Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
162. Bertemu Rega


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Kita itu seperti bunga yang berbeda jenis namun tumbuh di Taman yang sama... Dion.


---


Dion benar-benar menunggu kedatangan Arjun hari ini. Setelah semalam bicara panjang lebar di Apartemen milik Galih, mereka sepakat bahwa saat makan siang Arjun dan Galih akan menemuinya di tempat yang telah di janjikan.


Kenapa begitu? kenapa Dion tidak datang langsung ke Perusahaan Pradipta Group?


Jelas tidak. Itu adalah kesalahan besar jika Dion sampai menginjakkan kakinya di sana.


Hubungan Pradipta Group dengan Orang tuanya Dion sangat baik. Bukan hanya sekedar hubungan kerja saja. Papanya Dion dan Papi Johan bahkan bersahabat sejak muda.


Dengan Dion datang ke Perusahaan itu, bukankah terlihat seperti seekor rusa yang masuk dalam kandang harimau?


Dion mungkin akan bertemu dengan Papanya atau mungkin saja Rega, Kakak laki-laki nya.


Itulah sebabnya Arjun meminta untuk janjian di luar nanti.


Tepat pukul 10, ruangan Arjun di ketuk dari luar dan langsung menampakkan seorang pria berkacamata berjalan masuk.


Wajahnya benar-benar di penuhi kemarahan yang memuncak.


"Bisa jelaskan semua ini?" tanya Papi Johan melempar selembar kertas tepat di depan wajah Arjun. Membuat Arjun terkejut apalagi dengan Galih yang tadinya memang sedang berada di dalam ruangan itu.


Bukan tanpa alasan jika Papi sangat marah. Tidak ada hujan ataupun petir, Tiba-tiba ia mendapat laporan uang keluar dari rekening sangat besar. Bahkan mencapai Milyaran nominalnya.


"Papi...". Arjun tau semua ini memang tidak akan luput dadi pandangan Papinya.


Jangankan masalah uang yang nominalnya amat besar, masalah kecil saja mampu sampai di telinganya beliau.


Arjun juga telah memprediksi hal itu. Ia tidak akan bertindak tanpa memikirkannya lebih dulu. Dan semalam, Arjun sudah menyiapkan alasan yang tepat untuk di jelaskan kepada Papi setelah penarikan uang beberapa saat yang lalu.


"Untuk apa uang sebanyak itu? ha?",


Arjun bangkit dari duduknya. Berjalan menuju ke depan Papi dengan pandangan tertunduk.


"Maaf Pi..." ucapnya pertama kali.


Karena meminta maaf adalah cara yang tepat sebelum menjelaskan alasan-alasan yang sudah di rangkainya.


"Kamu tau Arjun, ini pencairan terbesar yang pernah kamu lakukan selama ini... untuk apa uang itu?" tanya Papi Johan.


Apapun yang Arjun lakukan harus di pertanggungjawaban. Termasuk dengan uang yang di cairkan beberapa jam yang lalu.


"Arjun ingin membantu Dion Pi..." lapor Arjun jujur. Ia harus membantu sahabatnya saat sedang susah begini.


"Dion?" tanya Papi sedikit terkejut.


Papi Johan juga tau tentang masalah Dion dan keluarga nya.


Sahabat anaknya itu pergi dari rumah beberapa bulan yang lalu.


"Papi tau kan bagaimana hubungan Dion dan keluarganya? lebih tepatnya dengan Papanya?" tanya Arjun.


"Jika perjodohan adalah jalan yang tepat kenapa menolak? kamu juga menikah dengan Akira karena Papi yang menjodohkan kan? buktinya pernikahanmu baik-baik saja..." sela Papi Johan.


Memang benar, Arjun memang di jodohkan oleh Papi. Sama seperti yang dilakukan orangtuanya Dion.


"Papi rasa Dion datang menemui mu karena kehabisan uang bukan?" tuduh Papi.


Karena ia tau bagaimana anak-anak mereka. Tidak bisa lepas dari harta orangtuanya.


Buktinya Dion kembali untuk meminta bantuan sahabatnya.

__ADS_1


"Papi salah..." ucap Arjun membuat mimik muka Papi Johan yang tadinya bangga dengan perkataannya berubah pias.


"Papi tau, Dion pria yang kuat... dia tidak menggunakan uang seenaknya sendiri, buktinya... keluar dari rumah orang tuanya, Dion bisa mandiri..." ucap Arjun menceritakan bagaimana kehidupan Dion sekarang.


"Dia bisa berdiri dengan kakinya sendiri, tanpa bantuan siapapun... dan Arjun mencairkan uang sebanyak itu untuk mendukungnya... Arjun yakin dia bisa lebih maju di bandingkan orangtuanya..." tambah Arjun.


Wajah Papi Johan bertambah pias. Dion bisa seperti itu?


"Papi tau bagaimana keluarga memperlakukan Dion selama ini? Papi tau bagaimana keadaan Mas Rega yang hidup seperti boneka orang tuanya? Dion tidak ingin seperti itu Pi... dia memiliki masa depannya sendiri...".


"Dimana dia?" tanya Papi Johan pada akhirnya.


Membuat Galih ingin bersuara, karena ia takut jika Arjun memberitahu keberadaan Dion.


"Papi mau melaporkannya pada orang tuanya?" tuduh Arjun tak terima.


"Papi...".


"Tidak... titip salam Papi untuknya... semoga jalan yang diambilnya adalah benar..." ucap Papi dan langsung meninggalkan ruangan Arjun tanpa mengatakan apapun lagi.


Galih dan Arjun sama-sama menatap kepergian pria itu dengan bingung. "Lah? hanya itu?".


 ---


Jam makan siang telah tiba.


Galih dan Arjun bersamaan masuk ke sebuah Restoran. Disinilah mereka janjian untuk bertemu dengan Dion.


Sambil membawa tas berisi uang dengan jumlah Milyaran, Galih terlihat celingak- celinguk mencari keberadaan Dion. Hingga seorang pria mengenakan topi terlihat mengangkat tangan memberitahu Galih.


"Sudah lama lo nunggu?" tanya Arjun sesaat setelah duduk tepat di samping Dion.


"5 menit yang lalu..." jawab Dion.


"Nih..." Galih menyerahkan tas kepada Dion.


"Tadinya sih iya... tapi sekarang tidak..." ucap Arjun apa adanya.


Ia teringat kembali bagaimana raut wajah Papinya tadi pagi.


"Ha?".


"Sudahlah jangan di pikirkan... Bokap juga nitip salam buat Lo,".


"Maksudnya?" tanya Dion kembali terkejut.


"Gunakan uang itu baik-baik dan kembangkan usaha Lo..." ucap Arjun.


"Siap...".


Dion membawa tas itu dan segera bangkit dari tempat duduknya. Membuat Arjun dan Galih bertanya-tanya.


"Lo mau kemana?" tanya Galih.


"Gue harus segera kembali...".


"Sekarang?" tanya Arjun penasaran.


Padahal mereka belum memesan makan siang, tapi Dion sudah berniat pergi.


"Kalau tidak sekarang, gue akan tiba disana tengah malam..." jawab Dion meyakinkan.


Tak lupa, Dion melempar kunci motor Sport ke arah Galih.


"Eits... apa ini?" tanya Galih gelagapan dan mengamati kunci di tangannya.


"Jaga motor gue..." ucap Dion dengan senyum jenaka dan langsung berjalan meninggalkan kedua sahabatnya sambil melambaikan tangan.

__ADS_1


Tapi baru beberapa saat melangkahkan kaki, tiba-tiba Dion menabrak seseorang hingga membuat Arjun dan Galih berdiri. Mereka terkejut dengan siapa yang berdiri di depan Dion saat ini.


"Yon..." panggil Arjun dan langsung berlari mendekati Dion. Berdiri di belakang Dion tanpa bersuara.


"Bagaimana kabar lo?" tanya pria yang tak sengaja di tabrak Dion barusan.


Sedangkan Dion hanya menatap sekilas pria itu lalu membuang wajahnya ke arah lain. Dion benar-benar tidak sudi menatap pria itu lebih lama.


Karena saat melihatnya, Dion teringat dengan wajah seseorang yang membuat hatinya amat sakit.


"Jadi benar kalau Lo datang ke rumah kemarin?" tanyanya lagi.


"Jawab Dion!" bentaknya.


"Kenapa? apa ada urusannya sama lo?" tanya Dion kesal.


Pria di depannya itu adalah Rega. Kakak laki-laki nya.


Dan sekarang Dion tak sengaja bertemu di tempat ini.


"Pulang lah..." pinta Rega tanpa terduga. "Pulang lah dan meminta maaf pada Papa...".


Dion tersenyum getir. "Pulang? di rumah yang sama sekali tidak menganggap bahwa gue juga bagian dari keluarga itu?".


Ingatan bahwa dirinya telah di usir dari rumah benar-benar membuat Dion yakin kalau tidak ada tempat baginya untuk tinggal disana.


Rumah yang menurutnya terasa dingin dan mati.


"Kenapa Lo keras kepala Yon?" teriak Rega bahkan sampai mencengkeram kerah pakaian atas Dion dengan murka.


"Mas!" teriak Arjun. Bagaimanapun Rega tak berhak untuk memukul Dion.


"Lo seharusnya memohon pada Papa... meminta maaf," ucap Rega.


Kalau Rega jadi Dion, tentu saja pria itu akan meminta maaf walaupun tidak salah.


"Meminta maaf? apa salah gue? gue percaya kalau itu Lo... karena lo hanya hidup sebagai boneka buatnya... Lo tidak punya tujuan hidup..." umpat Dion pada kakaknya.


Rega semakin mencengkeram erat kerah baju Dion, membuat Dion semakin tercekat.


"Pukul gue kalau itu mau lo... pukul gue kalau ucapan gue salah..." tantang Dion.


Sejak dulu Rega dan Dion memang berbeda. Mereka benar-benar mempunyai sifat yang berbeda walaupun terlahir dari rahim ibu yang sama.


Rega memiliki sifat yang patuh, pengecut dan selalu menuruti keinginan orang tuanya.


Hidupnya juga berada di tangan sang ayah.


Sedangkan Dion, terkenal sebagai anak yang pembangkang, tidak bisa di atur dan anak yang di benci oleh Ayahnya.


"Lo tau, kita itu seperti tanaman bunga... berbeda jenis tapi tumbuh di taman yang sama..." ucap Dion hingga membuat Rega mengendorkan cengkramannya.


Benar... Dion dan gua memang berbeda... benar... kita tak sama... batin Rega sadar dan melepaskan adiknya.


"Pergilah..." pinta Rega.


Membuat Arjun, Dion dan juga Galih melongo tak percaya dengan ucapan yang keluar dari mulut Rega barusan.


Tanpa banyak bicara, Dion kembali berjalan melewati Rega tapi derap langkah kaki anak buah Rega terlihat mendekati Dion.


"Biarkan dia pergi... jangan sampai kalian membuka mulut di depan Papa kalau kalian pernah melihat Dion..." perintah Rega final.


Dan otomatis anak buahnya langsung mundur seketika.


Ucapan Rega mampu membuat Dion terenyuh, tapi ia tak mau menunjukkan hal itu.


Terima kasih Kak... batinnya dan langsung pergi meninggalkan Restoran.

__ADS_1


***


__ADS_2