuti oleh Ayah Adam.
Mereka hanya makan berdua saja.
"Kamu kesini naik apa tadi?" tanya Ayah Adam ingin tahu.
Karena tadi saat Akira datang, Ayah Adam sedang menyuapi istrinya di kamar.
"Oh, Akira naik taxi Yah..." jawab Akira kembali berbohong. Padahal pada kenyataannya ia sampai disini karena diantar oleh Dean.
Tapi Akira tidak bisa mengatakan hal itu pada Ayahnya.
"Kenapa tidak bersama Arjun?" tanya Ayah Adam lagi.
Karena putrinya itu sudah menikah memang seharusnya pergi bersama dengan suaminya.
"Tadi Akira dari Kampus dam langsung kesini Yah... Sedangkan Arjun tadi pagi bilang kalau ada rapat jadi tidak bisa menemani Akira..." jawab Akira kembali berbohong.
Maafkan Akira Ayah... maaf telah membohongi Ayah... batinnya sedikit menyesal. Tapi hanya itu yang bisa Akira lakukan untuk membuat orangtuanya tidak khawatir. Berbohong adalah jalan satu-satunya.
"Maafkan Akira Yah..." ucap Akira entah apa maksudnya.
"Lho... kenapa minta maaf? Tidak apa-apa nak... Arjun memang kepala keluarga, jadi ada tanggung jawab yang besar di pundaknya saat ini... Ayah sudah memakluminya..." jawab Ayah Adam sangat pengertian.
__ADS_1
Ayah dan anak perempuannya kembali menikmati makan malam mereka.
Setelahnya bersama-sama menuju ke kamar dimana Ibu Arum sedang berbaring.
"Ibu... bagaimana keadaan ibu?" tanya Akira mencoba untuk berkomunikasi dengan ibunya.
Sedangkan ibu Arum hanya mengangguk sebagai bentuk respon karena lidahnya memang sulit untuk bicara sampai saat ini.
"Akira akan menemani ibu malam ini," ucap Akira lagi dengan senyum penuh kebahagiaan. Malam ini ia akan tidur bersama dengan ibunya.
"Kamu tidak pulang Ra?" protes Ayah Adam.
"Tidak Yah... Akira akan tidur disini..." jawab Akira sudah berbaring di samping ibunya.
"Bagaimana dengan Arjun nanti?" tanya Ayah Adam khawatir. Mereka belum membicarakan rencana Akira menginap malam ini, jadi Ayah Adam menanyakan hal itu.
"Jangan khawatir Yah... Akira sudah ijin kepada Arjun tadi..." jawab Akira meyakinkan.
Tentu saja sang Ayah menatap Akira sangat dalam. Masih ada ketidakpercayaan dari binar mata Ayah Adam. Mungkin saja Akira berbohong atau lebih parahnya Akira dan Arjun sedang bertengkar. Apalagi putrinya itu datang sendirian kesini tadi.
"Ayah... Akira tidak bohong," ucap Akira masih meyakinkan Ayahnya kalau apa yang dikatakan adalah sebuah kebenaran.
"Apa Akira perlu menelpon Arjun biar Ayah percaya?" tanya Akira.
Cukup lama Ayah Adam hanya diam hingga di detik selanjutnya pria iri bersuara, "Tidak perlu sayang... Ayah percaya padamu..."
"Baiklah, kalian istirahat saja... Ayah akan tidur di kamar depan..." ucap Ayah Adam dan langsung pergi meninggalkan kamar yang ditempati istri dan anaknya.
Ayah Adam berjalan menuju ke ruang keluarga. Duduk di sofa sambil menatap telepon yang berada di sana.
Apa aku harus menelpon Johan dan menanyakan yang sesungguhnya?
Ayah Adam sedikit bimbang. Bukannya ia tak percaya dengan apa yang dikatakan Akira barusan, tapi Ayah Adam merasa kalau ada yang tidak beres dan ia hanya ingin memastikannya saja.
Dengan sangat yakin, Ayah menekan angka di telepon itu dan, "Halo..."
"Halo Adam... apa terjadi sesuatu hingga menelpon ku di jam segini?" tanya Johan sedikit kebingungan.
"Oh itu... itu,"
"Ada apa?"
"Begini... Aku cuma ingin tau, apa Arjun dan Akira baik-baik saja? Apa mereka bertengkar?" tanya Ayah Adam.
"Bertengkar? Masa sih?" tentu saja Johan yang ikut terkejut. Yang ia tau sampai pagi tadi, anak dan menantunya terlihat sama seperti biasanya. Bahkan Akira juga melayani sarapan Arjun tadi pagi.
"Soalnya tiba-tiba Akira pulang ke rumah kami sendirian, dan juga ingin menginap disini... Aku hanya khawatir, hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja..." adu Ayah.
"Benarkah? jadi Akira saat ini pulang ke rumahmu? Aku juga tidak tau karena Aku dan Livia sedang di luar kota saat ini. Nanti coba aku bicara dengan Arjun..."
"Oh begitu ya... ya sudah kalau begitu,"
"Jangan khawatir Adam... mereka pasti baik-baik saja... Nanti biar aku yang bertanya pada putraku," jawab Johan meyakinkan Adam.
"Aku juga berharap begitu," ucap Ayah Adam.
Ayah Adam kembali menutup teleponnya. Bisa bicara dengan Johan membuat kekhawatirannya sedikit berkurang.
__ADS_1
***