Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
211. Siapa Aku baginya?


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Tiara masih erat menggenggam tangan Galih bahkan hingga tiba di Vila milik Dion. Sepanjang perjalanan masuk, hanya diam yang mengambil alih suasana.


"Dimana kotak obatnya?" tanya Tiara ketika mereka telah masuk dan duduk di sofa ruang tamu.


"Biar saya ambilkan Nona..." Agus bergegas menuju entah kemana. yang jelas mengambil kotak obat untuk mengobati luka Galih.


Cukup lama, bahkan Tiara sampai tak sabar dan ingin mencarinya sendiri. "Biar gue yang cari..." ucapnya sambil bangkit hendak meninggakkan Galih, tapi tangan Galih segera mencegahnya. Agus bisa mencarinya sendiri tanpa bantuan siapapun.


"Disini saja," pinta Galih. hingga Tiara benar-benar tak jadi pergi dan hanya duduk di samping pria itu. tentu saja pandangannya masih terpaku pada telapak tangan Galih yang diikat menggunakan sapu tangan yang sudah berubah warna menjadi merah.


"Ini kotak obatnya Nona..." ucap Agus bersuara dengan langkah tergesa-gesa dan mendekati Tiara.


"Kembalilah..." perintah Galih pada akhirnya. maksudnya kembali ke acara pesta karena Arjun dan Akira masih berada di sana saat ini.


Agus yang bingung tapi tetap menganggukkan kepalanya. "Baiklah... kalau ada apa-apa hubungi saya Tuan..." ucap Agus dan langsung pergi meninggalkan Vila.


Tinggal Galih berdua dengan Tiara. Walaupun bukan kuliah di jalur kesehatan seperti Akira, Tiara bisa untuk mengobati luka Galih.


Dengan sangat telaten, gadis itu membuka sapu tangan miliknya. membersihkan luka Galih dengan antiseptik sebelum membalutnya dengan perban luka.


"Apa yang lo lakukan sampai begini?" tanya Tiara dengan pandangan tak lepas mengamati luka Galih.


"Tenang saja, lukanya tidak dalam kok...". masih berceloteh walaupun tak mendapat jawaban dari si empunya.


"Ini semua gara-gara Lo!" Galih bersuara. membuat Tiara menaikkan pandangannya demi mengamati wajah Galih. mencari jawaban atas apa yang terlontar dari mulut pria itu.


Gara-gara gue? memang apa yang gue lakukan? batin Tiara.


"Lo tidak mabuk kan?" cerca Tiara. hanya orang mabuk ynag menyalahkan orang lain atas kecerobohannya sendiri.


Bahkan Tiara sampai memajukan wajahnya untuk mengendus apakah ada bau minuman atau tidak di tubuh Galih.


Dia tidak mabuk... hatinya bicara.


"Tia-ra!" panggil Galih pada akhirnya. terlihat jelas sekali kalau ada keharahan ynag tertahan dari cara pria itu memanggil namanya.


"Hei kenapa lo marah? memang apa salah gue?" protes Tiara. "Lagian lo sendiri yang menyentuh pecahan gelas kan? bukan gue...".


Tiara bersidekap. jelas tak mau disalahkan atas apa yang tidak ia lakukan sama sekali.


"Gue sudah bilang untuk tidak dekat dengan pria lain bukan?" tanya Galih masih dengan tatapan yang sama sejak tadi. tatapan penuh dengan rasa cemburu dan juga marah.


karena Tiara tidak mendengarkan apapun yang Galih katakan sejak dulu.

__ADS_1


Berani sekali dia bicara dengan pria itu...


"Oh jadi itu..." jawab Tiara enteng. benar kan dugaanku... kalau dia memang cemburu... tapi kenapa? bukan urusannya kan? toh siapa gue baginya?


"Bukankah gue sudah menjelaskannya dulu...? saat di pesta kelahiran Starla...".


Saat itu juga Tiara sudah menjelaskannya kepada Galih siapa pria yang akrab dengannya itu. dan sekarang, Tiara dan pria itu kembali bertemu bahkan di kota ynag jauh dari Ibukota dimana mereka tinggal.


"Dia sengaja kan? mengikuti lo?" tanya Galih. sedangkan Tiara tersenyum, lucu sekali mendengar ucapan Galih yang terdengar seperti lelucon.


"Hahaha... jangan aneh-aneh deh... orangtuanya sangat akrab dengan orangtua mbak Gadis... jadi wajar dong dia datang ke pestanya?".


Tiara bangkit, hendak mencuci tangannya yang terkena darah Galih tadi.


"Bukankah terlihat sebagai takdir untukku?" tanya Tiara. membuat Galih membulatkan mata tak terima dengan perkataan Tiara barusan.


"Apa lo bilang?" tanya Galih. tapi Tiara tak memperdulikan pria itu dan tetap melangkah pergi meninggalkan Galih.


"TIARA!" teriak Galih.


Galih mengejar kepergian Tiara. Menendang pintu kamar gadis itu sekuat tenaga hingga menciptakan suara yang amat keras. bahkan Tiara yang sedang mencuci tangannya di wastafel kamar ikut terjingkat.


"Apa lo bilang?" tanya Galih. menyudutkan Tiara pada dinding agar tak bisa pergi darinya.


Ck... gue tak percaya takdir!


"Aww..." Tiara mengaduh karena Galih benar-benar mendorongnya hingga menempel ke dinding.


"Apa maksud lo?" tanya Galih lagi.


"Lo yang apaan!" bentak Tiara. kalaupun harus bertengkar, Tiara akan meladeni Galih kali ini. ia tak lagi takut walaupun harus di usir dari Apartemen dan kehilangan pekerjaan nantinya.


"Gue sudah memperingati lo bukan? jangan sekali-sekali berani dekat dengan pria lain! tapi sepertinya lo tidak takut dengan ancaman gue, Tiara! Takdir? ck..." Galih berdecak kesal. mengingatkan apa yang ia katakan kepada Tiara sebelum-sebelumnya.


"Ya... gue ingat, tapi siapa lo yang berhak mengatur gue untuk dekat dan tidak dengan siapa saja? ha? majikan gue? teman? sepertinya tidak... karena kita tak pernah berteman sejak awal ... atau keluarga? hanya karena gue mendapat tempat di keluarga lo?" tanya Tiara.


karena hubungan Galih dan dirinya masih samar.


Semakin hari Tiara merasa kalau hanya dirinya lah yang mengharapkan cinta dari Galih. Hanya Tiara lah yang merasa jatuh cinta pada pria itu. tapi bagi Galih, mungkin Tiara hanya mainan yang bisa ia mainkan kapan saja. Di goda seperti seorang wanita murahan dan tunduk atas kendalinya.


Tiara sakit melihat kenyataan itu. hatinya sering hancur melihat kalau Galih tak serius untuk berhubungan dengannya. kalaupun memang Galih tak memiliki perasaan apapun terhadapnya, Tiara akan pergi. karena semakin lama tinggal bersama pria itu, akan sulit baginya untuk pergi dari Galih nanti.


"Tidak Galih... hubungan kita tidak seperti itu... tidak ada kata untuk mendefinisikan kedekatan kita..." tambah Tiara.


Kali ini Tiara dengan berani menatap manik mata berwarna cokelat di depannya. menatap lekat untuk mencari apa yang ada di dalamnya. apakah ada sosok Tiara di sana? atau hanya pelarian saja.


Karena sejak awal semakin Tiara menarik benang rumitnya, ia sadar. Dia bukan apa-apa bagi pria itu.

__ADS_1


Tiara hanya alat yang digunakan Galih untuk membuat Alya, mantan pacar Galih cemburu. Ya... hanya itu tujuan Galih mengikat Tiara.


entah itu di benarkan Galih atau di sanggahnya.


Tapi Tiara yakin, hanya seperti itulah dirinya.


"Mau lo gimana?" tantang Galih. mendengar penuturan Tiara malah membuat dirinya seperti di salahkan atas semuanya. Apa lo mau gue bilang gue mencintai lo? apa itu yang lo mau?


Gue mau penjelasan... penjelasan atas bagaimana dan seperti apa hubungan ini?


Tiara ingin mengatakan hal itu. tapi ia ragu. bahkan sekarang, Tiara tak bisa berkata-kata. hanya airmata saja yang bisa bicara bagaimana perasaannya saat ini.


"Gue mau pergi dari Apartemen lo..." ucap Tiara pada akhirnya. menyentak kasar kedua tangan Galih dan pergi.


"Apa?" tanya Galih tetap berdiri di belakang Tiara. meminta Tiara untuk kembali mengulang perkataannya barusan.


"Gue mau menata hidup gue... tidak selamanya gue hidup dengan belas kasihan seseorang bukan?" ucapnya. Ya... setelah keluar dari Apartemen nanti, Tiara akan mencari pekerjaan paruh waktu untuk bisa bertahan hidup sampai dirinya lulus kuliah.


Ya... Tiara tak ingin terlibat dalam kehidupan Galih.


"Apa semuanya kurang?" tanya Galih. semua yang Galih berikan pada Tiara selama ini. hingga membuat gadis itu berpikiran untuk pergi darinya.


"Tidak..." jawab Tiara dan kembali duduk di tepi ranjang kamarnya. "Apapun yang lo lakukan sungguh gue berterima kasih untuk itu...".


Alya..., "Sial!" umpat Tiara. bahkan nama itu kembali memenuhi kepalanya. nama seseorang yang tak ia kenal tapi mampu membuat Tiara merasa kesal.


"Lo mengumpati gue?" tanya Galih tak percaya. walaupun Tiara mungkin sering mengumpat dalam hatinya, tapi ini adalah pertama kalinya keluar kata kotor dari mulutnya langsung.


"Tiara!".


"Apa sih? kenapa lo nyolot gini? kenapa lo selalu ingin berdebat denganku? cukup Galih... cukup, jangan libatkan gue pada apapun. jangan libatkan gue dari masalah lo dan juga mantan pacar Lo!" teriak Tiara.


"Sungguh gue kesal mendengar namanya! Alya Alya Alya... kenapa nama itu selalu terngiang di kepala gue! gue benci nama itu...".


Galih terdiam. bingung karena tiba-tiba Tiara menyebut nama Alya dalam perdebatan mereka. padahal bukan ini masalah yang sedang mereka bahas sejak tadi.


"Gue muak mendengarnya. bicara dengannya... dan kenapa lo tidak balikan saja dengannya? bukankah kalian masih mencintai? kenapa lo berpura-pura terlihat tak lagi mencintai nya? ha? apa sepengecut itu diri Lo? apa dia akan percaya dengan tindakan Lo yang sengaja menjebakku untuk tinggal bersama dengan Lo? tidak!" ucap Tiara menggebu-gebu.


bahkan air matanya kembali lolos.


"Bahkan seluruh dunia juga akan percaya kalau gue hanya alat bagi Lo untuk balas dendam...".


Akhirnya keluar juga kenyataan yang membuat hati Tiara sesak selama ini.


semuanya sudah ia utarakan.


***

__ADS_1


Betul Tiara... minta kepastian sama si kulkas...


__ADS_2