Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
133. Bulan Madu (4).


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Hari pertama Arjun dan Akira di London diisi dengan mengunjungi beberapa tempat yang terkenal. Mulai dari museum dan taman dengan pohon besar nanti hijau sepanjang jalan setapak di pinggir sebuah danau buatan.


Sambil berjalan dan menikmati keindahan pemandangan London, Arjun tak lepas menggandeng erat tangan istrinya. Berharap semua orang mampu melihat siapa pemilik gadis cantik berambut panjang tersebut.


Walaupun terlihat bahagia, Arjun juga beberapa kali ngedumel tak jelas. Bukan kerena sebab, tentu saja karena dua pria tak tau diri yang mengikuti dirinya daru belakang. Ya... Dion dan Galih.


Karena kedua pria itu seringkali berbicara dengan nada tinggi mengganggu suasana.


Sedangkan Akira tak memperdulikan mereka. Akira sama sekali tidak terganggu dengan gurauan Dion yang kadang-kadang membuat orang-orang melihatnya dengan tampang aneh.


Mungkin mereka menganggap kalau Dion adalah orang yang sedikit gila.


Tapi bagi Akira, lelucon pria itu mampu membangkitkan suasana di antara mereka.


Akira juga merasakan suasana yang tidak kaku seperti hari-hari sebelum ada Dion di liburannya.


Dion dan Galih benar-benar berbeda. Yang satunya jenaka, yang satunya lagi terlihat kaku dan juga dingin. Begitu penilaian Akira.


Tapi beda lagi bagi Arjun. Pria itu selalu cemberut ketika Dion dengan sengaja mengajak istrinya mengobrol.


Walaupun Dion bersahabat dengan Arjun tapi tetap saja Arjun tidak rela jika istrinya terlalu dekat dengan Dion.


"Hadap depan!" perintah Arjun sambil paksa memutar kepala Akira untuk melihat jalan di depannya daripada terus melihat tingkah Dion di belakang sana.


"Apaan sih," protes Akira. Bisa terkilir kepala Akira kalau Arjun memutarnya dengan paksa.


"Jangan buat aku marah!" gumam Arjun tentu saja dengan wajah cemberut.


Tatap aku saja! begitu sorot matanya bicara.


Membuat Akira mengangguk walaupun sedikit geli juga.


"Akira, apa Lo suka pemandangannya?" tanya Dion kepada gadis di depannya.


Akira sudah berniat untuk memutar kepalanya lagi, tapi tentu saja di cegah Arjun. Bahkan sampai merangkul pundak Akira dengan paksa.


"Jangan terlalu akrab dengan istriku!" ancam Arjun.


Membuat Dion mengerutkan keningnya heran. Sedangkan Galih hanya tersenyum seperti mengejek Dion karena tindakan bodohnya barusan.


"Ck, salah apa gue..." gumam Dion pelan dan terus mengamati tubuh Arjun dan Akira dari belakang.


Hingga tiba di tengah-tengah sebuah jembatan yang amat terkenal di London, langkah kaki Akira terhenti. Gadis itu langsung membungkuk menyentuh kedua lututnya.


"Ada apa?" tanya Arjun.


"Sayang, aku lelah..." ucap Akira dengan nada bicara yang dibuat-buat menderita.


"Mau gue gendong?" gurau Dion. Sedangkan Arjun langsung menatap pria itu dengan binar mata penuh api.


Ck, apa dia bilang tadi?


Padahal Dion hanya ingin menggoda pasangan itu. "Kenapa? Lo aja sebagai suaminya tidak peka... Akira itu capek,..." ucap Dion menerjemahkan semua kejadian yang terjadi saat ini.


Bukannya di gendong, Arjun malah dengan bodohnya bertanya apa yang terjadi pada istrinya.

__ADS_1


Benar begitu? batin Arjun menatap istrinya.


Arjun langsung berjongkok di depan istrinya tanpa aba-aba. "Ayo naik..." ucapnya serius.


"Apa tidak apa-apa?" tanya Akira. Sudah lama Arjun tidak lagi menggendong Akira, dan mungkin saja pria itu tidak lagi kuat melakukannya.


Apalagi sekarang tubuh Akira terlihat semakin berisi daripada dulu.


"Naiklah..." jawab Arjun sangat yakin.


Akira mulai merangkul pundak suaminya dan Arjun mulai berdiri dengan seimbang. Sekarang Akira benar-benar dalam gendongan suaminya.


"Yon, bawa tas Akira!" perintah Arjun.


Tentu saja hal itu membuat Dion membulatkan mata. Kenapa gue? batinnya bicara.


Karena masih ada orang lain yang bersama dengan mereka tapi Arjun malah memerintah nya seperti seperti anak buah Arjun.


"Lo lupa dengan ucapan Lo kemarin?" sindir Arjun.


Membuat Dion berusaha mengingat apa yang dikatakannya kemarin, apa ya?


"Gue mau kok jadi Bodyguard kalian..."


Dion membulatkan mata, tentu saja Arjun menyadari hal itu. Berarti Dion memang ingat perkataannya kemarin malam, "Ingat kan? jadi bawa tas Akira!" perintah Arjun tidak bisa di ganggu gugat.


Ya Tuhan... inilah akibatnya kalau asal bicara! umpat Dion pada dirinya sendiri.


Betapa bodohnya dia sampai mengatakan hal itu, dan sekarang Dion benar-benar merasa seperti anak buah Arjun beneran.


"Silahkan bawa," tambah Galih sambil tersenyum meledek.


"Heheh... maaf merepotkan," ucap Akira canggung dan Arjun kembali melangkah melanjutkan jalannya dengan senyum yang tersungging penuh kemenangan dalam bibir tipisnya.


Hahaha... rasain Lo!


Mereka benar-benar menyusuri jembatan di London.


***


Malam hari.


Arjun dan Akira berada di depan sebuah Bianglala yang sangat besar. Benda berputar itu di dekorasi dengan lampu yang kerlap-kerlip dan menambah kesan indah bagi siapa saja yang menatapnya.


"Aa... aku mau naik, aku mau naik..." teriak Akira penuh semangat. Sudah sangat lama ia tak lagi pernah menaiki wahana permainan tersebut.


Terakhir kali mungkin saat sekolah dasar dimana bianglala menjadi permainan paling mengasyikkan di pasar malam.


"Sayang... ayo naik," pinta Akira.


Sedangkan wajah Arjun berubah pias.


Melihat benda tinggi berbentuk bulat itu bergerak sudah membuat kepalanya terasa pusing.


Beda lagi dengan kedua pria yang sedang memperhatikan Arjun dan Akira itu. Saling senggol dan sesekali cekikikan melihat bagaimana reaksi Arjun ketika istrinya merengek naik permainan itu.


Mampus Lo! umpat Dion seperti bahagia melihat reaksi Arjun.


Rasa kesalnya karena di permalukan dengan membawa tas perempuan seharian ini benar-benar terbayarkan.

__ADS_1


Gue berani bertaruh kalau dia akan menolak keinginan istrinya! batin Galih.


"Sayang... ayo naik," pinta Akira masih dengan rengekannya yang khas.


Lebih tepatnya seperti anak kecil yang merengek kepada orangtuanya ketika melihat permainan yang ia sukai.


Arjun benar-benar kesulitan hanya untuk mengucapkan sebuah kata, Tidak... aku tidak bisa...


"Sayang..." Akira masih mengerek karena tak mendapat respon apapun dari suaminya.


Bahkan banyak sekali orang yang sudah mengantri untuk menaiki Bianglala tersebut mendahului mereka.


Kalau aku bilang takut, Akira akan menertawaiku nanti... batin Arjun mencoba untuk memutar otaknya, mencari alasan yang tepat agar tidak menaiki benda menyeramkan itu.


"Sayang... antriannya sangat panjang... ya, kamu akan kecapekan nanti..." akhirnya terlontar juga alasan yang lebih masuk akal dari mulut Arjun.


Hal itu membuat Dion dan Galih tertawa tapi masih dengan intonasi yang pelan. Takut juga mereka jika Arjun mampu mendengar tawa penuh ledekan dari mereka.


Hahaha! mampus Lo Arjun! Dion bahkan terlihat lebih bahagia dari siapapun yang ada disana.


"Tidak, aku tidak capek kok... ayolah sayang..." pinta Akira bahkan sampai bergelayut manja di lengan Arjun.


Dion merasa tidak puas kalau hanya diam saja. Setidaknya menyulut api balas dendam lebih terlihat mengasyikkan. Dan juga ia penasaran bagaimana reaksi Akira nanti jika mengetahui sisi lain dari Arjun yang selama ini terlihat Keren, Gentle dan Pemberani.


Bersahabat dengan Arjun sejak masih muda, Dion dan Galih sangat mengetahui sisi lain Arjun yang memang jarang di ketahui orang lain selain keluarganya. Dimana pria itu sangat takut dengan hal-hal yang berbau ketinggian.


"Kenapa Jun, jangan bilang kalau Lo takut ketinggian..." ucap Dion tiba-tiba.


Dan Arjun langsung spontan melihat ke arah Dion dengan ekspresi yang sulit di artikan.


Juga Akira dan Galih.


Arjun takut ketinggian? batin Akira.


Dasar br*ngsek! umpat Arjun pada Dion. Sedangkan yang di tatap seolah melempar pandangannya ke arah lain berpura-pura tidak melihat kobaran api yanga ada di mata Arjun saat ini.


"Kamu takut sayang?" tanya Akira.


Membuat Arjun bertambah pias dengan nafas yang tercekat di tenggorokan.


"Ti-dak... tidak, mana ada aku takut ketinggian..." jawab Arjun terbata-bata.


Hahaha... Galih memutar kepalanya demi untuk menyembunyikan tawa dari Arjun.


"Kalau begitu ayo kita naik..." ucap Akira final.


Menarik tangan suaminya mendekati antrian di depan sana.


"Awas Lo!" gumam Arjun pelan ke arah kedua sahabatnya.


Arjun semakin takut dan khawatir melihat antrian di depannya yang semakin habis. Tuhan... bagaimana ini? batinnya.


Sedangkan Akira terlihat semakin bersemangat dan juga bahagia. Menunggu giliran untuk menaiki Bianglala bersama Arjun.


***


Hahahaha... Dion benar-benar nakal ya...


Ada yang bisa nebak apa yang terjadi pada Arjun??

__ADS_1


Komentar banyak-banyak yess....


__ADS_2