
HAPPY READING...
***
Langit masih sangat pagi untuk sekedar pergi beraktifitas, tapi tidak untuk Alea. Mungkin semalaman wanita itu tak bisa tidur nyenyak karena memikirkan sesuatu yang membuat dadanya terasa membuncah.
Ada rona bahagia saat senyum mengukir bibirnya sejak semalam.
Dan sekarang disinilah ia berada. Di pinggir sebuah jalanan kompleks perumahan dan duduk berdiam di dalam mobil merah miliknya.
Jalanan kompleks itu masih sepi walaupun terlihat beberapa orang lewat ataupun sekedar menyapu halaman di depan rumah mereka.
Pandangan Lea tertuju pada sebuah rumah berlantai dua di depan sana.
"Ck, kenapa dia tidak mengangkat teleponku?" gumam Lea kesal. Tentu saja kesal karena hampir 30 menit ia berada di sana tapi sosok yang di tunggu tak juga menampakkan batang hidungnya.
Inilah definisi menunggu itu sangat menjengkelkan.
Lea menjatuhkan pundaknya di sandaran kursi mobil masih dengan menunggu seseorang menjawab teleponnya.
"Awas saja nanti kalau dia masih tidak mau menjawab teleponku..." ucapnya lagi.
Hingga entah panggilan ke berapa kalinya, akhirnya telepon Lea di jawab.
"Halo..." hanya itu jawaban dari seorang di seberang telepon. Masih dengan suara khas orang bangun tidur.
"Lo kemana saja sih?" semprot Lea mengeluarkan unek-uneknya.
Sungguh Lea kesal berada disini cukup lama.
"Kenapa? lagian kenapa menelepon ku di jam segini?" bukannya merasa bersalah, orang yang di telepon Lea sama kesalnya.
Toh apa keuntungan baginya untuk mengangkat telepon gadis gila itu sepagi ini. Bahkan matahari saja baru beberapa menit yang lalu benar-benar terbit sepenuhnya.
"Gue punya berita bagus... cepatlah keluar!" perintah Alea tentu saja dengan senyum yang sama seperti semalaman.
"Ha?"
"Gue ada di luar Br*ngsek! cepat keluar..." umpat Lea tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Lo benar-benar gila.." jawab lawan bicara Lea.
Dan panggilan telepon itu terputus begitu saja.
Masih menatap pagar besi di depan sana, akhirnya yang di tunggu-tunggu Alea muncul juga.
Seorang pria dengan celana pendek yang di padukan dengan kaos santai keluar dari sana. Rambutnya masih acak-acakan menandakan kalau dirinya benar-benar naru bangun dari tempat tidurnya.
Pria itu mendekati mobil Lea, segera masuk dan duduk di bangku samping kemudi.
"Apa-apaan sih Lo kesini?",
"Dean, gue punya berita bagus..." ucap Lea penuh semangat.
"Apa?" Dean sama sekali tidak memperdulikan apa yang akan di katakan wanita di sampingnya. Sekarang yang Dean ingin lakukan adalah meneruskan tidurnya yang terganggu karena telepon dari Lea.
"Arjun mengajakku bertemu..." ucap Lea dengan pedenya.
"Ha?" tentu saja Dean terkejut dan langsung menatap Lea dengan bola mata membulat sempurna. Apa gue salah dengar? itulah yang Dean tangkap dari ucapan Lea barusan.
__ADS_1
"Kenapa Lo terkejut? ini jauh dari rencana kita bukan? dia yang malah tertarik dengan sendirinya..." bangga sekali Lea dengan apa yang di katakan Arjun lewat pesan tadi malam.
Dan itulah alasan Lea tidak bisa tidur semalaman. Ia terlalu senang mendapat pesan dari pria yang amat di sukainya.
Padahal rencana yang Lea belum di laksanakan.
"Jadi kita hanya perlu memberitahu istrinya. beritahu dia kalau Arjun hanya ingin bersamaku..." tambah Lea.
"Lo yakin itu pesan dari Arjun?" selidik Dean. Karena rasanya cukup aneh baginya. Entah kebetulan atau tidak, rencana yang sudah mereka buat dan sepenuhnya matang tiba-tiba di mudahkan.
"Kenapa tidak? Lo tidak percaya?" tanya Lea sewot. Padahal sangat jelas kalau Arjun yang menelponnya yadi malam.
"Ya... kali aja itu telepon dari orang lain...",
"Dean, Lo hanya perlu memberikan benda yang gue berikan dulu pada istrinya Arjun dan bilang kalau itu tertinggal saat Arjun pulang dari Hotel..." ucap Lea memerintah Dean.
"Hm,"
"Gue serius Yan," ucap Lea penuh penekanan.
"Iya-iya... gue tau," Tanpa Lo minta sekali pun gue udah tau... batin Dean.
"Setelah ini gue pastiin kalau Arjun akan jadi milik gue... dan Lo, silahkan kembali dengan jandanya Arjun... heheeh..." gurau Lea terdengar merendahkan Akira.
"Walaupun janda, tapi tidak seburuk Lo!" jawab Dean ketus. Setidaknya Akira lebih baik dari Lea yang selalu berpetualang dengan banyak pria.
"****! tai Lo!" umpat Lea kesal karena ucapan pria di sampingnya.
***
Akira turun dari mobil yang mengantarkan sampai di kampus.
Ya, sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Hari ini Akira di antar oleh supir karena Arjun bilang kalau dia akan ada hal penting setelah pulang bekerja
nanti.
Pria itu bisa mengantarkan Akira berangkat kuliah, tapi tidak bisa menjemputnya ketika pulang. Untuk itulah Arjun memutuskan untuk Akira berangkat bersama supir saja.
Suasana kampus cukup ramai dan Akira langsung berjalan menuju ke kelasnya pagi ini.
Tapi baru tiba di ambang pintu, seseorang memanggilnya dari belakang.
"AKIRA!" teriak seseorang dan langsung menghentikan langkah gadis itu.
Akira memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang memanggilnya dan ternyata adalah Dean.
Dean? ngapain? batinnya bertanya-tanya seiring dengan Dean yang semakin mendekati Akira sambil membawa sebuah paperbag kecil di tangan kirinya.
"Dean, ada apa?" tanya Akira penasaran.
"Apa kelas mu akan segera di mulai?" tanya Dean sambil mengamati kelas Akira yang memang sudah banyak mahasiswi di dalam sana.
Akira melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, "Ya... sekitar 10 menit lagi...",
"Oh begitu ya... baiklah, kita ketemu nanti saja..." ucap Dean.
Tentu saja hal itu semakin membuat Akira penasaran kenapa Dean ingin menemuinya. Toh tidak ada hal penting yang akan mereka bicarakan.
"Ada apa?" pancing Akira.
__ADS_1
Setidaknya jawaban Dean mampu membuat dirinya yakin atau tidak untuk menemui pria itu nanti.
"Em... itu," ucap Dean ngambang dan semakin membuat Akira penasaran.
"Apa sih? jangan berbasa-basi..." ucap Akira ketus.
"Em... ini," Dean menyodorkan paperbag ke arah Akira dan berharap gadis itu menerimanya.
"Ini milik suamimu..." tambah Dean.
Milik Arjun? dari siapa? tidak mungkin kan kalau ini pemberian Dean...? Batin Akira penasaran. Apalagi hubungan Dean dan suaminya sangat tidak baik. Mana mungkin mereka saling memberi kado.
"Apa ini?" tanya Akira dan mulai mengintip isi dari Paper bag tersebut.
"Udah dulu ya Ra... kita ketemu nanti saat jam makan siang..." ucap Dean langsung bergegas pergi tanpa memberitahu apapun kepada Akira.
Dan sekarang Akira lah yang kebingungan sambil melihat sepenuhnya dari benda di dalam sana.
Dasi?
Ya, isi dari paper bagian pemberian Dean adalah sebuah dasi uang sedikit kusut.
Akira sangat yakin kalau dasi itu bukanlah benda yang baru saja di beli melihat penampilannya yang seperti sudah pernah di gunakan.
Aku pernah melihat dasi ini sebelumnya.
Dasi berwarna biru tua... batin Akira.
Di detik selanjutnya Akira sadar, dasi ini sama persis dengan yang sering di pakai oleh suaminya. Akira melihat bordiran di baliknya yang terdapat inisial AP,
Benar... Aku pertama kali melihat dasi ini saat di rumah Ayah... saat Arjun bersandiwara di depan Ayah agar aku mau mengikatkan dasinya...
Ya, saat itu Akira dan Arjun sedang menginap di rumah Ayah Adam.
Di sana juga Galih yang membawakan pakaian kerja milik Arjun lengkap dengan dasi dan juga sepatunya.
Itulah pertama kali Akira melihat dari yang memang sering di kenakan suaminya. Tapi dasi ini jarang terlihat entah sudah berapa bulan lamanya. Akira juga tidak lagi melihat dasi itu melingkar di leher Arjun.
Tidak heran karena Akira lah yang selalu menyempatkan diri untuk menata dasi suaminya setiap pagi.
Lalu kenapa bisa di tangan Dean? Akira masih tak mengerti semuanya.
Karena terlalu penasaran, Akira mencoba untuk mencium dasi tersebut. Sama-sama memang tercium bau parfum yang amat familiar baginya. Apalagi kalau bukan parfum milik Arjun.
Hidup sebagai istri Arjun, Akira sudah sangat hafal dengan bau parfum yang di gunakan oleh pria itu.
Benar... ini miliknya, tapi kenapa ada bau parfum lain?
Dasi itu memang harum karena ada parfum Arjun yang melekat disana, tapi ada bau parfum lain yang justru lebih mendominasi.
Tangan Akira bergetar, ia tau kalau bau lain yang di maksud adalah sebuah parfum yang tentu saja di miliki seorang wanita karena baunya sangat halus dan wangi.
"Parfum siapa yang tertinggal disini?" gumam Akira pelan sambil pandangannya lekat menatap dasi di tangannya.
***
Dukung terus cerita ini Ya...
Tinggalkan Like, Komentar dan Hadiahnya...
__ADS_1
Tengkyu....